
Suasana rumah terlihat lengang, terasa sepi tanpa celotehan Juna yang biasanya terdengar mewarnai. Sudah dua hari putra semata wayang nya menginap di rumah nenek nya.
Rumah begitu sepi, suaminya tidak di rumah karena sedang bekerja.
Sementara ia sudah tak punya kesibukan apa apa di rumah. Mencuci dan membereskan rumah sudah dibantu dengan asisten rumah tangga mereka.
Lisa duduk malas merebahkan diri sambil menyalakan televisi di hadapan nya. Bukan nya menatap ke layar televisi, Lisa malah melayangkan pandangan nya ke sebuah pigura besar di dinding ruangan. Iya menatap foto pernikahan nya, foto ia dan suaminya yang saling berhadapan memegang tangan lengkap dengan gaun pengantin putih yang waktu itu ia kenakan.
" Dulu kita mengikat janji sehidup semati dalam sebuah akad Mas".
" Namun kenapa sekarang aku mulai cemas kau berpaling dari ku karena kehadiran perempuan itu".
Lisa mulai berkaca kaca lalu ia mencoba menenangkan diri dari kecemasan yang sedang melanda nya.
Ia teringat tiga hari yang lalu suaminya pulang ke rumah sedikit terlambat.
" Maaf, aku tadi ada sedikit pekerjaan", begitu ucap suaminya kala itu.
Padahal nurani nya sebagai seorang istri yang sudah bertahun tahun hidup mendampingi suaminya tidak lah bisa semudah itu untuk di bohongi.
Ia melihat bagaimana suami nya bersandiwara saat menyantap makan siang bersama dia dan Juna.
" Papa lapar sekali nak, ayo kita makan bersama"
" Masakan mama mu selalu membuat papa ingin cepat pulang ke rumah".
Mas adam terus berakting sambil meladeni celotehan Juna yang memang sudah sangat lapar karena menunggu Papa nya yang pulang terlambat.
Saat itu Lisa bahkan tau suaminya berpura pura memuji masakan nya, menunjukkan betapa lahap nya ia makan karena lapar hanya untuk menutupi kebohongan yang ia lakukan.
Lisa yang ingin meneguhkan keyakinan nya kala itu tak kehilangan akal. Ia memeriksa ponsel suaminya yang tergeletak di meja makan ketika suaminya masuk ke kamar mandi. Benar saja, lagi lagi Adam lupa untuk menghapus isi percakapan nya ketika menunggu Dena di restoran itu.
Lisa saat itu sebenarnya ingin sekali marah sejadi jadinya dengan suaminya. Namun berhasil ia tahan karena ia malas memulai pertengkaran, apalagi ada Juna saat itu. Ia tak ingin putra nya itu melihat pertengkaran mereka.
**** Lisa beralih ke layar televisi, melihat sekilas adegan sinetron di channel yang ia putar. Seorang perempuan yang sedang melabrak selingkuhan suaminya.
Melihat adegan itu tiba tiba ia teringat nomor ponsel Dena yang ia ambil diam diam dari ponsel suaminya.
Ia berfikir matang, memutuskan untuk bertemu dengan perempuan itu. Tidak, ia tidak berniat melabrak Dena seperti adegan sinetron yang ia tonton tadi. Ia hanya ingin bertemu dan bicara dari hati ke hati sebagai sesama perempuan. Lagi pula perempuan itu tak nyata berselingkuh dalam artian yang sebenarnya dengan suaminya. Perempuan itu hanyalah perempuan yang dianggap spesial dan diperlakukan lebih oleh suami nya dibandingkan sekian banyak pasien di ruangan Hemodialisa itu.
" Selamat pagi Dena, aku Lisa istrinya Adam"
" Kau masih ingat kan?"
Ia mengirimkan pesan itu kepada Dena.
Dena membuka layar ponsel nya yang bergetar.
Dilihat nya pesan masuk dari nomor yang tak ia kenal .
Pesan yang ia terima seketika membuatnya panik luar biasa.
" Lisa?, darimana ia mendapatkan nomorku?"
Dena berfikir cepat, " pasti ia secara diam diam mencuri nya dari ponsel Mas Adam".
Dena bingung harus menjawab apa.
" Hey.. kenapa aku takut seperti ini?"
" Bukankan aku dan suaminya sejauh ini tidak punya hubungan apa apa", batin Dena
" Baiklah bersikap saja seperti biasa Den".
