
" ada begitu banyak orang yang mencintaimu disekitarmu , tetapi hanya ada satu pria yang selalu ada di hatimu. pria yang sudah menghancurkan hidupmu , pria yang menkhianatimu " ucap rian dalam hati saat mendengarkan perkataan micheal dari luar pintu.
" Kau sakit ... apa brian ada untukmu , dia hanya peduli terhadap dirinya sendiri " timpalnya.
keesokan harinya
hari dimana fanny akan pergi dari Negeri ini dan akan melanjutkan pengobatannya ke Inggris, semua sudah dipersiapkan. hari ini devan akan mengantar fanny ke bandara menggunakan mobilnya sendiri sedangkan Fanny akan menggunakan Ambulance.
sejak 3 hari yang lalu belum ada tanda - tanda jika fanny akan terbangun. setiap hari devan selalu berada disisinya , menemaninya dengan sepenuh hati. seperti sekarang , dia sedang ada di bangku itu dan menggenggam erat tangan fanny.
" Pasien harus segera dibawa , Dokter semua sudah siap " kata suster Ressa itu.
suster ressa melepaskan genggaman tangannya dan dibantu beberapa perawat dan dokter wijin membuka ventilator itu ditubuhnya.
devan tak berkutik sebentar lagi dia akan berpisah entah untuk berapa lama , menyaksikan bagaimana perempuan yang pertama kali membuatnya jatuh cinta itu akan meninggalkan dirinya sebentar lagi.
" Semuanya sudah selesai " kata dokter wijin
brankar itu didorong oleh beberapa suster dan dokter wijin tersebut meninggalkan devan disana yang masih mematung sendiri.
wanita itu , tadi masih ada bersamanya. dia masih bisa menggenggam tangannya tapi sekarang... dihadapannya hanyalah ruangan kosong yang tak berpenghuni.
( Kita hanya sebidak Catur yang dipermainkan oleh takdir. Tidak ada kekuatan kecuali sang pemain yang menjalankannya. Hari ini ... genggaman tanganku terlepas , besok... apa yang harus aku lepas lagi ) matanya nanar menatap arah pintu yang barusan saja dilewati fanny.
setelah beberapa saat dia segera berlari keluar rumah sakit , dan segera menyusul untuk ke bandara.
"Bandara Internasional Husein Sastranegara"
" jaga dirimu baik - baik. nenek akan kembali nanti ... dan juga , tolong jaga rumah dan semuanya " ucap nenek dengan mata berkaca - kaca sambil mengelus bahu sebelah kanan devan.
" Apa nenek akan Baik - baik saja disana ? maaf aku tidak bisa menjaganya karena disini ..."
" Ini bukan salahmu nak , lakukan pekerjaanmu dengan baik. dan sembuhkan semua orang seperti biasanya " ucap nenek yang memotong pembicaraan devan itu.
" para penumpang yang terhomat , sebentar lagi pesawat ..."
" dengar kan , ini sudah waktunya kami pergi." kata nenek lagi.
__ADS_1
" sampai jumpa " sambung nenek lagi dengan senyuman tipis nya , dia segera berjalan menuju ke luar pesawat.
devan membiarkannya pergi, tetapi dia baru sadar kalau posisinya sekarang tidak bisa melihat kepergian fanny dengan jelas. jadi dia berlari ke sebuah tempat dimana dia bisa melihat dengan jelas penerbangan itu.
dia terus berlari menghiraukan semua orang yang ada disana hingga sampailah dia di sebuah tempat dimana dinding itu hanya dilapisi kaca saja sehingga dengan jelas dia bisa melihat semua pesawat yang berjejer.
satu peswat yang membuatnya tertarik , yaitu pesawat berlist merah sedang bersiap untuk take off. air matanya jatuh ke wajahnya.
( untuk beberapa saat aku selalu kesal padamu , dan untuk beberapa saat aku mengkasihanimu , beberapa saat aku tertarik padamu dan beberapa saat aku senang mengenalmu. tetapi kali ini ... beberapa saat itu akan berubah menjadi berapa lama kau akan pergi dariku )
pesawat itu sudah take off dan mulai menerbangkan diri. kini .... hanya waktu yang bisa menjawab kapan sosok wanita itu pulang.
dengan langkah lesu dia keluar dari area bandara menuju ke parkiran mobilnya. kini sudah malam , dia menyetir mobilnya dengan lambat.
melihat ke jam tangannya yang sudah jam 7 malam , dia menaikkan gasnya dan melaju kesebuah tempat. hingga dia sampai ke rumah itu , rumah di mana fanny akan datangi saat dia sedang merindukan sesuatu. ya ! rumah orang tua fanny.
