
devan sudah siap dengan kemeja garis - garis biru itu dia sudah tampan dan nampak gagah. dia tersenyum berbalik menghadap tiffanny setelah berkaca.
" bagaimana ?"
" hmm pasienmu akan segera sembuh saat melihat penampilanmu "
" sungguh ? kalau begitu istriku harus cepat sembuh juga " dia mendekati tiffanny lalu mengecup keningnya yang masih terasa panas.
" aku hanya demam , akan segera pulih nanti siang. "
" aku meminta tolong kalista untuk datang menemanimu, aku takut kau bosan sendirian. "
" kalista ? bahkan aku akan lebih bosan saat bersamanya "
" sayang "
" iya ... iya aku hanya bicara asal , tapi dia memang begitu diam dan juga bicara ceplas - ceplos dan aku juga ... tidak terlalu banyak bicara "
" setidaknya dia akan memarahimu saat melanggar perintahku "
" yasudah pergilah kau sudah sangat terlambat " menatap devan seraya tersenyum.
" baiklah sampai jumpa nanti malam ya , mau aku belikan sesuatu nanti ?"
tiffanny sedikit memikir makanan apa yang enak untuknya nanti malam. devan menahan tawanya melihat itu terkadang ada sisi lucunya juga tiffanny itu baginya.
" sate , aku mau sate "
" oke permintaan ratuku akan segera datang nanti malam "
" tapi cium dulu " dia memajukan bibirnya , melihat itu fanny memincingkan matanya.
" ayo sayang " katanya lagi.
cup
" penurut sekali , dah aku mencintaimu sayang "
" hmm aku juga " gumamnya.
***
tak lama devan pergi , rumahnya seperti dimasuki seseorang. dia mendengar langkah kaki saat akan berdiri pintunya terbuka.
" hei apa yang kau lakukan ? naikkan " teriak kalista.
" hei ! kau meneriakiku ?" teriaknya tak kalah besar.
" ya , kenapa memang ? " dia mendekati tiffanny lalu menyelimuti tiffanny.
" gara - gara kau sakit suamimu dan micheal memintaku menemanimu , pekerjaanku harus ku tunda " katanya sambil mengoceh.
" kau tidak ikhlas ?"
" kata siapa ? "
" kataku "
" sudahlah begini - begini aku juga baik. jangan bergerak dari tempat tidurmu atau aku telpon suamimu "
" cih "
kalista melepaskan tasnya lalu menaruhnya di sofa , dia membuka gorden sehingga cahaya matahari memasuki kamar itu.
" wah ! indah juga pemandangannya , apa disini ada rumah kosong ? aku juga ingin membelinya ?"
" hmm pilihan devan memang yang terbaik ,kau tanya saja dengan dia. aku lihat di depan sana ada rumah kosong "
" kau memujinya ? yah ! bahkan kau dulu tidak meliriknya "
" itu dulu , sekarang berbeda ( sambil tersenyum ) "
" kalista , ambilkan aku remote tv. tolong ! "
" kau harus membalasnya nanti "
***
shittt
__ADS_1
mobil devan berhenti disebuah rumah besar berwarna cream itu. rumah siapalagi kalau bukan micheal urusannya belum selesai sebelum dia membalas perbuatannya kepada istrinya tiffanny.
dia berjalan dengan gagahnya dan wajah yang mengeras tajam , dia menaiki beberapa tangga di pintu utama namun saat akan masuk dia lebih dahulu melihat samuel yang keluar berjalan dengan santai.
santai sekali pikir devan dia berjalan cepat
" bugh " satu pukulan keras mengenai wajah samuel , alhasil membuat memar di bibirnya bertambah.
" berani sekali kau ! " teriak samuel.
dia memegang tangan samuel dan memelintirnya kebelakang dengan kuat dan wajah yang memerah karena marah.
" tanganmu ini kan yang memukul istriku lalu mencengkram nya dengan kuat ? " bentaknya.
samuel tersenyum saja mendengarnya " hanya itu belum cukup untuknya , wajah cantiknya tidak rusak karena satu pukulan. "
devan memukul betis samuel menggunakan kakinya dia tidak tahan mendengar orang lain menyebut tiffanny seperti itu.
