
" ya ! hukum saja aku , kau membuatku marah " fanny menangis saat itu juga , devan langsung memeluknya untuk menenangkannya.
sangat lama mereka berpelukan, membuat semua orang baper menyaksikannya kecuali brian yang merasa sakit hati itu.
" maaf, ada begitu banyak pasien hari ini jadi aku tidak sempat membalasnya. dan juga ... aku sengaja datang kesini karena tidak tahan jika tidak melihatmu " balas devan yang mengelus lembut rambut tiffanny.
" uh soswet nya " ujar karyawan yang merasa baper.
" benar , aku seperti melihat kisah cinta di film - film " sambung yang lainnya.
melihat itu kalista menggenggam tangan micheal , micheal menatapnya dengan penuh tanya.
" tanganku dingin " alasannya.
" sayang , kenapa kau tidak pakai jaket hmm aku sudah bilang kan jangan sampai lupa memakainya bagaimana jika istriku sakit " devan melepaskan pelukannya tetapi kedua tangannya masih menempel di pundak fanny.
" sudahlah , kau membuatku marah "
devan tersenyum lebar melihatnya , lagi - lagi dia memeluk tiffanny " maaf sayang, aku janji tidak akan mengulanginya lagi "
***
sisa potongan daging brian tadi , hanya menjadi makanan bekas di atas meja , tidak mungkin fanny memakannya pikir brian karena devan sudah datang.
fanny dan devan sekarang sudah berada di dalam villa entah apa yang mereka lakukan. sedangkan brian hanya bisa menatap bekas piring fanny di atas meja.
" mie " raka menyodorkan mie hangat berada di dalam wadah gabus itu , brian menerimanya tangannya mengaduk - ngaduk mie itu.
" ibu menelpon tadi, katanya ... kakak jangan lupa minum obat flu nya "
" baiklah "
***
didalam kamar itu , devan dan fanny duduk di atas ranjang bersama devan masih memakai baju nya yang tadi pagi dan belum manggantinya.
" bagaimana kau tau tempat ini ? "
" Rian mengirimkan alamatnya " jawab devan lembut.
" kau membalas pesanmya tapi pesanku " gerutu fanny.
" apa ini .. kau cemburu sayang ? sayang kau cemburu pada sekretaris rian " goda devan yang melihat wajah fanny merajuk itu.
" sudahlah kau memang suka begitu " saat devan ingin memeluk fanny lagi, malah fanny mengindar.
" mandilah dulu , tubuhmu bau keringat "
devan mengernyitkan dahinya dan berusaha mencium aroma di bajunya.
" tidak sayang "
" kau memang tidak merasakannya , tapi aku bisa merasakannya. "
" aku akan duduk di dekat bar belakang, temui aku disana "
dengan muka masam fanny meninggalkan devan , dan devan hanya bisa terkekeh melihatnya.
" sangat manis dan cantik saat melihatnya cemburu " gumam devan.
***
tiffanny berjalan - jalan sendirian di belakang villa , padahal semua orang sudah masuk kedalam kamar masing - masing.
dinginnya suasana puncak membuatnya merinding dia terus memeluk dirinya sendiri padahal dia sudah memakai baju tebal.
" Fan " panggil seseorang dari belakang.
__ADS_1
" dev ... " sebelum dia menyelesaikan ucapnnya dia berhenti karena orang itu bukanlah devan.
" aku brian , bukan devan " kata brian pelan sambil mendekati fanny.
" ada apa ? " tanya fanny.
" kenapa tidak masuk kedalam , cuacanya dingin lagipula devan .. "
" dia sedang mandi " potong fanny
brian menganggukkan kepalanya , namun beberapa saat dia memperhatikan wajah fanny yang kedinginan. kebetulan dia memakai jaket jadi dia lepaskan jaket itu lalu memakainyanya pada fanny.
" brian apa yang kau lakukan , in... "
" tubuhmu tidak bisa terlalu dingin. " brian memotong perkataan fanny.
tangan seseorang mengambil jaket itu , merebutnya lalu memberikannya kepada brian.
" devan , kau .. "
" sayang , kau sudah berjanji untuk melakukannya bukan , ayo kita kekamar. beberapa hal mungkin harus kita lakukan di dalam ruangan tertutup " jelasnya namun matanya menatap brian.
sangat panas mendengar perkataan devan itu, namun brian hanya bisa memendam rasa marah nya saja karena dia tidak berani marah dihadapan tiffanny.
" sayang ayo " devan menarik tangan fanny membawanya pergi dari hadapan devan
selama aku masih berdiri aku tidak akan membiarkan dia merebutnya dariku. batin devan berkata
didalam kamar itu devan mengunci pintu dari dalam , sedangkan fanny tak bisa berkata apapun kecuali diam.
" Kau .... marah ?" tanya fanny dengan hati - hati.
" siapa suami yang tidak marah melihat istrinya diperlakukan dengan istimewa begitu oleh orang lain. apalagi , pria itu mantan kekasihnya " jawab devan santai yang melepaskan jam tangannya.
" Tapi hari ini aku tidak akan marah padamu, karena .. aku punya kabar gembira untuk kita berdua. mari kita lupakan orang lain untuk sesaat dan sekarang waktunya kita berdua memikirkan masa depan " jelas devan dengan mendudukkan fanny di ranjang.
