Cinta Di Hatiku

Cinta Di Hatiku
29 Agustus Berikutnya


__ADS_3

3 tahun kemudian


malam hari ini langkah kaki rian membawanya kesebuah hotel dimana hari ini dia akan menggantikan tiffanny dalam memenuhi undangan dalam acara penghargaan CEO Terbaik.


dia berdiri di tengah-tengah panggung dengan jas setelan hitam dan kemeja putih juga dasi kupu - kupu yang melekat dilehernya.


piala yang dia dapatkan ini ... piala ketiga yang dia pegang diacara ini untuk menggantikan tiffanny. dia tersenyum kearah banyaknya kamera yang menyorotnya.


" Terima kasih " ucapnya seraya menyalami sang panitia.


setelah itu dia menuruni panggung , karena tidak ada niatan untuk hadir disana. dia memutuskan untuk segera pulang dan melewati pintu utama.


namun saat baru melangkahkan kakinya ke karpet menuju mobil dia dihadapkan dengan brian yang juga hadir disana, dia menggunakan setelan jas berwarna putih.


" Ini sudah yang ketiga kalinya, kemana dia pergi ?" tanya brian yang memegang lengan rian. rian menatap lengannya yang dipegang itu kemudian dia melepaskannya menggunakan tangan kanannya.


" kau tidak perlu tau " jawabnya dingin.


" Aku harus tau karena dia kekasihku " bentak brian.


" kekasih yang sudah kau hianati " teriak rian yang tak kalah tingginya suaranya itu.


" aku beritahu padamu brian ! lupakan dia ... maka dia akan bahagia !" tekan rian , kemudian mendorong brian dan meninggalkannya.


brian tidak lagi mencegahnya , dia bisa gila. 3 tahun lamanya tidak melihat sosok wanita itu , tidak tau kabar apapun.


...


Rian pulang ke rumah fanny, dia menaruh piala itu di kamar fanny. dengan hati - hati dia buka kaca itu dan ia taruh disana.


" Kau tetap menjadi yang terbaik ... kembalilah agar kau bisa menerimanya dengan tanganmu sendiri, aku juga bisa melihatmu dengan penuh sinar cahaya terang di panggung itu " lirihnya pelan.


***


Baju kemeja berwarna Cokelat , dan celana dasar hitam dia pakai dan menatap ke kaca dan merapikan penampilannya. dia memlih jam tangan dan jatuh pada jam tangan silver.


" Tuan devan ... sarapan sudah siap " teriak kali dari deoan kamarnya.


devan mendengarnya, dia segera merapikan kerah bajunya dan turun kebawah. dia mengambil sandwich itu dan segera memakannya.


" Tuan pelan - pelan , oh ya apa tuan sudah dengar ... Nona memenangkan penghargaan itu lagi " kata kali dengan sumringah.


devan berhenti mengunyah, dia tidak tau karena semalam pulang sangat larut. dia segera bergegas meninggalkan sarapan dan segera pergi.


" Lihatlah nona ... begitu banyak orang yang kehilanganmu " ucapnya dalam hati.


didalam perjalanan itu, baliho dan semua banner mengucapkan selamat untuk tiffanny. dia bahagia karena tidak ada tiffanny pun pekerjaannya masih tetap dianggap ada.


namun kesedihannya karena kehilangan tiffanny masih terus ada. 3 tahun bukan waktu yang singkat untuknya, rasa rindunya kian membunuhnya.


saat dilampu merah itu seharusnya dia belok kanan untuk menuju kerumah sakit namun dia lurus saja karena ingin ke hotel tiffanny.


sesampainya disana, dia segera menghampiri resepsionis.


" Ada yang bisa saya bantu pak ?" tanya resepsionis itu dengan ramah dan senyuman lebar.


" iya. apakah Sekretaris Rian ada di sini ?" tanya devan.


" sekretaris rian akan datang sebentar lagi, bapak bisa menunggu disana " jawab resepsionis itu.


" Ah ya baiklah " devan menuruti arahan resepsionis itu dan duduk di kursi lobi.


" Ya ... biasanya jika ada bu tiffanny dia akan memberikan kita bonus, tapi semenjak dia pindah dia tidak pernah lagi memberikannya "


" tapi apa kalian pernah berpikir tidak, kemana bu fanny pergi ? tidak ada kabar dan berita darinya "


" entahlah. Dia sangat kaya dia bisa pindah kemanapun yang dia inginkan"

__ADS_1


devan hanya mendengarkan beberapa celetukan karyawan itu. namun saat dia akan pergi dari sana dia melihat rian yang sedang ada dihadapannya.


" Dokter " kata rian.


sekarang mereka ada di ruangan tifanny, ruangan itu masih sama dan tidak ada satupun yang berubah. Rian tidak akan membiarkannya berubah sedikitpun. mereka berdua duduk saling berhadapan di sofa itu.


" Tidak ada yang berubah " ujar devan.


" aku tidak membiarkannya. aku masih berharap dia akan pulang dan duduk di kursinya dengan desain ruangan kesukaannya dulu " timpal rian.


" Kau sudah lama tidak kesini " kata rian.


" hmm , banyak pekerjaan. aku dengar ... Dia memenangkan penghargaannya lagi "


" ya. aku sudah berdiri mewakilinya ... tapi ini yang terakhir, jika dia tetap tidak ada. aku tidak akan pernah untuk mewakilinya lagi "


" Kenapa ?" tanya devan dengan raut penasaran.


