Cinta Di Hatiku

Cinta Di Hatiku
Dan Tidak Mungkin


__ADS_3

didalam mobil itu devan yang tengah fokus menyetir dan tiffanny yang menyederkan kepalanya di bangku. dia terus memperhatikan devan yang sebentar lagi akan kembali bekerja.


" kau sungguh tidak ingin menemaniku dan pulang bersamaku ?" gumam fanny.


devan secara tiba - tiba meminggirkan mobil nya dan menatap tiffanny.


" ada apa sayang ? kau sangat ingin aku tidak pergi ?" tanyanya.


" hmm aku ingin bersamamu malam ini "


" aku juga ingin bersamamu setiap saat, tapi pekerjaan selalu menuntutku untuk siap siaga selama 24 jam. " terangnya dengan lembut dan mengusap rambut tiffanny agar dia mengerti pikirnya.


tiffanny malah memilih untuk tidak menjawabnya , dia memutarkan kepalanya dan menatap ke arah jendela luar dengan mata yang sayu.


devan tidak tega melihatnya dia tau tifanny orang yang selalu kesepian , dia juga bukan tipikal orang yang suka memohon tapi permintaannya itu dia harus menolaknya.


tugasnya sebagai seorang dokter mengalahkan kepentinganya.


kemudian devan kembali menyetir mobilnya, dan tak lama mobilnya sudah dekat dan mulai memasuki halaman rumah sakit.


saat mobil berhenti keduanya turun bersamaan. sebelum pergi devan mengecup kening tiffanny dan sepertinya fanny tak ingin melakukan apapun bahkan berkata sedikitpun.


" aku masuk ya , ini sudah terlambat " pamitnya.


fanny hanya mengangukkan kepalanya saja dan lagi - lagi devan mencium kening fanny sebelum pergim setelah itu dia meninggalkan tiffanny di depan rumah sakit seorang diri.


hatiku memang tidak ingin bekerja malam ini, jikalau pun aku bekerja pikiranku hanya ada dirumah dan bersamamu. maaf aku membuatmu marah dan kesal malam ini . batin devan


dia membalikkan tubuhnya untuk melihat tiffanny yang masih berdiri sendirian disana , namun tak lama tiffanny pun menoleh kebelakang dan keduanya saling menoleh seakan mereka tidak ingin berpisah.


" he " fanny menghela nafasnya , dia menghiraukan devan yang masih memandangnya dan masuk kedalam mobilnya.


kemudian dia menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. dia tidak marah pada devan hanya saja dia merasa sedih.


*berpikirlah dengan jernih tiffanny , dia hanya bekerja dan akan kembali besok hari.


jika saja kau bisa bersamaku malam ini. aku akan mengutarakan semua rasa ku padamu , jika aku sangat mencintaimu*.


" ada apa ini ? kenapa mobilnya sulit di rem " pikir nya , dia sudah takut tapi dia masih berusaha tenang. kakinya terus menginjak rem itu tapi rem itu tidak berfungsi sama sekali.


" kenapa ini , ck apa mobil ini rusak " pikirnya.


mobilnya yang mengalami kecepatan tinggi tidak bisa menurunkan gasnya , dia hanya bisa terus menyetir tanpa bisa berhenti.


tin .... tinn


dia mengklakson mobil itu agar semua kendaraan yang didepannya menyingkir dan tidak menabraknya.


" aku mohon minggir lah "


tin.... tin....


semua mobil yang ada dihadapannya meminggir jalanan terlihat sangat ramai malam ini , dan dia terus berusaha untuk menginjak rem nya akan tetapi masih tidak berfungsi.


dia sudah sangat ketakutan , dia tidak bisa menghentikan ini lagi.


tin .... tin


sebuah mobil yang melaju ditengah - tengah jalannya , tidak mau menyingkir walau dia terus mengklakson. dan kenyataannya pria yang ada di dalam itu sedang memakai earphone.


tanpa berpikir panjang tiffanny membelokkan mobilnya kearah kiri sehingga membuatnya berjalan di arah yang berlawanan.

__ADS_1


" kau bodoh sekali , kau malah membuat semua orang berbahaya " gerutunya.


tin ... tin


" hiks ... bagaimana ini , aku tidak bisa mengeremnya apa yang harus kulakukan "


tinn...tinn


mobil dari depan mengklasonnya memberitahu jika dia salah arah , dia juga tau dia tidak ingin seperti ini tapi dia tidam bisa melakukan apapun saat ini kecuali terus berjalan.


cahaya mobil truk yang banyak melintasi jalanan itu membuatnya agak sulit melajukan mobilnya.


" kenapa tidak bisa ! " teriaknya yang sudah ketakutan itu.


" telpon dimana telponku " tangannya sibuk mencari benda pipih itu , namun dia kesulitan karena ponselnya ada di dekat ujung kursi sebelahnya , dia berusaha mengambil matanya menatap kedepan.


keadaan semakin riuh dan rumit juga tak terkendali. dia mencari kontak nama devan disana dia ingin menelpon devan sekarang juga.


matanya harus benar - benar teliti antara ponsel dan mengemudi , air matanya terus saja jatuh tak tertahan.


tut...tut....tuttt


ponsel devan berdering di meja ruangannya , sedangkan devan dia sedang melakukan operasi pada salah satu pasiennya. dia terlihat fokus menyelamatkan nyawa orang itu.


dan disisi lain tiffanny sedang berada di ambang kematian.


tut...tutt..tutt


" aku mohon angkat ! " desisnya sambil menangis.


