Cinta Di Hatiku

Cinta Di Hatiku
Terlihat Sangat Manis


__ADS_3

cit , cit , cit


suara kicauan burung dipagi hari dikala mentari sudah terbit diufuk timur. devan menggeliat dari tidurnya . wajah polos tiffanny yang tengah tertidur itu mengingatkan dia bagaimana tiffanny rela memberikan hartanya dengan banyak hanya demi dia.


tak lama fanny juga ikut menggeliat , padahal gorden semalam dia tutup demi tidur nyenyak nya namun sepertinya ac dikamarnya ini membuat gordeng itu sedikit terbuka sampai matahari masuk mengenai wajahnya.


devan menutupi dengan tubuhnya, sehingga fanny bisa tidur kembali dengan nyanyak.


drtt ...drrtt....drrtt


" Rian Calling "


📱 " halo " devan memutuskan untuk mengangkat ponsel tiffanny itu.


( halo , hmm dokter devan ?)


📱 " iya , ada apa ?"


( Apa tiffanny masih tidur ? aku hanya ingin bertanya apa dia akan datang ke rumah pak samuel. jika iya aku akan mengundurkan jadwal rapat )


📱 " kami akan datang bersama , tapi hanya sebentar saja "


( oh begitu. apa dia baik - baik saja ?" )


📱 " dia baik , kau tidak perlu mengkhawatirkannya aku akan menjaganya "


( baiklah )


tut..tut...


" nggh " tiffanny terbangun dari tidurnya , wajah devan benar - benar dekat dihadapannya. hingga tak bisa mengendalikan pandangannya selain ke wajah devan.


" Jam berapa ?" tanyanya dengan suara serak khas orang bangun.


" baru delapan "


" apa ?" fanny terlonjak kaget dan segera bangkit dari tidurnya.


" kau lupa sayang , kita akan melayat hari ini. jadi nanti saja ke hotelnya "


" ah ya , aku ingat " ujarnya.


" kalau begitu mandilah duluan aku buat sarapan dulu "


fanny mengangukkan kepalanya, mencari sandal nya dipinggiran ranjang.


***


di halaman rumah mewah milik samuel itu banyak pengusaha dan para kolega bisnis nya yang hadir untuk menyampaikan bela sungkawa atas meninggalnya agatha.


semua orang berpakaian hitam sebagai tanda duka mereka. didalam rumah itu agatha sudah berada di dalam peti putih dan dihias dengan cantik , juga fotonya tertera lebar di depan petinya.


brian dan raka sudah ada di rumah itu. keduanya memperhatikan wajah agatha , sedangkan samuel dia terus berdiri di samping kanan peti.


agatha , walau aku tidak pernah mencintaimu . tapi aku masih menganggap mu sebagai adik perempuanku. maafkan aku jika selama ini aku terus menyakiti hatimu , aku harap ... kau pergi dengan tenang


dari arah pintu utama semua orang minggir dan muncullah sepasang suami istri yang berjalan menuju ke tempat peti. semua orang memperhatikannya dengan intens. tak terkecuali Brian , raka dan samuel.


samuel menatapnya dengan dingin , dalam hatinya dia mengutuk pasangan ini.


fanny dan devan mendekati peti itu sejenak dia memandangi agatha, lalu setelah itu tiffanny menatap samuel yang tak sama sekali melihatnya.


" kami turut berduka untuk mu , pak samuel " ucapnya.



" hmm " samuel menganggukkan kepalanya.


" kalian berdua , senang melihat putriku berakhir seperti ini bukan ?"


" pak samuel ... "

__ADS_1


fanny menggenggam tangan devan agar tidak menjawab perkataan samuel , devan pun mengerti dan langsung diam.


" Tiffanny , aku menganggap mu ... wanita pintar , cantik dan sempurna. akan tetapi , kau selalu saja merabut kebahagiaan apa yang dimiliki putriku. dulu ... kau mengambil cintanya dan sekarang ... kau membuatnya dihina oleh semua semua orang " cercanya


" jangan menyalahkan orang lain pak samuel " titah devan yang tak suka tiffanny dibicarakan.


