Cinta Di Hatiku

Cinta Di Hatiku
Optimis dan Pesismis


__ADS_3

devan sudah sampai dirumah sakit, dia segera mengganti pakainnya yang tadinya memakai kemeja kini memakai baju setelan khusus berwarna biru


tangannya sudah memegang gunting khusus dan dia ditemani beberapa suster lainnya.


" Dokter Pendarahan di Perutnya tidak terhentikan "


" Lakukan Kauterisasi "


" baik dokter "


malam itu ... dia menghabiskan waktu istirahatnya untuk menyelamatkan 1 nyawa insan manusia. beberapa jam dia mengoperasi pasien itu membuat pinggangnya terasa nyeri , dia membungkukkan badannya dan tanggannya bertumpu pada dengkulnya.


" ck ck sepertinya dokter bedah kita sudah termakan usia sekarang " Ujar dion yang juga baru keluar dari ruang operasi.


devan hanya meliriknya, dia pun berusaha menegakkan tubuhnya lalu devan memukul bagian punggung devan.


" Besok kau libur tenang saja. rumah sakit masih memberikan kita kemudahan " kata dion.


" Kata siapa ?" tanya devan.


" Aku sudah bilang pada ketua , untuk libur di keesokan harinya saat kita lembur seharian. dia menyetujuinya "


" Terkadang kau juga bisa diandalkan. " devan menepuk - nepuk bahu dion dan meninggalkannya sendirian.


dion terkekeh melihatnya " Setelah menikah dia terlihat lebih berisi dan mudah lelah. ck pengantin baru memang suka menguras keringat mereka. " ujarnya sambil terkekeh sendiri.


jam 4 pagi devan baru pulang dari rumah sakit, dia membuka perlahan pintu takut jika menganggu tidurnya fanny.


dia tidak mandi dan membersihkan diri karena sudah terlalu lelah dan langsung ikut tidur di sebelah fanny dan memeluknya seperti biasa.


***


pagi harinya fanny sudah bangun dan melihat wajah lelah devan itu , dia merasa kasihan. dia mengangkat tangan kanan devan dan dia segera bangun lalu menyelimuti tubuh devan.


dia segera siap - siap untuk kembali bekerja seperti biasa. beberapa saat kemudian dia sudah selesai dan sudah siap dengan pakaiannya. dia memandangi devan yang masih tertidur itu.


Fanny memicingkan matanya saat dia lihat devan tertidur masih memakai dasinya. itu hal yang tidak nyaman kenapa devan bisa tidur seperti itu pikirnya. dia pun melangkahkan kakinya ke arah devan.


sejenak dia memandangi wajah itu lagi, kemudian dia mengarahkan tangannya ke leher Devan. dengan pelan dia berusaha membuka ikatan dasi itu.


devan terbangun dia mencekal tangan fanny dan membuat fanny berada sangat dekat di depan Dadanya.


" Sayang ... apa kau ingin aku melakukannya sekarang ?" tanyanya dengan mata yang masih terpejam sembari tersenyum.


" Pikiranmu selalu Menjurus ke hal lain. aku berniat baik, kau tidur mennggunakan dasi apa kau merasa nyaman ?"


" hmm tentu saja tidak, cepatlah buka. bajunya juga ... aku akan mengangantarmu ke hotel "


fanny melepaskan cekalan tangan devan dan segera berdiri.


" ck kau buka saja sendiri. sepertinya kau pulang pagi aku bisa sendiri. Atau nanti menelpon rian saja "


" tidak ! rian hanya sekretarismu di hotel tapi diluar rumah dia bukan sekretarismu. aku yang akan melayanimu " tegas devan yang segera bangkit dari ranjangnya.


" Aku lupa. ingatlah nanti malam kita akan tinggal di rumah baru , dan nanti malam ... Kita harus merayakannya dengan Romantis nanti " bisik devan yang membuat fanny tegang seketika.


cup


ditambah kecupan di bibir fanny, fanny tak mampu berkata apapun lagi.

__ADS_1


***


shitt


devan mengerem mobilnya , dia tersenyum melirik wajah fanny. fanny melepaskan selt belt nya sendiri.


" Aku jemput nanti sore ya. "


" iya "


" aku harus segera kedalam " sambung fanny.


" tunggu "


ucapan devan itu membuat fanny tidak jadi keluar dari mobil. dia memandang wajah devan dengan penuh tanya.


cup


devan mencium bibir fanny dia berusaha ********** namun fanny hanya diam tak membalasnya.


cukup lama devan mencium sendiri fanny hingga fanny mendorong dada devan.


" Aku harus bekerja " gumamnya pelan dia salah tingkah dibuatnya. devan hanya tersenyum melihatnya.


" hmm , aku akan menunggumu nanti malam " balas devan.


Tanpa menjawab fanny segera keluar dari mobil, dia berjalan seorang diri menuju ke bagian dalam hotel. kebetulan rian juga baru datang jadi mereka berjalan bersama.


***


hari ini devan akan akan pindah kerumah barunya, dia berharap jika hanya berdua saja akan membuat dia dan fanny semakin dekat selain itu juga dia ingin mengurus semua kehidupan pernikahannya seorang diri. karena dia orang yang selalu berusaha untuk mandiri.


