
Malam ini langit begitu cerah. Bintang gemintang menghias angkasa, bulan purnama bagai sengaja diletakkan untuk menyempurnakan nya.
Adam duduk sendirian dengan kaki terjulur di atas rumput sintetis di teras rumahnya selepas makan malam, ketika ponselnya berdering.
Ia melihat di layar telepon nya. Julia memanggil, perempuan yang sudah dua bulan terakhir dekat dengan nya selain Dena. Meskipun baginya tak akan pernah ada perasaan lebih untuk perempuan itu, jika ia membalas pesan pesan nya ataupun menemani perempuan itu makan berdua bukan karena ia menaruh hati, tapi ia menghargai Julia sebagai seorang perempuan.
Adam mengangkat telepon.
" Hallo Julia, ada apa?".
" Mas Adam, apa kau sedang sibuk?", suara Julia terdengar lemah.
" Tidak, kenapa memangnya?".
" Aku butuh bantuan Mas Adam, aku sedang tidak enak badan. Bisa kah Mas Adam membelikan ku obat dan mengantarnya ke kost an ku?"
Mas Adam sebenarnya ingin menolak, tapi ia membayangkan Julia yang sedang sakit dan membutuhkan nya, tak mungkin ia tega membiarkan nya.
Lelaki itu pun mengiyakan, setelah Julia mengatakan obat apa saja yang perlu ia beli.
Mas Adam malam itu datang ke kost an Julia, sebuah kost an privat yang bisa dibilang mewah. Ia membawa obat obatan yang tadi di pesan Julia.
Mas Adam masuk, melihat Julia berbaring di kasur nya menggunakan selimut.
" Apa kau demam?"
Julia menggeleng.
" Tidak, kepalaku tadi sedikit pusing. Mungkin masuk angin".
" Kehadiran Mas Adam disini membuatku sedikit membaik".
Lelaki itu tak ingin berlama lama berada dalam sebuah kamar hanya berdua dengan Julia. Ia takut menimbulkan fitnah dan ia juga merasa tak nyaman.
" Kalau begitu aku pulang sekarang ya, kau bisa kan minum obat sendiri?", tanya Mas Adam.
Julia tak menjawab, ia beranjak dari tempat tidurnya. Membuka selimut yang sedari tadi menutupi tubuhnya.
" Tunggu Mas, jangan pulang dulu", tangan Julia mencengkram lengan Mas Adam.
Perempuan mungil itu memakai baju tidur tipis yang menerawang, memperlihatkan paha putih nya serta belahan dada.
Ia nampaknya sengaja meminta Mas Adam datang ke kost an nya, berniat menjerat lelaki yang sudah menduda cukup lama itu.
__ADS_1
" Tutupi tubuhmu, tak pantas kau berpakaian seperti itu di hadapan laki laki yang bukan pasangan mu", Mas Adam menarik selimut di atas kasur dan memberikan nya pada Julia.
Namun Julia melempar selimut itu kembali ke tempat tidur.
" Apa Mas Adam tidak tertarik dengan ku?", Julia semakin mendekat ke tubuh Mas Adam.
Mas Adam menelan ludah, menatap perempuan cantik bertubuh mulus itu. Ia memang sudah lama sekali tidak bercinta, jika ia seorang lelaki bejat mungkin saat itu juga ia sudah menyerang tubuh Julia di atas kasur.
" Maaf Julia, aku bukan laki laki seperti yang kau pikirkan", Mas Adam menyingkir beberapa langkah dari Julia.
" Kenapa, apa aku kurang cantik?", Julia memberanikan diri kembali mendekat.
Ia kemudian melingkarkan tangan nya di leher Mas Adam, memeluk lelaki itu hingga bagian tubuhnya bergesekan pada tubuh Mas Adam.
" Mas Adam tahu, aku menyukai Mas Adam. Aku bahkan mau memberikan tubuhku malam ini untuk Mas Adam".
Mas Adam dengan cepat melepaskan pelukan Julia di tubuhnya.
" Maaf Julia, aku hanya menganggap mu sebagai sahabat. Tak lebih."
Perempuan itu nampaknya belum ingin berhenti menaklukkan Mas Adam. Ia memang melepaskan pelukan nya, namun ia juga melepaskan pakaian tidur yang melekat di tubuhnya.
Hingga menampakkan tubuh telanjang nya pada Mas Adam, ia dengan cepat menarik tangan lelaki itu kemudian memaksa nya untuk mere*as kedua bukit kenyal milik nya.
Ada sesuatu yang berdenyut ngilu di tubuh Mas Adam, ia laki laki dewasa yang juga punya hasrat. Namun ia masih bisa mengontrol dirinya, meski tubuh telanjang Julia yang begitu indah sudah menantang di hadapnya.
