
Mereka sudah berdiri di tengah altar dengan saling memandang. devan tersenyum penuh arti kepadanya , sedangkan fanny hanya menatap tanpa tersenyum.
" Cium ... Cium ... Cium " sorak tamu undangan.
Perlahan - lahan devan mendekati wajah fanny dia matanya melihat bibi pink itu dia mendaratkan bibirnya sana.
" huuuuu " sorak tamu dengan meriah seraya tepuk tangan.
di kursi itu brian malah menoleh ke samping kanan nya dia tidak ingin melihat hal itu , hatinya terlalu lemah untuk menyaksikan bagaimana tiffanny di hadapannya.
Agatha melihat suaminya sambil tangannya terus bertepuk tangan. dan menatap nya iba.
( Maaf brian , kau harus melihat ini dihadapanmu sendiri. aku tau ini sangat menyakitkan. tapi kau juga harus sadar ... bahwa perempuan yang kau cintai bukanlah milikmu lagi. Aku sedih melihatmu sedih seperti ini , Namun aku juga senang melihat Tiffanny menikah dengan Dokter itu. )
sedangkan di depan itu devan masih menempelkan bibirnya , fanny masih diam tidak melakukan apapun. terlalu malu untuk membalasnya.
" Aku mohon , balaslah " gumam devan pelan.
" A- "
baru saja fanny membuka mulut untuk bicara malah devan semakin menciumnya dengan ******* yang penuh nafsu. tadinya fanny tidak ingin membalas namun ciuman itu menuntut nya untuk membalasnya sehingga dia berusaha untuk mengimbanginya.
" huuuu " sorak meriah penonton lagi.
setelah selesai berciuman, kini acara untuk pengambilan gambar pertama - tama kedua orang tua devan dan nenek fanny bersama - sama berfoto dengan mempelai pengantin.
orang tua devan dan nenek turun seteleh mengambil foto. kini devan pergi ke belakang panggung sendirian membuat fanny bertanya - tanya begitu juga dengan semua orang.
" kenapa pengantin pria meninggalkan pengantin wanita sendirian " bisik para tamu.
" Ada apa sayang, kenapa devan pergi ?" tanya hars.
" Aku juga tidak tau suamiku. " jawabnya khawatir.
" Anja apa ada sesuatu pada devan ?" tanya nenek.
" Tiffanny wang ... Yang sekarang , engkau telah menjadi istriku ... pendamping hidupku " suara lembut devan terdengar menggema dari ujung altar pernikahan. membuat fanny menoleh ke arahnya dan begitu juga tamu undangan.
" Terima kasih , sudah hadir dalam hidupku. " katanya sambil berjalan menuju ke arah fanny.
" Dulu ... Kita selalu bertengkar dan salah paham. Namun lama kelamaan , saat kau tidak ada di dekatku berhari-hari bahkan tidak melihat wajahmu membuatku khawatir. Dulu kau selalu menghindar dariku , tapi aku selalu berusaha mendekatinya dengan pertanyaan dariku yang membuatmu kesal. "
mata mereka bertemu saling menatap fanny mendengarkan apa saja yang akan devan katakan.
" Saat itulah aku sadar kalau aku sudah jatuh cinta padamu saat pertemuan pertama kali kita. dan apa kalian semua tau ? wanita ini sangat keras kepala , begitu gigih dan selalu mementingkan pekerjaannya. "
" Aku sering berpikir ... untuk apa dia lakukan itu sedangkan dia hanya seorang perempuan biasa, dan dari latar belakang keluarga berada. Tetapi saat aku melihat bagaimana caranya bekerja dan suatu hari aku juga pernah mendengarnya berkata seperti ini. "
" Bagaimana bisa aku tidak bekerja keras , ada begitu banyak karyawan yang bekerja dengan bergantung dengan hotel ini. Mereka adalah Alasan utama ku untuk mendirikan lagi hotel ini , tanpa mereka ...aku tidak melakukan apapun. Saat itu aku juga sadar kalau dia bukan hanya perempuan biasa. "
mendengar devan mengatakan semuanya , dan juga semua orang tahu bagaimana sifat fanny membuat semua orang terharu , dalam sekejap pernikahan itu berubah menjadi mellow.
" Aku bukan hanya jatuh cinta pada wajah dan parasnya , namun juga perilakunya. Sifat keras kepalanya , terkadang juga suka marah ( sambil terkekeh ) dan kebaikannya. "
__ADS_1
" Tiffanny ... I Love you , aku sangat mencintaimu. Aku berjanji tidak akan pernah menghianatimu dan meninggalkanmu dalam keadaan sulit atau senang. Aku harap .. kau membalas cintaku. " katanya lagi.
fanny termenung laki - laki ini benar tulus mencintainya. kata -katanya keluar dari hati langsung bukan hanya sekedar ucapan saja.
entah dorongan dari mana , fanny memberanikan diri untuk memeluk devan. devan tak percaya fanny memeluknya dihadapan orang banyak tanpa menyia - nyiakan waktu dia membalas pelukan.
malam itu pesta pernikahan terlaksana dengan lancar dan membahagiakan , para tamu kompak mengucapkan selamat menempuh hidup baru berbaris - baris dan berbondong - bondong.
