
mata keduanya saling menatap, seperti terkunci dan tak akan lepas. menggunakan kesempatan itu devan menundukkan kepalanya perlahan ingin mencium bibir itu.
klek
mati lampu ! disaat yang tidak tepat sekali. devan begerutu dalam hatinya.
" kenapa harus sekarang sih " ujarnya dalam hati.
fanny segera terbangun dari paha devan terduduk.
" tunggu sini, kau tidak takut kan ?"
" hmm "
klek
saat devan akan berdiri lampu kembali nyala , sungguh miris sekali hari ini sepertinya alam tidak mendukung segera fanny kembali tidur dan kini dia telentang dan berusaha menutup matanya.
" Fanny " panggil devan lembut.
" ada apa " ujarnya dengan mata yang tertutup.
" Ini malam pertama pernikahan kita, Kau tau kan apa maksudku " devan mengucapkannya dengan lembut , sebenarnya dia orang yang lembut dan juga penyayang hanya saja jika dengan tiffanny dia suka emosi karena Tiffanny selalu Menghindarinya.
fanny membuka matanya , dia seperti orang yang bingung. devan menatapnya dengan penuh harap padanya. menikmati malam pertama tentunya.
" Besok aku harus Ke Jakarta, aku tidak ingin terlambat " katanya dengan tenang. dan kemudian dia bangkit lalu duduk diranjang itu.
" kita masih baru menikah apa harus bekerja sekeras itu, Fanny ? aku tau .. aku mungkin memaksamu tanpa bertanya kepadamu dulu, tetapi kan ... setidaknya 3 atau 4 hari lagi kau baru masuk " jelas devan.
" tidak ada yang memberi tahuku jika kita akan menikah, jadi aku sudah punya jadwal yang sudah ditetapkan. ini ... sangat , tiba - tiba " ujarnya pelan.
" Baiklah , aku mengerti pekerjaanmu. tetapi kau harus ingat, sekarang Aku sudah menikahimu kau istriku aku tidak ingin kita hidup seperti dulu, sekarang aku akan menjadi seseorang yang harus kau turuti " Pintanya dengan raut muka serius.
" Aku sudah mengantuk, selamat malam " ucap fanny yang kembali tidur dan langsung memejamkan matanya.
" selamat malam " balas devan , sebelum dia mematikan lampunya dia menatap sekilas fanny dan akhirnya mereka tertidur bersama.
***
keesokan paginya,
Devan terbangun dari tidurnya , dia mengerjapkan matanya perlahan dan tangannya meraba - raba disebelahnya.
kosong ? dia langsung terbangun dan menatap jam yang baru pukul 6 pagi , dia buka kamar mandi tetapi tidak ada orang sama sekali. dia tau fanny mungkin kembali ke kamarnya jadi dia pun memutuskan kesana.
Dia benar , fanny ada dikamar nya sedang membereskan beberapa berkas. dia masuk dan menghampiri fanny.
" Jam berapa ke jakarta ? berapa lama ? " tanya devan.
" kau sudah bangun rupanya, nanti malam pulang aku tidak akan menginap disana. " jawab fanny yang sempat melihat ke devan dan kembali memilih beberapa berkas.
" Aku akan mengantarmu kebandara , dengan rian kan kau pergi ? aku akan menunggumu nanti malam "
__ADS_1
" hmm , keluarlah aku harus mandi dan berpakaian " kata fanny yang kini mengambil baju yang ada di sebelahnya.
" Aku akan tetap disini , aku ingin melihat mu sebelum kau pergi " tolak devan .
dirinya harus terus berusaha lebih mendekati fanny agar diri fanny terbiasa akan kehadirannya. apalagi status mereka sekarang berubah , walau masih ditutupi tapi itu tidak akan bertahan lama karena devan sudah merencakan semuanya.
" Terserah kau saja " fanny melenggangkan kakinya masuk kedalam kamar mandi.
didalam kamar mandi itu dia merendamkan dirinya di air hangat, di bathup yang penuh dengan busa itu dia memainkan busa itu.
setelah 15 menit dia keluar dari kamar mandi dan sudah memakai pakaiannya disana, wajah polosnya tanpa make up dan rambut yang basah membuat devan terpana.
matanya berbinar menatap wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya itu , lalu dia mendekati fanny dan duduk dihadapan fanny yang ada di meja rias itu.
" apa yang kau lakukan disini ? aku akan bersiap - siap " ujar fanny yang menoleh kearahnya.
" aku ingin melihatmu dari dekat, teruskan saja aku tidak akan menggangumu " balas devan yang terus menatap fanny.
Fanny menghidupkan Hairdryer untuk mengeringkan rambutnya, rambutnya berterbangan karena hawa panas itu membuat devan semakin tercekat.
setelah selesai fanny memakai Make up nya karena dia tidak suka meke up tebal dia hanya memoles tipis saja dan yang terkahir Lipstik, dia memilih lipstik pink.
" Fanny " panggil devan.
