Cinta Di Hatiku

Cinta Di Hatiku
Menerima Takdir


__ADS_3

" dahhh " devan melambaikan tangannya dari dalam mobil, fanny mengangukkan kepalanya devan sudah terburu - buru sekarang jadi dia tidak bisa mengantar fanny sampai ke dalam.


di dalam bassment itu fanny berjalan sendirian menuju kesebuah pintu masuk, langkah kakinya tak luput dari awasan seseorang dan ada yang memotretnya juga.


" cekrek ... cekreek "


fanny masuk kedalam lift dan menekan tombol angka 20, dia berada sendirian di dalam lift itu. hingga sampailah dia langsung menuju kekantornya.


" Selamat pagi bu " kata dua resepsionis itu.


" selamat pagi, Ressa tolong sampaikan pada raka untuk menemuiku di ruanganku " pintanya.


" baik bu , saya segera menelponnya "


" terima kasih " ucapnya.


" sama - sama bu "


didalam kantornya dia menaruh ponselnya di meja kerjanya , dia tidak ada pekerjaan sekarang jadi dia membuka hordeng besar itu dan terlihatlah pemandangan kota bandung pagi ini yang terlihat sangat cerah.


tok..tok...tok


" kakak "


fanny segera menoleh dan menatap raka yang sudah ada diruangannya.


" duduklah "


raka pun duduk disofa itu , keduanya sekarang duduk berhadapan.


" Ada apa kak ? apa ada sesuatu ?" tanyanya.


" kau suka pekerjaanmu ? "


" Sangat ... semua orang juga sangat baik dan ramah kepadaku " jawabnya dengan senyuman manis.


" Senang sekali mendengarnya, raka ... apa Brian sudah menemui mu dan tante ?"


" belum kak , kenapa memangnya apa kakak saling bertemu ? "


raka sangat penasaran sekali, wajahnya memiliki ribuan pertanyaan karena dia memang sangat merindukan kakaknya.


" Hmm " fanny mengangukkan kepalanya.


" Sekarang aku sudah tau semuanya, aku sudah salah menilainya. dia sangat mencintai kalian berdua, percayalah tidak lama lagi dia akan menemuimu "


" Aku senang sekali semuanya sudah jelas , tidak ada lagi kesalahpahaman antara kakak dan kak brian. walaupun mungkin kakak tidak bisa kembali lagi bersama kak brian, setidaknya kakak sudah memiliki pria yang sangat mencintai kakak "


matanya sendu dan berkaca-kaca dalam hati kecilnya dia sangat mengharapkan hal itu terjadi dimana keduanya saling kembali bersatu. namun kadang keinginan tidak semuanya terpenuhi , waktu sudah menjawab semua siapa yang menjadi takdir untuk keduanya.


" Maaf ... kakak tidak bisa kembali padanya walau semuanya hanyalah kebohongan saja. dia memang berniat baik, tapi kakak tidak ingin menjadi seseorang yang tidak menjaga hubungan. Kakak akan menerima , mencintai dan menjaga semua yang sudah menjadi takdir untukku. Itu artinya ... kakak akan mencintai laki - laki yang sudah menjadi pendamping kakak sekarang ."


" Apapun semua keputusan kakak, aku pasti mendukungnya. kakak akan tetap menjadi bagian dalam hidup kami. Siapapun pria yang kakak pilih dia juga bagian dari orang yang kami percaya. "


fanny tersenyum mendengarnya, melihat raka yang seperti sekarang mengingatkannya pada sosok kakaknya dulu. sifat keduanya hampir sama selalu mendukung semua keputusannya, walau dulu mereka masih kecil tapi dia bisa tau bagaimana sifat kakaknya.


***


samuel tengah duduk dibangku kebesaraannya itu dia mengecek ponselnya menggeser ke slide kanan untum melihat gambar yang dikirimkan orang-orangnya yang telah membuntuti tiffanny.


" Dari cara berjalanannya sangat mirip dengan Diana, seperti Putri kerajaan yang berjalan dengan anggun menuju tahta nya. " dia tersenyum miring mengatakannya tatapaanny sulit diartikan.


lalu dia mengambil dompet nya dan memegang sebuah foto dan dibaliknya foto itu.

__ADS_1


" Aku mungkin terdengar sangat jahat, tapi maafkan aku diana ... Jackson dan dirimulah yang memaksaku melakukannya. "


" dulu , Pria ini merebut cinta diana dariku. dan sekarang, Putrimu ... merebut cinta dari anakku. "


" Aku begitu mencintaimu, kau tidak tau ... orang bodoh sepertiku ini akan melakukan hal seperti , iya kan ... "


ceklek


agatha masuk begitu saja kedalam ruangan samuel, samuel langsung menyembunyikan foto itu dan menyimpan ponselnya lalu tersenyum menatap agatha.


" Sayang " ucapnya.


" ayah "


" Ada apa ?"


agatha duduk di kursi hadahan samuel.


" kapan ayah akan kembali ?"


" ha ? " samuel heran kenapa agatha menannyakannya padahal selama ini agatha tidak pernah peduli dia akan pulang atau tidak.


" Ehhh... maksudku, aku bisa mengatur waktu agar bisa terus bersama ayah sebelum kembali. "


" oh begitu ! jangan takut ayah tidak akan meninggalkanmu lagi disini, ayah akan menjagamu dan dengan begitu kau juga bisa mendapatkan cintamu. " katanya dengan lembut.


