
Tetes tetes embun masih basah mewarnai dedaunan di pekarangan rumah Dena, rumput rumput hijau pun masih terbiar mengembun saat kaki Dena mulai menapaki selangkah demi selangkah di atas nya tanpa alas kaki.
Hari masih menunjukkan pukul 05.30 tetapi Dena sudah bersemangat berjalan di sekitar pekarangan rumah nya, tersenyum sambil mencium aroma mawar merah yang sedang merekah dengan sangat cantik di atas pot pot bunga berjajar milik ibu nya.
Ya, hari itu adalah jadwal cuci darah nya yang ke lima. Entah kenapa, Dena mulai bersemangat setiap jadwal kedatangan nya ke Ruang Hemodialisa. Malam malam terasa panjang bagi nya hanya untuk menunggu waktu pagi hari. Tentu saja hal yang menjadi alasan nya untuk berbahagia adalah bertemu dengan lelaki itu, walaupun tidak ada kemajuan sama sekali untuk rasa cinta nya. Dena bahkan belum mempunyai nomor hand phone Mas Adam,lebih tepat nya tidak berani untuk meminta nya. Padahal Dena sangat berharap setiap ada pesan yang masuk di ponsel nya adalah sebuah nomor yang tidak ia kenal, yang ternyata adalah Mas Adam. Tapi sampai 2 minggu pertemuan mereka tidak ada tanda tanda Mas Adam untuk menghubungi nya sekedar menawarkan diri bertanya pada nya jika ada hal hal yang perlu di tanyakan.
Padahal di setiap Map pasien tertera nomor ponsel pasien yang dapat di hubungi, "Hhmmm, mungkin aku tidak begitu penting baginya" ujar Dena
Tapi tak mengapa, cukuplah bagi Dena hanya dengan diam diam menatap wajah hangat lelaki itu, mengagumi setiap kata yang terucap dari bibir nya. Itu sudah cukup bagi nya, cukup untuk sekedar memberikan semangat ia menjalani hemodialisa.
Hanya pesan masuk dari Lukas yang pernah ia terima. Tanpa basa basi, lelaki itu mengirimkan pesan singkat memberi tau kalau itu nomor ponsel nya. Bertanya pagi siang malam,sedang apa? lagi dimana? Dena malas menanggapi nya, hanya membalas singkat setiap pesan dari Lukas. Sebenarnya Lukas lelaki yang asyik untuk diajak bicara,dia humoris,tampan,mempunyai postur tubuh proposional untuk seorang laki laki. Namun sayang, Dena tak tertarik sedikit pun untuk mengenal lelaki itu lebih dalam . Lukas pun tidak menyerah mendekati Dena, ia tetap gencar mengirimkan pesan yang berisi perhatian perhatian kecil kepada Dena,meskipun ia tau Dena acuh terhadap nya.
Dena masih menapaki rumput rumput halus yang masih basah itu dengan bersenandung kecil, dari kejauhan Hasbi menatap kakak perempuan nya itu dengan sedikit perasaan lega. Akhir akhir ini ia melihat kakak nya sedikit bisa tersenyum,meskipun kondisi tubuh nya masih belum stabil. Dena masih sering merasakan pusing, muntah bahkan sesak meskipun sudah menjalani cuci darah selama empat kali . Dari informasi yang Hasbi dengar dari ibunya, memang hal hal seperti itu lumrah terjadi di awal awal terapi hemodialisa. Nanti seiring waktu, tubuh nya akan menemukan Berat kering sehingga merasakan nyaman seperti kondisi normal. Dena hanya perlu menjaga asupan yang masuk ke tubuh nya, memastikan kadar hemoglobin di dalam darah nya di angka normal. Nanti semua akan mulai membaik, begitu kata Ibu.
Hari itu Hasbi sudah berjanji kepada kakak nya,ia yang akan menemani ke rumah sakit. Hasbi sengaja mengambil cuti kerja, dia ingin melihat langsung bagaimana terapi cuci darah itu karena dari awal dia belum pernah sama sekali menemani kakak nya karena kesibukan kesibukan di kantor nya menjelang akhir bulan.
*** Satu jam kemudian, Dena sudah siap untuk berangkat ke rumah sakit. Ia memoles tipis riasan di wajah nya, dengan lipstik berwarna nude memberikan kesan natural di wajah nya yang memang sudah terlihat cantik.