" hiks...hikss "


" nomor yang anda tuju tidak menjawab , telpon akan terhubung pada pesan suara "


dia memilih untuk merekam pesan suara kepada devan sambil terus menyetir menghindari mobil - mobil yang ada didepannya.


" devan hiks ... maaf hiks - hiks , aku mungkin tidak akan bisa bertemu denganmu lagi. hiks ... hiks , aku berterima kasih padamu untuk semua yang kau lakukan hiks... kau sudah mencintaiku dengan sangat tulus "


tin....tin


" devan ... aku ingin menepati janjiku padamu hiks , mungkin ini sangat terlambat ... akan tetapi aku masih harus menepatinya. aku ... aku mencintaimu devan hiks , aku sangat mencintaimu dan sangat ingin terus bersamamu hiks, hiks , hiks. jaga dirimu baik - baik saat aku tidak ada nanti dan hiks ... jangan ingat aku lagi , hiduplah dengan baik dan temui seorang hiks ... seorang wanita yang sangat mencintaimu , tidak seperti diriku hikss ... "


" devan ... aku , mencintaimu "


tangannya melepaskan rekaman itu saat dia menoleh ke arah kiri , mobil truk besar akan melewati perempatan itu dan mobilnya semakin dekat.


tanpa sengaja tangannya menekan rekaman itu lagi , dia menatap kearah dan pasrah akan hidupnya sekarang dia menoleh kearah samping dan " Brakk "


Aku mencintaimu dan sangat mencintaimu , terima kasih pernah ada dalam hidupku walau hanya untuk beberapa saat , jika ada kesempatan lagi aku hanya ingin kita kembali bertemu lebih awal dan membangun semuanya.


mobilnya tertabrak mobil trruk itu sehingga membuat mobilnya terbalik dan tidak tau lagi apa yang terjadi padanya sekarang.


***


sementara dirumah sakit, pasien yang sedang ditangani devan juga sedang mengalami pendarahan , dia terus berusaha menangani semuanya dengan baik.


" tambahkan darahnya " perintah devan


suster itu menambah darah pasien itu , dan akhirnya pasien itu berhenti mengalamani pendarahan.


***

__ADS_1


mobil yang sudah terbalik itu, membuat tiffanny berada di dalam posisi yang terbalik , tangannya sudah dipenuhi darah dan darah itu mengenai cincin pernikahannya.


shitt


sebuah mobil hitam berhenti di tempat kejadian


" dimana semua orang kenapa sepi sekali " ternyata orang itu adalah brian , dia langsung menelpon polisi dan ambulan.


namun saat itu dia melihat percikan api dari mobil hitam milik tiffanny , dia segera berlari menghampiri mobil itu. dan matanya terfokus pada plat nomor itu yang dia kenal itu milik tiffanny.


" tidak mungkin " pikirnya.


tetapi tangan yang keluar dari dalam mobil yang kacanya sudah pecah itu membuatnya terperangah, walau berdarah - darah tangan itu dia tau betul.


" tiffanny !!!!! " teriaknya yang segera berlari , dia mengintip kedalam dan benar saja tiffanny sudah dilumuri darah.


tangannya berusaha membuka mobil itu , dan api sudah mulai keluar lagi dari belakang mesin mobil.


" tiffanny kau bisa mendengarku ? ! " teriaknya.


" bersabarlah sayang aku akan menyelamatkanmu " sambil berusaha menarik pintu mobil itu.


krek


dia berhasil membukanya dan berhati - hati menarik tiffanny , " tifffanny , sayang " dia sangat sedih dan teriris melihat bagaimana wanita yang dia cintai terluka parah.


brian mengangkat tiffanny yang sudah tak sadarkan diri itu.


brummm


mobil tiffanny langsung meledak saat itu juga , brian melindungi tiffanny menggunakan tubuhnya dan sesuatu dari dalam mobil terpental dan mengenai tepat di punggunya.


" ahhh " dia kesakitan akan tetapi saat ini tiffanny lebih penting baginya.


suara ambulance dan polisi mulai terdengar , dengan terengah - engah dia membawa tiffanny.


shitt


ambulance berhenti segera membuka pintu belakang dan mengambil brankar.


" cepat selamatkan dia " lirih brian.


" kau juga terluka masuklah bersama nya " ujar petugas laki - laki.


brian mengangukkan kepalanya , dan akhirnya mereka berdua berada dalam satu mobil ambulance.


tiffanny sangat lemah dan tak sadarkan diri , darahnya terus saja keluar dari kepalanya yang sepertinya terkena benturan yang kuat.


" cepatlah ini sangat kritis jangan terjadi sesuatu kepadanya " ujar brian.


****


" dokter devan ! dokter devan ! " panggil seorang suster yang langsung membuka ruangannya.


" ada apa ?" saat itu devan baru saja keluar dari ruangan operasi, baru saja dia akan memakai jas nya.


" ada korban kecelakaan darurat , sebentar lagi akan datang "


" ya baiklah " devan mengangukkan kepalanya , namun matanya tertarik pada ponselnya yang tergeletak itu , tapi dia harus segera pergi sekarang. dan dia akhirnya dia hanya menghiraukan ponselnya lagi.


dia berlarian menuruni anak tangga hingga sampai akhirnya dia turun dan berdiri kaku.

__ADS_1


" brian " pikirnya yang berjalan dibantu oleh petugas.


__ADS_2