
Pagi pertama di Ibu kota, Adrian dan Adam sudah berada di sebuah rumah sakit terbesar di Kota Jakarta.
Mas Adam mendorong kursi roda Adrian di sepanjang koridor rumah sakit. Orang orang yang berpapasan dengan mereka mungkin mengira mereka adalah kakak beradik.
Hari ini adalah jadwal tes darah di laboratorium dan USG ginjal.
Adrian sudah diambil sample darah nya, untuk memastikan bebas dari hepatitis, HIV dan penyakit menular lain nya.
Saat ini mereka menuju Ruangan USG, dokter urologi yang menangani saat itu tak yakin untuk melakukan nya.
" Yakin Bapak ingin mendonorkan ginjal bapak?", ia seolah mengatakan keadaan fisikmu saja sudah begini, ditambah hilangnya satu ginjal mu, cari mati namanya.
Adrian tak mau menjawab pertanyaan itu .
" Lakukan saja dok, aku hanya perlu tau apakah ginjal ku baik baik saja. Urusan yakin atau tidak nya dokter tak perlu tahu".
Dokter itu pun mulai menjalankan tugas nya.
Tak lama Adrian dan Mas Adam sudah keluar dari Ruangan itu. Mereka hanya perlu menunggu waktu beberapa jam untuk mendapat kan hasil USG ginjal dan cek darah tadi.
" Mas Adam, kita makan siang dulu sambil menunggu hasil nya keluar ", pinta Adrian.
" Baiklah".
Mereka berdua menuju Food court yang terletak di halaman Rumah sakit.
Mereka masih menunggu makanan yang mereka pesan.
" Mas Adam, apa Mas Adam sudah memikirkan tentang permintaan ku kemarin?", tanya Adrian memulai percakapan.
Mas Adam menatap tajam Adrian.
" Jangan bicara padaku kalau yang ingin kau bicarakan hanyalah hal bodoh kemarin".
Adrian tertawa mendengar ucapan Mas Adam.
" Hal bodoh? Mas Adam bilang berjanji untuk menikahi Dena adalah hal bodoh. Lalu apa yang kalian dulu pernah lakukan bukan hal bodoh?", Adrian nampaknya menyindir.
Mas Adam menautkan kedua alis nya.
" Maksudmu apa? Kau ingin mengungkit masa lalu itu?", tentu saja Mas Adam tau maksud Adrian adalah ketika ia merenggut keperawanan Dena.
Adrian sudah berhenti dengan tawanya, ia mengatur wajah nya setenang mungkin.
" Aku tak sudi ada laki laki lain yang menjamah tubuh istriku, cukup aku dan Mas Adam saja. Aku tak ingin jika aku tak ada lagi di dunia ini, ada laki laki baru dalam hidup Dena".
Adam hanya diam.
" Kau pikir aku juga rela kehilangan Dena untuk yang kedua kalinya jika kau sudah tak ada di dunia ini?", ucap Adam dalam hati.
" Ahhh ..bicara apa kau bodoh. Kau tidak mengharapkan Adrian meninggal kan?", maki Adam pada dirinya sendiri.
Perbincangan itu menggantung begitu saja saat makanan yang mereka pesan tadi sudah terhidang di atas meja.
****
__ADS_1
Siang itu, dokter sudah mendapatkan hasil dari serangkaian tes darah Adrian serta USG ginjal nya.
" Semuanya baik, hasil nya menunjukkan bahwa anda layak untuk menjadi pendonor ginjal".
" Segeralah mengurus advokasi untuk mempercepat proses nya setelah itu segera daftarkan diri untuk menunggu antrian tes selanjutnya"
" Mudah mudahan ginjal anda cocok dengan penerima donor", dokter itu mengakhiri ucapan nya dengan memberikan dua buah amplop hasil tes darah dan USG.
Mata Adrian berbinar bahagia, satu langkah sudah ia awali dengan baik.
Mas Adam menghela nafas nya, padahal ia tadi berharap kalau hasil tes hari ini menyatakan Adrian tak layak mendonorkan ginjal nya.
" Ayo kita pulang Mas, aku ingin segera menghubungi kak Radit dan keluarga Dena, mengabarkan kalau aku bisa menjadi pendonor untuk dena", Adrian begitu bersemangat sekali.
Mas Adam hanya mengikuti semua keinginan Adrian, bukankah keberadaan nya disini memang untuk membantu Adrian.
Mereka tiba di apartemen saat hari menjelang sore. Mas Adam memilih berendam di bath tub dengan air hangat setelah seharian di rumah sakit.
Sementara Adrian, ia buru buru mengambil ponselnya menghubungi Kak Radit dan dengan bangganya mengatakan ia bisa menjadi pendonor untuk Dena
Kak Radit di ujung telepon tak tahu harus merespon apa, senang kah atau justru bersedih?
" Lakukan saja yang menurutmu terbaik", hanya itu yang mampu Kak Radit ucapkan.
Kemudian Adrian menghubungi Ibu.
" Hallo selamat sore bu" ,sapa Adrian.
" Sore nak Adrian, bagaimana keadaan mu?".
" Ohh ya?", Ibu penasaran.
