
" aku butuh dirimu untuk tetep disisiku, apa kau bisa memenuhinya ?"
...
shittt
dia turun dari mobil yang dikendarai rian, namun dari pintu utama hotel devan berdiri dengan tampan menunggunya untuk pulang.
langkah yang sebelumnya pelan berubah menjadi cepat saat dia melihat orang yang dicintai menjemputnya.
devan pun sama - sama berlari , untuk cepat bertemu. jika hanya satu orang yang berusaha akan lebih lama pikirnya.
" Darimana saja hmm ? aku menunggu dari tadi disini " kata devan dengan menyelipkan rambut kebelakang telinga tiffanny.
" dokter devan " kata rian yang menghampiri keduanya.
" rian "
" rian aku ingin meminta maaf untuk perkataan ku kemarin, walau hanya asal bicara mungkin aku sudah melukai perasaanmu. dengan tulus aku meminta maaf " ucap devan.
" dokter devan tidak salah hanya saja aku terlalu sedikit berperasaan. "
" baiklah kalian berdua sudah saling meminta maaf bagaimana kalau kita makan malam diluar , rian ... kau tau kan restoran seafood dekat pantai kemarin ?"
" tau "
" kalau begitu ayo kita kesana bertiga "
" devan ?"
" baiklah karena istriku sangat ingin maka aku akan menurutinya. "
tiffanny tersenyum lebar , dan ketiga berkendara dengan mobil masing - masing.
***
di studio photo itu brian duduk dengan laptopnya menggeser - geser semua photo tiffanny yang masih dia simpan.
"aku butuh dirimu untuk tetep disisiku, apa kau bisa memenuhinya ?"
tiffanny menatap dengan kedipan lembut " teman ? " tawar tiffanny yang menjulurkan tangannya kehadapan brian
" teman ?" tanya brian yang tak mengerti.
" hmm teman , aku akan berada disisi teman - teman yang aku miliki. aku hanya punya dua teman saat ini , Rian dan juga micheal kita saling mengenal semenjak lama lalu kenapa kita tidak menjadi teman saja , agar aku bisa berada disisimu saat kau memiliki masalah. "
" kau hanya ingin kita berteman ?"
" iya "
" baiklah , tapi sebelum itu jawab pertanyaanku dulu. siapa pria yang kau cintai saat ini ?"
" Dokter Devan " jawab tiffanny.
" dulu kau mencintaiku tetapi sekarang... "
" aku ingin berdamai dengan masa laluku , kita punya banyak kenangan yang tidak bisa kita hapus. aku tau bagaimana ibumu , lalu aku juga tau dengan adikmu. jika kita menganggap seperti orang yang tidak saling kenal akan begitu menyakitkan. menjadi teman lebih baik dari sebelumnya bukan ?"
" ah ... baiklah , teman ... kita berteman sekarang. " brian membalas juluran tangan itu , tiffanny tersenyum kecil sedangkan brian hanya bisa menatap tanganya dengan tangan tiffanny.
" teman " gumamya lalu tersenyum kecil.
" sebegitu besarnya cintamu pada pria itu sampai melupakan aku begitu saja. "
" walau hanya menjadi teman dibalik masa lalu kita , aku akan tetap menuliskan namamu di hatiku sebagai pemilik nya. " batin brian.
***
sebuah restoran di atas tebing dengan suguhan pemandangan alam yang menyatu , di sebelah kiri terlihat hutan yang hijau , di belakangnya ada hamparan laut yang luas dan berwarna biru lalu di sebelah kanan ada begitu banyak tebing yang menjulang tinggi.
restoran dengan tema seefood di atas awan , menjadi sasaran ketiga orang itu. berbagai hidangan seefood dengan porsi banyak tersaji di tengah - tengah mereka.
tiffanny menatapnya seakan - akan itu adalah makanan paling enak didunia. kepiting adalah makanan favorif dalam kategori makanan laut.
sedangkan rian memilih lobster sebagai makanan favotir seafoodnya , berbagai macam varian jenis makanan seefood mereka makan sore ini, sering kali devan menyuapi tiffanny dan memanjakannya.
" hmm in benar - benar enak sayang , lain kali mari kita kemari dan menikmatinya lagi " dia sampai menjilat jarinya sendiri menghabiskan makanannya.
__ADS_1
" ayo siapa yang menolaknya " saut tiffanny.
" aku turun sebentar " pamit rian.
" kau mau kemana ? " tanya devan.
" aku ingin membeli air kelapa "
" aku satu " saut fanny.
" aku juga " saut devan.
" tunggulah "
dia memakai sepatunya dan segera meninggalkan restoran itu. sedangkan tiffanny dia tersenyum menikmati cuaca sore ini yang terasa menyejukkan.
rian berjalan disepanjang pasir putih yang membentang itu dengan kuatnya angin yang menerpa membuat jas dan rambutnya bertebrangan tak karuan tapi tetap tampan.
dia pakai kacamata hitamnya , lalu tiba tiba seorang anak kecil laki - laki menabraknya.
" ah " anak kecil itu terjatuh ke pasir , rian buka kacamatanya lalu menolong anak itu.
" apa sakit ? " tanyanya.
" tidak , hanya sedikit saja paman. maafkan aku paman aku tidak sengaja " katanya dengan gemas.
" dimana orang tuamu ? "
" disana " tunjukkanya pada seorang wanita yang sedang berdiri dengan gaun selutut dan rambut yang tak terlalu panjang.
dia menatapnya dengan intens namun tak jelas " kau benar tidak ingin diobati ?" tanya rian yang takut jika terjadi sesuatu.
