
Selama makan siang di kantin, Aurel terus mengamati Adrian.
Lelaki itu tetap dingin, mengacuhkan nya.
Adrian nampak tak selera untuk makan, dia malas sekali rasanya mendengar bahwa Aurel sekarang justru bekerja satu kantor dengan nya meski berbeda divisi.
" Bukankah tadi ia mengatakan ia di divisi keuangan, jangan jangan ia yang menggantikan posisi Dena", ucap Adrian dalam hati.
Adrian tidak melanjutkan makan nya, ia meninggalkan kantin dan kembali ke ruangan kerjanya di lantai 3.
Aurel masih saja terus menatap Adrian, ia merindukan laki laki yang 4 tahun lalu pernah ia khianati.
****
Suara ponsel berbunyi siang itu kala Dena selesai makan siang di rumah.
Telepon dari Adrian.
" Hallo sayang, kau sedang apa?", suara hangat lelaki di ujung telepon menyapa Dena.
" Aku baru selesai dengan makan siang ku, kau sendiri bagaimana? Apa sekarang masih di kantin?".
" Tidak, aku sudah selesai makan siang dan sekarang aku sudah kembali ke ruangan karena banyak sekali pekerjaan yang harus aku selesaikan", Adrian berbohong dengan alasan nya.
Tidak mungkin juga ia mengatakan ia tidak nafsu makan siang ini karena bertemu lagi dengan mantan kekasih nya .
" Ohh ya sayang, bagaimana besok kau jadi ke kantor untuk serah terima pekerjaan mu?", Adrian mencoba mengorek informasi dari istrinya.
" Iya, tadi Puji meneleponku kalau hari ini sudah ada karyawan baru yang menggantikan ku", ucap Dena.
" Ohh ya, siapa?", lagi lagi Adrian ingin memastikan kalau perempuan itu memang Aurel.
" Entahlah, aku juga tidak tau karena dia bukan karyawan di kantor kita. HRD sengaja membuka lowongan pekerjaan untuk itu".
" Menurut cerita Puji sih dia perempuan, tapi aku lupa menanyakan nama nya".
" Hhmmm.. begitu. Ya sudah kau istirahat saja di rumah. Tunggu aku pulang kerja".
" Miss u sayang..."
" Miss u too, hati hati nanti pulang nya".
Telepon di tutup.
Dena tak ada kegiatan apa apa siang itu, ia pasti akan merasa bosan jika setiap hari tidak bekerja dan hanya di rumah saja seperti yang di inginkan Adrian.
Apalagi jika nanti ia sudah menempati rumah barunya, pasti ia akan sangat kesepian.
Tak ada Ibu dan Ayah, tak ada Laras dan adik nya .
Siang itu ia menghabiskan waktunya hanya dengan tiduran sambil menunggu suaminya pulang dari kantor.
Dan malam hari seperti malam malam sebelumnya di Bali, ia dan Adrian hampir tak pernah melewatkan waktu untuk bercinta.
" Kau membuatku kecanduan ingin selalu menikmati tubuhmu", begitulah yang selalu Adrian ucapkan di setiap malam.
Keesokan harinya, mereka berangkat ke kantor bersama sama. Mungkin ini akan jadi hari terakhir Dena bekerja, hari ini ia akan serah terima pekerjaan dengan karyawan baru yang menggantikannya.
Adrian khawatir karyawan baru itu adalah Aurel, dan ia akan bicara macam macam dengan Dena jika ia mengetahui kalau Dena adalah istrinya.
" Sayang, kau jangan banyak bicara kepada orang yang baru kau kenal. Bicara saja jika itu menyangkut pekerjaan", Adrian berpesan kepada Dena sebelum mereka berpisah di lantai 3 ruangan Adrian.
Dena mengangguk, meskipun ia tak mengerti kenapa Adrian tiba tiba berpesan seperti itu.
" Dena...... aku kangen...", suara Puji setengah berteriak menyambut Dena yang baru saja masuk ke ruangan.
Kedua sahabat itu saling berpelukan.
" Aku juga kangen, gimana kabarmu Puji?'.
" Hahaha, kabarku baik dan masih jomblo".
" Harusnya aku yang bertanya apa kabarmu dan bagaimana malam pertama mu?", Puji terkekeh menggoda sahabat nya itu.
