
Satu minggu berlalu setelah acara makan malam di Rumah Dena.
Juna hari itu berada di rumah bersama Adam, baru saja Adam menjemputnya. Setiap akhir pekan Juna memang tinggal bersama Papa nya itu. Dan kembali lagi ke rumah nenek nya jika sudah mulai masuk sekolah.
" Juna, kenapa tiduran saja?", Adam menghampiri anak lelakinya yang hanya tiduran di kasur.
Biasanya Juna anak yang aktif, bermain meskipun sedang sendiri.
" Pah, badan Juna panas".
Adam menghampiri Juna dan memegang kening anak lelaki nya itu, memang benar benar panas.
" Sejak kapan Juna mulai merasa demam?"
" Sudah dua hari Pa", Juna nampak lemas menjawab pertanyaan Adam.
" Mama sudah tau?".
Juna mengangguk.
" Tau pa, tapi mama bilang nanti juga sembuh sendiri", Juna menarik selimut semakin tinggi terlihat menggigil.
" Jadi mama belum membawa Juna ke dokter atau memberi obat?", Adam terlihat kesal.
Juna menggeleng.
" Mama sekarang sibuk terus, nggak pernah lagi main sama Juna, nggak pernah lagi nyuapin Juna", Juna terlihat sedih ketika mengatakan itu.
Hati Adam terasa ngilu, semakin tersayat, melihat anak nya seperti kehilangan sosok Ibu.
" Juna, minum obat ini ya", Adam memberikan satu sendok syrup penurun panas kepada Juna yang memang selalu ia simpan di kotak obat.
Anak laki laki itu menelan syrup manis tersebut dan kemudian kembali memejamkan matanya .
Adam keluar kamar, ingin menghubungi Lisa agar Juna tak mendengarnya.
" Hallo Lisa, apa kau tau Juna demam tinggi?", Adam langsung menanyakan ketika Lisa baru saja mengangkat telepon nya.
" Juna mengatakan dia tidak enak badan dua hari yang lalu, tapi aku pegang kepala nya tidak terlalu panas".
" Lalu kau tak memberinya obat?", suara Adam meninggi.
" Tidak karena aku pikir nanti dibawa tidur juga sehat lagi", santai sekali Lisa menanggapi Adam yang sudah menahan amarah.
" Kau gila ya, aku tidak mengerti jalan pikiranmu sebagai seorang Ibu".
" Apa susah nya kau beri obat penurun panas kepadanya".
" Kenapa kau malah menyalahkan ku?", Lisa tak terima Adam memaki dirinya.
" Tentu kau yang salah, Juna sudah mulai sakit saat bersama mu. Dan kau malah membiarkan nya".
" Juna bilang kau tak pernah lagi memperhatikan nya".
" Sesibuk apa kau sekarang hah?", Adam membentak mantan istrinya itu.
" Sekarang kau tau kan apa akibat dari perceraian kita?".
" Makanya jangan main main dengan perasaan mu", Lisa malah balik menyalahkan Adam.
" Diam kau Lisa, tutup mulutmu".
" Kalau kau tak ingin mengurus Juna, berikan Juna sepenuh nya padaku. Aku yang akan bertanggung jawab penuh atas Juna", kalau saja Lisa sekarang ada di depan nya mungkin ia sudah menampar pipi perempuan itu.
__ADS_1
" Hey...ingat Adam, hak asuh Juna jatuh di tanganku. Jadi kau jangan coba macam macam", Lisa mengancam.
" Untuk apa ia hidup bersama mu kalau kau sia sia kan".
" Ternyata keputusan ku untuk berpisah dengan mu adalah keputusan yang tepat, kau tak pantas jadi Ibu untuk anak ku", Adam sudah benar benar geram.
" Lalu, kalau aku tak pantas jadi ibu untuk anakmu kau pikir perempuan itu yang pantas?".
" Iya....Puas kau?", Adam langsung mematikan telepon nya daripada ia harus mendengar ocehan Lisa.
Adam kembali ke kamar, melihat Juna masih tertidur. Ia pegang kening nya, sudah turun sedikit panas nya.
Juna terbangun, kemudian tiba tiba memeluk Adam dan ia menangis.
" Hey ..jagoan kenapa menangis?".
" Juna, mau sama papa disini".
" Juna nggak mau tinggal sama mama", Juna masih terisak .
Adam mengelus kepala Juna, ia turut meneteskan air mata. Ia mengerti bagaimana perasaan anak nya sebagai korban dari perceraian nya dengan Lisa.
" Juna, makan dulu yuk biar cepat sembuh", Adam mengalihkan perhatian Juna agar tak lagi bersedih .
Juna menggeleng.
" Juna mau makan, tapi disuapin", bocah lelaki itu berkata manja.
" Ya sudah ayo papa yang suap".
Juna menggeleng lagi.
" Nggak mau papa , Juna mau di suapin tante Dena", rengek Juna.
" Hah.. apa apa an ini, waktu itu Laras mau makan kalau melihatku. sekarang Juna mau makan kalau di suapi Dena", Adam menggerutu.