ceklek
tampak kosong dan gelap , dia menekan saklar lampu hingga rumah itu menjadi terang dan duduk di sofa. untuk beberapa saat dia merasa bosan hingga memutuskan untuk naik ke atas dimana biasanya dia tertidur.
namun , saat lewat dia hadapkan dengan kamar fanny. dia menatap pintu itu dan tangannya perlahan membuka knop pintu.
ceklek
ada hanphone dan juga Gelang berwarna hitam. ponsel itu buka ponsel yang biasa fanny gunakan. namun terlihat masih bagus.
dia hidupkan ponsel itu , saat pertama kali dihidupkan sebuah layar walpaper menunjukkan betapa bahagianya dulu ia bersama brian.
dia mengusap layar itu dan membuka galerinya. dia ingin tau kehidupan mereka berdua saat masih berpacaran dulu.
dia buka satu persatu, seperti pasangan yang sesungguhnya juga sangat bahagia. dimana fanny dan brian selalu tersenyum lebar.
dari foto berkencan, hari - hari biasa sampai foto kelulusan semuanya terlihat bagus. namun sayang , semua itu hanya tinggal kenangan.
dan foto terkahir gelang yang sama yang ada di sebelah ponsel itu. ternyata itu adalah gelang cuople milik mereka berdua.
( Sangat besar sekali cintamu, sampai berpisahpun tidak ada satupun yang kau hilangkan. aku tau ... konsekuensi apa yang harus aku terima saat mencintai seseorang yang masih mencintai masa lalunya )
__ADS_1
( namun aku akan terus memperjuangkan dirimu, menggantikan semua kesedihanmu dengan kebahagiaan yang akan aku uukir nanti bersamamu)
dia melirik ke tangal yang ada di atas nakas " 29 Agustus ... " ucapnya pelan.
" kau pergi jauh , tapi aku akan terus menanti tanggal 29 agustus lainnya dan hari ... hari berikutnya )
****
setelah hampir 16 jam melakukan penerbangan dari kota Bandung sampai ke London , inggris kini mereka sudah sampai.
segera fanny dibawa lagi kerumah sakit dimana Dokter Keth spesialis bedah dan Tumor otak bekerja. melakukan beberapa jam perjalanan lagi hingga mereka sampai dirumah sakit RS Addenbrooke di Cambridge.
Dokter langsung membawanya ke dalam ruangan perawatan dan dipasangankan lagi kembali semua peralatan yang dibutuhkan. semua doktet dan perawat yang berpengalaman mengurusnya dengan baik.
nenek hanya bisa mengharapkan yang terbaik dari perjalanannya kali ini,.di usia yang sudah 60 tahun ini hanya memiliki keberanian saja di negara orang hanya sendirian bersama fanny yang kini tergeletak lemah.
dia duduk dengan rapi di depan ruangan fanny sampai doktet keth tersebut datang.
" You guys are too late to bring him here, the patient has to undergo intensive care under me." kata dokter keth
" then what to do now? " tanya nenek dengan cemas.
mata biru doktet keth itu hanya mampu memandangi wajah nenek yang sudah terlihat khawatir itu , dia segera meninggalkan nenek seorang diri. dan nenek tidak mendapat jawaban , dia hanya bisa memandangi fanny dari jendela lebar itu saja.
***
Bandung , Indonesia
di dalam hotel itu jadi semua pekerjaan fanny dialihkan ke Rian karena dia juga sama seperti fanny dahulu nya mengambil kuliah jurusan bisnis. dia juga sudah paham bagaimana kinerja fanny jadi tidak terlalu sulit untuk mengimbangginya.
tetapi saat berada di dalam ruangan fanny biasa dia melihat sosok itu duduk dan bekerja dengan fokus tetapi sekarang hanya ada dia seorang didalam sana.
dia tidak pernah mau duduk di kursi itu , karena baginya hanya sang pemilik kursi lah yang harus menduduki tahta nya. dia hanya berani duduk si sofa biasa.
membayangkan wajah tiffanny yang sedang duduk disana membuat rasa rindunya semakin bertambah. sudah beberapa bulan lamanya dia merindukan sosok wanita itu.
wanita yang biasanya dia urus seperti mengurus anak kecil, makan selalu disiapkan. pulang dan pergi selalu diantar jemput. dia menghempaskan kertas yang ada di tangannya.
__ADS_1
" aku benar - benar tidak bisa melakukan ini lagi " ucapnya sambil meremas kepalanya.