" tidak paman , terima kasih "
" sama - sama "
anak itu kembali berlarian namun kali ini anak itu berlari ke pangkuan ibunya yang sedang berdiri seorang diri.
" ah kenapa aku bisa lupa " seketika dia ingat apa yang menjadi tujuannya turun ke sini.
***
tiffanny merebahkan dirinya di ranjang sambil membuka ponselnya , namun saat melihat layar ponsel itu membuatnya merasa pusing.
" kenapa denganku " batinnya.
" sayang ada apa ? apa sakit ?" tanyanya dengan khawatir.
" hanya - pusing ... aku ingin tidur " katanya sambil menahan sakit kepalanya.
" tapi ... baiklah , tidurlah " devan menyelimutinya dengan perlahan , tiffanny tidur dengan posisi miring ke kiri.
devan merasa sangat khawatir dengan kondisi tiffanny yang akhir - akhir ini sangat lemah. dia selalu menyurub tiffanny untuk mengecek kondisi kesehatannya lagi akan tetapi tiffannt terus menolak.
keesokan paginya
devan dan tiffanny sudah tampil cantik dengan gaun berwarna putih juga devan dengan jas navy, hari ini tiffanny akan membuka hotel yang sudah dia impikan di norwegia.
devan menyetir dengan kecepatan sedang, sedangkan di hotel persiapannya sudah sempurna. hanya tinggal menunggu sang pemilik yang mengesahkannya. banyak karangan bunga ucapan selamat atas berdirinya hotel baru milik tiffanny.
karpet merah yang dibentang lebar dari luar hotel sampai menuju kedalam gedung.
" 5 menit lagi mereka sampai , bersiaplah " kata rian yang berdiri sejajar dengan pria - pria berjas.
banyak orang yang hadir di acara peresmian itu , dari kolega bisnis, investor ,pemilik saham , kementrian pariwisata juga rekan - rekan sekerjanya.
shittt
sebuah mobil lamborghini berwarna hitam berhenti tepat diantara karpet merah itu , devan lebih dahulu turun lalu membukakan pintu tiffanny.
banyak media dan wartawan yang mewawancarai dan menayangkan langsung acara itu.
tiffanny keluar mengandeng tangan devan , mobil itu mereka serahkah dengan panitia lalu keduanya berjalan diatas karpet merah.
tiffanny tersenyum manis melihat para hadirin yang datang keacaranya ini, begitu membanggakan baginya juga teruntuk devan yang sangat bangga kepada istrinya.
dirinya selalu menatap tiffanny sebagai wanita karier yang hebat , lalu tiffanny juga menoleh kearah kanan sehingga dia bisa menatap devan.
__ADS_1
" sangat cantik " bisik devan.
" kau juga terlihat sangat tampan " balas tiffanny.
cekrek...cekrek...cekrek
mereka berhenti di sebuah tempat foto yang disediakan keduanya menghadap kamera dengan tersenyum.
" ayo " kata fanny.
diikuti oleh rekan - rekan tiffanny lainnya.
namun sebelum acara dimulai devan dan tiffanny memilih untuk kekantor tiffanny sebentar , mereka berdua harus menyiapkan sesuatu yang entah apa itu.
didalam sana sudah ada raka yang sedang mengatur jalannya acara , juga ada rian yang membantunya.
" raka kau sudah makan ?" tanya tiffanny.
" belum kak sebentar lagi "
" raka ini sudah selesai ayo kita keluar " ajak rian
" baiklah " mereka berdua membereskan semuanya .
devan berdiri di pinggir jendela dengan bersender sambil satu tangannya dia masukkan kesaku celana. dia memandangi tiffanny yang berjalan mendekatinya. tiffanny meraih dasi devan dan membenarkan posisinya.
" kau suka memakai dasi yang tidak rapi "
" agar kau selalu mendatangiku seperti ini " jawab devan.
" alasan "
" sayang "
" hmm "
" aku bangga sekali padamu , selain cantik kau juga cerdas , pintar dan sangat mandiri , tapi denganku kau harus terus manja ya . "
" kenapa begitu ?" devan meraih pinggang tiffanny lalu menatapnya.
tok...tok...tok
" bu, acara akan dimulai silahkan turun " kata ressa dari luar ruangan.
" aku keluar dulu ya , kau mau disini atau ingin melihatku ? "
" keluarlah lebih dahulu aku akan menyusul "
" baiklah "
cup
dia mencium bibir devan dengan singkat , ah benar - benat meleyot hati devan saat itu juga. istrinya berubah total dan selalu menciumnya tiba - tiba.
diantara lorong - lorong hotel tiffanny berjalan sendirian beberapa tamu tersenyum padanya sehingga dia membalasnya dengan ramah juga.
dia terus berjalan menelusuri lorong hingga tangaa yang menjulang tinggi harus dia turuni , semua pasang mata melihatnya dan bertepuk tangan.
didalam ruangan tiffanny devan masih berdiri di tempat yang sama memperhatikan keluar jendela betapa banyaknya tamu yang datang keacara peresmian hotel.
drrrt....drrrtt
ponselnya berdering lalu dia langsung mengangkatnya.
" halo "
" ..... "
"terima kasih , secepatnya akan saya cek langsung. "
dia tutup telpon itu lalu berjalan keluar dia akan melihat tiffanny hari ini juga.
__ADS_1
devan sudah duduk diantara kursi yang paling devan , sedangkan tiffanny berdiri di tengah - tengah bersama rian disebelahnya , kementrian pariwisata dan beberapa rekan yang lainnya dengan memegang pita.