" Apa yang kau lakukan Julia, kenakan pakaian mu. Aku tidak akan pernah melakukan itu dengan perempuan yang tidak aku cintai", Mas Adam meraih baju tidur yang tergeletak di lantai dan memberikan nya pada Julia.
Kini wajah Julia sudah merah padam, ia malu bercampur marah atas penolakan Mas Adam untuk nya. Ia pikir, dengan menawarkan tubuh indah nya pada laki laki yang sudah lama menduda ini ia akan dengan cepat menaklukkan hati Mas Adam. Ternyata tidak, laki laki tampan di hadapan nya ini tak tergoda sama sekali.
Julia memakai kembali baju tidur tadi, matanya merah hendak menangis karena begitu kecewa. Ia sudah menawarkan tubuhnya untuk menjerat Mas Adam, namun laki laki itu seperti terlihat jijik dan tak ingin menjamah sedikit pun tubuh nya.
" Kalau aku boleh tahu, siapa perempuan yang Mas Adam cintai?", ia bertanya sambil tertunduk malu.
" Kau tak perlu tahu, jika aku katakan pun kau tak akan mengenalnya. Yang pasti aku begitu mencintainya hingga membuatku tak mampu membuka hati untuk yang lain, termasuk kau", ucap Mas Adam sambil menahan gelora di dada nya yang sempat bergejolak akibat melihat tubuh Julia tadi.
" Sebesar apa Mas Adam mencintai perempuan itu?", Julia bertanya pelan.
Kali ini wajahnya tetap tidak menatap Mas Adam, melainkan menatap daun jendela di ujung kamar. Julia nampak lebih bertanya kepada langit malam diluar sana.
Mas Adam mengusap wajahnya sendiri, pertanyaan Julia barusan benar benar mencungkil semuanya.
" Aku tak pernah bisa mengungkapkan sebesar apa lagi aku mencintainya, meski hatiku bagai menanggung beban berat sepuluh gunung", Mas Adam berhenti sebentar, menelan ludah.
__ADS_1
" Lucu sekali mengenang bagaimana cinta antara kami mulai tumbuh di Ruangan Hemodialisa itu ", Mas Adam mengusap tengkuk nya, seperti masih bisa merasakan ujung jarum kupu kupu yang ia pegang menyentuh kulit perempuan itu.
" Berarti aku sama sekali tidak ada kesempatan?", tanya Julia sekali lagi.
" Maafkan aku Julia, aku tidak bisa membalas perasaan cintamu. Ingat, jangan pernah kau melakukan hal ini lagi. Jaga dirimu baik baik, aku harus pulang ".
Mas Adam pun pergi meninggalkan Julia dengan perasaan sakit hati dan kecewa mendalam atas penolakan nya.
Laki laki itu sudah berada di dalam kendaraan nya, namun ia belum menyalakan mesin.
Ia masih duduk bersandar di kursi, mencoba mengatur nafas nya dan menahan benda milik nya yang mulai mengeras di balik celana nya.
Kejadian di kamar kost an tadi membuat nafsunya yang ia tahan beberapa tahun kembali bergejolak. Namun, yang ia inginkan hanyalah tubuh perempuan yang ia cintai. Yang dulu pernah ia renggut keperawanannya.
Hasrat kelakian nya mulai menyergap hingga tertahan di ubun ubun.
" Dena, kau dimana", akhirnya ia mengirimkan pesan pada perempuan itu.
Dengan cepat ia langsung mendapat balasan nya.
" Di rumah Mas, aku sendirian. Noah dijemput Ibu untuk menginap disana ".
Rintik hujan diluar sana semakin deras menetes, semakin dalam pula hasrat itu menggelora di dada nya karena cuaca yang dingin. Ia merasa harus menuntaskan nya malam ini.
" Aku ke rumah mu ya", Mas Adam mengirimkan balasan pesan lagi. Iya tahu, Dena pasti tidak akan menolak kedatangan nya.
Ia melajukan kendaraan nya, tak sabar ia ingin segera sampai di rumah perempuan itu.
Percik api menyala di tiap sudut sesaknya ruang di dada.
Menyelinap di antara ruang kelabu berpeluk bungkam.
Malam ini, kupastikan kau akan mengakui perasaanmu juga.
...----------------...
Mas Adam kira kira mau ngapain ya ke rumah Dena?
Apa bakal terjadi lagi tragedi itu, hehehe...
Next, thor ceritain ya mereka ngapain aja😁
Tetep dukung terus ya karya thor, terima kasih🙏🥰
__ADS_1