
devan mengikuti fanny yang masuk ke kamar , disana fanny duduk di pinggiran ranjang. devan mengunci pintu kamar nya dan mendekati tiffanny.
drtt...drttt
" Micheal calling "
melihat nama micheal dilayar ponselnya fanny memutuskan untuk mengangkatnya.
📱 " halo , micheal "
fanny tidak tau kalau dibelakangnya sudah ada devan yang memperhatikan dan mendengarkannya.
( Fan , Aku punya laporan yang kau minta tadi siang. mau aku kirim sekarang apa besok saja sekalian kita bertemu di kantorku ?" )
📱 " oh ... hmm besok saja tidak masalah, aku akan menemuimu pukul 2 nanti "
( oke , aku akan menunggumu )
fanny memutuskan telepon itu , devan berjalan ke arah fanny dan memperhatikannya yang sedang menunduk itu.
" Kau membenci foto itu ? " tanya devan dengan nada lembut.
fanny tidak mau menjawabnya , sesungguhnya dia memang tidak suka melihat foto itu. seakan terus diingatkan tentang masa lalunya.
" aku mengerti " sambung devan.
" kenapa kau membenci foto itu saat kau sendiri menyimpan semua kenangan masa lalumu ?"
" apa maksudmu ? aku tidak mengerti " tanya fanny yang kini mengadahkan kepala menatap devan.
" Ponsel yang kau simpan dirumah orang tuamu. aku melihat semua apa yang ada didalamnya "
fanny ingat sekarang ponsel terdahulunya. " kau masih menyimpannya bukan ? " tanya devan lagi.
fanny pun terdiam , namun yang sebenarnya beberapa bulan yang lalu saat ia kembali dari inggris. dia pergi kerumah orang tuanya , disana dia ingat sebuah ponsel yang dia simpan.
dia ambil ponsel di laci itu , kembali dibuka semua isinya. lalu dengan tangannya sendirilah dia menghapus semua memori itu , foto , video maupun yang lainnya.
bahkan ponsel itu dia membuangnya sendiri.
" sudah tidak ada lagi " jawab tiffanny.
" apa aku harus percaya ?"
" aku tidak peduli kau mau percaya atau tidak " fanny beranjak dari tempat duduk namun baru berdiri saja devan sudah menariknya kedalam pelukannya.
" baiklah , aku percaya. aku tidak marah hanya saja aku tidak ingin terjadi sesuatu kepadamu karena aku sangat menyayangimu, jika ingin melakukan sesuatu kita akan melakukannya bersama - sama "
fanny menangis tanpa bersuara dibahu devan, sedangkan devan dia terus mengelus lembut punggung fanny.
***
pagi hari di meja makan.
fanny membantu devan menata makanan di meja , sedangkan devan masih memasak. tiffanny juga membantu devan memotong buah apel , baru kali ini pikirnya dia mau membantu devan.
dengan hati - hati dia mengupas kulit apel itu. karena dia tidak terbiasa masih sangat kaku.
" aww " tiba - tiba saja tangannya tergores pisau .
__ADS_1
" sayang ! " mendengar suara fanny yang kesakitan devan segera mamatikan kompor dan berjongkok dihadapan fanny.
" sayang ini sakit kan , ini pasti sakit ! " devan memegang jari fanny yang terluka itu.
" maafkan aku , seharusnya aku melarangmu. sudah tau masih saja , aku benar - benar menyesal sayang, maaf " devan merasa sangat bersalah , darah itu terus mengucur seceparnya mengambil kotak p3k di depan televisi.
fanny memang merasa sedikit kesakitan tapi dia merasa kenapa devan terlihat khawatir dia tidak akan mati hanya karena tergores pisau sedikit.
" huuftt....huftttttt banyak sekali , lain kali aku tidak akan mengizinkannya. aku tidak mau kau terluka sedikitpun " devan membersihkan darah itu dengan telaten.
" hei ... kenapa seperti kau yang tergores, aku baik - baik saja jangan terus meminta maaf " ucap fanny.
" tidak bisa begitu. sepenuhnya adalah salahku, seharusnya aku menyiapkan sendiri buahku. pasti sakit " wajahnya menunjukkan penuh kekhawatiran.
" aku tidak akan mati hanya karena luka ini " devan menatap fanny tajam dan menutup mulut fanny dengan telapak tangannya.
" jangan mengatakan itu , aku tidak suka kata - kata itu keluar dari mulutmu. "
fanny menjauhkan telapak tangan itu dari mulutnya " ini sudah tidak sakit lagi , percayalah " katanya dengan sendu.
" aku tidak percaya , sayang kau selalu berbohong padaku tentang kondisimu jangan menutupinya lagi "
cup
fanny langsung mencium bibir devan yang terus menerus mengocehinya dan merasa bersalah. hal itu tentu membuat devan terpaku.
