Cinta Di Hatiku

Cinta Di Hatiku
Do'a Yang Terwujud


__ADS_3

" kau akhir nya tau jalan pulang " kata nenek dari atas tangga.


" Nenek " gumam fanny yang terkejut melihat nenek sehat - sehat saja.


" kenapa nenek berbohong padaku ?" tanyanya dengan wajah yang memerah menahan marah.


" jika nenek tidak berbong apa kau akan menemui nenek ? kau berjanji untuk berubah tetapi hanya beberapa saat saja. kau menganggap nenek apa sebenarnya ?" tanya nenek sambil menuruni anak tangga.


" Nenek ... ada begitu banyak pekerjaan , aku ha.."


" alasan mu selalu sama, pernahkah kau tau kapan nenek membutuhkanmu ? hanya devan yang tau. dia orang lain tapi dia memahami nenek "


" kalau begitu , nenek sudah memutuskan sesuatu untukmu " tegas nenek.


" apa ? " tanya fanny yang ingin tau.


" Nenek akan menerima lamaran micheal untukmu , kau harus menikah " ucap nenek dengan lantang.


rian membelalakkan matanya , devan yang baru pulang juga langsung lemas mendengarnya.


" Nenek " ucap fanny.


" Fanny terimalah lamaranku, aku akan membantumu mengurus hotel agar kau tidak terus - terusan bekerja sampai seperti ini " kata micheal yang baru tiba.


" Tidak ! aku tidak akan menikah dengan micheal atau siapapun. aku tidak akan menikah " tegasnya.


" fanny "


plak


nenek menamparnya di area pipi kanan. dan dia langsung memegangi pipinya.


" fanny " teriak devan dan rian.


" Nenek " teriak micheal.


" fanny , sekali saja pikirkan dirimu sendiri " kata nenek pelan.


" tidak nek , aku tidak akan menikah" balas fanny.


" lalu kau mau apa sekarang , usia mu sudah 25 tahun. pernikahan adalah hal yang cocok untukmu " tuntut nenek.


" usia - usia selanjutnya kau harus menikmatinya bersama suami dan anak - anakmu nanti. pikirkan garis keturunan keluargamu sendiri " sambung nenek.


" andai nenek tau umurku tidak akan bertahan selama itu " ucap fanny dalam hati.


" ada apa dengan wajahmu , apa kau sakit ? kenapa picat sekali ?" tanya nenek sambil meraba - raba pelipis fanny.


" aku ... nenek aku " ucapnya sayu dan dia langsung tergeletak ke lantai.


" fanny " teriak semua orang.


" fanny bangu nak" ujar dengan dengan cemas dan bergetar.


" fanny bangunlah apa kau mendengarku ?" tanya devan yang menyenggol pipi fanny.


" siapkan mobil sekarang " perintah devan.


***

__ADS_1


" fanny bangun nak ... maafkan nenek , nenek tidak bermaksud memukulmu hiks.. " isak nenek yang menyesal itu sambil mendorong brangkar fanny.


ada rian dan juga micheal serta devan yang ikut mendorongnya.


" suster siapkan ruangannya " perintah devan.


" sudah dokter , kata dokter wijin nona ini sering datang ke sini , pakai ruangan yang biasa dia gunakan" jelas suster itu.


" devan tolong selamatkan dia , nenek mohon " pintanya dengan mengepalkan kedua tangannya kepada devan


" nenek ... aku berjanji apapun itu , aku akan menyelematkannya " devan melepaskan kepalan tangan nenek yang sedang memohon itu.


dia ssgera masuk untuk memeriksa fanny , dia mengecek tubuh fanny menggunakan stetoskop terlebih dahulu.


brak


" dia nona tiffanny wang " ujar dokter wijin.


" dokter kau mengenalnya " kata devan.


dokter wijin meliriknya , lalu dia menjelaskan semuanya dari awal mula hingga fanny tidak mau melakukan perawatan karena merasa tidak akan pernah sembuh.


" kenapa kau baru memberi tahuku sekarang , dia keluargaku hal sebesar ini kau tutupi dari keluarganya ?" bentak devan.


" dia yang memintanya " balas wijin.


" dokter kau benar - benar menginginkan pasien mati. suster ... " liriknya pada suster itu.


dikamar perawatan itu, fanny masih tertidur pulas akibat pingsan. wajahnya terlihat pucat dan seperti tidak bereaksi apapun.


nenek terus menangis ketika tau fanny terkena tumor otak, dan hanya tersisa waktu 60 hari saja. haruskah dia ditinggal oleh satu - satunya keturunan anaknya itu.


" Nenek pulanglah , aku akan menjaganya disini. dia tidak akan bangun sampai besok " ucap devan pelan mengelus bahu nenek itu.


" Nenek mau disini ... tidak ada keluarga yang lain kecuali nenek saja " balasnya dengan mata kosong.


" percayalah padaku nek. aku tidak akan membiarkannya , cara apapun akan ku cari "


" kesehatan nenek juga sangat berarti sekarang , dia sudah tidak punya siapapun kecuali nenek. bagaimana jika dia bangun melihat nenek sakit , siapa yang akan menjadi penyemangatnya ?" jelas devan sambil matanya memperhatikan fanny yang tertidur pulas.