( dia tidak akan pernah mencintaiku, andai kau tau ayah )


agatha hanya tersenyum mendengarnya, lalu dia berdiri dan memeluk samuel dari belakang.


" Aku baik - baik saja dengannya ayah, bahkan dulu ayah juga terus bersama ibu walau dia tidak mencintai kita bukan "


" Ayah berjanji akan membalas semuanya dan tidak ada orang yang berani untuk tidak menerimamu "


***


Tiffanny sedang berjalan bersama rian di sebuah hotel yang juga merupakan koneksinya. seperti biasa mereka selalu datang bersama saat sedang menghadiri rapat.


" Bagaimana menurutmu ? kau akan datang ke perjamuan itu ?" tanya rian.


" Apalagi, jika aku tidak datang aku tidak bisa melihat wajah pak samuel " jawabnya.


" melihat wajah pak samuel. " ujarnya dengan heran.


fanny sadar apa yang baru saja dia ucapkan rian tidak tau apa alasannya jadi dia bersikap seperti itu.


" bukan apa - apa. maksudku sudah lama kita tidak melihatnya "


" ya kau benar "


mereka kembali berjalan bersama, dari rapat tadi dia baru tau kalau kleuwit samuel sudah kembali dari kanada.


" Ini sudah sore aku antar kerumah " kata rian saat mereka sudah ada di bassment.


" hmm "


***


" Sudah sampai "


" Terima kasih rian , ehmm ... kau tidak ingin masuk dulu ?" tawar fanny.


sejenak rian berpikir ada benarnya juga dia belum pernah masuk kedalam rumah baru itu. lalu setelah berpikir dia mengangukkan kepalanya.

__ADS_1


" Jika ingin minum ambil saja di kulkas, aku ke atas sebentar " titah fanny saat keduanya berada di dalam rumah.


rian mengangukkan kepalanya, matanya menjelah keseluruh ruangan itu , dia mencoba mengenal rumah itu hingga sampai ke halaman belakang rumah yang luas itu.


" Tidak salah lagi, keputusanku untuk menghentikan perasan ini memang sudah benar. dokter devan orang yang paling tepat dibanding pria lain manapun untuk hidup bersamanya. " ujar batinya , udara segar sore menuju malam itu sangat sejuk langit yang mulai menguning ke orengenan itu sangatlah indah.


saat fanny menuruni anak tangga dia bisa lihat rian sedang berdiri di halaman belakang karena bagian belakang hanya berdinding kaca.


" angin disini memang sangat sejuk, saat aku lelah aku selalu duduk di ayunan kain itu. setelahnya aku merasa kembali segar. " tunjuknya pada sebuah ayunan berwarna merah.


" Kau benar , bahkan aku menyukainya. Aku boleh mencobanya ?" tanya rian.


" Lakukan sesukamu "


rian pun mendekati ayunan itu dia segera mendudukinya sedangkan fanny memilih berdiri memperhatikan matahari yang akan terbenam itu.


" Dia tidak marah jika aku selalu bersamamu ?" tanya rian.


fanny menatapnya sejenak lalu kembali menghadap ke depan.


" Aku rasa dia tau bagaimana hubungan kita, selain dirimu ... dia akan bertanya siapa saja pria yang ada didekatku. "


" tunggulah disini aku akan mengambilkan sesuatu ".


" Tidak perlu, aku tidak merasa haus atau apapun. "


" baiklah "


keduanya terus menyaksikan matahari yang akan terbenam itu sampai matahari sepenuhnya terbenam dan digantikan oleh langit malam yang gelap itu.


" aku harus pulang, besok sepertinya aku tidak akan kehotel. aku harus mengurus semua berkas Untuk hotel yang dijakarta. " rian berdiri dan menghadap ke tiffanny.


" Semoga perjalananmu menyenangkan " balasnya.


mereka berdua pun masuk kedalam namun baru memasuki beberapa langkah mereka dikejutkan dengan sosok devan yang baru pulang dari rumah sakit.


mata mereka saling menatap, " Dokter devan , saya pulang dulu " pamit rian yang dibalas anggukan oleh nya.


" Fanny ,aku pulang "


" Hati - hati "


rian segera pergi meninggalkan pasangan itu, sesekali devan melihat kebelakang dan setelah memasatikan rian pergi dia mendekati tiffanny.


" Kalian sudah lama pulang ? " tanyanya.


" Beberapa jam yang lalu "


" Sayang.. " panggil devan dengan lembut.


" ya " balas fanny.


" Aku sangat lelah hari ini, maukah kau membantuku ?"


kini keduanya berada di dalam kamar, devan menaruh tasnya di ranjang sedangkan dia berdiri menghadap tiffanny.


" Aku tidak tau kalau hari ini ada operasi darurat , seharian aku berdiri di meja operasi. rasanya aku sangat lemas " lirihnya seakan - akan dia sangat tak berdaya.


"Katakan apa yang bisa kubantu ? oh kau tidak ingin memasak, baiklah aku pergi beli makanan saja kau tunggu disini. " fanny segera mengambil kunci mobilnya yang ada di meja.


" Bukan itu sayang, maksudku. tolong bukakan bajuku "


" apa ?"

__ADS_1


__ADS_2