
dari tadi rian terus menepon ponsel tiffanny tetapi tidak tersambung , dia berkeliling kebelakang maupun kedepan tapi tidak juga ketemu.
fanny bergontai berjalan sendirian menuju ketempat resepsi ternyata sudah banyak orang disana dan kedua mempelai sudah ada di depan panggung.
dia berdiri di tengah - tengah tempat itu , dan dari 2 arah berlawanan devan dan Rian bisa melihat kehadiran tiffanny mereka melepaskan nafas lega karena tiffanny baik - baik saja.
" Rian ? kemarilah " ajak seorang pria
" maaf aku harus kesana " tolak rian.
" lupakan dulu boss cantikmu mari kita minum kau ini selalu bekerja saja" temannya itu sudah menyeretnya ke meja bulat yang telah disediakan.
" oke semuanya mari semua merapat kedepan karena kedua mempelai akan melemparkan bunga , siapapun dia yang dapat itu artinya kemungkinan besar dia yang akan menikah selanjutnya " kata MC dengan semangat.
banyak para wanita muda yang antusias berdiri di depan menunggu sang pengantin melemparkan bunga. sedangkan tiffanny hanya berdiri di belakang perempuan perempuan itu.
" oke... 1...2...3 "
bunga pun dilemparkan , hingga terlalu tinggu tidak bisa dicapai oleh perempuan. devan dan rian memperhatikan kemana arah bunga itu akan jatuh , devan melotokan matanya ketika bunga itu akan jatuh di kepala fanny begitu juga dengan rian.
fanny mendongakkan wajahnya , dia terkejut dan membulatkan matanya.
plug
bunga itu jatuh dihadapannya tetapi sebelum itu devan dan rian mentupi tubuh fanny , devan memegang bunga itu sambil memeluk tiffanny dan juga rian disebelah kiri.
" apa ini kenapa jadi romantis begitu " kata tamu undangan.
" seperti di kisah kisah " ujar orang lain.
" kau baik-baik saja ?" tanya devan.
" Nona kau baik- baik saja?" tanya rian.
devan, rian dan juga fanny saling memperhatikan satu sama lain fanny melihat bola mata devan bergantian dengan rian.
" apa mereka akan berjodoh ?"
" cinta segitga "
" tidak..tidak aku akan mengabadikan momen seperti ini bukankah dia pemilik hotel wang tiffanny wang itu bukan ?"
" fanny " ucap brian dalam hati.
" aku... aku baik - baik saja " fanny melepaskan pelukan mereka berdua dan membenarkan pakaiannya.
devan tersadar kalau dia memegang bunga lalu melepaskan bunga itu begitu saja dari tangannya " Rian lepaskan tanganmu" gumam fanny.
" oh iya " kata rian yang tersadar itu.
" kau dari mana saja , aku mencarimu kesemua tempat tapi tidak ketemu " tanya devan.
" aku ketoilet " jawabnya.
" Nona sebaiknya makan dulu kau belum makan dari siang aku takut kau sakit lagi" kata rian.
" nanti saja. rian ayo kita temui pak Koloni setelah itu kita pulang" ajak fanny .
" hmm baiklah "
" tunggu fanny " cegah devan yang memegang pergelangan tangannya.
__ADS_1
" ada apa ?" tanya fanny.
" makanlah dulu baru boleh pergi " jawab devan.
fanny memperhatikan wajah devan yang terlihat seperti sedang mengkhawatirkannya itu , lalu dia segera melirik kearah lain.
" makan ku tidak penting dari pada pak koloni , biarkan aku pergi sekarang"
fanny meninggalkan devan dan rian sendirian , devan melirik ke rian " tolong jaga dia , jangan biarkan dia tidak makan " pinta devan.
" ya " rian mengangukkan kepalanya lalu segera menyusul tiffanny.
deg...deg...deg
" kenapa saat melihat wajahnya aku merasa gugup dan seperti hilang kendali" pikir devan.
***
kini fanny dan rian sudah berhadapan dengan pak koloni , mereka berdua dagang untuk meyakinkan pak koloni untuk memilih hotel nya yang akan dibangun di norwegia sebagai tempat untuk investasi.
karena brian juga sedang ada rencana untuk membangun hotel di bandung , keduanya mempersaingkan perebutan investasi dari pak koloni sang pebisnis hotel yang sudah lama berkecimplung di dunia bisnis perhotelan.
" rancangan mu bagus , dan gambarannya juga jelas tetapi aku akan membawa rancangan ini terlebih dahulu untuk rapat dengan pihakku " jelas pak koloni.
" dengan sennag hati pak, silahkan anda diskusikan dan analisi terlebih dahulu bapak juga bisa memberikan pendapat tentang rancangan saya " balas tiffanny.
" baiklah , saya suka dengan caramu menjelaskan semuanya tadi. bagaimana kalau kita minum dulu " tawar pak koloni.
" maaf pak bu fanny harus pulang sekarang" cegah rian.
" tidak masalah saya bisa sedikit lama disini " ujar fanny.
" tapi bu "
fanny cukup sadar jika dia tidak bisa meminum alkohol terlalu banyak itulah mengapa dia melambat-lambatkan minumnya. tuan koloni memang terkenal suka minuman beralkohol untuk menyenangkan hatinya dia harus menerima ajaknnya namun tetap harus menjaga diri.
