Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu

Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu
Kecurigaan Dena


__ADS_3

Apa kau pernah merasakan sisi kerja otak kiri seketika lumpuh?


Hingga pikiran terasa terpenuhi dan membuncah menjadi sebuah lamunan.


Kosong....


Dihantam problema yang tak mampu terpecah oleh akal dan logika.


Adrian tiba di rumah sore itu, ia sudah di tunggu oleh anak dan istrinya serta keluarga besar Dena, Kak Radit dan juga Lisa.


Dena yang pertama kali menghambur peluk ke Adrian, berkali kali mengecup kening nya.


" Sayang, aku merindukanmu" ,Dena menatap tubuh suaminya yang terlihat kurus dengan wajah pucat.


Adrian balas mengecup dan memeluk Dena kemudian mencari keberadaan Noah.


Bayi laki laki itu meski lama tak bertemu Adrian namun ia sepertinya tau kalau laki laki ini orang terhebat dalam hidupnya.


Dengan langkah kecil nya yang baru belajar berjalan, ia mencium tangan Adrian. Membuat rasa haru mencuat di hati Adrian.


Mereka semua yang ada disitu prihatin dengan kondisi Adrian.


" Aku ingin beristirahat di kamar", pinta Adrian.


Ia meminta maaf kepada semua yang sudah hadir di rumahnya untuk merayakan kedatangan nya namun ia tak bisa lama lama duduk karena masih menahan perih bekas operasinya


Dena mengangguk kecil, meminta Mbok Nah mendorong kursi roda Adrian ke dalam kamar.


" Biarkan Noah tidur bersamaku, aku begitu merindukan nya".


Adrian sama sekali tak keluar kamar hingga malam hari, hanya Dena yang menemani keluarga besarnya serta Kak Radit dan Lisa.


Sebelum pulang Kak Radit menyempatkan diri berpamitan langsung pada Adrian.


Ia tak sanggup melihat keadaan adik nya yang sekarang.


****


Malam hari sebelum mereka tidur, Adrian ingin berganti pakaian.


Dena membantu suaminya melepas baju yang ia kenakan.


" Sayang, kau bilang waktu itu kau menjalani operasi kedua untuk membetulkan tulang rusuk mu. Tapi kenapa luka operasi nya ada di perut bagian bawah mu?", Dena bertanya curiga setelah melihat perban yang masih melekat di perut Adrian.


Adrian bungkam, ia tak menyiapkan jawaban apapun atas pertanyaan Dena kali ini. Bagaimana otak nya bisa berpikir, setelah operasi transplantasi ginjal dilakukan jangankan untuk mengolah otaknya memikirkan alasan, menahan sakit yang terus terusan mendera nya saja ia sudah ingin menyerah.


" Aku lelah sayang, sudahlah jangan kau pikirkan keadaan tubuhku", Adrian berbalik tidur membelakangi Dena.


" Aku merasa kau sedikit berubah, ada apa?", Dena merasa ada yang tak beres dengan sikap suaminya.

__ADS_1


Adrian tak bisa menjawab, ia memegang perutnya menahan sakit namun ia tak mengatakan apapun pada Dena.


" Maafkan aku sayang, aku merasa tak pantas lagi untukmu".


" Hey, apa yang kau bicarakan? Aku tak pernah mempermasalahkan keadaan mu yang sekarang. Kenapa kau berpikiran seolah aku istri jahat yang tak tahu diri", Dena kesal dengan pernyataan Adrian barusan.


" Kau cantik dan kau sempurna saat ini, ginjal barumu akan menjaga mu tetap baik baik saja. Sementara aku? Aku begitu banyak kekurangan", Adrian sangat merasa rendah.


Dena memeluk suaminya dari belakang.


" Berhentilah untuk berkata seperti itu, bagiku tak ada yang berubah darimu. Kau tetap suami terbaik bagiku".


Adrian menarik nafas panjang memegang kembali perutnya, merasakan tubuh yang semakin menggigil.


Ia menarik selimut lebih tinggi hingga menutupi bagian lehernya.


" Aku tidur duluan ya sayang, aku tidak enak badan".


Adrian yang sekarang jauh berbeda dengan Adrian yang dulu, dulu ia tak akan bisa tertidur sebelum menghabiskan malam malam panjang dengan penuh keringat bersama istrinya. Dan sekarang lihatlah, ia seperti tak menganggap keberadaan Dena di sampingnya.


Bukan karena rasa cinta yang memudar, namun rasa cinta yang begitu kuat membuatnya tak ingin Dena terlalu memikirkan kesehatan nya.


Dena masih tak bisa memejamkan matanya.


