Cinta Di Hatiku

Cinta Di Hatiku
Es dan Api


__ADS_3

" Minumlah " kata devan.


fanny pun mengambil nya , lalu dia meminum obat yang diberikan devan itu. devan mengambil gelas bekas minum fanny dari tangannya.


" terima kasih " ucap fanny saat devan tengah berjalan membawa gelas itu. devan pun memberhentikan langkahnya dan kemudian berbalik arah.


" sekarang tidurlah " balas devan.


keesokan harinya


mentari pagi sudah menerangi bumi itu artinya aktivitas baru harus berlanjut lagi , devan dan nenek ji sedang sarapan di meja makan.


rian sudah memberi tahu nenek kalau fanny tidak kekantor akan cuti hari ini tapi nenek biarkan dia bangun siang untuk beristirahat yang banyak. dia nampak bahagia hari ini karena akhirnya fanny bisa memiliki waktu luang untuk dirinya sendiri setelah sekian lama.


" devan jadi kapan ibu dan ayahmu datang ?" tanya nenek.


" sore nanti nek aku akan menjemputnya di bandara " jawab devan.


" kalau begitu nenek akan menyuruh kali masak banyak , sudah lama mereka tidak pulang ke indonesia "


" tidak perlu repot nek , sepertinya ibu dan ayah akan menginap di hotel "


" kenapa harus hotel ! tidak-tidak. bawalah ibu dan ayahmu kemari hanya beberapa hari disini masih mau tinggal dihotel apa rumah ini kekurangan kamar , nenek akan menelponnya nanti"


nenek memang begitu orangnya sangat baik tapi... agak sedikit cerewet hehhe.


devan tertawa kecil mendengar ocehan nenek itu " baiklah nek aku akan membawanya kerumah " kata devan.


" dimana fanny nek apa dia tidak ikut sarapan ? bukannya dia libur" tanya devan yang melirik kesegala arah tapi tetap fanny tidak muncul juga.


" Nenek tidak mau mengganggunya , biarkan saja dia bangun jam berapa nenek tau dia butuh waktu sendiri sekarang "


" hmm aku mengerti nek " timpal devan.


" devan boleh nenek tau apa yang dilakukannya semalam ?" tanya nenek.


devan menghentikan makannya lalu dia mengingat bagaimana semalam dia melihat fanny yang berlari sendirian tidak tau kemana.


" tidak ada nek , fanny wanita yang kuat seperti yang nenek katakan " ucapnya bohong. dia sengaja mengatakannya karena tidak ingin membuat nenek khawatir.


" syukurlah ( sambil membuang nafas lega) nenek takut sekali dia berbuat sesuatu atau menangis sendirian "


" jangan khawatir nek "


" nek aku pergi dulu ya , sampai ketemu nanti sore " pamit devan pada nenek ji.


" iya nak hati - hati "


sesampainya di rumah sakit devan mengganti pakainnya menggunakan pakaian dokter lalu bersama 4 orang suster mengecek kamar kamar para pasien.


" hay nenek apa kabarmu ? sudah merasa baikan ?" tanyanya ramah.


" hmm terima kasih dokter saya sudah baikan , apa boleh besok saya pulang ?" tanya pasien itu .


" hmm saya akan melihat perkembangan nenek dulu hari ini , setelah semuanya bagus maka besok boleh pulang"

__ADS_1


lalu dia beranjak kekamar sebelah hingga kamar terakhir paling ujung. setelah itu dia memberikan laporan semua pencatatan kesehatan pasien tadi kepada seorang anak magang untuk dikumpulkan di mejanya.


" jadikan satu dan nanti ikutlah denganku melihat nya " ucap devan.


" baik dokter '" jawab anak magang pria itu.


...


rian tengah sibuk di ruangan fanny dengan berkas-berkas dihadapannya itu , di sofa itu dia membuka semua lembaran seperti sedang mencari sesuatu disana.


tak lama seorang perempuan muda masuk dan memberikan sebuah map berwarna hitam.


" ini semua laporan perkembangan hotel di jakarta pak, nanti dibawahnya ada tanda tangan bu fanny " ucap perempuan itu.


" baik kau boleh keluar" kata rian .


perempuan itu segera pergi lalu rian membereskan lagi sekumpulan kertas itu , untuk dia atur dan rapikan ulang.


sesuatu terjatuh dibawah sana dari tumpukan kertas itu , dia pun mengambilnya dan melihatnya. foto fanny dan dirinya yang sedang berlibur di swiss dulu , dia tersenyum lalu mengambil foto itu untuk disimpan.


....


tin...tin...tin


suara klakson mobil devan terdengar hingga gerbang itu otomatis terbuka sendiri , memasuki halaman hijau itu lalu dari jarak 100 meter bisa dilihat rumah megah nan mewah yang bergaya modern.


sepasang suami istri turun dari mobil dengan senyuman mengembang di wajahnya , menatap wilayah itu dan menghirup udara segar.


" ayah lihatlah sudah lama ibu tidak kemari semuanya sudah sangat berubah" kata ibu itu.


" ayah ibu masuklah aku akan membawa koper kalian masuk " kata devan yang turun dari mobil.


