
Mereka tiba di pantai Kuta siang itu sudah sangat ramai di padati wisatawan lokal maupun luar daerah.
Pantai yang terletak di sebelah selatan kota Denpasar itu memang terkenal dengan hamparan pasir sepanjang 1,5 km yang menghadap langsung ke Samudra Hindia.
Laras tak sabaran ingin menginjakkan kaki nya di pasir berwarna putih kekuningan dengan tekstur halus itu.
Ia bahkan berlari kecil, lupa dengan perut nya yang berisi.
" Laras...hey jangan berlari, nanti perutmu sakit", Hasbi mengejar istrinya yang sudah berada jauh di depan.
" Sayang, masih panas sekali kalau kau ingin bermain pasir pantai sekarang", Adrian menutup kepala Dena dengan tangan nya untuk mencoba menghalau sinar matahari.
" Kita istirahat disana saja", Dena menunjuk tenda tenda payung yang disewakan sepanjang pantai.
Akhirnya mereka berteduh di bawah tenda payung, dan Dena bisa menikmati halusnya pasir putih sembari duduk memainkan jari jari kaki nya.
" Kau suka sayang?", tanya Adrian.
Dena mengangguk.
" Aku selalu menyukai pantai sayang, kau ingat kan pertama kali kau menyatakan perasaan padaku juga di pantai?", Dena mengingat lagi kenangan kala itu.
Adrian tentu saja masih ingat jelas segala hal tentang istrinya itu.
" Sayang, kau mau menemani aku kesitu?", tanya Adrian menunjuk ke arah laki laki yang sepertinya masyarakat lokal yang menawarkan jasa tato.
" Ayo, dengan senang hati aku akan menemanimu sayang".
Adrian berniat memasang tato temporer di bahu nya, ia membuka kaos yang ia kenakan.
" Pak, bisa buatkan saya tato wajah perempuan cantik ini?", Adrian menunjuk istrinya.
" Beri tulisan nama Dena di bawahnya", pinta Adrian.
Pembuat tato temporer itu mulai melukis di kulit Adrian, tak lama ia sudah selesai sesuai dengan apa yang di minta Adrian.
" Kau menyukainya sayang?", Adrian bertanya pada Dena.
" Kenapa bertanya padaku, kan yang di tato tubuhmu?".
" Tentu saja aku bertanya padamu, kan tato ini melukiskan wajah dan namamu".
Dena tersenyum dengan wajah memerah .
" Kau ingin di buatkan tato juga di tubuhmu?"
Dena berpikir sejenak dengan tawaran Adrian.
Ia mengangguk.
" Boleh, aku mau tanganku di tato dengan gambar dua kupu kupu".
Dena menatap hasil tato di lengan kanan nya, dua kupu kupu cantik lambang perasaan nya.
Andai ia bisa mengukir nama di situ, mungkin ia akan mengukir nama itu.
" Ahhh...kenapa pikiran itu muncul Dena, tak seharusnya kau begitu", Dena menolak pikiran yang tadi muncul di otak nya.
Hasbi dan Laras menghampiri mereka.
" Adrian, ayo kita berselancar", ucap Hasbi.
__ADS_1
Ide yang bagus nampaknya bagi Adrian.
Akhirnya mereka berdua berselancar dengan menyewa papan selancar, mereka memilih spot surfing untuk pemula.
Sementara Dena dan Laras menunggu mereka dengan berbelanja pernak pernik yang banyak ditawarkan pedagang lokal di sepanjang pantai.
Dena membeli sebuah topi pantai yang langsung ia kenakan. Ia terlihat cantik dengan topi dan rambut tergerai.
Laras entah membeli banyak sekali pernak pernik.
Adrian dan Hasbi kembali ke tepi pantai dengan pakaian basah dan segera berganti pakaian.
Hasbi kembali dibuat gusar dengan Laras yang sudah menenteng banyak barang belanjaan.
" Baru saja ditinggal sebentar Ras, kau sudah penuh dengan barang barang itu".
Laras tetap saja cuek menanggapi Hasbi, ia malah menarik tangan suaminya untuk kembali menemaninya berbelanja.
