Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu

Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu
Resepsi Pernikahan


__ADS_3

Proses akad nikah sudah selesai dilaksanakan dengan lancar pagi ini.


Dena dan Adrian kembali ke kamar masing masing untuk persiapan Resepsi yang akan diselenggarakan nanti siang.


" Sebenarnya aku ingin langsung ke kamar kita berdua denganmu", bisik Adrian menggoda istrinya itu ketika masuk ke kamar untuk berganti pakaian .


" Hahaha, sabarlah... malam ini malam yang panjang untuk kita", Dena mencubit kecil perut suaminya kemudian masuk ke kamar tadi pagi tempatnya bersiap siap.


Masuk ke kamar, benda pertama yang ia cari adalah ponsel .


Dibukanya ada beberapa pesan masuk salah satunya dari Puji yang mengatakan minta maaf karena tak bisa hadir di akad nikah nya pagi ini, ia akan datang nanti saat resepsi pernikahan.


Tak ada pesan balasan dari Mas Adam, padahal ia sedang online.


Dena mengetik pesan lagi.


" Mas Adam, aku sudah benar benar menjadi milik orang. Kenapa dari awal kau tak berjuang sekeras yang kau bisa untuk bersamaku?".


Pesan yang dikirimkan Dena itu dibaca dengan seksama oleh Mas Adam.


Ia menyiratkan bahwa sebenarnya Dena ingin ia mati matian mempertahankan dirinya.


" Dena, aku sudah ditampar keras oleh kenyataan tapi masih saja kau membiarkanku memeluk sebuah harapan", batin Adam .


Ia tak membalas pesan dari Dena, ia tak mengerti kenapa perempuan itu bimbang dengan keputusan nya sendiri.


Kenapa kau senang sekali bermain main dengan perasaan mu Dena. Aku bukan tak ingin memperjuangkanmu.


Mau sampai kapan berjuang sendiri?


Ketahuilah tidak semua bahagia itu memiliki.


Kadang mengikhlaskan lebih dari sebuah kebahagiaan .


****


Dena sudah berganti pakaian, resepsi akan di mulai dua jam lagi.


Gaun pertama yang ia pakai adalah Mermaid dress panjang, serasi sekali di tubuh ramping nya.


Riasan di wajah nya pun di ganti dengan tema make up flawless. Sedangkan rambutnya di ubah dengan model gaya rambut


"loose chignon", yang terlihat simpel namun tak mengurangi kecantikan Dena.


Laras berdecak kagum menatap kakak iparnya itu. Bagaimana Adrian dan Mas Adam tak tergila gila dengan mu Kak, jika kau memiliki segala keberuntungan yang ada pada perempuan, gumam Laras.


Hanya satu takdir yang membuat perempuan itu punya kekurangan, takdir atas penyakit yang ia terima. Namun karena takdir itulah yang membuatnya kembali ke kota ini, hingga bertemu dengan cinta pertama nya, lalu ditakdirkan pula dengan cinta terakhirnya yang berlabuh hari ini pada pernikahannya.


Resepsi akan di mulai sebentar lagi.


Adrian menghampiri Dena ke kamar nya, untuk bersama sama menuju Pelaminan di Ball room hotel.


Lagi lagi dan lagi ia kembali terpukau melihat perempuan ini selalu berhasil menghipnotisnya dengan wajah dan penampilan cantik yang tak ia temukan pada perempuan manapun.


Adrian merangkul pinggang istrinya, mereka berjalan menuju Ball room hotel di iringi Laras, Ibu dan Kak Anjani serta beberapa kerabat di belakang nya.


Mereka nampak serasi, Adrian begitu terlihat tampan dan gagah dengan setelah tuxedo berwarna senada dengan gaun yang di kenakan Dena.


Saat mereka masuk ke Ruangan, semua mata tertuju pada pasangan itu. Mereka berjalan menuju pelaminan di iringi instrumen musik Kenny G yang romantis.

__ADS_1


Pasangan pengantin itu telah berdiri di pelaminan, mulai menyambut para tamu yang mulai hadir kala itu.


Rekan rekan kerja mereka sudah banyak yang datang, para tamu undangan tampak menikmati Pesta pernikahan bertema Rustic dengan nuansa white gold tersebut.


Dena berkali kali menatap ke pintu Ruangan, ia berharap laki laki itu muncul. Meskipun ia tak tau apa tujuan nya mengharap kedatangan Mas Adam. Yang pasti ia hanya ingin laki laki itu datang, melihat ia bahagia seperti harap yang pernah laki laki itu ucapkan padanya " akan memastikan kau selalu bahagia dan baik baik saja".


" Lihatlah aku Mas Adam, aku bahagia bersama Adrian dan aku ingin kau juga bahagia dengan jalan hidupmu".


Bukankah itu makna cinta yang sesungguhnya, melihat orang yang kita cintai bahagia.


Sampai Dena harus berganti gaun kedua di Resepsi pernikahan nya Mas Adam belum juga datang.


Dena melangkah tak bersemangat menuju kamar hotel untuk berganti pakaian.


" Kau kenapa sayang, apa kau lelah", Adrian bertanya pada Dena di perjalanan menuju kamar ganti.


Adrian melihat wajah istrinya yang lesu .


Dena mengangguk kecil.


" Iya sayang, aku sedikit lelah", Dena mengiyakan agar Adrian tak curiga kalau sebenarnya ia bukan lelah namun gelisah.


" Sabar ya sayang, nanti setelah resepsi kau nisa beristirahat", Adrian mengusap lengan istrinya.