" Hari ini aku sudah melakukan serangkaian tes untuk menentukan apakah aku layak atau tidak mendonorkan ginjal ku. Dan ternyata hasilnya bagus bu, aku bisa menjadi pendonor".
Ibu sama seperti Kak Radit, yang tak tahu harus berekspresi seperti apa.
" Terus apa yang perlu Ibu lakukan?" tanya Ibu.
" Ibu hanya perlu mengatakan pada Dena kalau ada orang yang membutuhkan uang dan ingin mendonorkan satu ginjalnya. Kalau Dena berkilah tentang biaya, katakan saja ini atas persetujuan Kak Radit dan ia yang akan membiayainya", Adrian meminta Ibu menjalankan rencana nya.
Malam hari, Ibu dan Ayah datang bersama Hasbi menemui Dena. Mengatakan seperti apa yang tadi Adrian rencana kan.
Dena berkaca kaca matanya, terharu meluapkan perasaan senang nya.
Ia tak sabar ingin mengabari Adrian.
" Tuhan, jika saja saat ini suamiku tidak mengalami kecelakaan naas itu rasanya lengkap sudah kebahagiaan kami".
Dena menggendong Noah, kemudian ia mengambil ponsel, menghubungi Adrian lewat sambungan video call.
Adrian yang saat itu sedang berbincang dengan Mas Adam, meminta Mas Adam tidak bersuara agar Dena tak mengetahui keberadaan nya.
" Hallo sayang....", Dena mulai menyapa dengan nada riang nya sambil memegang tangan Juna dan melambaikan nya ke arah kamera.
" Hallo kesayangan Papa, kok belum bobo Nak", Adrian tersenyum menatap Noah dengan mata bulatnya yang terus tertawa berusaha menggapai ponsel.
__ADS_1
" Bagaimana sayang hari pertama pengobatan mu?", tanya Dena.
" Lancar sayang, semuanya seperti yang aku harapkan", ucap Adrian berbohong.
Dena masih senyum senyum sendiri karena begitu bahagia.
" Hey, dari tadi aku lihat wajahmu sangat ceria sekali. Ada apa sayang, katakan padaku", Adrian bertanya padahal ia sudah tau pasti Ibu sudah menyampaikan apa yang ia katakan tadi sore.
" Sayang, aku ada kabar gembira", masih dengan nada ceria suara Dena di ujung telepon.
Mas Adam yang ada di ruangan itu bersama Adrian bisa mendengar nya. Laki laki ini masih hafal sekali nada bicara khas Dena dan suara tawanya yang lembut.
" Kabar apa, katakan padaku".
" Akhirnya ada orang yang mau mendonorkan ginjal nya, lebih tepatnya menjual ginjal nya. Awalnya aku ragu, namun Ibu bilang Kak Radit yang menyetujui hal ini dan ia akan menanggung semua biayanya".
" Aku bahagia sayang, dan aku sangat berterima kasih pada Kak Radit".
Adrian harus berakting memasang wajah seolah ia baru tahu berita ini.
" Apa sayang? Kau sungguhan kan, tidak sedang bercanda?", lagi lagi berbohong.
" Serius, aku bahkan masih tak menyangka semua ini nyata", balas Dena meyakinkan suaminya.
" Besok aku harus datang ke rumah Kak Radit, untuk mengucapkan langsung terima kasih ku pada nya".
Adrian masih memasang wajah bahagia, tentu saja ia memang benar benar bahagia melihat senyum di wajah istrinya.
" Akhirnya tak lama lagi kau akan menjalani kehidupan mu dengan normal seperti dulu lagi. Aku turut bahagia sayang".
Entah mengapa mendengar hal itu dari mulut Adrian, Dena malah bersedih. Ia tahu keadaan suaminya, ini bukan hal yang mudah untuk tetap tersenyum dalam keadaan ia tidak baik baik saja.
" Sayang, percayalah suatu saat nanti kau pun akan kembali menjalani kehidupan mu dengan normal", Dena berusaha membesarkan hati Adrian.
Adrian hanya menggeleng lalu tersenyum.
" Aku merindukan mu dan juga Noah", ia mengalihkan pembicaraan.
" Aku juga sayang, kalau bisa aku ingin menyusul mu kesana. Aku ingin tidur di sampingmu".
Tentu saja percakapan mereka di dengar oleh Mas Adam. Lelaki itu hanya bisa terus mendengar, mencoba mengerti kalau kedua orang ini sama sama merindu. Padahal di dalam hatinya justru menahan rindu yang lebih besar lagi.
Langkah Adrian untuk menjalankan rencana nya terasa semakin mulus.
Ia tak sabar ingin segera mengambil langkah selanjutnya, besok ia harus segera mengurus advokasi untuk transplant ginjal nya.
...----------------...
Sungguh inilah bagi Adrian rencana indah yang Tuhan siapkan di balik kecelakaan yang menimpanya.
Ia ternyata memang harus jadi malaikat penolong untuk istrinya.
Hhmm, Adrian tinggal beberapa langkah lagi meneruskan semua rencana nya.
Yuk ikuti terus ya lanjutan nya, tetep like n komen untuk dukungan nya.
__ADS_1
Vote nya juga biar karya author jadi populer, trima kasih🙏🥰🥰