
mereka tidak pernah berpikir bahwa apa yang kulakukan sebelumnya adalah salah , mereka terus menungguku sampai waktu yang belum ditentukan. kenapa mereka sangat baik padaku.
malam harinya , tiffanny keluar dari kamar devan itu , melihat semuanya sudah duduk di meja makan membuatnya malu untuk mendekati nya.
" Sayang kenapa berdiri disana , ayo kemari " devan menghampirinya saat melihatnya keluar.
" aku ... "
" ayo " devan memaksa tiffanny untuk ikut kedalam meja makan bersama ayah dan ibunya.
" selamat malam nak , apa tidurmu nyenyak tadi ?" tanya hars.
fanny mengangukkan kepalanya dan duduk di sebelah devan.
" nak mau makan apa biar ibu ambilkan ya " tawar anja.
" tidak biar aku saja , ibu " ucapnya di akhir itu membuat semua orang senang betapa lembut dan tulusnya suara tiffanny saat memanggil anja dengan kata ibu.
" biar aku saja bu " kata devan
" baiklah " anja mengangukkan kepalanya.
setelah makan malam selesai , anja berdiri untuk membereskan meja makan devan dan ayahnya sudah duduk di depan rumah.
melihat anja bekerja sendirian membuat fanny ingin membantunya.
" ada yang bisa dibantu , ibu ?" tanyanya dengan pelan.
anja menoleh lalu tersenyum kepadanya
" sebaiknya istirahat saja nak , hanya sedikit makanannya temui devan didepan "
" tapi ... aku merasa tidak enak pada ibu , kata orang ... saat menemui orang tua pasangan harus membantunya bekerja " ucapnya dengan wajah polos.
" astaga nak kau sangat polos sayang. baiklah jika ingin membantu sekarang bawa piring itu ke wastafel " jawab anja dengan terkekeh.
fanny mengangukkan kepalanya , dia mengumpulkan empat piring kotor di setiap kursi lalu menyatukannya dan membawanya ke wastafel.
" hanya ini ?"
" itu saja , besok saja cucinya sekarang temuilah devan "
fanny segera pergi dari tempat itu , dia menyusuri setiap ruangan lalu mencari devan sampai dia membuka pintu utama devan sedang duduk sendirian di halaman rumahnya.
tiffanny berdiri di belakangnya memperhatikan punggung devan. cukup lama dia berdiri disana mungkin dia ingin memandangi devan tanpa dilihat siapapun.
" devan " panggilnya yang sudah mendekati kursi devan. devan menoleh kepada saat melihatnya tiffanny wajahnya berubah menjadi berbinar.
tiffanny duduk disebelah dia menoleh menghadap devan denvan tersenyum manis.
" Sayang kau darimana saja aku menunggumu disini daritadi ?"
" hanya sebentar aku meninggalkanmu dan kau sudah bertanya seakan - akan aku pergi sudah bertahun - tahun "
" karena aku tidak bisa tanpanmu , mungkin kau melihatnya apa yang kulakukan tadi , hanya diam seorang diri tanpa melakukan apapun. itulah yang akan kulakukan jika tidak ada dirimu "
" aku ingin membantumu ibumu tadi , ibu hanya menyuruhku membawakan piring kotor ke wastafel "
" begitu ( mengangukkan kepalanya yang dibalas sama oleh fanny ) besok aku akan mengajakmu berjalan - jalan. kita disini hanya 3 hari dan sisanya baru kita ke swiss "
" terserah kau saja "
devan merangkul bahu tiffanny , entah karena dorongan apa tiffanny berani untuk menjatuhkan kepalanya di bahu devan membuat devan tak berkutik.
deg...deg...deg
__ADS_1
" devan suara jantungmu "
" kau sudah mendengarnya kan , dia akan terus berdetak untukmu "
tiffanny hanya tersenyum membalasnya begitu pun dengan devan malam ini keduanya duduk dihalaman itu menikmati suasana malam yang dingin tanpa jaket di tubuh mereka.
***
keesokan harinya
saat kedua orang tua devan sudah pergi ke tempat bekerjanya, tiffanny dan devan sudah bersiap untuk berjalan - jalan.
devan mengenakan pakaian casualnya begitu juga dengan tiffanny. dia sudah cantik dengan sepatu boots hitam celana jeans hitam dan kemeja putihnya rambutnya yang digerai membuatnya sangat cantik.
Tiergarten , berlin
taman ini menjadi tujuan pertama devan , dia ingin mengajak tiffanny ke taman yang paling besar di jerman.
mereka berjalan di pinggiran area sungai itu , sambil bergandengan tangan dan memperhatikan area sekitar yang tidak terlalu banyak orang.
hari ini devan memutuskan mengajak keliling tiffanny seharian penuh , karena disini mereka hanya akan selama 3 hari saja.
banyak orang yang menggunakan sepeda bersama pasangannya bermain di jalur sepeda memutari taman itu , melihat ada parkiran sepeda dimana sepeda itu disewakan devan pun menghampirinya.
" devan kau mau apa ?"
" sayang kau bisa bersepeda kan ?"
