
Malam harinya.
devan sedang membaca buku kedokterannya, sedangkan fanny baru keluar dari kamar mandi. dia masuk kedalam walk in closet dan mengganti pakaian nya.
ketika keluar dia masih melihat devan yang fokus membaca bukunya. fanny segera naik ke ranjangnya karena ini juga sudah larut dia harus istirahat.
" Apa kau masih ingin membaca ?" tanya fanny karena jika iya maka dia tidak akan mematikan lampunya.
mendengar itu devan segera menutup bukunya dan berdiri menuju ke rak buku.
" Sudah tidak lagi, Kita tidur saja. sayang Besok setelah pulang ayo kita ke perlengkapan Furniture. oh iya , aku lupa mengatakannya , nenek sudah setuju tadi. "
" Benarkah, jam berapa perginya ?"
" Aku selesai jam 5, aku langsung menjemputmu nanti. " katanya sambil naik ke atas ranjang.
" Terserah kau saja. " setelah itu fanny tidur membelakangi devan, dia langsung memejamkan matanya karena sudah merasa mengantuk.
devan juga mematikan lampunya lalu dia tidur memeluk fanny.
" Devan ... Apa kau bisa menjauh sedikit ?" ujar pelan fanny.
" Jangan hiraukan, tidur saja aku tidak mungkin melakukannya sekarang. " katanya sambil menutup mata.
***
pagi hari itu , pria muda itu memakai sepatunya. sepertinya dia akan melamar pekerjaan. ada amplop coklat yang dia bawa. Setelah selesai dia membuka kamar ibunya.
" ibu aku pergi dulu , aku akan pulang nanti siang. " pamitnya.
mata perempuan itu hanya mengedipkan saja. pria tersenyum dan pergi dari apartemennya.
dengan semangat yang besar dia turun ke gedung bawah , suasana pagi ini sangat padat banyaknya aktivititas penduduk pengguna jalan.
" Raka ... Kau harus Mendapatkan pekerjaan apapun itu " batinnya dengan percaya diri.
kembali dia berjalan di pinggiran trotoar. berkali - kali dia menawarkan diri untuk bekerja tapi sampai sekarang belum ada yang menerimanya. sesekali dia mengelap dahinya yang mengeluarkan keringat.
hari sudah siang sehingga dia harus menepi terlebih dahulu.
" Tolong bantu aku. Apapun pekerjaannya aku akan menerimanya. Aku harus menafkahi ibu ... " ucapnya dalam hati.
plug
Sebuah dompet jatuh dihadapannya. dia memandanginya , ibu itu terus saja berjalan tanpa tahu dompetnya terjatuh. dia mengambilnya dan segera mengejer ibu itu.
" bu ... bu tunggu " teriaknya.
ibu itu segera menoleh , dia menatap heran pria yang ada dihadapannya.
" ada apa ya ?" tanyanya.
" maaf bu , ini dompetnya tadi terjatuh. " dia memberikan dompet itu. ibu itu segera menerimanya dan segera membukanya ternyata semuanya masih utuh.
" Astaga nak , sungguh ibu sangat berterima kasih padamu. "
" tidak masalah bu, kalau begitu saya permisi dulu "
raka segera pergi meninggalkan ibu itu , ibu itu tersenyum dan melihat map yang dipegang raka.
" Nak tunggu " teriaknya.
raka segera menoleh menatapnya.
" Siapa namamu ?" tanyanya.
" Raka " jawabnya.
__ADS_1
" Kau sedang melamar pekerjaan ya ?"
mendengar itu raka segera mendekatinya lagi dan menganggukkan kepalanya.
" bisa berikan lamaran mu padaku ? aku ingin melihatnya nanti dan siapa tau aku bisa membantumu "
" ya ! tentu saja bu, silahkan "
***
shittt
mobil devan berhenti di depan hotel fanny , dia langsung bisa melihat fanny baru keluar dari hotelnya dan diberikan hormat karyawan nya dengan cara sedikit menundukkan kepalanya.
devan segera keluar dari mobilnya, fanny menatap keseluruhan tempat dan menatap salah satu arah dimana devan berdiri.
devan tersenyum kearahnya , dan fanny melangkahkan kakinya menuju ke arah devan.
" Ayo langsung saja " kata devan yang kini membukakan pintu untuk fanny.
saat akan menuju jalan raya , disitu juga ada raka yang berjalan di dekat area hotel. dari dalam mobil dia bisa melihat fanny dan devan keluar bersama.
" Itu kan kak fanny, siapa pria itu ? apa itu pacarnya ?" pikirnya.
***
sesampainya di toko perlengkapan furniture rumah tangga, seseorang memandu mereka. semua furniture terlihat mewah dan menawan.
" Kami juga ada Satu set perlengkapan kamar yang baru, sangat cocok untuk pasangan pengantin baru. " jelas pramuniaga itu.
" Benarkah ? bisa kami melihatnya ?" tanya devan.
" tentu saja pak "
lalu wanita itu membawa fanny dan Devan menuju ke tempat perlengkapan itu.
