Cinta Di Hatiku

Cinta Di Hatiku
Kepergian Nenek yang tiba - tiba


__ADS_3

sekarang cucu dan nenek itu sedang duduk berdua menikmati waktu bersama.


" Sayang bisa belikan nenek kue yang disebrang jalan sana ?"


fanny melihat ke arah itu dimana pedagang tersebut memiliki banyak pelanggan.


" baiklah , nenek tunggu disini "


tiffanny mengambil tasnya lalu dia berhenti di pinggiran jalan menunggu mobil renggang untuk menyebrangi jalan.


dirasa mobil sudah jarang lewat dia pun menyebrang , dia mendatangi kue yang di pesan neneknya. ada beberapa pelanggang yang mengantri begitu pun dengan nya sesekali dia melirik ke arah nenek.


***


📱" sekarang waktunya " samuel berkata pada sebuah telpon.


( siap bos )


samuel mematikan ponselnya dan tersenyum smirk.


" maafkan aku sayang "


***


tiffanny tinggal menunggu pesanannya selesai , entah kenapa hari disana terlihat sangat ramai sehingga dia tidak bisa melihat neneknya.


nenek yang ada di bangku kursi itu sedang duduk nyaman sambil menunggu cucunya. seakan waktu berjalan lambat


tinnnnnnn


suara klakson mobil membuat nenek menoleh namun tanpa dia duga dan dia tau mobil itu mengarahnya seakan tidak sempat lagi untuk menyelamatkan diri mobil truk itu menerjang kursi yang diduduki nenek.


boooom


suara tabrakan itu sangatlah keras , membuat semua orang yang melihatnya menjerit keras.


tiffanny menerima pesanan itu dia juga terkejut saat mendengar suara itu. dia sedikit menjinjit untuk melihat sesuatu yang sedang terjadi disana.


namun dia sama sekali tidak bisa melihat karena banyaknya kendaraan yang berhenti maupun orang - orang berkerumunan.


" permisi , ada apa disana ?" tanyanya pada seorang pengguna jalan lalu lintas.


" ada kecelakaan disana , sebuah truk menabrak seseorang "


" terima kasih "


fanny sangat penasaran , namun dia teringat akan neneknya. semua orang berkerumun dimana tempat neneknya tadi duduk.


dia langsung shock dan berusaha menerobos semua orang yang ada disana.


dia berdiri kaku membisu seakan tak bisa bicara , tas berisi barang belanjaan neneknya berserakan di tanah itu. dan beberapa sisa kursi hancur.


Tidak ... itu tidak mungkin nenek , batinnya berkata dengan cemas .


mobil truk itu sudah hancur remuk bagian depannya menabrak sebuah pohon yang besar .


" Nenek " teriaknya mencari - cari nenek.


" Nenek dimana ?" teriaknya lagi.


" Apakah kau ? mencari seorang wanita tua ?" tanya seorang pria yang datang menemui.


" ya ... aku tidak tau dimana nenekku. tadi ... dia duduk disini " jawabanya dengan pelan.


" ikutlah denganku "


fanny berjalan pelan dibelakang pria itu , hatinya campur aduk takut sesuatu terjadi hingga kini dia tidak tau jika nenek lah yang menjadi korbannya.


langkahnya tiba - tiba terhenti begitu saja. matanya menatap kedepan dengan sendu dan air mata yang seperti akan tumpah.


" tidak ....tidak itu bukan nenek " gumamnya.


" nenek tadi sangat sehat , hei dimana nenekku ?" dia berusaha menolak semua yang dia lihat jelas - jelas dihadapannya neneknya sudah berlumuran darah disekujur tubuhnya.

__ADS_1


pria itu tidak menjawabnya , semuanya menundukkan kepala dan ada juga yang melihat dengan rasa kasihan.


" dia ... dia korban kecelakaan yang kau tunjuk tadi " sekarang pria itu bisa menjawabnya.


" tidak , nenek .... nenek " air matanya keluar begitu


" neneekkkkkkkk " teriaknya sembari menangis dan terduduk ditanah itu.


****


Hingga akhirnya nenek dibawa kerumah sakit dan dinyatakan meninggal saat itu juga dimana tempat kejadian tersebut.


hal itu membuat semua orang shock mendengarnya. disebuah ruangan jenazah itu nenek terbaring kaku tak bernyawa.


disana sudah ada micheal, kalista , rian , bi kali dan juga devan yang mengelilingi jenazah nenek semuanya menangis tak tertahan.


tetapi disana tidak terlihat sama sekali tiffanny. bi kali yabg sangat dekat dengan nenek menangis histeris karena dia sudah menganggap nenek seperti orang tuanya sendiri.


" hiks...hiksss "


rian mengelus punggung bi kali untuk memberinya kekuatan.


" Devan , dimana tiffanny ?" tanya micheal.


devan diam tak menjawabnya.


sedangkan dirumah nenek ji ucapan turun berduka terus berdatangan , sehingga disekeliling perumahan dan halaman itu dihiasi bunga ucapan turut berduka cita.


brian , raka dan ibunya sudah ada di rumah itu untuk mengurus semua orang yang datang untuk melayat. disana juga tidak tampak tiffanny entah dimana keberadaannya.


" Raka , hubungi suaminya kakak bilang semua nya sudah siap " kata christin.