Hasbi memacu kendaraan dengan kecepatan sedang, jarak dari rumah ke rumah sakit hanya di tempuh dengan waktu kurang lebih 15 menit, jadi Hasbi tidak terlalu terburu buru berpacu dengan waktu. Di balik kemudi, laki laki itu melemparkan fikiran nya kepada perempuan yang ia cintai namun telah ia lukai dengan keputusan nya kemarin sore. Dena melirik ke arah adik nya, mencoba menerka nerka apa yang sedang di fikir kan adik laki laki nya itu.
" Bagaimana kabar Amira?" ,tanya Dena memulai percakapan.
Hasbi yang sedang melamun, gelagapan saat ditanya tentang Amira. Ia menelan ludah nya, mengusap kasar wajah nya, bingung harus memberi jawaban apa.
" Hubungan kalian baik baik saja kan?", tanya Dena seolah menangkap sesuatu yang lain diantara Hasbi dan kekasih nya.
Biasanya Hasbi selalu bersemangat menjawab tiap pertanyaan mengenai kekasih nya itu.
Diam sejenak, mengatur nafas yang tersengal karena mendengar nama Amira di ucapkan.
" Sebenarnya..... ", Hasbi ragu untuk meneruskan kata kata nya
Dena menatap tajam ke arah Hasbi,mengisyaratkan agar Hasbi melanjutkan kata kata nya.
" Sebenarnya kami sedang tidak baik baik saja kak", akhirnya kalimat itu meluncur juga dari mulut Hasbi.
__ADS_1
Dena membelalakkan matanya, terkejut mendengar pengakuan Hasbi. Bagaimana bisa ia mengatakan hubungan mereka sedang tidak baik baik saja sementara rencana pernikahan sudah di depan mata.
" Kami memutuskan untuk menunda pernikahan.... Ehhh,aku maksudnya bukan kami", lanjut Hasbi meralat kalimat nya.
" Kau masih waras kan?"
" Alasan apa yang membuatmu mengambil keputusan bodoh seperti itu?" Dena memukul kencang lengan Hasbi.
Hasbi mengaduh kesakitan mengusap usap lengan nya.
Hasbi kini berada dalam dilema, ia bahkan tak tau harus menjawab apa. Karena tidak mungkin ia mengatakan alasan sebenar nya ia mengundurkan pernikahan mereka. Pasti kakak nya ini akan marah besar dan akan merasa semakin bersalah.
" Aku hanya belum siap Kak untuk menikah bulan depan, ada rencana Promosi kenaikan jabatan untuk ku dan rasa nya aku harus fokus dengan pekerjaan dan karir ku terlebih dahulu" , Hasbi terpaksa berbohong kepada kakak nya.
" Dasar bodoh, tidak ada habis nya kalau kau mengejar karir" Ingat,jangan kau buat perempuan mu terluka! Atau kau akan menyesal seumur hidup mu"., ucap Dena merasa gusar dengan alasan yang diutarakan adik nya.
" Deeggg.." , jantung Hasbi seketika berdetak kencang mendengar apa yang diucapkan kakak nya. " Bagaimana kalau yang di ucapkan Kak Dena sungguh terjadi, bagaimana kalau keputusan ku ini malah akan menjadi penyesalan seumur hidup ku?"
Hasbi menyeka keringat dingin yang keluar di sekitar dahi nya, ia benar benar tidak memikirkan sama sekali kemungkinan terburuk seperti itu akan terjadi. Ia melirik kakak nya yang masih tampak gusar menggerutu kecil atas kebodohan nya . Hasbi menatap tubuh kurus kakak nya yang dahulu terlihat berisi dan segar, penyakit kronis itu menggerogoti bobot tubuh nya. Pancaran sinar mata nya pun tak seindah dulu, namun Hasbi masih melihat semangat yang membara di setiap tatapan mata nya. "Aahhhh...bagaimana bisa kak aku menikahi tunangan ku di saat kau masih membutuhkan begitu banyak waktu ku?", ujar Hasbi di dalam hati.
" Kalau aku menikah, aku sudah berjanji kepada orang tua Amira untuk tinggal di rumah mereka karena Amira anak satu satu nya di keluarga itu" , Hasbi mencoba mengingat apa yang ia sepakati bersama kedua orang tua Amira saat melamar nya.