__ADS_1
" Huuss...pagi pagi kau sudah menanyakan malam pertama ku. Semua berjalan lancar Puji, honey moon kami di Bali sesuai harapan ku".
" Ohh ya aku punya oleh oleh untukmu", Dena memberikan paper bag berisi oleh oleh yang ia bawa dari Bali kemarin.
" Uuhhh... terima kasih Dena cantik".
" Pasti kau bahagia sekali di nikahi oleh Adrian ya. Bagaimana, apa idola ku itu tidak mengecewakan mu di atas ranjang?", Puji sama penasaran nya dengan Laras.
" Hahaha, tentu saja tidak. Hampir setiap malam kami selalu melakukan nya".
" What??? setiap malam??"
" Ckckckck ..benar benar luar biasa kalian", Puji berdecak seolah ia mengerti saja urusan ranjang. Padahal menikah saja belum.
" Ohh ya, mana karyawan yang menggantikanku?", Dena mengawasi sekitar nya tak ada wajah baru yang ia lihat.
" Belum datang, paling juga sebentar lagi".
" Dena, tampak nya aku tidak menyukainya. Nama nya Aurel, tapi menurutku ia orang yang tidak bersahabat", ucap Puji.
" Jangan menilai seseorang di awal jika kau belum mengenalnya, bukankah dulu saat pertama bekerja disini aku juga orang yang tak bersahabat. Aku orang yang dingin, tertutup dan bahkan sering mengabaikanmu".
" Tapi buktinya sekarang kita bisa bersahabat", Dena mengingat kembali bagaimana awal persahabatan mereka.
" Tidak Dena, meskipun kau tertutup dan pendiam tapi aku bisa membaca kau perempuan yang baik jika kau nyaman dengan seseorang"
" Itulah sebabnya aku mendekati mu dan berusaha untuk jadi sahabatmu, tapi kalau Aurel aku rasa dia punya sifat licik".
" Entahlah, aku bisa melihat dari cara bicara dan tatapan matanya", Puji berbicara seolah ia adalah peramal yang bisa membaca karakter orang lain.
" Puji, berapa kali aku bilang jangan berburuk sangka pada orang lain".
" Mudah mudahan saja itu tidak benar dan hanya perasaan ku saja, muak sekali aku kalau harus dapat partner kerja yang seperti itu".
Mereka sudah duduk di kursi masing masing ketika Aurel masuk ke ruangan.
" Selamat pagi", Aurel menyapa Dena yang sedang duduk.
" Pagi.. kau karyawan baru yang menggantikanku bukan?", Dena bertanya.
" Dena".
Mereka saling berkenalan, kemudian Dena mulai menjelaskan beberapa tugas dan tanggung jawab di posisi itu.
Beberapa berkas berkas pun sudah ia serahkan kepada Aurel untuk diteruskan.
" Kalau nanti ada yang belum kau mengerti, kau bisa bertanya kepada Puji", Dena menunjuk ke arah Puji yang duduk di sebelahnya.
" Aku sudah berpengalaman di bidang ini, jadi aku rasa aku tidak akan banyak bertanya", Aurel menjawab dengan jumawa .
" Ciihh, lihat saja nanti kalau kau butuh apa apa aku tidak akan mau membantumu. Sombong sekali kau, baru juga bekerja", Puji yang mendengar ucapan Aurel, mengumpat dalam hati".
Dena hanya diam tak menanggapi ucapan Aurel.
" Hhmm, pantas saja Puji tak menyukai perempuan ini", batin Dena.
" Ohh ya Dena, kenapa kau berhenti dari pekerjaan mu ini. Bukankah ini perusahaan ternama, banyak orang yang ingin bekerja disini", Aurel bertanya pada Dena.
" Tidak apa apa, aku hanya ingin istirahat di rumah saja", Dena menjawab singkat karena ia ingat pesan Adrian tadi pagi untuk tidak banyak bicara pada orang yang baru ia kenal.
" Tentu saja Dena berhenti bekerja, ia kan baru saja menikah. Dan ia dinikahi oleh laki laki yang paling tampan di Perusahaan ini".
" Wajar sih, Dena kan cantik, ia juga baik. Pantas saja Adrian memilih nya untuk dijadikan istri", Puji berkata dengan nada sinis kepada Aurel karena ia ingin menegaskan kalau Dena cantik dan baik tak seperti Aurel .
Dena menoleh ke arah Puji, mengisyaratkan nya untuk diam.
