
fanny mengerjapkan matanya lalu membuka perlahan, orang yang pertama kali dia lihat sekarang yaitu devan. devan sedang membaca kertas itu dengan seksama.
" Kalian satu kamar ?" tanya devan tanpa menoleh ke tiffanny, dia sudah tau kalau fanny sudah bangun.
" memangnya apa masalahnya, disana tidak ada kamar lagi. hanya istirahat sejenak tidak menginap " jawab fanny yang langsung bangun dari ranjang itu.
" tunggu " cegah devan yang sudah memegang lengan kanan tiffanny.
" lepas " ujar fanny.
" aku bilang lepas! " tegas fanny lagi.
" Jangan berteriak kepada suamimu ! aku tidak suka marah. tapi dengan sikapmu seperti ini aku bisa marah lebih dari yang kau bayangkan " tekan devan , dia menatap tiffanny dengan tajam.
" Lalu kau mau apa ? "
" Penjelasan ! semuanya. "
fanny duduk lagi di ranjang dan melepaskan tangannya dari cekalan devan.
" aku terlambat karena jam penerbangan diundur akibat cuaca buruk, dan hotel itu. kami memesen hanya untuk membicarakan sesuatu dan istirahat makan siang , itu saja "
" Fanny ... setidaknya kau mengabariku. aku sangat khawatir padamu. Apa kau tidak punya ponsel sampai tidak bisa menghubungiku " kata devan yang kini melembut.
" aku tidak memegang ponsel setiap waktu. aku juga lupa"
" Kau lupa padaku atau memang sengaja ?" hardik nya.
" Terserahlah "
fanny beranjak dan segera pergi dari kamar itu, devan menghela nafas panjangnya. Tiffanny benar - benar keras kepala pikirnya.
di lantai bawah nenek sedang duduk santai di sofa sambil membuka majalah kesukaannya dan juga kopi hangat. kali datang membawakannya camilan dan segera berlalu.
Tiffanny turun kebawah seorang diri dia sudah siap untuk ke hotel. tak lama devan juga turun yang sudah rapi dengan kemejanya untuk kerumah sakit.
Fanny menghampiri nenek untuk menyapanya, karena dari kemarin dia tidak bertemu sekali dengan nenek.
" Nek "
mendengar fanny memanggil namanya nenek menaruh majalah itu lagi. dan melihat fanny.
" eh fanny , sudah pulang ya. duduklah dulu mau nenek ambilkan sarapan ?"
" Tidak usah nek, aku hanya ingin melihat nenek "
" kalian berdua pergi bersama ya ?" tanya nenek.
" tidak nek " kata tifanny
" iya nek " kata devan.
mereka serempak menjawab namun berkebalikan, membuat nenek terheran - heran.
" Kalian bertengkar ?" selidik nenek.
" Tidak "
" iya "
fanny menoleh ke arah devan dan memincingkan matanya sedangkan devan juga menoleh kepadanya dan menatap santai fanny.
" nek aku pergi dulu " ujar fanny yang ingin menghindari ceramah dari neneknya.
" eh tunggu " cegah.
" Duduklah sebentar ini masih pagi bukan , ayo devan duduk "
tiffanny tidak bisa menghindar lagi dia pun menuruti nenek dan duduk. devan juga duduk disebelah fanny tanpa jarak.
" Fanny , kau ingin mengatakan sesuatu ?"
__ADS_1
fanny menggelengkan kepalanya.
" Devan ?"
" Dia tidak mau menurut denganku nek , padahal ... baru 2 hari yang lalu menikah "
" hmm nenek mengerti sekarang. Fanny kau harus menuruti kata devan jangan membantah dan juga menolaknya , jika sampai nenek mendengarnya ... Nenek tidak mau minum obat "
" Nek , apa sampai sebegitunya. baiklah ... Aku akan mendengarkannya " ujarnya yang sudah pasrah itu.
***
devan dan fanny sudah ada di dalam mobil, devan akan mengantarnya ke hotel. ini pertama kali dilakukannya sebagai pasangan suami istri.
" Aku akan menjemputmu nanti "
" hmm "
tak butuh waktu lama mereka sudah sampai di depan hotel tiffanny, tiffanny memintanya untuk mengantar sampai depan saja.
" yakin turun disini ? begitu banyak orang disini " ujar devan yang memperhatikan sekitarnya.
" iya tidak apa , ini sudah siang nanti kau terlambat jika mengantarku sampai ke dalam " balas tiffanny sambil tangannya membuka selt belt mobil.
devan tersenyum mendengarnya " Apa ini bentuk perhatian darimu ? "
" Jika tidak suka anggap saja aku tidak pernah bicara "
" Tunggu sebentar , sebentar saja ... "
" ada apa ?"
devan mendekatkan wajahnya perlahan fanny memundurkan wajahnya. " Ada rambut kecil di pipimu " bisik devan di telinga fanny.
fanny sudah salah paham dia pikir devan akan menciumnya untuk mengurangi rasa malunya dia bersikap tenang seperti biasa.
" kau pasti berpikir aku akan menciummu. kau benar .. tadinya iya tapi setelah aku lihat lebih dekat, aku harus membuangnya. agar wajah ini bersih dan juga ... Terlihat cantik " ujarnya sambil tangannya mengelus pipi fannny.
deg ... deg .. deg
devan bisa mendengar detak jantung itu, dia merasa bahagia karena akhirnya jantung itu berdetak kuat ketika dia sangat dekat dengan tiffanny. itu artinya ada harapan jika fanny akan membalas cintanya.