Dena kemudian mengetik pesan balasan :
" Selamat pagi juga Kak Lisa, tentu saja aku ingat".
" Ada apa kak menghubungiku sepagi ini?"
Dena rasa cukup seperti itu saja membalas pesan nya .
__ADS_1
" Aku ingin bertemu dengan mu siang ini berdua saja" .
Degup jantung Dena semakin tak karuan detak nya, ia bertanya tanya untuk apa perempuan ini meminta nya bertemu . Apa dia seorang para normal yang bisa membaca hati ku yang sebenarnya menyukai suaminya, gumam Dena.
Ia mencoba tenang, kembali membalas.
" Maaf kak Lisa aku sepertinya tidak bisa siang ini karena sedang banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan".
" Jangan berdalih dengan alasan pekerjaan, bukan nya tiga hari yang lalu kau bisa menyempatkan diri untuk makan siang dengan suamiku".
Dena merasa ngeri membaca pesan dari Lisa, ia merasa seperti seorang penjahat yang sedang di kejar kejar keberadaan nya.
" Baiklah aku sempatkan waktu sore ini sepulang bekerja", Dena memilih jawaban seperti itu karena rasanya tak mungkin menarik kata kata sebelum nya yang ia katakan bahwa ia sibuk dengan pekerjaan nya.
Mereka sepakat untuk bertemu sore ini di sebuah coffee shop yang dipilih Lisa.
Dena seharian gelisah di kantor nya, membayangkan apa yang akan Lisa lakukan kepada nya saat bertemu nanti. Bahkan saat makan siang pun ia terlihat lebih banyak melamun. Ternyata bermain main dengan perasaan terhadap suami orang itu sungguh mengerikan ya, fikir Dena.
Sementara itu, Lisa menghubungi suami nya mengatakan ia akan ke rumah ibunya sekalian menjemput Juna dan akan kembali ke rumah nanti malam .
Tentu saja ia benar benar ke rumah Ibunya pagi itu, namun rencana untuk bertemu Dena tetap ia jalankan. Ia akan berangkat ke coffee shop dari rumah ibunya agar suami nya tidak mengetahui pertemuan nya dengan Dena .
......................
Dena telah memarkirkan kendaraan nya di halaman parkir coffee shop yang di tunjuk Lisa sebagai tempat mereka bertemu.
Belum juga ia turun dari mobil nya sebuah panggilan masuk berdering di ponsel nya. Dena mengangkat telepon masuk yang ternyata dari Lisa.
" Dena, aku sudah berada di dalam"
" Kalau kau sudah sampai, masuk saja aku menunggu di meja nomor delapan", suara Lisa tanpa basa basi menanyakan Dena dimana.
" Baiklah Kak, aku sekarang ada di parkiran"
" Aku segera masuk".
Dena masuk ke dalam coffee shop, menuju meja nomor delapan tempat Lisa duduk menunggunya.
" Bagaimana kabar mu Den, masih rutin cuci darah?", Lisa bertanya seolah mengingatkan kembali " Hey perempuan sakit kau baik baik saja kan?".
" Ya kak aku baik baik saja dan masih rutin cuci darah", Dena memasang wajah sedatar mungkin.
" Tentu lah kau baik baik saja, suami ku kan selalu memastikan hal itu untuk mu, hahaha", Lisa terdengar tertawa sinis atau bisa dibilang menyindir.
Dena tak mengerti maksud perempuan ini.
" Baiklah Den, rasanya aku tidak perlu basa basi kepada mu"
" Aku ingin menyampaikan maksud tujuan ku kesini".
" Apa kita pernah ada masalah sebelum nya?"
" Sampai Kak Lisa harus mengajak ku bertemu dan berbicara serius seperti ini", Dena menanyakan dengan nada mantap tak ingin dibuat rendah oleh perempuan ini .
" Hahaha... Dena Dena, kau jangan berpura pura di hadapanku. Aku tau kau menyukai semua perhatian yang suamiku berikan padamu kan?", suara Lisa terdengar seperti penyihir di telinga Dena .
" Apa maksudmu?"
" Aku tidak ada hubungan apa apa dengan suami mu".
" Semua yang Mas Adam lakukan kepadaku hanya sebatas antara seorang perawat dan pasien", jawab Dena tegas.
" Tidak ada hubungan apa apa kau bilang?"
" Lalu kenapa kau mau saja menuruti ajakan suamiku untuk makan siang berdua".
