
Hujan ku telah terhenti, namun pelangiku tak kunjung kembali.
Ada apa? Apakah langit menahan mu dengan pesona nya?
Ataukah awan menggoda mu dengan iringan nya yang menawan?
Lama sekali aku menantimu.
Tak ku hiraukan sedikit pun seruan waktu yang berkali kali memintaku untuk pasrah dan menyerah.
Tak sekalipun aku peduli dengan ragaku yang mulai lelah dan melemah.
Hatiku tetap saja meronta dan memaksa untuk bertahan.
Aku yang dulu nya suka menari di bawah gemericik hujan kini hanya mampu memandangi nya dengan kerinduan.
*** Pagi yang mendung...
Awan gelap menghiasi langit kota, di lantai lima gedung perkantoran itu Dena sedang memulai hari nya dengan disambut celotehan Puji yang tak henti penasaran tentang hubungan nya dengan Adrian.
Hampir dua minggu ini ia menjalani hubungan dengan Adrian, bisa dikatakan sekarang ia adalah kekasih dari lelaki yang begitu banyak digandrungi kaum hawa di kantor ini.
Kabar tentang hubungan mereka dengan cepat nya menyebar di kantor, tak terhitung berapa banyak perempuan yang patah hati. Tak terhitung pula berapa banyak yang merasa iri dengan perempuan yang berhasil mendapatkan hati Adrian.
Mereka penasaran dan selalu ingin tau semua hal tentang Dena. Namun mereka tak beruntung untuk mendapatkan informasi apa apa, karena sikap Dena yang tertutup dan tidak banyak mempunyai teman di kantor itu.
Yang mereka lihat hanya lah sosok Dena sebagai perempuan cantik yang nyaris sempurna, itu pun hanya bisa mereka lihat saat jam makan siang di kantin.
Dena dan Adrian jarang sekali mengumbar kebersamaan di tempat kerja, bahkan saat makan siang di kantin pun Dena terlihat lebih sering bersama Puji.
Puji tentu saja merasa bangga bersahabat dengan Dena, ketika banyak mata menatap Dena di kantin Puji lah yang paling senang karena ia ikut naik pamor.
Sedangkan Dena tak pernah nyaman dengan tatapan tatapan itu, ia tak ingin menjadi populer.
Ponsel Dena bergetar, ia membuka pesan masuk dari Risma, salah satu perawat perempuan di Ruangan Hemodialisa.
" Kak Dena, maaf undangan aku kirim via online"
" Soal nya sekarang aku sudah ambil cuti kerja, jadi nggak ketemu besok di Rumah sakit".
" Jangan lupa datang ya kak, saat akad nya juga datang ya".
Kemudian Dena membuka file yang dikirim bersama pesan itu. Undangan pernikahan Risma, hari Minggu besok dengan akad nikah di sebuah masjid dan resepsi yang di selenggarakan malam hari nya di sebuah Hotel.
" Terima kasih Risma, aku usahain datang ya", Dena membalas pesan Risma.
"Pernikahan?"
" Ahh...aku yang sudah berumur 27 tahun ini kapan bisa menikah?"
" Adrian?? Apa ia jodoh yang di kirimkan Tuhan untuk ku?"
" Tapi bagaimana aku bisa menikah dengan orang yang sampai saat ini belum bisa aku cintai meski aku sudah mencoba belajar mencintainya", pertanyaan berkelebat di kepala Dena.
Dena melirik Puji yang sedang bersiul siul kecil.
" Puji .. hey Puji ", Dena mengencangkan suara nya karena tampak nya teman nya yang satu ini mulai ada gangguan di telinga nya, hehehe
" Iya, ada apa Den?"
" Aku mau bertanya sesuatu dan minta pendapatmu".
Puji menarik kursi nya mendekat ke sebelah kursi Dena.
" Tentang Adrian bukan?"
" Kalau iya cepatlah katakan, aku akan jadi penasehat yang baik jika berhubungan dengan idolaku itu", ucap Puji dengan mimik wajah serius.
Ingin rasanya Dena menimpuk kepala nya, namun ia sedang tak ingin bercanda sepagi ini.
" Puji, apa untuk perempuan seumuran ku sudah sepantas nya untuk menikah?"
" Apa.....??? Adrian mengajakmu menikah???", Puji berkata setengah berteriak, membuat rekan rekan yang lain menoleh ke arah mereka.
" Tutup mulutmu", Dena langsung menyekap mulut Puji dengan kedua tangan nya sambil melotot.
