
" Aku salah " balas fanny.
dia menangis tanpa suara dalam pelukan brian, entah kenapa pelukan ini membuatnya merasa tenang.
" Jika ada sesuatu harusnya katakan padaku, aku kesal ... marah dan juga khawatir padamu. "
" sekarang, bersihkan dirimu. ayo kita kekamar " ajaknya fanny pun menurut devan merangkul fanny dan berjalan bersama menaiki anak tangga itu menuju kamar mereka.
...
setelah selesai membersihkan diri fanny merasa hangat karena mandi dengan air panas, dia merasa lebih tenang sekarang.
" Duduklah aku akan membantumu mengeringkan rambutmu " kata devan dengan lembut.
tiffanny duduk di meja rias itu dia mendapati dirinya yang sedang dibantu devan mengeringkan rambut panjangnya, dengan teliti dan sabar devan mengeringkan rambut itu.
sebelum ingin bicara tiffanny memperhatikan wajah devan itu yang menurutnya sudah tidak marah seperti tadi. jadi dia bisa menjelaskannya sekarang.
" Saat aku pulang malam waktu itu , aku bertemu dengan brian "
seketika devan menghentikan aktivitasnya. dia menatap fanny dengan tajam dan ingin penjelasan.
" Kenapa ? apa itu alasan mu menjauhi " tanyanya.
" Mungkin "
devan meninggalkan fanny sendirian di sana, dia pergi keluar kamar dan naik ke balkon dia butuh ketenangan seorang diri. hatinya sakit mendengar tiffanny bertemu dengan mantan kekasihnya dan sebab itu juga tiffanny menjauhinya.
disana dia mengusap kasar wajahnya, tadinya dia tidak ingin marah lagi namun mendengar itu rasanya dia tidak sanggup jika akan marah lagi dia akan lebih marah dari sebelumnya.
" Apa kau tidak ingin mendengar alasan kenapa kami bertemu ? " fanny sudah berdiri di belakang devan. melihat devan yang berdecak pinggang itu membuatnya sedikit takut.
" apalagi ? kalian ingin bersama lagi bukan " balasnya tanpa berbalik untuk melihat tiffanny.
" bahkan aku tidak pernah memikirkan itu, kau terlalu jauh berpikir "
devan sekarang berbalik dan menatap tiffanny rambutnya yang panjang itu berterbangan hampir menutupi wajah cantiknya.
" Orang tuaku ..... "
devan mendengarkan semua penjelasan tiffanny, dia terkejut setelah tau semuanya.
" Aku sudah tau semua sebab kenapa dia juga meninggalkan aku. "
" sekarang aku bertanya padamu, jika dia bercerai dengan istrinya dan memintamu untuk kembali padanya apa yang akan kau lakukan ?"
devan sengaja menanyakannya dia ingin tau apa isi hati tiffanny sebenarnya, saat dia menyinggung tentang hubungan masa lalu nya dengan brian tiffanny malah menghindar. membuatnya berpikir yang negatif dia masih mencintai brian ataukah memang sudah melupakannya.
sejenak fanny diam tak menjawabnya, dia terus menatap wajah devan yang berharap menunggu jawabannya.
" Rasanya itu tidak mungkin. karena kau tidak akan melepaskanku " katanya dengan mata yang sendu.
" itu memang benar , tapi aku ingin jawaban dari hatimu "
" semua yang kau pikirkan itu tidak akan terjadi, Hatiku memang sakit setelah mendengar kebenarannya aku berterima kasih padanya melindungi seorang wanita lemah sepertiku. aku pikir aku harus senang bukan ? dia tidak menghianatiku , tapi hatiku tidak merasakan apapun lagi. "
" Maksudmu kau.."
" hmm benar , Kita tidak akan berpisah kecuali kau sendiri yang memintanya. yang terjadi biar saja terjadi , bagaimana pun juga kita sudah menikah. "
ada rasa bahagia, senang dan terharu mendengarnya. dia lega mendengarnya sendiri dari mulut tifanny. dia berhambur memeluk fannny.
__ADS_1
" aku senang sekali , sayang ... " lirihnya yang terus memeluk tiffanny.
***
keesokan paginya
" jadi apa yang kau akan kau lakukan ? apa orang bernama samuel itu sangat jahat ?" tanya devan yang kini keduanya berada di meja makan.
" dia terlihat seperti orang biasa, mungkin usianya sama dengan papa. saat dihadapanku dia terlihat baik. katanya dia akan datang dalam minggu ini. "
" kau ingin menemuinya?"
" tidak tau apa yang harus kulakukan, sampai dia belum kembali aku tidak akan melakukan apapun. aku yakin setelah dia datang dia pasti akan mengundang kami untuk mengadakan perjamuan "
" Jangan lakukan apapun tanpa sepengetahuanku, aku tidak ingin kau terluka sedikitpun. sayang .. aku akan membantumu sebisaku , berjanjilah hal sekecil apapun akan kau katakan " devan menggenggam tangan kanan tiffanny, fanny menatap tangan itu dia merasa ada seseorang yang benar - benar ingin melindunginya sekarang.
tiffanny tersenyum dan mengangukkan kepalanya. " iya "
kini keduanya berada di hotel mereka berjalan bersama, devan selalu menggandeng tangannya. semua orang memperhatikan keduanya yang menurut mereka sangat cocok.
ini kali pertamanya devan kehotel bersama tiffanny setelah menikah, Beberapa karyawan menyambutnya dan mengucapkan selamat pagi.