" Aku bukan perempuan bodoh, aku sudah membaca semua isi pesan yang suamiku kirimkan kepadamu".
Dena kehilangan kata kata untuk menjawab, dia tau betapa dalam perhatian yang Mas Adam tunjukkan di setiap pesan pesan nya.
Dena tak ingin merasa tersudut di posisi ini.
__ADS_1
" Aku tegaskan sekali lagi, aku tidak ada hubungan apa apa dengan Mas Adam"
" Dan makan siang itu hanyalah makan siang biasa, kami hanya berbincang hal biasa".
Lisa kembali tertawa mendengar pengakuan Dena... " Saat ini kalian memang tidak punya hubungan apa apa".
" Tapi kalau kau terus menerima perhatian dari suamiku, lama lama hubungan kalian akan semakin jauh"
" Jadi aku minta padamu Dena, jauhi lah suamiku"
" Kita sama sama punya wanita dan punya hati, aku harap kau tidak akan menyakiti hatiku dan anakku suatu hari nanti".
Dena menelan ludah nya, Lisa bukan orang pertama yang meminta nya untuk menjauhi Mas Adam . Adik nya Hasbi sudah terlebih dahulu memperingatkan nya akan hal itu.
Dena tak mampu menjawab karena ia tak tau apa dia mampu menjauhi lelaki itu secara utuh.
" Aku tidak akan menyerah mempertahankan rumah tanggaku"
" Meskipun aku tau suami ku menyukaimu".
Jantung Dena berdegup lagi mendengar perkataan Lisa, benarkah Mas Adam menyukaiku?
" Aku akan tetap bertahan sampai dia sendiri yang akan menentukan pilihan akan tetap bertahan dengan ku atau harus melepas ku", suara Lisa terdengar tak main main, bahkan matanya menatap benci ke arah Dena.
" Sudahlah kak Lisa jangan beranggapan buruk tentang aku dan Mas Adam"
" Tidak ada bukti kan kalau kami saling menyukai"
" Itu semua hanya kesimpulan Kak Lisa saja"
" Kalau Mas Adam sungguh sungguh mencintai Kak Lisa, seribu perempuan yang hadir dalam hidupnya pun tak akan menggoyahkan hubungan kalian", Dena membalas ucapan Lisa dengan sedikit nada menyindir.
Lisa mengangkat wajahnya dengan jumawa, seolah menunjukkan tentu saja suamiku akan tetap mencintaiku. Dan kau bukan apa apa bagiku.
Kedua perempuan itu kemudian terdiam,meneguk minuman masing masing yang sudah dari tadi menganggur di meja.
" Baiklah, apa kak Lisa sudah selesai dengan tujuan mengajak ku bertemu?", Dena ingin mengakhiri percakapan, ia tak mau lama lama berada dekat dengan Lisa.
" Kalau sudah aku mau pulang sekarang", belum sempat Lisa menjawab, Dena sudah berpamit.
" Tunggu!!", suara Lisa menghentikan langkah Dena.
" Jangan katakan apapun kepada suami ku kalau hari ini kita bertemu".
" Dan aku harap kau mengerti apa yang aku sampaikan tadi"
" Kau masih muda dan cantik, jatuh hati lah pada laki laki lajang".
" Jangan kepada suami orang".
Dena ingin sekali rasanya menampar pipi Lisa saat itu, ia merasa perempuan ini merendahkan nya.
" Tenang saja, kak Lisa jangan takut untuk hal itu".
" Sebaiknya Kak Lisa meminta langsung pada Mas Adam untuk berhenti memperhatikanku", Dena kembali menegaskan pada perempuan itu kalau suami nya sendiri yang tak bisa menjauh dari hidup nya .
Dena segera pergi meninggalkan Lisa yang masih tampak geram dengan perkataan nya.
Sepertinya apa yang dikatakan Dena benar, harus nya dia mendesak suaminya bukan malah mendesak Dena untuk menjauh.
Karena sekeras apapun dia mengancam perempuan itu kalau suaminya saja masih sangat peduli pada Dena bagaimana mungkin bisa memisahkan mereka.
......................
Lisa sepertinya masih memikirkan rencana lain ya untuk menjauhkan suami nya dari Dena.
Bisa nggak ya kira kira Mas Adam melupakan Dena??
Mudah mudahan di episode yang akan datang ada titik jelas ya antara hubungan mereka .
Ikuti terus kisah nya, dan jangan lupa like ya🥰🥰
__ADS_1