__ADS_1
" Kecilkan volume suara mu, aku tidak mengatakan Adrian mengajak ku menikah".
" Aku hanya meminta pendapatmu", ucap Dena kesal dengan Puji yang selalu berbicara kencang.
" Lagian kenapa juga pagi pagi kau bertanya padaku tentang pernikahan, huh...", Puji mendengus.
" Aku menerima undangan pernikahan dari perawat di tempat cuci darah ku, dia masih berusia di bawah ku".
" Aku jadi bertanya apakah aku bisa di bilang perawan tua karena beluk menikah di usiaku yang sekarang?"
" Hahaha, tentu saja kau sudah tua"
" Jadi segeralah ajak Adrian mu menikah", Puji tergelak dengan tawa nya.
Kemudian seperti biasa fikiran mesum nya berimajinasi membayangkan betapa beruntung nya Dena jika bisa merasakan malam pertama dengan lelaki keren itu
Sementara Dena masih memikirkan jawaban Puji yang mengatakan kalau ia sudah tua dan sudah sepantas nya menikah. Padahal ia tak menyadari ucapan yang keluar dari mulut Puji hanyalah angin lalu.
......................
Minggu pagi
" Kak Dena ada acara apa, tumben pakai beginian?", tanya Hasbi kepada Dena yang pagi itu sudah rapi dengan baju brokat biru muda yang senada dengar rok panjang ketat mengikuti lekuk tubuh nya.
" Aku mau datang ke akad nikah Risma"
" Ohh iya, Laras juga mengajakku untuk menemaninya malam ini ke Resepsi pernikahan Risma"
" Kak Dena pergi bersama Adrian?", tanya Hasbi.
Dena menggeleng..
" Aku pergi sendiri pagi ini"
" Nanti malam di resepsi nya baru Adrian yang menemaniku".
Hasbi sebenar nya sedikit khawatir membayangkan nanti kakak nya akan bertemu lelaki itu, ia takut kakak nya terhanyut perasaan dan menjadi ragu hingga menghalangi hubungan baiknya dengan Adrian.
" Aku berangkat sekarang ya"
" Ok...".
*** Dena tiba di halaman masjid, melihat sudah ramai mobil terparkir di sepanjang jalan depan Masjid. Ia mengenali salah satu mobil yang terparkir disitu,
" Mas Adam, ia juga datang?"
" Hey..tentu saja ia datang, Risma kan rekan kerjanya".
Dena merasa malas membayangkan di dalam sana akan bertemu Lisa, pasti ia memanas manasi Dena dengan tingkah manja kepada suaminya. Ingin rasanya berbalik arah dan pulang ke rumah saja. Namun suara Lukas yang menyapa nya membuat urung ia melakukan nya .
" Dena, kau juga datang?"
" Ayo kita masuk, sebentar lagi acara nya dimulai", ujar Lukas.
Dena masuk ke dalam masjid bersama Lukas, Dena menyapu ruangan dengan pandangan nya, mencari sosok yang sebenarnya ingin ia hindari .
Ia melihat lelaki itu duduk di sisi kanan pintu masuk, pandangan mereka bertemu beberapa detik.
Dena tak melihat ada Lisa di sebelahnya, syukurlah kalau ia datang sendirian jadi aku tak akan tersulut emosi dengan tingkah istrinya, gumam Dena.
Adam menatap Dena yang datang bersama dengan Lukas.
" Hey...apa Lukas yang sebenarnya dimaksud Dena sebagai kekasih ny?", Lukas mengepalkan tangan nya. Ingin sekali rasanya ia menyeret Lukas saat itu kemudian memaksa nya untuk mengaku .
Dena sudah duduk bersebelahan dengan Lukas, sementara Adam dari kejauhan masih menatap sebal. Lukas yang menyadari hal itu malah menertawakan Adam, ia semakin jadi ingin melihat senior nya itu kesal. Ia merapatkan duduk di samping Dena, kemudian mengajak Dena berbincang layak nya mereka adalah sepasang kekasih.
" Kena kau Mas Adam"
" Biasanya kau yang selalu membuatku cemburu dengan kedekatan mu dan Dena"
" Sekarang ku balas kau", Lukas terkekeh dalam hati.
Suasana di ruangan masjid mulai hening, semua takzim mendengar suara pemuka agama yang memimpin prosesi itu dengan lantunan doa doa.
Akad nikah Risma segera di mulai.
__ADS_1
Dengan mantap calon pengantin lelaki mengucapkan ijab kabul dengan satu tarikan nafas, setelah para saksi mengatakan sah momen haru mulai tercipta di ruangan itu.