Matahari semakin tumbang ke Barat .
Seorang perempuan paruh baya warga lokal mendekat ke arah Dena menawarkan jasa kepang rambut.
Adrian mengangguk setuju, menginginkan rambut panjang istri nya di kepang.
Jemari jemari perempuan itu dengan lihainya mengepang rambut indah Dena sampai ke bawah.
Adrian mengagumi kecantikan istrinya, menyelipkan rambut halus yang tersisa di pinggiran telinganya.
Ia memeluk tubuh istrinya dari belakang, menatap ombak yang memukul pesisir.
Sayang, maukah kau tetap memelukku dengan erat dan takkan membiarkanku menyerah?
Jika suatu hari nanti aku tak bisa lagi berjuang bersamamu.
Andai mulutku tak bisa lagi berucap,
Masihkah kau bisa mendengarkan suara hatiku dan tetap tulus mencintaiku?
Sebab, sungguh di kehidupan ini aku hanya ingin sehidup sesurga bersamamu.
Terima kasih karena kau mencintaiku..
Dena mengucapkan kalimat panjang itu dengan penuh rasa haru.
Adrian mengecup lembut kening Dena.
" Tentu saja sayang, kau tak perlu memintanya. Aku pasti akan melakukan itu".
Saat memandangmu, aku menghela nafas untuk beberapa kali.
Memastikan bahwa degupan jantung itu bukanlah dari diriku
Sialnya, seberapa helaian nafas pun yang kubuat, degupan itu masih terasa menempel di dada.
Senja mulai turun sampai batas horizon. Para wisatawan langsung sibuk mengangkat gadget untuk mengabadikan eksotisme pantai ini.
Tone foto siluet pun jadi pilihan untuk mengabadikan cantiknya Pantai Kuta.
Adrian semakin erat memeluk pinggang istrinya, air laut membasahi kaki, angin semilir dan pemandangan orange langit membuat suasana semakin hangat di hati mereka .
Sayang, kau tau senja tak seindah pelangi?
__ADS_1
Tetapi senja selalu tepati janji, kini ia pergi, esok pasti kembali.
Hanya senja yang tau cara berpamitan dengan indah .
Mereka bergenggaman tangan semakin erat, tak ingin sedetikpun melewatkan sunset di depan mata yang menghiasi cakrawala.
" Sayang, berjanjilah untuk selalu bahagia dengan segala cinta yang kuberi untukmu", Adrian mengucapkan itu dengan kelopak mata yang menahan tangis, ia begitu bahagia memiliki perempuan ini.
Dena membalikkan tubuhnya, sekarang mereka saling berhadapan.
Mereka berciuman di detik detik sunset akan benar benar menghilang. Pemandangan siluet yang indah dengan latar belakang sunset di Kuta Bali.
Bolehkah kugantung saja matahari
Di arah pukul lima dua belas menit
Tak perlu terbenam hari ini.
Biarkan mengapung tanpa daya
Biarkan seperti tanpa dosa
Biarkan ia tetap jingga
Lalu kita selalu senja
Apalagi yang perlu kuminta dari semesta
Selain senja singkat yang terjeda
Tanpa putaran jarum jam
Dan kau yang luluh lantak di pelukan.
Hingga camar lelah mendayung sayapnya
Sampai matahari putus dari gantungannya
Dan gelap menarikmu paksa dari pelukan
Sunset di Kuta hari itu menjadi saksi dua hati yang saling berjanji.
Pada sunset mereka belajar yakin
Waktu itu relatif
Tidak penting berapa lama,
Tidak peduli kapan kau datang,
Tidak penting kapan kita baru berjumpa
Tetap satu tujuan terakhir melabuhkan cinta.
...----------------...
Ini episode paling romantis ya Readers😁
Author membayangkan jadi Dena, uhuuu rasanya mendapatkan laki laki yang begitu mencintainya seperti Adrian.
Ngetik episode ini rada lama karena otor lagi di Ruang Hemodialisa.
__ADS_1
Jangan lupa like komen nya🥰🥰🙏