" hubby malam nanti kita menginap di hotel ya , semuanya sudah diatur" ujar agatha dengan manja.
" iya " brian tersenyum menjawabnya tapi matanya terus fokus kearah tiffanny.
suara musik mulai bergema , sebuah lagu yang akan membawa sang pendengar merasakan kesedihan dan kehundahan. seorang pria dan wanita membawakan lagu berjudul " Aku yang salah " dari salah satu lagu populer di ingonesia yang dinyanyikan oleh luca dan mahalini.
" ku tak mengerti... betapa bodoh diri, membiarkan mu pergi jauh dari hati "
" kucoba mengobati kupunya kekasih lagi , namun kusadar diri hatiku dikamu hoooo"
" dimana kamu ... apakah kau rinduuu... sungguh susah buat lupa .. hati tak bisa berdusta"
" walau ku tahu kau bukan untukkuuu ... tapi tetap kau terindahhhh. cinta tak salah... aku yang salah ..."
lagunya benar- benar menusuk siapa saja yang mendengar , fanny bisa merasakan lagu itu sangat tepat mewakili perasaannya. seketika acara pernikahan itu berubah menjadi mellow dan galau.
" tapi tetap kau terindahhhh... cinta tak salahh...aku yang salah "
" nona lebih baik kita pulang " bisik rian.
" benar kata orang , mencintai terlalu dalam akan tersakiti dengan sangat dalam juga. bukan cinta yang salah tapi aku yang salah , mempercayakan hati pada seseorang yang jelas - jelas bukan untukku " ucap tiffanny dalam hati dengan melamun itu.
" fanny maafkan aku , membuatmu mencintaiku terlalu dalam hingga akhirnya aku yang paling menyakitimu , jika suatu saat masih diberikan kesempatan aku ingin mengatakannya langsung padamu " ucap brian dalam hati.
" devan kau mau kemana?" tanya dion.
__ADS_1
" aku akan pulang sekarang " jawabnya lalu dia meninggalkan rombongannya dan menuju ke arah fanny dan rian berada.
" ayo kita pulang ini sudah larut. nenek akan khawatir nanti" ujar devan.
" hmm " fanny menurut dan mengangukkan kepalanya.
baru kali ini devan merasa senang pada tiffanny karena menuruti ucapannya , dia berjalan di belakang fanny begitu juga dengan rian.
" nona jika saja aku bisa menggantikan kesedihanmu aku rela melakukan apapun asalkan kau tersenyum lagi " ucap rian dalam hati.
sesampainya di depan hotel fanny menunggu mobil nya datang dan juga devan. sesekali devan melirik memperhatikan wajah fanny yang terlihat sayu itu.
" fanny apa kau sakit ?" tanya devan.
" kenapa sakit kepalaku kambuh lagi" pikir fanny.
" tidak apa " jawab fanny.
" benar tidak apa ? katakan jika merasa sesuatu aku akan memeriksanya " kata devan.
" sudahlah mobilmu sudah datang pulanglah " kata fanny.
" kau akan pulang kemana ?" tanya devan.
" aku... aku pulang kerumah ku " jawab nya.
" pulanglah kerumah nenek , dia pasti khawatir nenek sedang tidak sehat jangan buat dia takut " kata devan.
" lihat saja nanti "
***
sesampainya devan dirumah dia langsung melihat nenek dikamar ternyata nenek sudah tertidur pulas lalu kemudian naik ke lantai atas kekamarnya.
dia membuka jas dan dasinya lalu membuka kancing atas kemejanya. dia melihat jam tangan yang sekarang sudah jam 12.15 dini hari, tapi sampai sekarang mobil fanny belum juga datang , dia membuka jendela entah kenapa dia sangat khawatir pada fanny.
selang 15 menit kemudian mobil alphrad fanny memasuki halaman rumah , dan dia bisa melihat dengan jelas saat fanny turun dari mobil.
" pulanglah kerumah dan bawa mobilnya " ucap fanny pada rian.
" baiklah "
saat fanny akan pergi , rian melepaskan selt belt nya dan turun dari mobil.
" tunggu " cegahnya.
fanny pun langsung menoleh seakan bertanya - tanya kenapa rian menghentikannya.
" besok lebih baik nona tidak usah masuk dulu, istirahatlah dirumah dan jangan lupa minum obat nya " ujar rian obat yang dia maksud adalah pereda mabuk , rian tau walaupun sedikit efek minum alkohol tetap saja ada.
" iya . terima kasih " ucap fanny.
dari atas devan bisa mendengar dengan jelas bagaimana perhatiannya rian pada fanny , devan masuk kedalam rumah lalu dia turun untuk menemui fanny.
ceklek
fanny menutup pintu utama yang langsung terkunci otomatis itu , dia melihat kegelapan ada dihadapannya kepalanya masih terasa pusing hingga dia memutuskan untuk duduk di sofa terlebih dahulu.
" huft " dia membuang nafas kasarnya lalu menyender di badan sofa.
dia memejamkan mata untuk mengistirahatkan tubuhnya sejenak saja. " minumlah obat ini " ujar devan.
__ADS_1
fanny membuka matanya perlahan - lahan hingga dia bisa melihat wajah devan yang berada dekat dihadapannya sedang membawakannya obat.
mata mereka saling bertemu dan bertautan satu sama lain.