Tangis kebahagiaan kedua orang tua Risma yang melepas putri nya untuk mengarungi bahtera rumah tangga bersama lelaki pilihan nya mewarnai pemandangan pagi itu.
Di iringi pelukan dan ciuman yang dibanjiri air mata. Dena terhanyut suasana haru itu, mata nya berkaca kaca membayangkan kelak suatu hari nanti orang tuanya pun harus rela melepas nya.
" Semoga aku di halalkan oleh lelaki tepat yang benar benar aku cintai", batin Dena.
Dena beserta tamu undangan yang hadir di ruangan Masjid kala itu bergantian memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai.
Dena sempat berpapasan dengan Mas Adam, seperti biasa lelaki itu menyapa dengan hangat.
" Dena, kau datang sendirian?", pertanyaan Adam sebenarnya lebih menyelidik tentang keberadaan Lukas di samping Dena.
" Iya Mas, aku datang sendiri dan kebetulan tadi bertemu Lukas di depan".
Jawaban Dena membuat hati Adam menjadi lega, setidak nya bukan playboy itu yang jadi kekasih Dena, gumam nya.
" Kenapa kau tak datang dengan kekasihmu?", Adam masih berusaha menyelidik.
Dena tertawa mendengarnya,
" Hahaha, harusnya aku yang bertanya kenapa Mas Adam tak datang bersama istri tercinta?, ada penekanan kata ketika Dena mengucapkan istri tercinta.
Adam terdiam, menatap mata perempuan itu dan bisa merasakan ada api cemburu dalam kalimatnya.
" Ohh ya nanti malam akan ku kenalkan Mas Adam dengan kekasih ku", ucap Dena menyeringai mencoba memancing kecemburuan lelaki itu.
Adam tak bisa berkata kata lagi, hanya memekik dalam hati.
" Dena, berhentilah membuatku cemburu".
Ruangan masjid sudah mulai sepi, para tamu sudah pulang dan hanya menyisakan keluarga para mempelai. Lukas pun sudah terlebih dahulu pulang karena ada acara lagi di rumah keluarganya.
Dena melangkahkan kaki nya keluar masjid, meninggalkan lelaki itu tanpa berpamitan sama sekali.
Ia sudah berada di halaman luar masjid ketika seruan Mas Adam menghentikan langkahnya.
" Dena, tunggu....!"
Dena menoleh ke belakang, Mas Adam berlari menghampirinya.
" Malam ini kau sungguh ingin memperkenalkan ku dengan kekasihmu?"
Dena mengangguk, ia bisa menangkap kecemasan di mata lelaki itu.
" Apa lelaki itu sungguh sungguh mencintaimu?",tanya Adam.
" Tentu saja, ia mencintaiku", Dena menjawab yakin.
" Dan..... apa kau juga mencintainya?", poin penting dari semuanya adalah pertanyaan ini.
Dena diam tak mampu menjawab, bahkan tak mampu untuk sekedar mengangguk ataupun menggeleng seperti yang biasa ia lakukan.
Adam mendekat ke arah Dena, kemudian menggenggam erat tangan perempuan itu dengan penuh arti.
" Jika kau sungguh sungguh mencintainya, teruskan lah.... aku akan selalu berdoa untuk kebahagiaanmu".
" Namun jika kau tidak mencintainya dan hanya melakukan itu untuk menghindari seseorang yang sebenarnya engkau cintai, maka aku mohon hentikan semua itu".
Angin pagi sejuk di sekeliling masjid, untuk pertama kalinya kening Dena di kecup suami orang.
Dena melepaskan genggaman tangan Adam, ia berlari meninggalkan lelaki itu dengan mata yang berlinang air mata.
Ia menghempaskan tubuh nya di dalam mobil, duduk dengan mengusap kasar kening nya yang tadi dicium Mas Adam.
Ia masih bisa merasakan nafas nya yang menderu. Kecupan pertama dalam hidup nya memang ia dapatkan dari laki laki yang pertama mengenalkan cinta padanya. Yang ia sesali hanyalah kenapa saat itu terjadi, lelaki itu masih berstatus suami orang.
......................
Author ngerasa paling tersentuh dengan adegan yang terjadi hari ini, hehehe..
Kasian ya Adrian, kira kira Dena tetep lanjutin hubungan nya dengan Adrian gak ya??
Ikuti terus Up nya ya, jangan lupa like nya reader🥰🥰
__ADS_1