" kau tidak salah, aku hanya ingin membantumu. lagipula ... kau sudah mengobatinya rasanya sudah tidak sesakit tadi, jika aku terluka ... aku yakin kau orang pertama yang akan menolongku. kau tidak akan membiarkan terjadi sesuatu kepadaku, iyakan .... "
cup
kali ini devan lah yang mencium tiffanny, dia ********** lembut dan penuh cinta. sehingga fanny membalasnya dengan teratur.
cukup lama mereka berciuman, sampai fanny ingat jika ini sudah siang dan harus segera pergi bekerja.
devan yang menatapnya sendu itu hanya bisa memejamkan kedua matanya berusaha menahan hasrat nya.
cup
kali ini dia hanya mencium singkat dan berdiri
" baiklah , mau aku antar atau bawa mobil sendiri ? aku antar saja ya , jarimu pasti sakit "
" hmm " fanny mengangukkan kepalanya, dia tidak ingin membuat devan menambah rasa bersalahnya kepada dirinya.
tiffanny membiarkan devan naik keatas untuk mengambil perlengkapannya sendiri. sedangkan dia hanya bisa diam atas apa yang telah dia lakukan.
kenapa dia merasa kasihan , bahkan tidak menyukai devan yang terus merasa bersalah karenanya. sebelumnya dia tidak pernah merasakan hal seperti itu kepada siapapun.
deg...deg...deg
memikirkan itu membuat jantungnya semakin berdetak tak beraturan.
" sayang "
suara devan itu mengejutkan lamunannya , dia pun tersenyum lalu berdiri.
***
didalam mobil tangan sebelah kiri devan tak henti - hentinta mengelus telapak tangan tiffanny.
__ADS_1
" jangan lupa makan sarapannya dulu, baru mulai bekerja. "
" hmm , kau juga " balas tiffanny.
" sore nanti tidak usah menjemputku. aku dan micheal ada urusan dan akan pulang dengannya " jelasnya dengan lembut , dia tidak ingin membuat devan merasa khawatir padannya nanti.
" jika aku jemput tidak masalah, telpon saja aku akan datang sayang "
" tidak usah , sekalian saja nanti katanya dia juga ingin melihat rumah "
" baiklah "
kali ini devan tidak ingin banyak bertanya , walau sebenarnya dia tidak suka tiffanny pulang dengan pria lain. tapi dia harus mengerti bagaimana perasaan tiffanny , lagipula keduanya sudah saling menikah dan micheal juga terlihat cukup tau diri.
***
sesampainya di hotel , devan mengantar sampai ke dalam lobi. disana dia terlihat tidak ingin berpisah dengan fanny, tangannya saja masih terus menggenggam tangan tiffanny.
" devan , aku harus bekerja "
" sayang rasanya aku ingin terus disini bersamamu. "
fanny tersenyum kecil mendengarnya " aku akan segera pulang , kau juga harus bekerja. bukankah kau ingin menyembuhkan banyak orang "
devan mengangukkan kepalanya, bibirnya tiba - tiba cemberut " hmm itu benar , tapi ... aku masih merindukanmu , dan juga ... aku takut lukamu akan sakit " devan menyentuh jari yang sudah diplaster itu.
fanny tersenyum lebar , senyuman yang jarang diperlihatkan untuk orang apalagi saat tersenyum gummy smilenya membuat siapapun gemas.
" ada rian yang akan membersihkan lukanya jika masih berdarah, lihat ( menyentuh tangan kiri devan untuk melihat jam ) sudah jam setengah 8 kau harus pergi sekarang "
" baiklah ... baiklah , tapi ingat ! makananya harus dihabiskan jika tidak ... aku akan berikan hukuman nanti "
" hmm terserah kau saja "
dengan berat hati devan melepaskan genggaman tangannya, dia berjalan mundur demi terus melihat wajah fanny. fanny hanya menggelengkan kepalanya ada-ada saja tingkah laku devan pikirnya.
raka yang baru datang bisa melihat bagaimana bumbu - bumbu keromantisan rumah tangga kedua orang itu. dia hanya bisa melihatnya dengan senyuman yang tulus.
" Akhirnya , setelah kakakku masih ada orang yang bisa membuatnya lebih bahagia " ucap batinnya.
" raka " panggil fanny , yang tak sengaja melihat devan berdiri di depan pintu utama.
raka berjalan kearah fanny seperti biasa selalu tersenyum " kak "
" kenapa berdiri disana ? "
" tidak apa , hanya melihat keromantisan pasangan suami istri saja. rasanya aku juga ingin menikah "
sambil berjalan keduanya mengobrol memasuki lift.
" kalau begitu menikahlah "
" hehehe tidak kak , bercanda saja. usiaku baru 23 tahun ha , masih sangat muda dan juga ... aku sangat tampan untuk dimiliki wanita manapun "
fanny hanya bisa tersenyum mendengarnya, memang dia akui raka pria yang tampan , ramah , baik hati dan murah tersenyum. jadi dia tidak bisa mengelaknya.
ting
" aku duluan ya kak. " pintu lift terbuka pada lantai 19 dia segera keluar seraya melambaikan tangannya , fanny mengangguk sambil senyum.
__ADS_1
ting
dia sudah sampai di lantai 20, namun pertama kali saat orang yang dia lihat membuatnya sedikit terkejut.