Ia mencoba merangkai semua kejadian kejadian selama beberapa bulan terakhir. Menurutnya begitu banyak kejanggalan, mulai dari Adrian yang tak ingin ditemani selama pengobatan, lalu kabar tentang adanya pendonor ginjal yang bersamaan dengan kepergian Adrian, ditambah lagi saat ia ingin bertemu Adrian disana namun Adrian mengatakan ia di karantina.


Dena baru berpikir sekarang, ia mencari informasi di internet mengenai operasi pembetulan tulang rusuk. Tak ada karantina seperti yang diucapkan Adrian.


Dan terakhir, yang mengganggu pikiran Dena adalah saat tadi ia melihat bekas luka di perut Adrian yang letak nya sama persis seperti bekas operasi cangkok ginjal nya.


Ia tak melihat perban atau bekas operasi baru di dada Adrian. Pikiran Dena sudah melanglang jauh.


" Apakah mereka semua menyembunyikan sesuatu dariku?".


" Aku harus menyelidikinya sendiri".


Lalu terakhir yang melintas di kepala nya adalah pertemuan tak sengaja nya dengan Mas Adam di rumah sakit kala itu.


" Apa semua ini ada hubungan nya?".


Dena mulai merasa curiga. Ia harus menyelidiki nya, entah bermulai dari mana ia harus menemukan segala petunjuk itu.


" Tuhan, jika benar Adrian yang mendonorkan ginjal nya untuk ku. Aku tak akan memaafkan diriku".


Esok hari, saat bangun dari tidurnya ia mendapati Adrian merintih, tubuhnya dingin sekali, bibir nya gemetar menahan sakit.


" Apa yang terjadi sayang, katakan padaku apa yang kau rasakan".


" Peluk aku, aku hanya ingin kau memelukku", suara Adrian terdengar bergetar.

__ADS_1


Dena memeluk tubuh lemah suaminya.


" Katakan padaku, apa kau menyembunyikan sesuatu dariku", Dena setengah menangis membayangkan kalau benar Adrian yang mendonorkan ginjal nya.


Adrian bersikeras masih ingin menutupi semuanya.


" Tidak ada apa apa, teruslah berada di dekatku. Aku hanya butuh itu".


" Kita ke rumah sakit saja", pinta Dena pada Adrian.


Adrian hanya menggeleng keras.


" Aku tidak mau, biarkanlah aku menghabiskan hari hariku di kamar hangat kita bersama mu dan Noah anak kita meskipun aku harus menahan sakit ".


Dena tak ingin mendesak Adrian, meskipun sebenarnya ia ingin menanyakan kenapa luka di perut nya sama seperti yang ia punya.


Lama Dena memeluk suaminya, hingga pria itu terlelap kembali tertidur dengan gigil di tubuhnya.


Dena menyingkap sedikit baju Adrian, mengamati sekali lagi perban yang menempel di perutnya, kemudian Dena beralih ke kotak obat milik Adrian. Ia mencoba melihat obat obat yang suaminya konsumsi.


" Apa ini? Mengapa Adrian menyimpan obat Imunosupresan sama seperti yang aku konsumsi setelah cangkok ginjal".


Dena semakin tak sabar untuk mencari bukti lebih. Air mata nya semakin tak bisa ia bendung lagi, melihat Adrian yang tertidur.


Ia mencari tas milik Adrian yang ia simpan di dalam lemari pakaian. Dena membongkar isinya, dan ia menemukan beberapa buah amplop.


Tangan Dena bergetar, membuka dan membaca satu per satu dari amplop amplop itu.


" Sayang, kau.....", air mata menetes kian tak terbendung.


" Apa yang kau lakukan", Dena terduduk bersandar masih dengan tangan mencengkram erat kertas kertas dari dalam amplop.


Ia ingin segera mendapat penjelasan dari Adrian, namun tidur lelap lelaki itu tak bisa membuat Dena membangunkan nya begitu saja.


Adrian, melangkah lah sejauh mungkin, menghindar lah semampumu.


Namun aku akan tetap duduk disini dan tidak akan pernah beranjak pergi.


Karena kehilangan yang sesungguhnya adalah berdampingan namun hatimu tak sepenuhnya percaya padaku.


...----------------...


Tak butuh waktu lama bagi Dena untuk mengungkap semua ini.


Apa Adrian bisa bertahan ya dengan keadaan nya yang semakin memburuk?


Bagaimana kemudian jalan indah yang Tuhan berikan untuk Adam?


Next next next, kita akan menguak lagi cinta lama di antara keduanya.

__ADS_1


Yuk tetap dukung karya author dengan like komen n vote nya🥰🙏🙏


__ADS_2