" bisa "
" mari kita bermain sepeda "
tidak butuh waktu lama untuknya berpikit tiffanny langsung mengangukkan kepalanya karena dia juga sudah lama tidak bersepeda ria.
setelah ketaman mereka lanjutkan perjalan menuju ke benteng Holstentor
mereka berfoto bersama untuk mengabadikan momen mereka berdua.
" sayang sekali lagi " pinta devan
akhirnya tiffanny mengikuti saja keinginan devan itu , mereka menempelkan muka masing - masing dan berselfie disana.
" wah sangat bagus , dan lihat lah sayang. semua foto yang kita ambil sangat bagus " ujar devan memperlihatkan hasil foto mereka.
" benarkah ?".
" ya , aku akan mempostingnya nanti aku tag ya "
" hmm "
" devan apa kita bisa masuk kesana ?" tunjuk tiffanny yang sangat tertarik pada bagian dalam benteng.
" bisa sayang , ayo " devan menggengam tangan tiffanny kemudian berduanya memasuki tempat itu.
devan menjelaskan semua pengetahuannya tentang bangunan itu , sesekali fanny terpesona melihat ketampanan devan saat sedang menjelaskan sesuatu kepadanya.
hari itu mereka mengunjungi banyak tempat bersenang - senang bersama bahkan banyak mengambil gambar.
kunjungan terkahir mereka jatuh pada sungai rhine
sampai waktu akan menjelang malam mereka terus berjalan di sisi sungai. pemandangan kota yang indah dan sejuk membuat tiffanny sangat senang dan tenang.
__ADS_1
" devan berhenti disini " dia meminta berhenti di dekat pagar dan memperhatikan keluasan sungai itu.
" sayang kau tidak lapar ?"
" sebentar lagi , aku ingin melihat nya lebih lama lagi " jawabnya yang seakan terpesona dengan sungai itu.
" ini sungai yang paling romantis di jerman, sungai ini menghubungkan dengan swiss sampai belanda. disebut sebagai sungai romantis karena disini banyak pasangan yang berjalan bersama lalu mereka menikah "
" sungguh ? kalau begitu pasti sangat bahagia "
" lalu , apa kau bahagia bersamaku saat ini ? "
tiffanny menoleh ke samping kirinya , rambutnya yang bertebrangan membuatnya semakin cantik saat itu.
" haruskah aku mengatakannya ? "
" aku ingin kau mengatakannya langsung "
" Aku bahagia bersamamu saat ini " lirihnya lembut dengan mata yang sayu.
" kau milikku , dan hanya milikku untuk selamanya " devan menyentuh dagu tiffanny menatap bibir pink itu lalu mengecupnya , kecupan itu kini berubah menjadi sebuah ciuman dan ******* yang lembut.
karena terbuai tiffanny membalasnya dengam teratur seraya memejam kan matanya.
diatas langit itu kembang api menyala dengan indahnya menghiasi sungai Rhine , selama itu pula mereka terus berciuman disaksikan bulan dan sungai romantis itu.
***
Fanny mengulet dari tidurnya , hari sudah siang tapi dia belum bangun diliriknya kesebelah devan sudah tidak ada. membuatnya langsung terduduk.
Astaga jam 10 , tiffanny mungkin kau menantu pertama didunia yang berani bangun di jam seperti ini
tok...tok...tok
" sayang apa belum bangun ?" devan membawakan nampan berisi mangkuk nasi dan beberapa lauk.
" kenapa kau tidak membangunkanku , ini sudah sangat siang apa kata ayah dan ibumu nanti "
devan duduk di pinggir ranjang dan menopang nampan menggunakan pahanya.
" Apa kau mau bangun saat aku membangunkanmu pagi hari setelah yang kita lakukan semalam ? " sambil menaikkan alisnya.
" itu semua karena dirimu " gerutu pelan fanny.
" iya maaf - maaf sekarang makanlah dulu. ibu dan ayah ada dibawah menunggumu "
setelah selesai mandi dan membersihkan diri devan dan tiffanny keluar bersama dari kamarnya. orang tua devan langsung menoleh saat mendengar suara pintu terbuka.
" sudah bangun nak "
" eh ... i-iya ibu " jawabnya terbata - bata.
" duduk " gumam devan pelan lalu mereka duduk di sofa panjang.
" Nanti malam kan kalian mau berangkat lagi , jadi hari ini kami berdua tidak masuk. bagaimana kalau kita semua berbelanja ? "
" setuju " jawab fanny langsung
devan meliriknya seakan terkejut tiffanny langsung menjawab dan menyetujuinya dengan mudah ketika diajak berbelanja.
" kenapa wajahmu melihatku seperti ?"
" wah sayang , ternyata aku baru tau sekarang ( mengangukkan kepalanya ) jika harus mengajakmu melakukan sesuatu sebaiknya aku mengajak belanja terlebih dahulu "
membuat ayah dan ibu devan menahan tawanya.
" tidak. aku ... aku hanya ingin membeli sesuatu , selain itu aku tidak pernah mau jika tidak ada maksud "
__ADS_1