
keesokan paginya.
pukul 6 pagi Fanny sudah memakai pakaian rapi hari ini memakai dress selutut berwarna pink. tidak lupa dengan hiasan sederhana di wajahnya.
sepatu hiels berwarna putih menjadi kesukaannya, jam tangannya berbunyi sebagai pengingat waktu kalau dia harus berangkat sekarang juga.
dia menuruni anak tangga itu dengan perlahan - lahan , tanpa dia tahu Rian sudah menunggunya di bawah tangga dengan tampannya.
" Selamat pagi " ucap rian.
" Pagi " jawab fanny.
" aku ... tidak ... menyuruhmu datang bukan ?" tanya fanny .
" ehmm iya , tapi aku ingin menjemputmu. " jawab Rian.
" Baiklah ayo kita berangkat " ajak fanny , dia berjalan mendahului rian.
" tunggu sebentar ..." cegah Rian.
" ada apa ?" tanya fanny yang berhenti itu.
Rian tersenyum kecil lalu tangannya memberanikan diri untuk membenarkan rambut kecil yang ada diwajah fanny dia singkirkan ke sebelah kiri.
" Rambutmu menghalangi wajahmu " ucapnya masih tangannya berada di rambut fanny.
dari jauh saat devan akan turun dia melihat adegan itu seperti pasangan kekasih yang romantis bagi orang - orang. walau dia tau Fanny dan Rian adalah Rekan kerja tapi dia bisa menganggapnya berbeda.
" terima kasih " ucap fanny pelan dan membenarkan sendiri posisi rambutnya.
keduanya pun keluar bersamaan dalam posisi berjajar. dan devan masih dalam posisi berdiri seperti tadi.
" sepertinya dia baik - baik saja. aku sudah mencemaskan sesuatu hal yang tidak seharusnya aku cemaskan " pikir devan karena memang semalam setelah habis memarahi tiffanny dia tidak bisa tidur tenang.
***
Bandara Internasional Soekarno - Hatta
" sayang nanti temani aku belanja ya , aku ingin semua peralatan dirumah baru kita yang bagus dan mahal. Ayah sudah memberikan uanganya padaku " ujar agatha yang terus bergelayutan di tangan Brian.
Brian hanya mengangukkan kepalanya , berjalan dengan coolnya. tidak ada lagi percakapan diantara keduanya. sebuah mobil alphard menunggu di depan Bandara itu.
" Masukkan semua kopernya " perintah agatha pada sopir itu.
" baik bu " jawabnya sopan.
" ayo sayang masuk "
agata dan brian pun masuk kedalam mobil dan menunggu sopir itu untuk menyelesaikan pekerjaannya. tak butuh waktu lama sopir itu kembali masuk kedalam dan membawa mereka berdua menuju kesebuah rumah Mewah yang dijadikan tempat hunian idaman para pebisnis tinggi.
" aku akan datang ke hotel lebih baik kau istirahat nanti malam aku pulang "
brian mengatakannya tanpa melirik ke arah agatha hanya fokus menatap ponselnya. agatha pun meliriknya wajahnya seperti bertanya - tanya.
" ayah sudah menghandle semuanya jangan takut, istirahatkan dirimu dulu "
__ADS_1
" agatha , aku tau ayah samuel orang yang tidak diragukan lagi dalam bisnis. tapi aku sudah lama tidak melihat perkembangan hotel aku juga ingin menjadi pebisnis seperti ayahmu. apa kau tidak mau mendukung aku ?" tanya brian dengan lembut , membuat agatha tak mampu menjawab karena kelembutan brian .
" aku akan pakai mobilku " saat brian akan keluar tangan agatha mencegatnya dan dia menyodorkan wajahnya. brian langsung peka dan dia mencium kening agatha.
setelah itu brian pergi seorang diri menggunakan mobil nya , melaju dengan kecepatan sedang.
didalam perjalananya brian sesekali membuka ponselnya mencari sesuatu di dalam pencarian berita. sudah hampir 1 bulan dia tidak di indonesia membuatnya banyak kehilangan informasi.
shittt
suara decitan rem mobilnya berhenti di sebuah hotel yang tak lain yaitu Hotel Wang milik mantan kekasihnya Tiffanny Wang. dia membuka pintu mobil dan segera keluar dari sana lalu membuka kacamatanya menatap hamparan tingginya hotel dihadapannya itu.
" Brian " dari jauh rian bisa melihat sosok Brian yang sedang berjalan ke arahnya , dia berdiri di depan meja resepsionis dengan memasukkan kedua tangannya kedalam kantong celana.
" selamat siang " ucap brian.
" selamat siang , kami tidak mengundang mu apa ada sesuatu ? " tanya rian dengan raut wajah datar dan dingin.
" aku dengar Tiff ..."
" bu ... kau harus memanggilnya bu " potong rian.
" bu tiffanny memenangkan suara di pemilihan , aku ingin mengucapkan selamat padanya. aku rasa sekarang kita adalah rekan kerja "
" Bu Tiffanny sedang sibuk jadi tidak bisa ditemui , harus ada janji terlebih dahulu " ujar rian yang sebenarnya bohong.