" baik ibu "


Rumah sakit


devan sudah diberitahu jika semua persiapan sudah selesai , jadi sekarang nenek akan dibawa pulang. para suster menutupnya dengan kain putih lalu mendorong keluar brankar jenazah itu dari belakang semua yang ada didalam itu mengikutinya.


namun saat dilorong rumah sakit , brankar itu tiba - tiba berhenti karena suster yang mendorongnya menghentikannya.


tiffanny berdiri dengan wajah lesu , sembab dan seperti tidak ada semangat.


devan menghampirinya dan langsung memeluknya.


" Nenek ... apa dia sudah bangun ?" tatapannya kosong dan mulutnya bergetar.


hati devan teriris mendengarnya , dia menahan tangis dan lagi - lagi memeluknya.


begitu juga dengan rian , micheal , bi kali maupun kalista yang sangat sedih mendengarnya.


" kau dengar sendiri , tadi pagi ... nenek ingin mengajakku berbelanja , nenek hanya sakit kaki saja dia baik - baik saja kan ?"


" sayang " lirih devan.


" fannyy " ujar micheal.


" micheal kenapa kau ada disini ? dan ... semuanya kenapa kalian berkumpul disini ?"


" Nenekmu sudah meninggal " kata kalista.


" hei ! diam " bentak tiffanny.


" kalista " kata micheal memberi kode agar kalista tak melanjutkan perkataannya.


" sayang ... sayang sudah ya " devan berusaha menenangkan tiffanny.


tiba - tiba angin seakan masuk kelorong itu sehingga membuat kain itu sedikit terbuka , dan memperlihatkan wajah nenek.


" Apa yang kau lakukan devan ! kenapa menutupi nenek dengan kain itu ? ( dia mendekati nenek dan mengelus wajahnya ) nenek ....Fanny ada disini , nenek ingin aku terus bersama nenek bukan ... nennek bangunlah "


" sadarlah tiffanny ! nenekmu sudah meninggal " bentak kalista.


fanny menatap tajam kalista , dia marah mendengar itu.

__ADS_1


" dia tidak akan meninggalkan ku sendirian. dia sangat menyayangiku " gumam fanny.


" sayang ... sayang ayo kita pulang kerumah " ajak devan sembari memelul fanny lagi.


" Fanny , kita pulang dulu ya " saut rian.


" tapi nenek belum diobati , dia masih sakit " menatap devan dengan kosong.


devan mengelengkan kepalanya menahan tangisnya dia tidak bisa melihat tiffanny seperti ini.


" sayang ... dengar ya , nenek ... sudah tidak ada. nenek ... sudah meninggal " jelasnya dengan lembut.


" bawalah " kata devan pada suster itu.


" *nenek .... nenek papa dan mama sudah pulang kan ? dimana ? "


" sayang , papa dan mama sudah meninggal "


" ha ?"


" sayang "


" Fanny " kakaknya memeluknya.


dua kotak peti dihadapannya berisi sisa - sisa tubuh oranh tuanya. dia menangis di tengah - tengah peti itu.


" hikks.....hikss*."


semua masa lalunya kembali teringat di dalam otaknya, kejadian 21 tahun yang lalu kembali berputar. dia memegangi kepalanya yang terasa sakit dan dadanya sangat sesak.


" ha... ha " nafasnya memburu dan air mata yang jatuh tanpa bersuara.


" sayang .... sayang ada apa ? apa ada yang sakit ?"


" Devan , dia ... dia mengingat kembali masa lalunya " rian tau dan dia sebelumnya diberitahu nenek.


" maksudnya ? " tanya devan hal itu membuat semua orang penasaran.


" ha ... " dia mengerang menahan sakit


" papa .... mama hikss "


" tidak ... tidak ... aku ... "


" devan tenangkanlah dia dulu, kami akan segera mengantar nenek " ujar micheal.


" baiklah , terima kasih "


micheal , kalista dan bi kali meninggalkan ketiga orang itu. dimana tiffanny masih shock dan tak ingin mengakui semua faktanya bahwa dia sudah kehilangan semua nya.


****


dirumah itu semuanya berdiri menyambut nenek yang datang dibawa dengan peti. sampai saat ini devan , fanny dan rian belum juga datang.


nenek sudah dibringkan di tengah - tengah pelayat.


" *nenek , kau ibu sekaligus panutan untukku. kepada siapa lagi aku harus mengabdi sekarang. nenek orang terbaik yang pernah aku temui " batin bi kali.


" maafkan semua kesalahanku nek , mungkin nenek membenciku tapi aku sangat menyayangi nenek " batin brian*.


micheal menatap nanar nenek , kalista mengelus tangan micheal.


" kita tidak tau kapan harus kembali ketempat kita " kata kalista.


" seumur hidup aku tidak pernah mengenal nenekku. saat aku bertemu nenek aku merasa bahwa nenek adalah bagian dari hidupku. "


lalu dari balik pintu semua orang menatap kedepan, tak disangka samuel datang di hari ini. dengan langkah pelan dia mendatangi mayat nenek.


brian memandangnya dengan intens , seperti tidak suka dan takut jika dibalik ini semua ada sangkut pautannya dengan dia.


lalu beberapa saat juga , ketiga orang tadi sudah datang , devan merangkul pundak fanny dan membantunya berjalan.


hanya ada tatapan kosong dan air mata seakan habis tak tersisa. samuel menoleh saat tau tiffanny datang.

__ADS_1


" akhirnya kau merasakan apa yang kurasakan. kita ... sama - sama yatim sekarang "


__ADS_2