" ah " samuel meringis kesakitan , tapi dia hanya tersenyum miring seakan tak merasakan sakit.
" tidak lama lagi kau akan dihukum untuk kesalahanmu dan tindakan yang melukai wanitaku ! "
" benarkah ? dia wanitamu ? are you seriuosly ? " dia terkekeh mendengarnya.
" dokter devan ... anda jangan naif , dia bukan wanita yang suci kau harus tau , dia sudah jadi bekasan brian " samuel berusaha mempengaruhi devan.
devan hanya tersenyum miring dan semakin mengeratkan pelintiran di tangannya samuel.
" kau tidak tau apa - apa jadi diam saja ! ingatlah jika aku melihatmu mendekatinya bahkan melakukan sesuatu kepadanya aku tidak akan diam. aku juga bisa melakukan hal yang seperti kau lakukan "
" ah "
" kau sudah tua , umurmu sudah rentan lebih baik kau bertaubat dan baca kitabmu itu memohon pada tuhanmu. jangan memcampuri urusan orang lain "
" kau lupa siapa aku ha ? aku pemilik rumah sakit tempat mu bekerja aku akan mengeluarkanmu sekarang juga " bentak samuel yang berusaha keluar dari cekelan devan.
" milikmu atau milik mertuaku ? benar ... milikmu sekarang , karena kau merebutnya dari mertuaku. ah devan kau bodoh sekali kenapa harus menjadi karyawan penjahat ini , ck tanpa kau yang mengeluarkan aku aku juga akan keluar dari rumah sakit itu. tapi satu hal yang harus kau tau ... semua dokter dan pekerja lainnya tidak akan menerima jika aku keluar dari rumah sakitmu , setelah kejadian kemarin kau tidak ingat ? pikirkan konsekuensinya "
" lepaskan aku ! "
" baik "
" ini peringatan pertama dan terkahirku ! " devan segera pergi dengan rasa puas disana. seakan - akan ada singa yang memasukinya.
dia tidak suka apa yang dia miliki di ganggu bahkan dilukai orang lain , tak peduli betapa besar dan kuatnya lawannya itu.
siapapun yang melukainya , aku akan berada di garda terdepannya. aku akan menjadi satu - satunya pria , suami , keluarga dan orang yang sangat ia percayai untuk menjadikanku sebagai tempat berlindungnya.
dia menaiki mobilnya dengan kecepatan penuh dia meninggalkan wilayah rumah itu.
sedangkan didalam samuel membanting semua apa yang ada disekitarnya , guci besar itu menjadi incarannya lalu dia dorong sekuat tenaga sampai akhirnya dia memcahkannya.
" jacksoooon " teriaknya.
" kau , putrimu dan sekarang menantumu. aku bersumpah akan membuatnya menderita !!!! "
" bagaimana dia bisa tau semuanya , apa yang terjadi ? apa aku melewatkan sesuatu ?" pikirnya.
***
tiffanny seharian ini hanya sibuk menonton televisi , kalista hanya menggeleng kepalanya melihatnya seperti anak kecil saja.
ini sudah pukul 6 sore dia melirik ke luar jendela hari mulai gelap dan matahari sudah hampir terbenam seutuhnya. dia pun menutup jendela dan gordennya.
" hei aku akan pulang sekarang, kau tidak apa kan kutinggal sendirian ?"
" hmm tidak apa " memgangukkan kepala tanpa menoleh.
" ck berhentilah menonton televisi apa kau tidak bosan ?" dia merebut remote itu lalu mematikannya.
" hei " teriak tiffanny yang reflek itu.
" aku rasa dokter juga akan sama sepertiku , berhentilah menonton istirahat saja dan cobalah untuk tidur. aku ingin memberimu makan tapi aku juga tidak bisa masak kau mau aku pesankan ?"
" tidak , pulanglah nanti micheal mencarimu. sebentar lagi devan akan pulang "
" hei kau mengusirku ?"