" pak samuel , tidak ada hubungannya dengan tiffanny tentangku dan agatha jadi jangan mengatakan hal yang tidak-tidak " timpal brian pula.


" lihat ! kau lihat dan dengarkan sendiri sekarang. kedua pria ini memujamu , sedangkan putriku ! selalu di acuhkan "


" kenapa kau tidak membiarkannya melakukan hal yang dia suka , bukankah pria ini bukan urusanmu jadi kenapa kau membelanya mati - matian ha " tanya samuel dengan wajah yang tajam.


" aku tidak ingin mengatakan hal ini , apalagi ... di hadapan orang yang sudah meninggal. setiap perbuatan harus ada balasan , agatha ... dengan harta dan nama nya secara tidak langsung dia membunuh seseorang yang tidak bersalah. tadinya , aku pikir dia hanya akan dipenjara ... tapi tidak , dia malah mendapatkan hal yang sama seperti yang dia lakukan pada orang lain "


jleb


perkataan tiffanny itu benar - benar menusuk hati samuel, tapi perkataan tiffanny memanglah benar. nyawa dibayar nyawa.


" dan itu semua karena dirimu! " teriak samuel


sehingga membuat semua orang yang disana memperhatikan mereka.


" jangan berteriak kepada istriku ! " teriak devan yang tak ingin kalah itu.


" dia .. melakukannya demi membuktikan jika suaminya tidak bersalah , kau bertanya kenapa semua pria memujanya bukan ? kau tidak lihat yang dia lakukan kepadaku ? kata orang ... dia wanita yang sombong , galak dan tidak tau aturan. tapi bagiku ... dia wanita yang tidak akan pernah aku temukan pada diri wanita lainnya "


semua orang terdiam mendengar itu , tetapi bagi fanny ini bukanlah hal yang membanggakan dia berusaha menahan tamgan devan sebagai tanda jika dia tidak suka melanjutkan perdebatan ini.


" Ayo kita pulang " ajak fanny namun devan terlihat masih marah , dia terus berdiri disana


" ayo devan " ujar fanny lagi yang kini menarik tangannya sehingga keduanya kini berjalan beiringan dengan sejuta tatap mata melihatnya.


" kak , aku akan pulang juga " bisik raka.


" hmm "


dari belakang raka mengikuti fanny dan devan , dia juga tidak suka berada di tempat ini sebenarnya.


" Antar aku ke hotel dan ... hari ini kau boleh ikut denganku bekerja , kau mau ? " tanyanya yang berusaha menghibur devan.


" sayang aku ingin tapi setelah mengantar aku akan langsung kerumah sakit. pihak rumah sakit memanggikku " jawab nya dengan memegang kedua tangan tiffanny.


" baiklah , tidak apa " jawab tiffanny dengan senyuman tipis.


" kakak tunggu ! " teriak raka yang berlarian mengejar mereka.


mereka berdua pun menoleh , raka dengan nafas ngos - ngosan itu berdiri di depan mobil devan.


" ada apa raka ?" tanya fanny.


" kakak mau kehotel kan , aku ikut ya ... aku hanya izin sebentar masih ada banyak pekerjaan di hotel "


" hmm ikutlah "


" duduk dibelakang " ujar devan.


" tidak masalah "


didalam perjalanan itu tidak ada sama sekali pembicaraan diantara ketiganya, devan yang fokus menyetir , fanny yang menatap arah depan dan raka yang yang memainkan ponselnya.