" maksudnya ? " raut wajah fanny tak mengerti.
" itu berarti ... hanya .. kita berdua " ucapnya berbata - bata.
" hmm tentu saja , hanya ada kau dan aku. kita bisa melakukan apapun yang kita sukai tanpa diganggu orang lain. "
" terserah kau saja "
jawaban itu membuat devan senang , dia mencium bibir fanny sekilas lalu menatapnya dengan tatapan seakan - akan ingin menerkam.
" hentikan tatapanmu itu " gumam fanny.
" aku merindukanmu , tidakkah kau merindukan aku sayang ?" tanya devan lembut di telinga fanny, membuat darah fanny berdesir dan nafas tak beraturan.
sama devan , aku juga merindukanmu. katanya dalam hati tapi dia malu untuk mengungkapkannya.
" sayang " suara devan mulai serak ingin meminta hak nya.
" devan disini terlalu banyak orang " kata fanny sambil menutup matanya.
devan sudah menciumi pipi fanny yang terasa hangat itu " maka kita jangan menimbulkan suara yang kuat " jawab devan.
tangan devan mulai membuka kancing baju fanny , fanny hanya bisa memejamkan kedua matanya. bibir keduanya sudah bertemu dan saling membelit satu sama lain untuk melepaskan kerinduan mereka , kerinduan yang tiffanny tahan hari ini.
nafas mereka saling memburu satu sama lain , karena sudah merasa sesak dibagian bawah sana devan menidurkan tifanny.
devan terus menciumi fanny dari bibir sampai ke leher dan dadanya. membuat fanny menahan erangannya , rasanya devan ingin mendengar suara itu tapi tidak mungkin atau orang bisa mendengar.
tok...tok....tok
fanny terperanjat saat ada suara ketukan itu. dia mendorong devan dengan reflek nya , membuat devan menahan sakit dibagian bawahnya karena sudah hampir masuk.
__ADS_1
" sayang ada apa ?" devan menahan nafsunya.
tok...tok...tok
" a..ada yang mengetuk , apa kita ... kita membuat suara ? " fanny mulai ketakutan saat itu juga.
" tunggu sebentar , jangan bergerak dan tetap disini " perintah devan sambil memakai celana panjangnya lagi. dia memakai kaosnya dengan asal sehingga terbalik karena tak menyadarinya.
ceklek
" siapa ?"
" dimana Tiffanny ?" ternyata kalista dan micheal yang datang di malam - malam begini sampai mengganggu aktivitas mereka.
" dia ?" tanya devan melihat wajah micheal.
" pawangku dirumah " jawab micheal
kalista hanya mendelik tajam , lalu kembali menatap devan.
" dimana dia ?" tanya kalista lagi dia curiga memperhatikan sekitaran di dalam namun dihalangi devan , sampai kaos nya yang terbalik telihat mencolok diantara keduanya.
" sudah tidur " jawabnya cepat.
" tidur ? di jam seperti ini ? " kata micheal seakan tak percaya itu.
" ya " jawab devan cepat.
" baiklah , lakukan aktivitas kalian berdua , dan ... lain kali , perhatikan bajumu juga ... jangan membuatnya lemas dipagi hari oke " kata kalista mengajak micheal untuk pergi .
" sebenarnya ada apa ? kau tau sesuatu ?" tanya micheal.
" ayolah , mereka itu sepasang suami istri. seperti tidak mengerti saja yang mereka lakukan " jawab kalista.
" ha begitu , kita juga sepasang suami istri " kata micheal.
mereka masuk kedalam kamar bersama yang dibukakan oleh micheal. saat micheal sudah menutup rapat pintu , kalista menatapnya dengan tajam.
" micheal , kita sepasang suami istri ... tidak salah melakukannya juga bukan ?" kalista seperti kerasukan saat itu juga
" hei ..hei kalista ada apa ? kau membuatku takut " ujar micheal dengan wajah lucunya.
cup
kalista mencium bibir micheal, membuat micheal membelalakkan matanya.
***
" siapa ?" tanya fanny
" michael dan istrinya " jawab devan yang naik ke kembali ke ranjang.
" oh begitu " dia mengangukkan kepalanya , baju tiffanny kini sudah rapi kembali.
" sayang , kenapa pakai baju lagi ? ( memperhatikan tubuh fanny ) "
" kenapa ?"
" aku masih ingin melanjutkannya "
" tapi ... "
" tidak ada tapi- tapian , micheal dan istrinya sudah tau apa yang kita lakukan jadi kita harus menuntaskannya "
devan kembali menyerang tiffanny dengan ribuan ciuman kepada fanny , tidak ada satupun lekuk tubuh fanny yang tak dia gapai.
sedangkan disebelah kamar itu , kedua pasangan suami istri itu saling ******* satu sama lain setelah persetujuan kedua belah pihak.
__ADS_1
baju keduanya sudah berceceran di lantai , untuk pertama kalinya setelah pernikahan mereka yang hampir 2 tahun barulah mereka melakukan ritual malam pertama itu.
jadi malam ini , kedua pasangan suami istri itu saling memadu kasih di dalam kamar itu dengan menahan suara erangan itu membuat mereka seakan tak pernah puas.