Aurel yang mendengar nama Adrian disebut, tiba tiba wajahnya berubah. Seketika ia berpikir,
" Apa Dena adalah istrinya Adrian?".
Aurel berpura pura tak mengenal Adrian, ia berniat mencari informasi secara diam diam.
Saat jam makan siang, Dena mengajak Aurel untuk makan bersama mereka di kantin meskipun Puji nampaknya keberatan.
__ADS_1
Namun akhirnya Puji mengalah saja, mereka bertiga bersamaan masuk ke kantin.
Adrian sudah duduk di sudut kantin. Ia melihat Dena berjalan bersama Aurel.
Wajah Adrian terlihat pucat, ia semakin khawatir Aurel akan mendekati Dena.
" Sebentar ya, kalian pesan makanan saja dulu. Aku ingin menemui suamiku", Dena berjalan ke arah Adrian.
Aurel menyeringai tipis, benar dugaan nya kalau Dena adalah istrinya Adrian.
" Adrian, standar mu untuk seorang perempuan tidak pernah turun ya", gumam Aurel dalam hati.
Ia mengakui Dena memang cantik, lebih cantik darinya. Ia hanya perlu mencari kekurangan Dena untuk merebut kembali hati Adrian.
" Sayang, aku sudah serah terima pekerjaan ku dengan karyawan baru yang menggantikanku".
" Itu dia, namanya Aurel", Dena menunjuk ke arah Aurel yang juga menatap ke arah mereka .
Adrian tidak menjawab apa apa, ia meneruskan makan nya.
" Ya sudah kalau begitu aku bergabung dengan Puji dan Aurel ya, selamat makan sayang", Dena meninggalkan Adrian yang sebenarnya cemas dengan kehadiran Aurel.
Hari itu, menjadi hari terakhir Dena bekerja di Perusahaan itu.
Sebelum pulang ia berpamitan dengan rekan rekan kerja di Ruangan nya.
Puji memeluknya erat, bahkan menangis melepas sahabat yang belum terlalu lama ia kenal ini.
" Hey, Puji jangan menangis. Kita kan masih bisa bertemu", Dena mengusap punggung sahabatnya itu.
" Kalau kau punya waktu kita masih bisa jalan jalan berdua, ke cafe, shopping, aku tetap sahabatmu walau aku tidak bekerja disini lagi".
Puji mengusap matanya.
" Kau janji ya, tidak akan melupakan ku. Hubungi aku selalu, aku akan ada jika kau membutuhkanku".
" Dan satu lagi, kau masih punya hutang denganku".
" Hah, hutang? Hutang apa?", Dena mengernyitkan dahinya mengingat kembali apa ia pernah meminjam sesuatu pada Puji.
" Kau hutang janji padaku, janji ingin mengenalkanku pada laki laki di acara pernikahanmu", ucap Puji malu malu.
Dena menepuk jidatnya.
" Iya .. aku lupa, tenang saja nanti akan ku kenalkan kau pada Lukas".
Mereka kemudian berpelukan sekali lagi sebelum Dena meninggalkan ruangan.
Dena baru saja hendak masuk ke lift ketika suara Aurel memanggilnya dan menghentikan langkah nya.
" Dena, tunggu sebentar..."
" Aku belum punya nomor ponselmu, siapa tau nanti ada hal yang perlu kutanyakan", Aurel mengeluarkan ponsel nya.
Dena tanpa ragu ragu memberikan nomor ponselnya.
" Terima kasih Dena, semoga sukses di luar sana".
" Aku harap kita bisa jadi teman meskipun kita baru kenal", Aurel tiba tiba bersikap ramah pada Dena.
Tentu saja ia punya maksud lain untuk mendekati Dena .
" Aku pulang duluan ya, Bye Aurel", Dena meninggalkan Aurel dan menuju parkiran dimana Adrian sudah menunggunya di mobil.
...----------------...
Punya rencana apa ya si Aurel???
Jangan ada yang bosen ya karena ada pelakor di cerita ini, hehehe...
Kali ini pelakor nya nggak akan menang kok😁
Otor sepertinya lagi kangen sama Mas Adam, next episode kita pindah ke Mas Adam dulu ya.
__ADS_1
Jangan lupa like nya, n lima bintang buat karya otor. dan vote biar " Cinta dalam jarum kupu kupu" jadi populer.