" pulanglah bersama rian nek , istirahatlah " sambungnya.


" baiklah " sebelum nenek pergi dia mencium kening fanny cukup lama dan menatap devan dengan penuh harap. devan mengerti apa yang nenek ingin katakan dia langsung mengangukkan kepalanya.


dengan berat hati nenek meninggalkan ruangan itu , dia disambut rian dan rian membawanya pulang kerumah.


sedangkan didalam kamar itu dia duduk di kursi bekas nenek , tangannya memberanikan diri untuk menggenggam tangan yang tidak terlalu besar itu. tangannya terasa dingin saat dia pegang.


" satu bulan kau mendiamiku, aku bertanya pada diriku sendiri apa kesalahanku. apa karena aku ingin dekat denganmu , tapi nyatanya kau menyembunyikan hal yang besar ini "


ceklek


" Dokter devan , ada pasien darurat datang dan harus segera dioperasi " jelas suster itu.


" Baiklah "


" aku pergi dulu " pamitnya dan segera meninggalkan ruangan itu dimana fanny masih tertidur.


1 jam , 2 jam dan jam - jam selanjutnya. devan masih didalam ruangan operasi , dia sedang menjahit bekas operasi pasien itu. saat sedang mengoperasi begini pikirannya terus melayang ke tiffanny.

__ADS_1


bagaimana kabarnya ? apa di sudah bangun ? apa dia merasakan sakit kepala lagi ? atau apapun yang menyangkut tiffanny.


" bawa keruangan perawatan " jelasnya.


dia segera berlari untuk mencuci tangan dan membersihkan tubuhnya dari bekas operasi itu. tanpa mengganti baju dia berlari menuju kedalam ruangan fanny.


ceklek


kosong ?


kemana fanny ? apa dia kabur ? semalam ini ? tidak mungkin. siapa yang membawa fanny pikirnya. dia berlarian didalam rumah sakit itu mencari sosok fanny yang selalu membuatnya khawatir.


" Fanny " gumamnya melihat seorang perempuan di kursi roda dengan rambut panjang yang digerai dari belakang dia bisa tau jelas kalau itu fanny.


perlahan - lahan langkah kakinya membawanya menemui fanny. fanny yang sedang menikmati angin malam diluar itu wajahnya datar menatap depan.


" ini sudah malam , cuacanya sangat dingin kenapa ada diaini ? ayo masuk " kata devan lembut dari belakang.


" ....."


" kau tidak ingin bicara padaku ? " tanya devan lagi ketika fanny tak menjawabnya.


" fanny apa aku sebegitu buruknya dimatamu sampai kau tidak ingin menjawabku ? aku tau kau sedih , tapi jangan terlalu dirasakan aku berjanji untuk menyelamatkan dirimu " sambungnya dengan parau.


" percayalah padaku " katanya lagi.


" jangan membuat dirimu lelah karena diriku. aku tetap akan mati " ucapnya datar.


" tidak ! aku tidak akan membiarkanmu meninggalkan kami " balas cepat.


" meninggalkan ? ... apa kau tau rasanya ditinggalkan ?" tanya fanny yang dia tidak sama sekali melirik bahkan menoleh ke wajah devan dia hanya menatap lurus pandangannya.


" rasanya seperti aku berada di gurun pasir yang tak berujung. sunyi dan sepi , tidak ada orang yang bisa kutemui disana. hanya ada hamparan pasir yang luas yang ketika aku berjalan ... pasir itu membuat debu hingga akhirnya aku menyerah karena tidak tahan " jelas fanny dengan tenang.


" Fanny Aku mencintaimu" ungkap nya sambil menahan air matanya.


" Aku benar - benar mencintaimu, Tidak peduli seperti apa masa lalumu dan seperti apa masa depanmu. aku akan tetap mencintaimu " katanya lagi.


" Jangan mencintai orang yang akan mati sepertiku " balas fanny.


" sudah aku bilang aku tidak akan membiarkanmu mati! " tegas devan lagi, lalu dia berjongkok dihadapan fanny.


" fanny ... aku mohon bertahanlah " katanya dengan parau seraya memegang kedua tangan fanny.


wajah fanny juga mulai meneteskan air matanya , kedua matanya menatap devan yang terlihat sangat serius itu.


fanny menggelengkan kepalanya


" Rasanya sangat sakit ketika aku terbangun , aku mungkin tidak bisa menahannya terlalu lama lagi " ujarnya .


" Fanny aku mohon " pinta devan lagi.


" mama ... papa ... dan kakak , sudah pergi dariku 19 tahun yang lalu, setiap aku berdoa , kau tau doa apa yang aku minta ?" tanya fanny dan devan langsung menggelengkan kepalanya.


" aku meminta untuk tuhan mengambil nyawaku ... karena aku sangat merindukan keluargaku " dia tersenyum kecil ketika mengatakan itu.


" nampaknya butuh 19 tahun tuhan mewujudkan itu. Aku bersyukur ... karena tidak lama lagi , aku akan bertemu dengan mama , papa dan kakak "


" jadi , biarkan aku mati. aku tidak akan sedih untuk nenek karena aku percaya ... kau bisa menjaga nenekku dengan baik lebih dariku "

__ADS_1


__ADS_2