" aku itu baik pulanglah dan temani micheal bicara setelah bekerja dia akan banyak bicara jadi kau dengarkan dia bicara "
__ADS_1
" bagaimana kau bisa tau ?" tanya kalista yang penasaran.
" ya .. tau saja "
" baiklah aku pergi , tetaplah disini " samil menunjuk - nunjuk menggunakan jari telunjuknya.
" hmm terima kasih " ucapnya.
" diterima "
" sampai jumpa "
setelah kepergian kalista tiffanny merasa bosan , akhirnya dia kembali merasakan kesepian. ditatapnya seluruh ruangan yang dikamar itu.
" huu " dia mendesah pelan lalu menidurkan kembali tubuhnya.
" kenapa lama sekali , aku ingin cepat bertemu dengannya " katanya seraya mengelus lembut bantal devan.
sampai akhirnya dia ketiduran sambil memeluk bantal kepala devan , dia merasa tenang dan nyaman sampai terlelap.
pukul 9 malam barulah devan kembali, dia membuka pintu luar dengan kunci cadangan yang dia pegang. dia membuka sepatunya.
setelah selesai ia langkahkan kakinya kekamar atas , sangat sepi pikirnya mungkinkah fanny sudah tertidur. padahal dia sudah membawakan pesanan tiffanny.
ceklek
dilihatnya tiffanny tidur dalam posisi miring menghadap ke jendela , dia taruh bungkusan makanan itu di meja dan mrnghampiri tiffanny.
dipegangnya kening itu untuk memastikan masih demam atau tidak.
" syukurlah " gumamnya
" sayang ... sayang "
fanny mengerjapkan perlahan kedua matanya , dilihatnya devan yang duduk di pinggi ranjang dekatnya.
" kau sudah pulang ?" tanyanya dengan suara serak dan berusaha bangkit dari tidurnya.
" hmm , maaf aku terlambat aku pikir aku tidak akan lembur. " sambil mengelus rambut tiffanny.
" jangan meminta maaf kau tidak salah. kalista sudah pergi tadi aku memintanya segera pulang aku takut aku terlalu merepotkannya "
" ya ( mengangukkan kepalanya seraya tersenyum ) aku tau dia menelpon ku "
" oh ya aku sudah membelikan sate nya , tunggu sebentar ya kita makan bersama. "
tiffanny mengangukkan kepalanya sebelum pergi devan mengecup singkat kening tiffanny.
***
keduanya sedang menikmati sate yang dibeli devan itu , dengan tambahan nasi sebagai pelengkapnya. devan juga selalu menyuapi tiffanny.
" makanlah juga kau lapar kan "
" setelah dirimu , buka lagi mulutnya sayang " tiffanny mengambil sendok yang dipegang devan lalu memutarkan arahnya ke mulut devan.
" aaaa " gumam fanny.
devan tersenyum lebar lalu dia membuka mulutnya " minum ?" tawar fanny.
" hmm " fanny mengambil air minum yang ada disebelah nakas dan memberikannya pada devan.
" beberapa hari lagi ... persidangan dimulai, aku mengkhawatikanmu jika nanti dia membuat ulah dipersidangan dan melukaimu. "
" ada begitu banyak orang disana , dia tidak akan berani melakukannya. "
" tetap saja aku tidak tau kenapa selama beberapa hari terkahir ini hatiku tidak tenang seakan sesuatu akan terjadi nanti. "
" dan kau percaya itu ? "
" entahlah "
tiffanny menggenggam kedua tangan devan setelah dia menaruh nampan berisi nasi dan sate itu di ranjang.
kedua manik mata mereka saling bertemu " jika kau tidak percaya bagaimana mungkin aku bisa yakin. kau sudah berjanji untuk mendukung semua yang kulakukan, dan sekarang ... aku hanya perlu kau mendukungku dan mengatakan 'Aku percaya padamu semuanya akan baik - baik saja'. "
devan mengangkat tangannya mengelus pipi itu dengan lembut.
" aku .. percaya padamu " ucap devan lembut yang memebuat tiffanny merasa senang.
__ADS_1