
fanny , devan dan rian berjalan bersama di lorong hotel setelah rapat tadi. devan berada si sisi kanan dan rian ada di sisi kiri.
" ehh devan ... terima kasih banyak kau sudah menolongku " ucap fanny lagi.
" kan aku sudah bilang jangan berterima kasih " jawab devan.
" tetap saja " balas fanny.
" Tiffanny " panggil brian dari belakang.
ketiga orang itu segera menoleh kebelakang dan memperhatikan brian mendekati mereka.
" kita harus bicara " ucapnya.
" katakan saja disini " jawab nya.
" tidak bisa , ini ... kita harus membicarakannya berdua " tolak brian.
" pria ini ... " brian melirik ke wajah devan , devan menatap nya tajam.
" Pak Brian rapat sudah selesai silahkan pulang " kata fanny.
" fanny kau tidak mengerti , ikutlah denganku " pinta brian.
" pergilah dia tidak mau bicara denganmu " usir rian yang mulai emosi itu.
" rian kau bukan siapa - siapanya jadi jangan mencegahnya " titah brian.
" lalu kau siapanya fanny ? pacar ? suami ? kakak ?" tanya rian.
" aku ... "
" tidak bisa menjawab kan ... sekarang pergilah " usir rian.
fanny tidak mau ambil pusing lagi dia segera pergi seorang diri , devan menoleh dan mengikutinya kemana arah langkah fanny berjalan.
" ada apa denganmu rian ? kau temanku kenapa tidak mendukungku ?'tanya brian.
" he teman ? aku teman fanny bukan temanmu aku mau berteman denganmu karena dulu dia sangat mencintaimu. tetapi setelah kau menghianatinya kau bukan temanku " tegas rian.
" kau tidak mengerti rian biarkan aku menemuinya " teriak brian.
" sampai kapanpun aku tidak akan membiarkannya menemuimu " tegas rian.
" sekarang pergi dan jangan pernah datang menemui nya kecuali tentang pekerjaan " sambung rian dan langsung meninggalkan brian sendiri.
brian merasa kecewa , dia memukul tembok itu " haaaa " teriaknya.
***
" fanny apa brian a..."
sebelum devan menyelesaikan ucapannya fanny menatapnya , membuat devan tak ingin bicara lagi.
" kau ingin bilang kenapa brian mencariku kan ?" tanyanya.
" jawabannya aku tidak tau , biarkan saja dia tidak usah dipikirkan. dan aku juga minta hal ini sembunyikan dari nenek " pinta fanny.
" baik. ehem ... ehem "
" kau ingin minum ?" tanyanya.
" kau tidak mau mentraktir makan malam ?"
" ha ?"
" ya .. hari ini aku minta libur sebenarnya sangat sulit tapi aku lakukan demi dirimu "
mendengar perkataan devan itu fany merasa tidak enak , apalagi sampai devan harus minta libur di sela - sela kesibukannya. dia pun mengangukkan kepalanya.
" ba..baiklah "
devan senang mendengarnya , matanya berbinar seakan fanny menerima ajakan untuk dinikahinya.
***
__ADS_1
didalam Restoran itu , mereka berdua duduk berhadapan dengan beberapa makanan kesukaan masing - masing 2 minuman Cafein.
" kita baru pertama kali makan diluar seperti ini " ujar devan.
" pesanlah lagi jika kau belum kenyang " balas fanny yang sibuk memotong dagingnya.
" baiklah aku akan pesan yang mahal nanti " ungkap devan.
" hmm "
" Bisa pinjam handphone mu ?" tanya devan.
" untuk apa ?" tanya balik fanny.
" pinjam sebentar aku tidak akan membuka apapun " devan menjulurkan tangannya , fanny memberikan ponsel yang ada di samping tangannya kepada devan.
dia tau apa yang devan ingin buka , jadi dia terus memperhatikan devan.
" apa yang kau lakukan ?" tanyanya ketika devan memberikan kembali ponselnya.
" kita belum bertukaran nomor handphone jadi aku menyimpan nomor ku dan aku juga sudah menyimpan nomor ponsel mu disini " jawabnya yang menunjukkan ponselnya yang tertera nama Tiffanny.
" kontak ponselmu sedikit sekali " sambung devan.
" aku pakai ponsel rian untuk urusan Hotel " jawab fanny .
devan mengangukkan kepalanya dan memasukkan makanan kedalam mulutnya.
" kau masih menggunakan obat tidur itu ?" tanya devan.
" aku tidak bisa tidur tanpa itu " jawab fanny.
" itu tidak baik untuk kesehatanmu , hentikanlah sebelum semuanya lebih jauh. aku menyarankanmu sebagai seorang dokter , kau bisa mendatangi seorang psikologi saja itu lebih baik daripada mengkonsumsi itu " jelas devan sambil menatap fanny yang sedang makan.
" Sudah berapa lama kau memakainya ?" tanya devan.
" setiap aku tidak bisa tidur " jawab fanny.
" aku sudah pernah menemuinya " sambung fanny lagi.
" dia bilang semua akan kembali normal jika aku kembali dengan seseorang yang aku cintai " jawan fanny.
" apa orang itu brian ?" tanya devan.
" aku sudah selesai makan , aku akan membayar nya dulu " fanny pergi meninggalkan devan dan dia membayar kekasir.