" Ini kantor lagi ?" tanya devan
" hmm , ada 4 bagian untuk karyawan di lantai paling atas adalah kantorku. dibawahnya ada bagian humas dan lantai berikutnya. namun yang paling banyak yang bekerja disini yaitu bagian humas " jelas tiffanny.
" kakak ! " panggil raka
fanny dan devan menoleh, raka tau itu suaminya fanny jadi dia agak sedikit malu.
" Raka , kau sudah pulang ikut dengan pak tama ?"
" oh ... eh , iya kak. bagaimana kabar kakak ?"
raka melirik ke wajah devan yang juga devan menatapnya. fanny tau raka sangat canggung melihat devan, tetapi wajah devan hanya bersikap biasa saja.
" lanjutkan lah pekerjaanmu, kakak akan kekantor "
" hmm baik kak " jawabnya cepat dan segera kembali ke meja nya.
keduanya kembali berjalan menuju ke lantai atas menggunakan tangga saja.
" sayang apa dia sangat dekat denganmu ?" tanya devan yang penasaran.
" entahlah, aku pikir untuk terlalu dekat itu bukan kata yang tepat. "
" lalu ? keluarga mantan kekasihmu , seperti teman , atau ... "
" kau selalu banyak berpikir "
" Aku sangat sensitif terhadapamu "
" Selamat pagi bu , selamat pagi eh ... " ressa melirik eva disebalahnya dia tidak tau harus memangilnya apa.
" selamat pagi suaminya bu fanny " sambung eva , ressa ikut tersenyum mendengarnya.
devan menganggukan kepalanya seraya tersenyum. sebenarnya dia sangat senang dipanggil sebagai suaminya fanny.
" selamat pagi " balas fanny.
dan keduanya pun masuk kedalam, fanny terheran - heran kenapa wajah devan tak berhenti tersenyum.
__ADS_1
" ada apa dengan wajahmu ? "
" ini wajah bahagia, sayang kau tidak dengar ya mereka berdua memanggilku sebagai apa ? suaminya bu Fanny , aku merasa menjari pria paling beruntung saat ini. "
" Aku sudah sampai , apa kau tidak akan kerumah sakit ?"
" kau mengusirku ?"
" tidak , tapi aku tidak suka orang yang tidak menghargai waktu "
" Jangan khawatir aku tidak akan terlambat hanya ada satu operasi hari ini dan itu nanti siang "
fanny sudah fokus kembali mengerjakan pekerjaannya, bulu matanya yang lentik dan mata yang menatap tajam komputer tangan yang bergerak cepat di keyboard itu.
devan memperhatikannya dengan rasa kagum, bagaimana bisa seorang perempuan bersikap sangat pekerja keras seperti ini pikirnya.
***
" ayah sudah kembali " ucap agatha yang kaget itu , wajahnya berubah drastis menjadi seperti khawatir. dia keluar menuruni anak tangganya dengan seribu langkah cepat dia keluar dari rumah.
kakinya berdiri tepat pada satu langkah setelah pintu utama.
" Ayah " gumamnya.
pria bertubuh tidak terlalu tinggi, dan tidak terlalu gemuk dia mengenakan kaca mata hitam dengan tuksedo warna abu - abu tersenyum penuh arti kepada putrinya.
" Anakku "
" A-ayah " ucapnya.
dia melangkah pelan ke arah ayahnya dan memeluk ayahnya.
" Putriku , ayah sangat merindukanmu " ucapnya.
" ayah pulang secepat ini , aku tidak menyangka " gumamnya pelan.
pak samuel tersenyum melepas kacamatanya " ada apa sayang ? kau tidak ingin ayah kembali ?"
" Bu-bukan begitu maksudku tapi ayah ... heheh sungguh aku hanya terkejut dan juga senang "
" hahhaha " samuel kembali memeluk agatha , agatha terlihat sangat takut sekarang. dia tau bagaimana sifat ayahnya itu, jika ayahnya marah semua orang bahkan bisa mati di tangannya.
***
" jadi pak samuel sudah kembali ?"
brian dan seorang pria sedang duduk berhadapan di sebuah ruangan yang belum pernah terlihat.
" ya , beberapa jam yang lalu dan kini berada dirumah bersama nona agatha "
" baiklah terima kasih pak Wahyu, tolong jaga semuanya jangan sampai terluka "
" kau yang seharusnya menjaga diri, pulanglah dan hati " hati "
brian mengangukkan kepalanya, dia berjalan menusuri lorong rumah kayu yang kuno itu. entah apa hang harus dia lakukan dengan rencananya yang belum matang dia tidak bisa melakukan apapun.
wajahnya tampak lesu saat menatap langit yang masih cerah itu, rasa lelah dan sedih menjadi satu.
" Ayolah brian , kau sendiri yang memutuskan untuk hidup seperti ini. lantas kenapa kau merasa lelah " batinnya.
drttt....drttt
__ADS_1
dia membuka ponselnya setelah membaca itu dia segera membawa pergi mobilnya dari pelataran halaman rumah kayu itu.