***
Di dalam ruangannya tiffanny sedang mengerjakan pekerjaannya dengan tenang. namun sesaat dia berhenti dari aktivitasnya dan berpikir.
( Apa aku sudah mengambil keputusan yang benar , atau aku akan menyakiti nya. bagaimana jika aku tidak bisa mencintainya ... aku akan merasa bersalah)
dia mengambil kertas yang agak kusam dari balik lacinya , dia membukanya dan membacanya
U***ntuk tiffanny anakku
Dari Mama
sayang , saat kau melihat ini ... mungkin kau tidak akan bisa melihat mama, tapi mama berharap jika itu hanya pikiran negatif saja.
akan terasa menyenangkan jika kita bersama - sama. namun jika takdir berkata lain kita harus menerima nya lapang dada.
Anakku , putriku , mama sangat menyayangimu. mama tidak ingin melihatmu terluka , harus selalu kebahagiaan yang menyertaimu.
putriku Tiffanny, usia mu sudah 25 tahun. itu artinya sebentar lagi atau mungkin kau sudah menikah. jika kau sudah menikah , mama harap pria itu adalah pria yang amat mencintaimu sama seperti papamu mencintaimu. tetapi jika belum, maka mama berharap kau menikah dengan Devan. Kau ingat kan sayang anak teman papa dan mama.
Dia anak yang baik sekali. jika menikah dengannya pasti mama akan senang. tetapi mama tidak akan memaksa. karena kebahagiaanmu lebih besar dari apapun.
terima kasih sudah menjadi putri ku yang manis, cantik dan juga baik. maaf jika saat kau membaca ini mama sudah tidak bisa bersama mu.
kami akan selalu mencintaimu sayang***.
air matanya jatuh seketika , itu alasan dia tidak menolak sekalipun. Dia juga tidak menolak karena ada alasan tertentu yang tidak bisa ungkapkan.
rasanya benar-benar sakit , saat orang yang ingin melihat dia menikah malah sudah pergi jauh sebelum dia besar. hatinya harus kuat tekadnya.
__ADS_1
tok..tok..tok
dia segera menghapus air matanya dan menyimpan lagi kertas itu.
" maaf menggangu bu, ini laporan Keuangan bulan ini. saya sudah memeriksanya " kata sania.
" terima kasih sania , dimana aku harus tanda tangan ?" tanyanya.
" disebelah kiri bawah bu "
tiffanny pun menanda tanganinya , dia hari ini tidak melihat rian pikirnya mumpung ada sania dia tanya saja pada nya.
" Sania apa Sekretaris Rian tidak masuk hari ini ?" tanyanya.
" Pak Rian mendatangi acara pembukaan hotel di Galaxy Hotel bu , mungkin sore nanti baru kembali "
" baiklah "
..
sore harinya devan sudah menunggu tiffanny di parkiran bassment bawah, dia ingin masuk tapi tiffanny bilang lewat telpon kalau dia akan turun jadi dia tunggu saja dibawah.
2 menit kemudian tiffanny keluar dari pintu kaca dengan cantiknya dia berjalan ke arahnya. devan menatap nya dan tersenyum dia beruntung menikahi wanita cantik seperti tiffanny.
" Maaf agak sedikit lama tadi harus rapat sebentar " ucap fanny.
" Tidak masalah bagiku. aku akan dengan senang hati menunggumu sampai kapanpun. lihat , kau terlihat sangat lelah ayo pulang " ujar devan lembut.
keduanya pun masuk kedalam mobil, sebelum itu devan membukakan pintu mobil untuk tiffanny.
...
sesampainya dirumah mereka berdua naik keatas tepatnya masuk kekamar devan. saat devan akan membuka kemejanya tiffanny segera berbalik ke arah jendela.
" Aku ... aku kekamarku sebentar , aku harus mandi dan berganti pakaian " kata fanny dengan gugup.
" seluruh barangmu dan pakaianmu sudah ada disini, jadi tidak perlu keluar lagi. mandilah aku akan menunggumu di kasur " balas devan santai.
( apa ? kasur ? apa dia akan melakukannya ) Pikirannya mulai bergrilya kemana - mana.
" siapa yang memindahkannya ?" tanya tiffanny yang tanpa sengaja berbalik sehingga bisa melihat dada abs itu.
dia memelototkan matanya dan berpindah menatap yang lain.
" Jangan malu lihat saja , kau akan terbiasa nanti. apa lagi saat kita akan ... "
" baiklah aku mandi duluan "
" Tiffanny " pangil devan lembut.
dia menghentikan langkahnya dan devan mendekati tiffanny , dari belakang devan memeluknya dan melingkarkan tangannya ke perut Tiffanny.
tiffanny kembali kaku dan menegang, dia takut untuk bergerak atau devan akan semakin memeluknya erat.
" De..d..devan "
" Kau sudah jadi istriku, tidak ada yang akan melarang kita" bisik devan.
" aku tau ... tapi , pakailah bajumu "
" Fan "
" i..iya "
" Aku mencintaimu " bisik devan yang kini tangannya sudah naik keatas bahunya fanny dan membalikkan tubuhnya.
Tiffany memejam kan matanya , devan mendekatkan wajahnya lalu dia mencium bibir tiffanny. tiffanny tidak pandai membalasnya , dia sedikit menggigit bibir fanny sehingga membuat fanny meringis dan membuka mulutnya.
didalam kesempatan itu dia ******* bibir itu dengan pelan dan lembut .
" kau tidak bisa membalasnya ?" guman devan.
__ADS_1
( aku berharap kau akan menerimaku setelah kita melakukannya )