" kembali dengan orang yang dicintai , itu sudah jelas - jelas dengan brian. Psikologi itu pasti tidak Lulus Kuliah " gumam devan dengan kesal.
***
" mas " panggil agatha ketika brian baru pulang kerumah.
" apa ?" tanya brian lesu.
" kau pergi ke rapat bersama tiffanny ?"
" ya " jawab nya cepat.
" mas kamu kenapa ... aku tidak mengerti bagaimana pikiranmu , kita sudah menikah setidaknya lupakan lah fannymu itu . kau sudah hidup dengan baik karena ayahku , jika ayahku kembali dan tau semua ini. kau taukan apa yang akan terjadi dengan tiffanny , bukan hanya tiffanny tapi kau juga sama "
" aku tau dan sudah sangat tau tentang sifat ayah mu " balas brian dan langsung pergi masuk kekamar mereka .
" ck walau aku sudah menikah dengannya tapi fanny selalu ada di hatinya " ucapnya kesal.
***
keesokan harinya
Rian datang membawa makanan untuk tiffanny yang sedang bekerja itu , dia menggambar sesuatu seperti desain arsitektur. rian berjalan melangkah ke arahnya dan memperhatikan gaya fanny ketika sedang menggambar itu.
" ini desain untuk ruangan tambahan di hotel Norwegia itu ?" tanya rian.
" tidak. aku ingin mengubah desain ruanganmu , aku pikir itu sudah gaya lama kau tidak masalah kan ?" tanyanya tanpa melihat rian.
" hmm lakukan sesukamu. oh ya makanlah dulu aku sudah membawa makan siang "
__ADS_1
" sebentar lagi , kau saja duluan "
" bisakah kita makan berdua ? kita tidak pernah makan berdua sebelumnya " kata rian yang terdengar sangat penuh harap itu.
" apa karena aku kemarin makan dengan Dokter Devan hingga kau juga ingin makan denganku ?"
" eh itu juga salah satunya hehe " ucap rian sambil mengaruk kepala yang tidak gatal itu.
fanny menutup aplikasi yang ada di tablet itu , dia berdiri dan menuju ke sofa , kemudian dia duduk dan membuka tutup makanan itu.
" kau tidak mau makan ?" tanya fanny.
" eh sungguh ? aku mau " ujar rian cepat.
secepatnya rian duduk disebelah fanny , mereka mengambil masing - masing satu makanan dan mulai makan bersama.
" bisakah ... setiap hari kita makan seperti ini ?" ujar rian dengan pelan.
" apa kau takut dengaku , sampai kau bicara sangat pelan " kata fanny.
rian tersenyum menatapnya " bagaimana mungkin aku takut , usiaku lebih tua 3 tahun darimu " balas devan.
" berarti aku harus memanggilmu kakak " gumam fanny.
" aku juga harus memanggilmu adik " balas rian.
fanny tersenyum kecil mendengarnya begitu juga dengan rian. rian tidak pernah melihat senyuman seperti itu sebelumnya dia sangat senang senyum fanny muncul karenanya.
***
di bassment hotel fanny sedang berjalan sendirian mencari tempat dia memarkirkan mobilnya , hari ini dia tidak diantar rian karena ingin pulang sendirian. rian juga masih ada pekerjaan di hotel.
tin .... tin .... tinn
sebuah mobil melaju cepat ke arahnya, entah bagaimana bisa ada di situ brian dengan sigap menariknya hingga memeluknya dengan erat.
fanny membulatkan matanya karena terkejut , dia hampir ditabrak dan seseorang datang menolongnya tapi dia tidak tau siapa orang itu.
" tubuh ini .." pikirnya.
" kau baik - baik saja ?" tanya brian cemas.
" brian " gumamnya.
dia segera berusaha melepaskan pelukan devan, tetapi devan masih menggenggam tangannya.
" fanny kau tidak terluka kan ? apa ada yang sakit ?" tanya brian lagi.
" kenapa kau ada disini ?" tanya fanny.
" aku ingin menemuimu " jawab cepat brian.
" lepaskan atau akan ada yang melihat dan mengatakan hal yang tidak benar tentang kita " ujar fanny.
" fanny " ucap brian lembut.
" bisakah kau menjawab pertanyaanku ? aku benar - benar butuh jawabanmu agar aku bisa menentukan hidup kita " sambung brian.
fanny masih tidak menjawab, wajahnya masih datar dan tak menunjukkan ekspresi apapun.
" apa kau masih mencintaiku ?" tanya brian.
" Pergilah atau agatha akan mencarimu "
" fanny aku mohon jawab pertanyaanku " pinta brian.
" aku sudah melupakanmu " jawab fanny.
tidak ingin berlama - lama disana , fanny pun meninggalkan brian dan dia sudah dekat dengan mobilnya.
" aku tau kau masih mencintaiku , tidak bisakah kau menungguku sedikit lagi ? " teriak brian.
" melupakanku bukan berarti tidak mencintaiku, kau masih sangat mencintaiku " sambung brian.
fanny berdiri di hadapan pintu mobilnya, dia sudah memegang knop pintu mobil mendengar semua perkataan brian , dia meneteskan air matanya.
__ADS_1
" menunggu apa lagi brian , tidak akan ada jalan untuk cinta kita. meski sulit melupakanmu ... tapi aku akan terus berusaha untuk mengingat , kalau kau sudah menikah " ucapnya dalam hati sambil meneteskan air mata.