" iya nak "


didalam rumah itu tak henti - hentinya ibu devan memeuji keindahan interior dan eksterior rumah ini membuat nenek tersenyum dan tertawa.


" hahah tidak Anja , kau salah dulu memang nenek sangat kuno tapi semenjak fanny memberi tahu nenek apa saja kecanggihan teknologi sekarang maka nenek sangat penasaran lalu merubah semuanya " gelak tawa nenek.


" fanny ? apa dia sudah menyelesaikan kuliahnya di harvard nek ?" tanya ibunya devan bernama Anjanika Widia.


" fanny hmm dia sudah menamatkannya , beberapata tahun yang lalu " jawab nenek.


" sepertinya dia sudah besar , dimana dia nek ?" tanya ayah devan. dia bernama Hars Atmaja seorang profesor ternama di taiwan. sebenarnya dia orang indonesia asli namun bekerja disana membuat dia menjadi kewarganegaraan taiwan sedangkan devan dia berkebangsaan indonesia.


" tentu saja dia sudah berusia 24 tahun sekarang " jawab nenek.


" apa dia ada dirumah ? kami ingin melihat seperti apa dia sekarang , pasti sangat cantik seperti mamanya " ujar ibu devan.


" iya ada dia sedang ada di belakang sebentar nenek panggilkan "


" eh tunggu nek , nenek duduk saja biar devan yang panggilkan " cegah devan saat melihat nenek akan berdiri dia tau pinggang nenek sering kali kambuh.


" baiklah nak , dia ada di ruangan paling ujung pintu berwarna abu - abu masuk saja dan lurus terus "


" iya nek "

__ADS_1


devan bergegas melangkah kan kakinya menemui fanny yang sedang apa pikirny, entahlah kenapa dia menjadi sangat ingin tau tentang fanny. dia hampir sampai di pintu itu , lalu membukanya.


dia tercengan karena ada lorong panjang namun suasana disana sangat dingin. dia terus berjalan menyusuri lorong , lalu ada pintu kaca lagi , saat dia akan membuka nya dia melihat sosok perempuan dengan rambut yang digelung sedang menari di atas es atau yang sering disebut Figure Skating.


tubuhnya sangat lemas ketika menari seperti tulangnya sangat lentur , menari di atas es dengan elok dan indah , tubuh ramping dan tubuh yang pas. membuat devan tercengang , baru pertama kali dia melihat sisi lain dari fanny.


" cantik dan indah " ucapnya dalam hati.


fanny terus menari , berputar di tengah - tengah sana. itulah kebiasaan tersenyumbunyi dia suka menari di atas es , seperti sedang meluapkan segala kegundahan dalam dirinya. selama di hadapan orang dia harus terus tersenyum kadang kala , tetapi lebih dominan memasang wajah datar.


dengan tarian itu dia bisa mengeskpresikan tubuhnya dalam bentuk gerakan , dan sorot mata.


" fanny "


fanny tidak menghiraukan dan terus menari " fanny " panggil devan lagi. fanny melambatkan gerakannya dan berhenti ditengah- tengah.


" aku tidak pernah berpikir kau sangat bagus dalam Figure Skating " puji devan.


" terima kasih . apa yang kau lakukan disini ?" tanya fanny.


" apa jika aku ingin belajar kau mau mengajariku ?" tanya devan dan tak menghiraukan pertanyaan fanny.


" aku bukan seorang guru , aku melakukannya karena tidak tau harus melakukan apa " jawab fanny dan dia pergi ke samping tempat ice skating dan duduk disana.


" kau bisa mengajakku pergi "


" aku tidak suka pergi keluar "


" baiklah aku tidak memaksa. ada tamu dirumah nenek memanggilmu "


" siapa ?" tanya nya tanpa menatap devan.


" kau akan tau setelah melihatnya "


" tidak aku lelah aku ingin istirahat " tolaknya.


" temui dulu sebentar saja " pinta devan


fanny terus berjalan keluar tanpa menjawab devan , devan yang merasa di acuhkan itu merasa sedikit kesal lalu menarik tangan fanny dan merangkul pinggang ramping itu.


" kenapa kau kerasa kepala sekali " tatap devan dengan tajam.


" apa yang kau lakukan lepaskan tanganmu " tekan fanny.


" katakan dulu " tekan devan balik yang terus merangkul pinggal itu.


" tanyakan pada nenek untuk melihat semua laporan belajarku , disetiap laporan akan tertulis betapa kerasa kepalanya aku " titah fanny dengan menatap tajam kedua bola mata devan.


" kau berubah, kau menjadi seperti putri elsa yang memiliki hati sedingin dan sekeras es "


" kenapa fanny ? kenapa " tekan devan lagi.


" jauhkan tubuhmu dariku " fanny mendorong dada devan.


" kau tidak perlu tau siapa diriku , sekeras kepala , sedingin apa dan ... seburuk apa aku " fanny segera pergi setelah mengatakan itu devan tambah kesal dan mencengkram keras tangannya.

__ADS_1


" fanny jika kau sebeku es maka aku akan jadi api yang akan meluluhkannya " teriak devan.


__ADS_2