" Nenek " panggilnya , sontak nenek yang sedang menyirami bunga itupun langsung menoleh.


" Iya nak , kau sudah siap rupanya. "


" Nek aku pergi ya, Besok kami akan datang kesini mengambil semua barang yang tersisa. "


" Iya. kapanpun kalian ingin datang rumah ini selalu terbuka lebar untuk kalian. "


" terima kasih nek " ucapnya seraya rersenyum.


***


" Pak Tama apa semuanya baik - baik saja ?" tanya fanny yang saat ini dia sedang di kantor bagian Humas.


" Iya bu. seperti yang ibu lihat semuanya bekerja dengan baik. ada begitu banyak pekerjaan jadi mereka semua sangat sibuk " jelas pria yang agak tua itu.


" hmm " fanny mengangukkan kepalanya memperhatikan kesemua ruangan.


" Bagaimana dengan karyawan yang akan mengundurkan diri itu ? katanya dia pekerja yang baik apa alasan dia harus berhenti ?" tanyanya.


" Untuk masalah itu saya juga tidak tahu bu , hanya saja dia pernah bilang katanya...dia baru menikah jadi dia akan tinggal dengan istrinya lalu dia juga diterima pekerjaan yang dekat dengan tempat istrinya itu. "


" Maaf bu , ini Agent rate terbarunya yang sudah diperbaharui. ibu bisa melihatnya dan jika ada kesalahan saya akan membuatnya yang baru. " kata seorang perempuan yang datang menghampirinya.


fanny segera menerimanya lalu dia membukanya, memperhatikan laporan yang diberikan karyawannya itu.


" Ini sudah benar , berikan saja pada Sekretaris rian dia yang akan menanganinya. "

__ADS_1


" Baik bu, saya permisi "


Setelah memeriksa bagian humasnya fanny berjalan disetiap lorong hotel. dia sudah menyelesaikan pekerjaannya. tumben sekali pikirnya dia bisa bersantai seorang diri.


ceklek


" Tentu saja , kita akan pergi honeymoon ke Belanda kita akan melihat kincir angin disana "


fanny hanya mendengarkan percakapan sepasang suami istri yang mungkin baru saja menikah itu. dia langsung teringat akan malam ini.


seketika dia diam, dia memikirkan bagaimana jadinya. jika dia menolak lagi mungkin devan akan sangat marah kali ini. namun jika dia tidak menolak , ah ... serba salah pikirnya.


" Dor " dari belakang rian tiba dan mengejutkan fanny.


fanny memicingkan matanya, dia sudah gugup tetapi devan malah mengejutkannya.


" ada apa ? apa ada masalah ?" tanya rian.


" Tidak ada "


" Tapi lihat ... wajahmu terlihat takut , ceritalah " Rian memandang fanny seketika lalu fanny mengarah ke arah lain tidak mau wajah gugupnya dilihat.


rian menahan tawanya melihat wajah fanny, kemudian mereka berjalan bersama di lorong hotel.


" Devan membeli rumah dan dia ingin aku tinggal disana. "untuk pertama kalinya fanny memberitahukan tentangnya ke Rian.


rian meliriknya " Lalu ? kapan kalian akan pindah ?"


" hari ini "


" Dimana ?"


fanny menggelengkan kepalanya " Dia tidak memberitahuku dimana, dia akan menjemputku sebentar lagi dan membawaku kesana "


" jadi itu masalah " Ujar rian pelan.


" Hmm , kurang lebihnya " saut fanny dengan suara kecil.


" aku yakin ... dokter devan akan menjagamu dengan baik, dia juga bertanggung jawab. jangan takut padanya ... dia tidak akan menyakitimu. "


" Kenapa kau begitu yakin padanya ?" kini fanny berhenti dan menatap wajah rian.


" ya ... karena aku yakin saja , dia terlihat sangat mencintaimu. " jawab rian yang juga memandangnya.


" Bagaimana denganmu ?" tanya rian.


" aku ... " Suara fanny mulai pelan, matanya menunduk tidak tau harus menjawab apa.


" Tenang saja , lambat laun ... Kau akan mencintainya. Bisa aku mengatakan sesuatu ?" tanya rian hati - hati.


" hmm "


" aku bukannya membandingkan Brian dan dokter devan, hanya saja ... aku lebih yakin dengan dokter devan. keduanya seperti bersikap berlawanan yang satu optimis dan yang lainnya Pesimis. "


" Kau tau kenapa aku mengatakan itu ?" fanny langsung menggelengkan kepalanya.


" Ya , Brian adalah orang baik namun dia seperti mempunyai ketakutan yang bisa bahkan mudah menyerah. Namun dokter devan ... dia sangat optimis, selalu berpikir hal yang positif dan juga selalu yakin terhadap keinginannya. salah satu contohnya ... yaitu menikahimu. "


jika dipikir - pikir ucapan rian ada benarnya, devan tidak pernah menyerah bahkan selalu memiliki rencana. dia tidak takut akan kegagalan. sedangkan brian terkadang dia bisa menyerah jika yang dia pikir sudah gagal.

__ADS_1


__ADS_2