" Sayang , apa kau menyukainya ?" tanya devan.
" Kenapa tidak yang sebelumnya saja ? ini bagus , tapi kau juga mungkin berpikir ini tidak pas dengan rumahnya. "
" hmm benar juga, kalau begitu kami ambil paket yang sebelumnya. dan untuk yang lainnya kami akan memilihnya sendiri. " jelas devan.
sekarang mereka sudah ada di bagian sofa , semua sofa terlihat indah. devan menyuruh fanny untuk memilih semua barang yang dia suka. Dibantu devan juga akhirnya mereka sudah selesai membeli peralatan rumah tangga.
kini waktunya mereka membayarnya. harga yang ditotalkan sangat fantastis. devan dan fanny secara bersamaan mengeluarkan kartunya.
Fanny mengeluarkan kartu black card nya sedangkan devan mengeluarkan kartu gold nya. kasir itu memperhatikan mereka berdua.
" Sayang apa yang kau lakukan , simpan kartumu ini urusanku. "
" Ha ? tapi aku yang memilihnya tadi " jawab fanny yang terlihat bingung.
" Tapi aku suaminya sayang, simpan saja. tolong bayar pakai ini " kata devan yang kini menyuruh Pelayan itu memakai kartunya.
" Kau juga sudah membeli rumah, tabungan mu masih ada ?" tanya fanny.
devan kini melihat wajah fanny yang bersikap biasa saja.
" Apa kau pikir aku tidak punya setelah membeli rumah hmm ? Simpanan ku masih banyak bahkan bisa untuk melakukan resepsi sebanyak 10 kali. " bisik devan di telinga fanny.
" Kau mau menikah lagi ?" tanya fanny dengan raut muka biasa saja.
devan melotokan matanya sedangkan kasir itu menahan tawanya mendengar perkataan fanny.
" ini pak semuanya sudah selesai " kata nya dengan ramah.
" Terima kasih " devan menerima kembali kartunya, lalu dia menarik fanny dan membawa nya pergi dari sana.
__ADS_1
" Kita mau beli apa lagi ?" tanya devan saat didepan mobilnya.
" aku haus " ujar pelan fanny.
" Kalau begitu tunggu disini , aku akan membelikan air putih. jangan kemana - mana " tegas devan.
Fanny diam saja, dia menatap pemandangan malam hari di jalanan itu. terlihat masih sangat ramai karena ini baru pukul setengah 8 malam.
" Sayang " ujar devan.
dia membawa dua botol air yang satu dingin dan yang satu tidak, fanny segera mengambil air botol yang dingin dan segera membukanya.
glek..glek...glek
setengah botol dia habiskan, devan menatapnya aneh sekarang. fanny penasaran kenapa wajah devan terlihat berbeda itu.
" ada apa ?"
" Sayang kau tidak boleh minum air dingin. "
" Memangnya kenapa ?"
" Kaukan sedang menstruasi "
" Sudah tidak lagi " jawabnya.
( Apa yang kukatakan , kenapa aku mengatakannya ? astaga kau bodoh fanny )
devan menatapnya lekat , lalu wajahnya tersenyum melihat fanny. agar devan tidak melihat wajahnya dia memiringkan wajahnya dan kembali meminum air botol itu.
" Sungguh sudah tidak ?" tanya devan pelan.
" Ha ? eh itu ... Aku ... "
" Kalau begitu malam ini bisakan ?" tanya devan dengan semangat.
kring...kringg..krring
devan mengambil ponsel dari saku celanananya dan segera mengkatnya.
" Sekarang ? apa Dion Tidak ada ?" tanyanya dalam telpon, fanny memperhatikan wajah devan yang agak kecewa itu.
📱" Dokter Dion ada tapi dia sedang operasi juga , dokter devan pasien sangat darurat kau harus segera kerumah sakit sekarang. "
" Baiklah , aku segera kesana " katanya dengan wajah lesu.
" maafkan aku , ada operasi darurat sekarang. Sayang ... Kita harus segera pulang aku akan mengantarmu dan langsung pergi "
( Baguslah , dia tidak membahas yang tadi )
" tidak masalah , sebaiknya kau langsung ke rumah sakit saja. aku akan pesan taksi nanti. "
" Tidak aku akan khawatir jika kau sendirian disini . tunggu sebentar .. " devan beralih melihat jalanan mencari taksi.
tak lama taksi pun datang
" Tunggu sebentar pak "
" sayang , pulanglah. tidurlah lebih dulu. "
" tentu saja " jawab cepat fanny. yang kemudian langsung masuk kedalam mobil belakang.
Devan kini mendekati fanny lalu mendekatkan wajahnya ke telinga fanny.
" Jangan kau pikir , karena hal ini .. aku melupakan semuanya. Aku akan menagihnya nanti "
" Hei , kau harus pergi sekarang. atau pasienmu akan menunggumu "
__ADS_1
" ayo pak jalan "
fanny menggapai pintu mobil lalu devan membiarkannya menutup mobil.