" Kau tidak ingin mengucapkan selamat ?" tanya agatha.
" Aku ingin pulang, aku sangat lelah " jawab brian.
****
malam semakin larut , kini keduanya sudah berada di dalam kamar hotel. kamar itu berubah drastis menjadi sangat romantis.
Fanny terduduk pinggiran ranjang itu, dia gemetar dan juga gugup. Bahkan kamar ini membuatnya merinding tidak seperti malam pernikahan sebelumnya.
" Aku baru tau kalau istriku sangat pintar melakukannya " kata devan sambil duduk di sebelah fanny tanpa jarak. fanny menggeser sedikit tubuhnya.
" melakukan apa ? kau jangan macam - macam " balasnya dengan gugup.
devan tersenyum mendengarnya dan menghadap fanny.
" Ternyata seorang Tiffanny lebih tau banyak hal tentang percintaan " goda devan.
" kau memelukku tadi ternyata istriku sangat agresif juga" bisiknya di telinga fanny. hal itu membuat fanny merinding lalu mendorong tubuh devan dengan pelan.
namun siapa sangka devan terjatuh ke kasur begitu saja dan menutup matanya.
" Hei , devan ... kau jangan berpura - pura " kata fanny yang panik itu.
" devan " katanya lagi sambil menyentuh pipi devan.
devan tersenyum kecil , namun fanny tidak melihatnua dia sibuk berpikir apa yang harus dilakukan.
" aku hanya mendorongnya pelan "
" ya ampun . apa dia mati ? tidak ... tidak bagaimana mungkin besok berita tersebar kalau suami meninggal di malam pertamanya. " ucap pelan.
devan menahan tawanya dia ingin tertawa namun harus dia tahan, bisa - bisanya istrinya berpikir begitu. padahal dia hanya sedang bercanda saja.
" Devan ... devan bangun devan, walaupun begini ... aku tidak mau menjadi janda diusiaku sekarang. Kita baru menikah , apa kau tidak mau menjadi suamiku ha ? devan bangunlah .. "
fanny terus menyenggol tubuh devan , lalu secepatnya devan mencekali tangan fanny dan kini fanny berada di bawah kungkungannya.
" kau berbohong padaku " desis fanny.
devan menyeringai " rupanya kau takut aku mati ya , juga ... tidak mau jadi janda " goda devan lagi.
" aku mengatakan itu karena ... " fanny diam sejenak dia harus berpikir apa yang harus dia lakukan.
__ADS_1
" Karena apa hmm .." devan berusaha membuai fanny dengan perlakukannya , dia menyibakkan rambut yang menutupi rambut fanny.
" Hanya ... hanya terucap saja. " jawab fanny.
devan kembali menyeringai, " sayang apakah matamu sakit ? matamu sedikit merah "
" hufttt " Devan meniup pelan mata fanny itu. membuat fanny berkedip dan akan mengucek matanya.
tetapi dihalangi devan " aku akan membantumu " devan sama sekali tidak membiarkan fanny melakukannya dia terus mengelus mata itu dengan perlahan.
" Kau merasa nyaman ?" tanya devan lembut.
" hmm " fanny mengangukkan kepalanya.
"Sayang ... Bolehkan ?"
fanny mengernyitkan dahinya , dan devan menghentikan Elusannya di mata fanny.
" Apa masih tidak boleh ?" tanya devan lagi.
" Aku sedang ... Tidak bisa " ujar fanny pelan , kedua mata mereka bertemu.
" Kenapa ? masih tidak percaya padaku ? Dunia sudah tau kalau kita adalah pasangan sekarang " tanya devan lagi.
" Bukan begitu , a- aku ... " fanny mendorong tubuh devan yang ada di atasnya , lalu dia berusaha untuk duduk. dan dia menundukkan kepalanya.
" Lalu apa ? kenapa aku tidak bisa melakukannya ?"
" Kau mungkin menganggapku sebagai alasan saja tapi sungguh , kali ini aku memang sedang tidak bisa "
" Ha ? sayang, apa kau sedang Menstruasi ?" yang baru menalar itu.
fanny mengangukkan pelan kepalanya , Devan memejamkan matanya dia sudah banyak berpikir yang tidak - tidak.
" sejak kapan ?"
" Pagi tadi "
( astaga , bahkan aku harus menunggu selama 1 minggu lagi )
devan membuang nafasnya kasar , tiffanny segera meninggalkan nya dia ingin mengganti pakaian dan juga pembalutnya. dia sudah gerah dengan pakaian ini.
saat di kamar mandi dia mendapat dirinya yang masih dengan riasan dan gaun pengantin.
( Tiffany kenapa kau harus jujur padanya. apa setelah selesai dia akan menagihnya lagi )
segera dia menggelengkan kepalanya menjauhkan semua pikiran itu , dia harus segera mengganti semua yang melekat pada tubuhnya ini.
cukup lama devan duduk di ranjang , dia sudah membuka tuxedonya dan hanya tersisa kemeja putih dan celana hitamnya. dia menunggu fanny keluar dari kamar mandi.
ceklek
dengan malu - malu fanny melangkahkan kakinya keluar , kaki jenjang mulus itu terlihat , dia hanya mengenakan kemeja putih yang kebesaran.
__ADS_1