" maaf pak , bu Tiffanny memanggil anda di atas " kata seorang perempuan yang datang dari arah kanan itu.
" apa bu tiffanny sedang bekerja ?" tanya rian.
" pergilah" sergah rian pada karyawan itu.
" maaf pak " ucapnya tunduk lalu segera pergi dari sana.
seperti ada persaingan sengit diantara keduanya tetapi rian lebih menonjolkan rasa ketidaksukaannya pada brian. sedangkan brian bersikap lebih tenang.
" maaf pak Rian apa kita memiliki dendam khusus sebelumnya ? sampai - sampai kau tidak memperbolehkan aku bertemu dengan bu tiffanny " ujar brian yang kali ini bicara dengan tegas.
" Rian " kata tiffanny dari jarak 5 meter itu , mendengar suara itu membuat brian membalikkan tubuh nya sehingga kini dia bisa menatap jelas tiffanny.
fanny tersentak melihat kehadiran brian , pria yang sedang berusaha untuk dilupakannya kini ada di hadapannya. tetapi dia mengontrol dirinya untuk bersikap biasa saja.
" maaf bu aku ... "
" 15 Menit lagi ada meeting segeralah naik ke atas dan siapkan berkasnya " ucap fanny .
" bu tiffanny selamat atas kemenanganmu " ucap brian.
" terima kasih pak Brian " balas fanny.
" saya permisi " ujar nya , tanpa menunggu jawaban dari brian fanny melenggangkan kakinya meninggalkan tempat itu dan segera masuk kedalam lift.
" jika tidak ada urusan lagi maka silahkan pergi dari hotel ini " titah Rian yang juga ikut pergi bersama tiffanny.
sedangkan brian berdiri mematung di tempat itu, tidak tau apa yang ada dipikirannya saat ini. hanya dia sendiri yang bisa menjawabnya.
__ADS_1
***
" dia datang kemari tanpa diundang , mungkinkah dia merencanakan sesuatu " ujar rian.
" biarkan saja "
ting
fanny melangkahkan kakinya keluar lift menuju kedalam ruangannta diikuti oleh rian dibelakangnya " kau baik - baik saja ?" tanyanya pelan.
" aku ?"
" ya , sebenarnya Brian adalah penerus perusahaan pak samuel , dia memegang saham di hotel ini " ungkap rian.
setelah mendengar itu fanny segera masuk kedalam ruangannya , rian tau jelas setelah melihat fanny yang bersikap dingin begitu dia ingin sendiri biarkan dia memikirkan sesuatu pikirnya.
dibalik pintu itu fanny mengepalkan erat kedua tangannya itu , wajahnya memerah seakan hawa panas ditubuhnya menjalar kuat.
dia berusaha menenangkan dirinya sendiri sebisa mungkin " fanny tenanglah , tidak akan terjadi apapun. percayalah tidak akan ada yang terjadi " ucapnya dalam hati.
***
agatha terus berputar kekanan dan kekiri sambil memegang ponselnya, wajahnya memancarkan raut ke cemasan dan kekhawatiran.
" aku sudah berbuat sejauh ini dan tidak akan kubiarkan mereka bersatu. brian milikku dan akan menjadi milikku sepenuhnya " ucapnya.
drrt....drtrttt
ponseln'ya bergetar dia langsung membuka sms dari nomor yang tidak dia simpan. dia membelalakkan kedua matanya seakan mau copot.ternyata foto itu adalah foto brian yang sedang berhadapan dengan fanny mungkin ada mata - mata yang dia kirimkan untuk mengikuti brian.
" berani sekali dia , tiffanny aku tidak akan melepaskanmu" ucapnya geram.
***
mobil rian memasuki halaman rumah nenek ji , tiffanny turun dari dalam mobil dan segera pergi tanpa mengatakan apapun pada rian.
rian hanya bisa memandangi tiffanny dari jauh yang seakan pergi dari hadapannya. matanya tak pernah melepaskan pandangan dari fanny.
" masalah apa lagi sekarang yang akan menimpanya " gumam rian.
" apa kau tidak mau masuk kedalam ?" tanya devan yang muncul dari taman dan membuat rian mengalihkan pandangannya ke arah nya.
" tuan devan ... tidak perlu " jawabnya.
" kau tidak masuk kedalam kamarnya lagi ?" tanya devan lagi.
" maksudnya ?" tanya rian yang tak paham akan maksud devan.
" lupakan saja. aku masuk dulu " jawab devan.
saat di dalam rumah fanny baru setengah jalan , rasanya dia sudah lelah untuk naik ke atas sehingga hanya mempu duduk di sofa saja.
" Rian jangan katakan apapun. aku sudah lelah sekarang " kata tiffanny yang dia pikir adalah rian saat mendengar suara langkah kaki dari pintu.
" aku pikir tiffanny itu tidak bisa lelah " ujar devan.
__ADS_1
tiffanny pun menoleh dan hanya menatap biasa devan lalu kembali menatap kedepan.