" hmm " katanya sambil menoleh
" cup " devan langsung menempelkan bibirnya ke bibir itu, membuat fanny terdiam bisu. matanya sayu menatap devan.
beberapa saat mereka saling menatap dalam ciuman itu, devan ingin ciuman lebih tetapi dia harus menahannya fanny harus bekerja sekarang.
devan tersenyum melihatnya lalu dia mencium kening fanny.
" Aku akan mengantarmu " ujarnya.
" Tidak perlu, sebaiknya kau istirahat dan temani nenek saja. aku akan menyetir sendiri " tolaknya.
" Baiklah , tapi hubungi aku setelah sampai "
" iya "
***
Didalam pesawat itu fanny membuka laptopnya dia memakai kelas Bisnis jadi pesawat itu terlihat nyaman. disebelahnya ada rian yang sedang membuka lembaran demi lembaran kertas itu.
saat akan membuka lembaran selanjutnya dia mengentikannya ketika tangan kiri fanny itu terukir sebuah cincin putih yang tak lain cincin pernikahannya. lalu dia menoleh kewajah fanny yang sedang fokus mengetik itu.
" Rian ..." saat dia menoleh dia melihat rian yang memandangi wajahnya , tiba - tiba dia merasa jadi canggung terhadap rian lalu dia kembali mengetik di laptopnya.
" Fanny ... Dokter Devan orang yang baik bukan " ujar rian yang mungkin itu tanpa sengaja dia keluarkan.
" ha ? Rian apa maksudmu ?" tanya fanny.
" Ah tidak lupakan saja, ayo kembali bekerja "
__ADS_1
sungguh situasi yang membuat canggung, tetapi keduanya berusaha membuat suasana menjadi netral kembali.
***
malam harinya
devan terus menunggu kabar dari fanny, rasanya dia ingin marah karena tiffanny tidak juga mengabarinya sampai saat ini. apa yang dilakukan wanita itu sampai dia lupa mengabarinya pikirnya.
pikiram buruk dan negatif pun lalu lalang lewat dipikirannya tetapi dia masih berusaha untuk tenang. dia bolak balik dikamar itu memperhatikan ponselnya.
drrtt...drttt
ponselnya bergetar dia pikir itu tiffanny sehingga dia langsung membukanya ternyata itu hanya dari kartu sim biasa.
dia menaruh ponselnya lagi di ranjang, ini sudah pukul 10 malam tapi fanny belum juga pulang. ataukah dia menghindarinya , apa dia tidak ingin bertemu dengannya ? itulah pikirannya.
sementara itu , didalam taksi yang ditumpangi tiffanny dia menatap keluar jalanan itu. Dia memegang ponselnya saat dia akan menghidupkannya tetapi tidak bisa karena ponselnya habis baterai.
" pak apa punya charger ?" tanyanya pada sopir.
" maaf nona , saya tidak punya " jawab sopir itu.
30 menit kemudian dia telah sampai di rumah, rumah itu terlihat gelap dari luar mungkin sudah tidur pikirnya karena ini hampir jam 11 malam. dia berjalan menuju kedalam rumah seorang diri.
ceklek
pintu nya terbuka dan dia masuk ke atas lalu dia memutuskan untuk kekamarnya , dia taruh tasnya dan duduk di ranjang.
" huft " dia merebahkan dirinya di ranjang.
dia sungguh benar - benar merasa lelah. sampai dia tertidur disana.
devan yang sudah sangat marah itu pun keluar dari kamarnya namun saat baru keluar pintu kamar fanny terlihat terbuka , dia pun curiga dan segera masuk kesana.
Fanny sedang tertidur di atas ranjang itu , dia segera mendekatinya. melihatnya seperti itu dia merasa kasihan dia bisa melihat raut lelah dari wajah tiffanny.
lalu dia menggendong tiffanny untuk menidurkannya dikamarnya, tubuh fanny yang tidak terlalu berat itu tidak sama sekali terasa baginya. dia menidurkan diranjangnya dan menyelimutinya.
Dia juga sudah mengantuk dan ikut tertidur dia mendekati fanny sampai tidak ada jarak lagi untuk keduanya dan dia bebas memeluk fanny yang kini ada didekapannya.
...
keesokan harinya
devan lebih dahulu terbangun dari tidurnya , sedangkan tiffany masih nyenyak dan seperti belum ada tanda - tanda untuk segera bangun. dia masuk kedalam kamar mandi.
sedangkan fanny dia tidak bergerak sama sekali karena rasa nyaman yang dia rasa. sampai devan selesai pun dia masih tertidur.
devan mendekatinya dan duduk di ranjang itu dengan dada yang terekspos jelas , karena dia hanya menggunakan celana panjang saja.
" Fanny , istriku ... apa kau tidak ingin bangun hmm " ujarnya lembut.
" Fanny " panggilnya lagi.
__ADS_1
" Apa ini " pikirnya ketika ada sebuah kertas yang keluar dari kantong baju fanny.