Cinta Di Hatiku

Cinta Di Hatiku
Percayalah


__ADS_3

" kau masukkan apa kedalam tubuh ibuku , sehingga menbuatnya meninggal ? "


...***...


" bu , apa yang ibu lakukan. dokter tidak bersalah " bela para suster.


devan menggelengkan kepalanya tanda bahwa dia baik - baik saja dan tidak ingin dibantu. dia tau reaksi keluarga pasien setiap mendengar hal sebesar itu akan marah.


" Kau bekerja untuk apa ha ? menyembuhkan orang lain tapi kau sudah membunuhnya " wanita itu sangat emosi sekarang semakin menarik keras kerah leher baju devan.


" saya tau bu , tapi saya sudah menjalankan semuanya sesuai prosedur seperti yang biasa saya gunakan. " kata devan tanpa berkata meninggi dia mengerti perasaan wanita ini.


" aku akan menuntutmu "


wanita itu pergi keluar dari ruangan meninggalkan devan yang sudah kusut bajunya.


suster menatapnya dengan kasihan " dokter anda baik - baik saja ?" kedua suster itu mendekatinya dengan iba.


" tidak apa. sebaiknya kalian urus jenazahnya " jawab devan lembut.


" baik dokter "


devan pun meninggalkan ruangan itu , dia berjalan perlahan dengan pikiran yang sembrawut. bagaimana bisa dia melakukan kesalahan seperti itu.


tapi dalam dirinya sendiri dia yakin dia sudah memberikan obat bius dan obat lainnya dengan benar. tapi kenapa sesuatu terjadi tidak lama setelah operasi itu selesai.


tak terasa dia sudah di dalam ruangannya , dengan lesu dia duduk di kursi tempat biasa dia duduk. dia menyentuh keningnya memijatnya perlahan.


" dokter devan " ucap seorang dokter tua yang masuk kesana.


" Ketua " dia berdiri saat itu juga.


" saya sudah dengar laporan dari keluarga pasien , apa itu benar ? saya sebenarnya tidak ingin meragukan dokter tapi saya juga harus bekerja sesuai peraturan rumah sakit. "


" iya , aku mengerti dokter. "


" mari keruanganku "


***.


dengan keyakinan nya devan akan membuat spekulasi dan jawaban sesuai keadaannya, dia tidak takut atau pun ragu karena dia percaya jika dia benar.


dia sekarang sudah duduk berhadapan dengan ketua, sebuah papan name tag di kursi itu bernama dokter Hanan.


" Dokter devan sekarang jelaskan apa yang terjadi ?"


" saya melakukan operadi pada pukul 9 pagi , dan berakhir pada pukul 1 siang. didalam ruangan operasi bersama ketiga suster saya bekerja sesuai dengan prosedur yang ada. saya menyuntikkan obat bius dengan benar sampai operasi selesai pun tidak terjadi masalah. "


" beberapa saat setelah saya berada diruangan saya , suster memangil dan bilang pasien kejang - kejang. saya berusaha menghentikannya dan menyuruh suster untuk mengambil phenytoin tapi saat sustet itu baru membawa obat pasien sudah tidak ada "


dokter hanan itu mangut - mangut saja, dia mengerti semuanya sekarang.


" aku mengerti dokter , saya percaya pada mu. tapi kami juga harus menjalankan laporan aduhan sesuai prosedur. kami akan memeriksa mayat tersebut sekarang juga sesuai permintaan keluarga pasien. "


" aku setuju "


beberapa jam devan menunggu hasil dari autopsi jenazah itu , dia berdiri bersama keluarga pasien yang tampak seperti marah kepadanya. namun dia hanya bersikap biasa saja.

__ADS_1


ceklek


" hasilnya sudah keluar " ujar seorang dokter dari laboratorium.


" dokter apa hasilnya ? dia yang membunuh ibuku kan ?" tanya anak itu.


dokter itu hanya menghela nafas melihat wajah ekspresi anak itu.


" Dokter devan , mungkinkah anda menyuntikkan sesuatu kedalam tubuh pasien setelah keluar dari ruangan operasi ?" dokter itu malah bertanya kepada devan tanpa menghiraukan keluarga pasien.


" aku , tidak " devan menggelengkan kepalanya.


" sepertinya ... seseorang menyuntikkan sesuatu pada pasien, sebenarnya obat bius pasca operasi itu akan habis setelah 2 jam. " jelas dokter itu.


" kalian sama saja , dokter ini pasti sudah menyuntikkan sesuatu kepada ibu saya sehingga meninggal dunia " teriak wanita itu.


ibu itu teriak sangat kuat sampai semua orang yang disana memperhatikan mereka .


" kau dokter apa ha ? membunuh pasienmu sendiri sedangkan tugasmu menyembuhkan " bentak ibu itu.


" astaga aku tidak percaya ini, dokter itu terlihat sangat bijaksana tapi dia melakukan hal sekeji itu. "


" kasihan sekali dia pasti sangat sakit rasanya "


" harus diberi pelajaran dokter seperti itu ! "


" laporkan saja kekepolisian , agar jera "


devan hanya bisa menelan semua pembicaraan orang - orang disana dengan pahit. dia tidak mungkin melawan seorang perempuan , dia mengerti bagaimana perasaan ibu ini seakan membuatnya melakukan kesalahan yang tidak pernah dia buat sebelumnya.