Dena masuk ke kamar, bersiap berganti dengan gaun kedua. Ball gown di tubuh mungil nya membuat ia seperti Barbie yang cantik .


Gaya rambutnya diubah dengan gaya rambut low updo.


Mereka kembali ke Ball room hotel, tamu undangan semakin banyak yang hadir.


Ada Lukas, Risma dan perawat perawat yang biasa menangani Dena di rumah sakit.


" Dena..... kau cantik sekali", Puji memeluk sahabatnya itu. Memberikan ucapan selamat pada Dena dan Adrian .


Seperti biasa, ia memberondong Dena dengan pertanyaan pertanyaan tak penting nya .


" Dena,nanti aku akan minta tolong beritahu aku siapa lelaki itu?", Puji menunjuk ke arah Lukas.


Dena tertawa terbahak mendengar pertanyaan Puji.


" Kau mau?".


" Nanti kalau aku sudah selesai dengan acara ku akan ku jodohkan engkau dengan nya"


" Sekarang lebih baik kau makan, karena di belakang mu banyak tamu yang mengantri".


Puji menoleh ke belakang, benar saja beberapa orang nampak gusar menunggu Puji untuk segera turun dari pelaminan.


Urusan Puji dan Lukas nampaknya nanti akan jadi PR bagi Dena.


Acara Resepsi sudah hampir selesai, tak ada tanda tanda Mas Adam akan hadir.


Namun saat Dena putus asa atas ketidak hadiran seseorang yang ia tunggu, sosok itu muncul dari pintu Ruangan.


Ia datang sendiri, melangkah menuju pelaminan tempat Dena dan Adrian berdiri.


Dena mematung, mereka berdua beradu tatapan seolah mengisahkan cerita pilu di antara mereka. Adrian baru menyadari kedatangan Mas Adam saat lelaki itu melangkahkan kaki di pelaminan.


Dena mengatur detak jantung nya yang berdetak tak mengenal frekuensi. Ia berusaha menyembunyikan rasa gugup nya.

__ADS_1


Mas Adam kini sudah berada di hadapan Dena dan Adrian.


Adam memberi ucapan selamat kepada kedua mempelai di hadapan nya.


Ingin rasanya ia memeluk tubuh perempuan di hadapan nya ini, menceritakan kalau ia ingin mengulang sekumpulan nostalgia yang telah mereka ukir bersama dalam waktu yang begitu cepat usai.


Adam merangkul bahu Adrian, menepuk punggung lelaki itu.


" Selamat Adrian, aku yakin kau akan menjaga Dena dengan baik", suara Adam terdengar serak . Ia menahan getaran hebat di dadanya.


" Tentu saja, aku janji akan menjaga perempuan yang kita cintai dengan segenap hidup yang aku punya", janji yang diucapkan Adrian sebagai bentuk rasa hormat nya kepada laki laki ini.


Adrian melepas rangkulan Mas Adam, kemudian ia memberi jarak dan waktu kepada lelaki itu untuk mengucapkan sesuatu kepada Dena. Ia tak ingin egois, ia tau bagaimana rasanya mencintai.


" Silahkan, ucapkan lah apa yang ada di hatimu sekarang sebagai seorang laki laki".


Dena menatap ke arah Adrian, ia tak menyangka laki laki ini begitu berbesar hati memberikan ia dan Mas Adam sebuah ruang untuk berbicara mungkin untuk yang terakhir kalinya.


Mas Adam mendekat ke arah Dena, Adrian dengan satu tangan nya mempersilahkan Adam maju lebih dekat.


Air mata tak bisa di bendung di antara keduanya. Dena memeluk laki laki itu terisak, tanpa tau apa yang harus ia ucapkan.


Adrian membiarkan istrinya memeluk laki laki cinta pertamanya, ia tau masih ada sisa sisa perasaan di hati istrinya untuk laki laki itu.


Ia percaya perempuan yang ia nikahi sekarang bisa menjaga apa yang ia lapangkan kepada nya, termasuk memeluk lelaki ini.


Adam membalas pelukan itu lebih erat, di usap nya kepala perempuan yang masih sangat ia cintai itu .


" Aku sudah melihatmu bahagia, itu sudah lebih dari sekedar cukup bagiku".


" Jika kau ingin tetap merasakan kehadiranku, rasakan aku dalam aliran darah mu pada jarum kupu kupu", Adam berbisik lembut kepada Dena.


Dena semakin sesenggukan tanpa bisa menjawab apapun, bahkan sekedar kata maaf tak mampu lagi ia ucapkan.


Mas Adam melepas pelukan nya, kemudian mengusap matanya yang sudah merah.


Ia menatap Dena dengan segala kehangatan yang ia punya, kehangatan yang dulu membuat perempuan ini menjatuhkan cintanya pada pandangan pertama.


Terakhir, ia menatap Adrian seolah berkata


" Terima kasih atas kesempatan terakhir yang kau berikan padaku".


Aku pun tersadar dan tercengang lagi..


Dalam pelukan kedinginan menutup rindu


Ditemani sebutir rinai yang menjadi saksi


Bahwa kita harus berdamai dengan hati..


...----------------...


Part ini tak kalah sedih nya dibanding episode Undangan VS Pelukan.


Huhuhu.. Adrian kau lelaki hebat, selalu berbesar hati menerima apapun .


Next masih ada yang sedih lagi atau nggak ya??


Ikuti terus up nya ya, jangan lupa like n komen. krisan yang membangun biar author perbaiki kekurangan dalam penulisan🥰🥰🙏

__ADS_1


__ADS_2