Rian memperhatikan wajah devan dengan raut wajah penasaran, dia berdiri " Aku tidak ingin dia mempercayakannya lagi kepadaku. Hotel ini miliknya ... dan akan dijalankan oleh pemiliknya"


***


dirumah sakit itu , devan duduk diruangannya sambil menatap kalender didepannya. dia memegangnya dan ini sudah bulan agustus.


( Beberapa hari lagi ... 29 Agustus, dan untuk 29 Agustus yang ke 3 kalinya kau tidak juga kembali. Apa kabarmu ... Aku ingin melihat wajahmu )


drttt....drtt


" Ibu Message "


📱" Nak ... nenek ada disini, katanya dia ingin mampir. jaga dirimu baik - baik ya "


devan mengernyitkan dahinya , apa maksud dari perkataan ibunya jika nenek ada disana. lalu bagaimana dengan fanny.


siapa yang menjaganya ? bagaimana dia disana ? dan seperti apa dia sekarang ? banyak sekali pertanyaan yang ada dibenakknya.


tiga tahun semenjak nenek kembali membawa surat itu, dia tidak pernah pulang. jika ditelpon selalu bilang baik tapi tidak ada sedikitpun hal yang menyinggung tentang fanny.


...


pukul 7 malam dia baru sampai dirumah, dia segera menyenderkan kepala nya di senderan sofa. dia merasa lelah hingga memejamkan kedua matanya untuk istirahat sejenak.


tak ... tak .. tak


suara langkah kaki itu begitu lembut, kaki mulus jenjang putih itu memakai gaun berwarna putih polos tanpa aksesoris apapun.


dia berjalan mendekati devan, mulutnya tersenyum. matanya bersinar melihatnya rambutnya tergerai dan bertebaran karena angin malam yang memasuki rumah.


" Devan " gumamnya.


" Aku disini " sambungnya dengan suara lembut.


perlahan devan membuka matanya , matanya membulat sempurna dan mulutnya mengangga.


" Fanny " ucapnya


fanny tersenyum melihatnya, matanya sendu menatap devan.


" Fanny " sambungnya.


dia segera berdiri untuk menggapai fanny, namun seketika orang itu menghilang.


" tuan devann " kata kali yang ada didepannya.


" bi kali " ujarnya.


" ya , ini aku " balas bi kali.

__ADS_1


wajah devan dipenuhi keringat, dia masih merasa shock. wajahnya pucat.


" tuan anda baik - baik saja ? " tanya kali.


" aku ... aku baik - baik saja " jawab devan terbata - bata.


" saya hanya ingin bilang. makan malam sudah siap " ungkapnya.


devan segera mengangukkan kepalanya,setelah itu bi kali pergi meninggalkannya. bi kali berbalik untuk menatap devan dia merasa kasihan melihatnya.


" Semoga Cintamu akan kembali padamu, aku juga merindukan nona muda " gumamnya menahan air matanya.


***


Desember


London , Inggris


seorang perempuan menggunakan blezer putih berjalan dengan anggunnya dari lorong dinding bata itu. dia memakai hels berwarna putih dari belakang dia berjalan rambutnya bergoyang mengikuti arah langkahnya.


Ceklek


diluar turun salju, ini bulan Desember itu artinya musim dingin sudah tiba di London. jalanan sedikit dipenuhi salju namun tidak terlalu tebal. orang berlalu lalang lewat memakai jaket dan mantel tebal.


tin.... tinnn


suara klakson mobil yang menggema dari jalanan.


Fanny menyaksikan betapa indahnya pemandangan kota london dihadapannya sekarang.



dia menatap langit dimana salju turun sekarang, tangannya menadah untuk menangkap butiran salju itu.


( setelah sekian tahun, aku kembali menatap keindahan gumpalan salju ini. yang tadinya aku pikir hidupku tak akan lama. kini ... 3 bulan menjadi 3 tahun, dan tahun itu akan menjadi tahun - tahun berikutnya ... )


dia berjalan menyusuri jalanan kota london, dia ada janji dengan dokter keth. dia akan menemui dokter keth di sebuah Restoran Berbeque terkenal disana. karena jarak yang singkat dia memutuskan untuk berjalan kaki saja. hitung - hitung berolahraga di cuaca yang dingin ini.


sebuah restoran barbeque terpampang disana. dia segera memasuki restoran itu dan mencari sosok dokter keth.


" Tiffanny " ucapnya khas orang barat.


" Doctor keth " gumamnya seraya tersenyum tipis dan segera menemuinya.


" you look beautiful in your dress. true people, asian people are so beautiful " puji doktet keth , dia seorang dokter wanita yang sudah berusia 40 tahun.


( kamu terlihat cantik dengan gaunmu. orang benar , orang asia sangat cantik )


" You praise too much. " balas fanny


( anda terlalu memuji)


hingga mereka tertawa bersama dan segera menikmati makanan yang sudah disajikan itu.


hingga makanan itu habis , fanny mengelap mulutnya dengan tissue yang ada di hadapannya begitu juga dengan dokter keth.


" Doctor ... thank you so much " ucap fanny.


( dokter ... terima kasih banyak )


" For ?" tanya dokter keth.


( untuk ?)


" for all. you gave life again to me "


( untuk semuanya. kamu memberikan hidup lagi untukku )

__ADS_1


"this is my job. you pay me and I... help you. but have to remember, you're healed now... but you have to take care of yourself and take care of your health. Your grandma loves you so much"


(ini adalah pekerjaan saya. Anda membayar saya dan saya... membantu Anda. tapi harus ingat, kamu sudah sembuh sekarang... tapi kamu harus menjaga dirimu dan menjaga kesehatanmu. Nenekmu sangat mencintaimu)


__ADS_2