***


hari ini brian akan ikut menguburkan agatha di pemakaman kawasan elite , peti agatha mulai diturunkan ke liang lahat itu.


proses demi proses mereka lewati dengan khusyuk acara pemakaman itu sampai semuanya menaburi bunga di atas gundukan tanah .


brian memberikan mawar putih pada nya , bunga yang melambangkan kesucian dan muda itu. dia harap agatha akan dibangkitkan kembali dalam keadaan yang suci.


menit demi menit para pelayat pun meninggalkan tempat itu , hingga hanya ada brian dan samuel yang masih tetap di tempat itu.


" untuk apa kau masih tetap disini " ucap samuel

__ADS_1


" kau bahkan tidak pernah menghargai perasaan nya sedikitpun. " samuel menatap tajam brian.


" aku tau , aku banyak salah padanya. aku tidak pernah memahaminya " jawab brian.


" pergilah , kau tidak berhak ada disini " usir nya.


sejenak brian menghela nafasnya , dia tidak ingin membuat samuel makin marah dan sedih bagaimana pun juga dia adalah ayah agatha.


jadi dia memutuskan untuk meninggalkan pemakaman itu.


***


shitttt


mobil fanny berhenti di depan rumah sakit kleuwit samuel , devan tersenyum saat itu juga dan fanny meliriknya tangan kanannya masih memegang stir.


" Telpon aku saat kau pulang nanti " kata fanny.


" baiklah , hmm sepertinya .... istriku ini benar - benar ahlu mengemudi , dalam 20 menit sudah sampai ke rumah sakit ini " godanya.


" kau saja yang baru tahu. ini tidak gratis , bawa aku aku keluar nanti " kata fanny.


" hmm tentu " devan mengelus rambut panjang tiffanny.


" aku akan membayar nya , termasuk ... uang 5 milyar itu " sambung devan.


" kau ... darimana kau tau ?" tanya tiffanny yang nampaknya terkejut itu.


" tidak perlu tau dari mana aku tau, tetapi ... aku berjanji akan membayarnya "


" kau pikir aku tukang kredit ? bagiku juga penting uang begitu " jawabnya seakan - akan dia tidak perlu uang.


" he ( terkekeh ) aku tau istriku milyarder yang banyak uang , tapi aku tetaplah seorang suami. tidak akan menggunakan uang istri untuk keperluaannya , uangku adalah uangmu dan uangmu adalah uangmu "


" hmm baiklah , kau tidak perlu menggantinya. tapi ... aku akan meminta sesuatu nanti "


" hmm terserah istriku saja " sambil membuka selt belt nya.


" aku bekerja dulu , ya " sambungnya lalu mendekatkan wajahnya ke wajah tiffanny untuk menciumnya.


" tunggu ! " cegah fanny yang memundurkan tubuhnya.


" ada ala sayang ?" tanyanya.


" ini sudah dua minggu semenjak kau masuk ke rumah sakit , tidak ada hal lain lagi kan ?" tanyanya.


" kau sedang mengkhawatirkan ku sayang ? " godanya


" ha , jangan senang dulu. aku hanya tidak ingin nanti semua orang mengejekku mempunyai suami yang tidak bagus bekerja "


devan menggelengkan kepalanya seraya tersenyum " tidak ada , jangan khawatir. sudah ya , aku masuk dulu jangan mengebut nyetirnya " peringatnya lalu mencium bibir fanny sekilas.


" aku mencintaimu sayang "


setelah itu dia membuka pintu mobil tifffanny lalu keluar dari mobil.


devan memutar jalannya , tiffanny heran apa dia meninggalkan sesuatu di mobil.


tok...tok...tok


devan mengetuk kaca jendela mobil , sehingga fanny menurunkannya.


" ada ap "


sebelum selesai berbicara devan sudah kembali mengecup bibir tiffanny.


" hei ! "


" hukuman nanti malam " ujar devan santai dan pergi meninggalkan tiffanny.


" dah ! hati - hati sayang " teriak devan sambil berjalan mundur.

__ADS_1


tingkah laku devan itu membuat fanny senang dan juga suka melihatnya " kenapa dia terlihat sangat manis " gumamnya.


__ADS_2