***


wajahnya menunjukkan sedikit khawatir namun dia bersikap biasa saja. dia merasa bosan sendirian dirumah , dia sudah terbiasa berdua dengan devan dalam rumah ini. sehingga saat seperti ini dia merasa hampa.


berkali - kali dia menatap televisi namun dia tidak fokus pikirannya hanya devan sekarang.


tiba - tiba suara mobil memasuki perkarangan rumah, dia segera bangkit dan menuju ke pintu utama.


dia mencoba menyambut devan dengan senyuman , namun saat baru buka dia melihat devan berdiri dengan wajah murungnya.


" Devan " ucapnya dengan khawatir.


devan menatapnya sayu lalu memeluknya di tengah - tengah pintu itu. fanny pun membalas pelukan devan.


" ada apa ? kau baik - baik saja ?"


tanya tiffanny lagi , devan tidak menjawabnya malah terus memeluk tiffanny.


***


sekarang mereka berdua tidur di sofa panjang dengan posisi devan memeluk tubuh tiffanny, wajahnya terpejam seperti kelelahan.


tiffanny memperhatikan wajah itu dengan agak mendongak,


sepertinya sesuatu telah terjadi, selama menikah aku tidak pernah melihat wajahnya yang seperti ini


" devan " ucap fanny yang sangat halus karena dalam pelukan devan.

__ADS_1


" hmm "


" kau ... baik - baik saja ?" tanyanya hati - hati.


" tidak , aku sedang tidak baik - baik saja. " wajahnya masih terpejam.


mendengar suara berat itu membuat tiffanny yakin jika devan sedang ada masalah.


" kau sakit ?" tanya fanny.


devan membuka matanya , lalu dia melihat wajah tiffanny dengan agak menunduk.


" sayang , aku harus suspend untuk beberapa saat"


fanny mengenyitkan dahinya " kenapa ?" tanyanya penasaran.


" pasien yang aku tangani pagi tadi meninggal, keluarganya menuntut ku dan mengatakan aku menyuntikkan sesuatu kedalam tubuh pasien itu. demi menenangkan keadaan dan kepuasaan keluarga pasien , rumah sakit memutuskan untuk men- suspend ku beberapa waktu " jelasnya yang masih terus menatap tiffanny.


" kau sudah menjelaskan semuanya ? jika kau tidak melakukannya sebaiknya katakan saja "


sejenak devan diam dan kembali memeluk erat tiffanny yang hanya sampai ceruk leher nya saja.


" aku sudah jelaskan , tapi tetap tidak percaya. sayang ... apa kau mempercayai itu juga bagaimana menurutmu ?"


dalam diri fanny dia merasa sedih untuk devan, perkataan samuel beberapa waktu lalu seakan menghantuinya apakah ini yang dia maksud pikirnya ?


" percaya atau tidak , aku akan tetap membantumu. tapi ... aku tau kau tidak akan pernah melakukan hal itu, aku mempercayaimu , kau ... dokter terbaik yang pernah aku temukan, jangan khawatir semuanya akan lekas membaik "


rasanya mendengar dukungan dari istrinya membuat devan tenang, tidak ada lagi hal yang mengganjal dalam hatinya saat ini namun tetap saja dia harus menjalani hukuman pada permasalahan yang tidak dia buat.


" terima kasih sayang, aku benar - benar membutuhkan dukunganmu "


devan mencium rambut tiffanny yang wangi itu sembari menutup matanya. mungkin malam ini mereka akan tidur di sofa yang agak lebar dan panjang itu.


***


melihat devan yang masih tertidur di sofa membuat fanny kasihan, ini sudah jam 7 pagi dia harus segera menyiapkan diri untuk ke hotel namun dengan begini kenapa dia jadi tidak tega meninggalkan devan sendirian.


saat menengok ke arah dapur , biasanya devan sudah bangun dan menyiapkan sarapan untuknya. dia mengambil selimut dari kamar bawah lalu menyelimuti tubuh devan.


setelah itu dia berinisiatif ke dapur , dia melihat celemek yang ada di dekat freezer dan memakainya.



setelah mengikat tali ke belakang , dia membuka kulkas dan mengeluarkan semua bahan yang ada.


dia tata di atas meja dapur, dan memperhatikannya dengan seksama.


kali ini harus berhasil, tidak pedas maupun asin atau kekurangan garam. tiffanny kau harus mempelajarinya sendiri agar bisa meringankan beban devan.


dengan hati - hati dia berusaha membuat nasi goreng itu , tidak sedikitpun dia lewatkan untuk mencicipinya agar terasa pas.


walau dengan hati - hati saat memegang pisau dia berusaha untuk fokus, menggorengnya perlahan di wajan. lalu tak berapa lama nasi goreng ala fanny sudah jadi , dia meletakkan dua piring dan membaginya.


di awal dia sudah mengiris dadu wortel dan timun ,lalu tak lupa tomat. dia memberikan telur mata sapi di atas nasi gorengnya.


" haaa akhirnya " gumamnya.

__ADS_1


__ADS_2