" Kau yakin hanya karena karir alasan mu menunda pernikahan mu?", Kak Dena bertanya menyelidik.
Hasbi menganggukkan kepala,kemudian mengalihkan pembicaraan, mengatakan bahwa mereka hampir sampai di Rumah sakit.
...****************...
Hasbi berjalan menggandeng tangan kakak perempuan nya itu, jika orang orang melihat mereka pastilah mereka fikir kakak adik itu adalah pasangan kekasih. Hasbi meminta kakak nya untuk duduk menunggu di kursi tunggu sementara ia mendaftarkan berkas berkas di loket pendaftaran. Tidak butuh waktu lama, kedua kakak adik itu telah berjalan menyusuri koridor rumah sakit.
Di sepanjang perjalanan, Dena masih saja ingin membahas apa yang tadi mereka bicarakan di mobil. Ia masih tak habis fikir kenapa tiba tiba adik nya memutuskan hal yang sangat berat di terima oleh pihak manapun.
" Apa Ayah dan Ibu sudah tau dengan keputusan mu?", tanya Dena sambil berjalan mensejajari langkah Hasbi.
Hasbi hanya menggeleng,berucap lembut kepada kakak nya agar tak membahas hal itu disini.
__ADS_1
" Kak Dena tak usah memikirkan itu, fokus saja dengan kesehatan kak Dena", ucap Hasbi pada kakak nya yang sepertinya masih belum bisa menerima semua ini.
"Bagaimana aku tidak memikirkan nya?"
" Kau bahkan tidak memposisikan dirimu di posisi Amira kan?"
" Kau akan menyesal kalau kau tetap keras kepala ", ucap Dena dengan nada mengancam.
Hasbi tidak berusaha menjawab apapun, ia hanya menarik tangan kakak nya seraya menunjuk ruangan di hadapan mereka yang tinggal beberapa langkah lagi " RUANG HEMODIALISA ".
Pagi itu, dengan wajah yang masih tampak gusar, Dena memasuki ruangan menyapa lembut lelaki yang ia rindukan kehadiran nya.
" Pagi Mas Adam", sapa Dena
" Pagi juga Dena, gimana hari ini?" Sehat kan?"
Dena seperti biasa hanya menjawab dengan anggukan kecil dan senyuman tipis.
Lukas tampak kesal melihat Dena yang dengan wajah ceria menyapa Mas Adam dan tak berniat sedikitpun menyapa Lukas yang ada di sebelahnya. " Dia fikir aku makhluk halus yang tak tampak keberadaan nya kah?", gerutu lukas dalam hati.
" Hei hei.. tunggu siapa laki laki yang bersama Dena ya?" Apa lelaki itu kekasih nya? Lukas bertanya tanya dalam hati.
Dena sudah berbaring di tempat tidur nya, Hasbi mengambil posisi duduk di kursi sebelah kanan kakak nya, mengawasi ruangan sekitar.
Ia melihat beberapa pasien sedang di tangani perawat perempuan.
Lukas dan Mas Adam tampak masih menyiapkan beberapa peralatan yang di butuhkan. Lukas menyenggol lengan Mas Adam, ia memberi isyarat kepada Mas Adam untuk memperhatikan laki laki yang menemani Dena.
Adam menyeringai melihat tingkah Lukas,
" Sepertinya perjuangan mu harus berhenti sampai disini kawan" , Mas Adam menjawab dengan lelucon agar Lukas semakin gusar
" Lihatlah, lelaki yang menemaninya itu! Kau kalah tampan kan" Mas Adam semakin membuat suasana hati Lukas menjadi panas
" Ciiihhh, tampan apanya... Tentu saja aku berada di atas level ketampanan lelaki itu" jawab Lukas sambil mengembangkan hidung nya,membanggakan diri nya sendiri.
__ADS_1
Mas Adam terkekeh mendengar Lukas yang tingkat kepedean nya di atas rata rata.
Sementara di tempat tidur sana, Dena tak sabar menunggu giliran nya untuk di hinggapi dua buah kupu kupu hijau. Namun dia masih saja antusias membujuk adik nya untuk merubah keputusan nya. Masih berkobar kobar mengancam adik, " KAU AKAN MENYESAL!!!!!!"