" Kan hari ini hari sabtu pa, tante Dena pasti libur kerja".
Benar juga yang di katakan Juna.
" Ehh tapi kan hari ini jadwal Dena cuci darah", Adam melirik jam tangan nya. baru menunjukkan pukul sepuluh. Berarti Dena masih berada di rumah sakit, pikir Adam.
"Pa..ayo pa telepon Tante Dena suruh kesini", Juna terus saja merengek.
Adam berpikir, ia tak enak hati dengan Dena.
Apalagi kalau Adrian tahu, sepertinya dia akan keberatan. Namun Adam tak tega melihat Juna kecewa, ia sudah sangat kecewa dengan kelakuan Lisa, tak mungkin tega melihat anak itu kecewa karena permintaan nya tak di penuhi.
" Ayo pa, telepon Tante Dena. Biar Juna yang bilang sama Tante Dena".
Akhirnya Adam menyerah, ia mengambil ponselnya kemudian menelepon Dena.
Mudah mudahan tak ada Adrian di samping Dena, gumam Adam.
Dena yang sedang cuci darah di Rumah sakit, sedikit kaget mendapat telepon dari Mas Adam. Ia ragu ragu untuk mengangkatnya, karena ia masih ingin menjaga jarak dengan laki laki itu.
Namun akhirnya Dena mengangkat juga telepon tersebut.
" Hallo tante cantik, tante lagi dimana?", suara cempreng Juna mengagetkan Dena.
" Ehh Juna, tante lagi di rumah sakit. Kenapa Juna?", Dena masih tak mengerti kenapa Juna yang menelepon.
" Tante, tante cantik bisa ke rumah Juna nggak? Juna lagi sakit, Juna mau tante kesini, temani Juna makan", permintaan polos itu mengalir begitu saja.
__ADS_1
" Ehh..bagaimana ini, aku harus jawab apa. Aku nggak mungkin datang ke rumah Mas Adam, kalau Adrian tau ia pasti akan salah paham lagi", gumam Dena dalam hati.
" Tante....bisa kan?", Juna bertanya lagi.
" Juna, ada papa nggak disitu? kalau ada tante mau bicara sebentar", ucap Dena.
Juna menyerahkan ponsel kepada Adam.
" Hallo Dena, maaf kalau telepon dari Juna mengganggumu. Aku juga minta maaf atas permintaan Juna barusan", Adam merasa tak enak hati.
" Nggak apa apa kok Mas, cuma sepertinya aku nggak bisa datang kesana. Bukan ingin mengecewakan Juna, tapi Mas Adam mengerti kan posisi ku".
" Lagian nggak enak juga kalau aku berada di rumah Mas Adam, apa kata orang nantinya".
" Iya Den, aku mengerti. Aku akan menjelaskan nya kepada Juna".
" Juna kenapa Mas Adam?".
Adam menceritakan apa yang terjadi pada Juna, kekecewaan nya.
Dena merasa bersalah rasanya, karena perceraian orang tua mereka Juna harus seperti ini.
Dena menimbang nimbang lagi apa ia akan datang atau tidak. Apa harus minta izin Adrian dulu ya? gumam Dena.
" Ahh tak mungkin Adrian mengizinkan, meskipun aku melakukan nya demi Juna".
" Tapi aku akan coba dulu minta izin".
" Mas Adam, nanti aku kabari ya bisa datang atau tidaknya".
" Aku minta izin Adrian terlebih dahulu".
" Jangan Den, kalau nggak bisa datang nggak apa apa. Nanti hubungan mu dengan Adrian jadi berantakan karena masalah ini", Adam mencegah Dena.
" Nggak kok Mas, kasian Juna. Kalau Adrian mengizinkan aku pasti datang".
" Aku kabari ya nanti, aku masih di rumah sakit".
Dena menutup telepon.
Ia kemudian mencoba menelepon Adrian, namun tidak bisa di hubungi.
Telepon nya tidak aktif.
Dena mencoba lagi hingga beberapa kali, masih sama tak bisa terhubung.
" Apa ponsel nya mati dan dia belum bangun jam segini?", pikir Dena.
Dena bingung harus datang atau tidak ke rumah Mas Adam. Namun ia teringat Juna, teringat cerita Mas Adam tadi.
Memang dia tidak sepenuhnya bersalah dalam perceraian Mas Adam dan Lisa, namun tentu saja Adam bertengkar dengan Lisa karena cintanya terhadap Dena .
Dena melirik jam, setengah jam lagi ia sudah kelar cuci darah.
Ia mengetik pesan di ponsel nya :
" Mas Adam, share lokasi rumah Mas Adam. setengah jam lagi aku menuju kesana".
...----------------...
Bakal terjadi apa lagi nanti di rumah Mas Adam??
Apa Dena nggak takut ya ketauan Adrian dan bertengkar lagi...
__ADS_1
Dena.... Dena....🤔
Tunggu up berikutnya ya... like n komen nya jangan lupa🥰🥰🙏