
keesokan harinya
devan terbangun dari tidurnya , dia yang tidur duduk di sebelah tiffanny merasakan sedikit sakit di lehernya namun dia tidak menghiraukan semua itu.
dia mengambil ponsel yang ada di sakunya melihat jam yang ternyata sudah pukul 8 pagi. itu artinya dia harus membersihkan tubuh tiffanny, setiap pagi dan menjelang malam tidak pernah dia lupa untuk mengelap tubuh tiffanny.
devan berjalan ke arah kamar mandi lalu mengambil baskom kecil dan mengisinya dengan air hangat kemudian dicampur air dingin.
kembali dia hampiri tiffanny yang masih koma itu , dia mulai membersihkan tangan terlebih dahulu.
dari balik jendela , brian berdiri dan menyaksikan semua yang dilakukan devan saat ini. dia selalu datang di pagi hari dan hanya melihat tiffanny dari jauh, rasa hatinya ingin berada dekat namun devan selalu memperingatkannya untuk selalu menjaga batasan.
" sayang , kapan kau akan bangun ? aku ... sangat merindukanmu sekarang. kau bilang kau juga mencintai ku , inikah yang kau maksud akan mengatakannya walau tidak sempat ?. aku tidak ada artinya jika terus begini "
dia masih terus mengelap bagian tangan lainnya sambil memandangi tiffanny.
" mulai sekarang aku akan berjanji untuk mendengarkanmu dan mementingkan dirimu , aku tidak akan menolak permintaanmu lagi " lirihnya.
untuk beberapa saat setelah membersihkan tubuh tiffanny devan memilih untuk membersihkan dirinya sendiri di kamar mandi , dikamar mandi itu dia membuka kemejanya sehingga tubuh putih dan atletisnya terlihat.
tangannya memutar shower itu sehingga mengeluarkan air dan dia berdiri di bawah guyuran shower.
ceklek
brian memberanikan diri untuk masuk kedalam ruangan dirasa devan sangat lama , dia harus menemui tiffanny untuk mengobati rasa rindunya.
" Tiffanny " gumamnya dengan mata yang berkaca - kaca.
tangannya mengelus puncak kepala tiffanny , " bagaimana kabarmu ... aku ada disini "
" kenapa tidurmu sangat lama "
tak ... tak ... tak
suara hills menggema di lorong - lorong rumah sakit , dia kalista yang berjalan dengan bekal makanan. dengan inisiatifnya sendiri jugalah dia selalu membawakan makanan untuk devan.
walau dia terlihat jutek dan cuek hatinya sebenarnya sangat baik jika dengan orang yang dia kenal.
namun langkahnya terhenti saat melihat brian sedang dekat dengan tiffanny.
" dimana devan " pikirnya.
" fan ... kau perempuan yang baik, tapi kenapa kau selalu berada dalam lingkungan yang jahat. aku akan mencari tahu siapa yang ingin membunuhmu , sebelumnya aku hanya bisa menghalaunya saja tapi sekarang tidak lagi ... siapapun dia aku akan membalasnya untukmu "
dia dekatkan wajahnya dengan wajah tiffanny , lalu dia kecup kening tiffanny.
kalista melototkan matanya saat itu juga " brak " devan membuka pintunya lalu menarik brian dari hadapan tiffanny.
" menyingkir dari hadapannya , kau seharusnya sopan terhadap istri orang lain ! " tegas devan.
" kau juga seharusnya tahu bagaimana caranya melindungi istrimu ! " ucap brian yang tak mau kalah.
" sepertinya perang ketiga akan dimulai " gumam kalista.
" hei tiffanny , kapan kau akan bangun dan membuat mereka berhenti bertengkar " ucapnya pelan.
" aku tau aku sudah bersalah , dan aku akan menebusnya. tapi yang kau lakukan bukanlah mencerminkan seseorang yang baik. kau menciumnya saat kau tau dia sudah menikah " tekan devan yang merasa marah karena didalam kamar mandi tadi dengan jelas dia mendengarkan semua ucapan brian.
" tidak lupa juga aku mengucapkan terima kasih kepadamu sudah menyelamatkan nyawanya. tapi kau juga harus tau batasannya , kau ! hanya seorang mantan kekasih nya saja , sedangkan aku , aku adalah suami nya untuk masa kini , masa depan dan seterusnya. " jelas devan lagi.
namun saat yang bersamaan , tiffanny menggerakkan tangan kanannya, satu kali dengan pelan ... yang kedua juga dengan pelan.
tapi keduanya tidak melihat namun dari jendela iti kalista memperhatikan dengan betul seperti menyatukan alisnya.
__ADS_1
" tidak salah lagi , dia menggerakkan tangannya " gumamnya.
dia segera berlari masuk kedalam " brak " membuat kedua orang pria yang sedang berselisih paham itu menoleh.
" berhenti bertengkar dan cobalah lihat , tangannya bergerak tadi " jelas kalista.
" apa ?" ucap brian
tanpa kata - kata lagi devan menghampiri tiffanny, dia memerika mata tiffanny lalu beralih menggunakan stetoskopnya.
" bagaimana , apa dia baik - baik saja ?" tanya kalista.
devan tersenyum kecil dia memandang kalista " dia sudah melewati masa komanya , tidak lama lagi dia akan sadar " jelasnya.
" sungguh ? aku harus memberitahu micheal tentang ini " ucapnya seakan tak percaya dan dia langsung menelpon micheal.
" Kapan dia akan sadar ?" tanya brian.
" apa aku harus memberi tahumu ?" jawab devan.
***
" dengar , semuanya harus mempersiapkannya dengan baik . kali ini hotel kita akan digunakan untuk atlit luar negeri , berikan kesan terbaik kita seperti biasanya. dan hotel kita juga sudah menerima bayaran muka atas penempahan gedung untuk acara penutupan ajang olahraga tersebut , jadi persiapkan dengan benar " jelas rian dihadapan para karyawan hotel.
" apa kalian mengerti ?" tanyanya lagi.
semua yang hadir menganggukkan kepalanya
" baik lah , kalau begitu kita akhiri rapat kali "
" pak " ucap seorang karyawan yang berdiri.
" ada apa ghea ?" tanyanya.
" iya pak , apa sudah ada kabar baik darinya ?" saut yang lain.
sejenak rian diam , bukan hanya mereka yang ingin mendengar kabar baik tapi dia juga sangat ingin.
" jika sudah ada saya pasti akan memberi tahu kalian " jawabnya.
" saya permisi "
langkahnya keluar dari ruangan rapat itu , drrtt....drrtttt
" halo ?"
" .... "
" baiklah aku akan datang sekarang " jawabnya cepat dan segera berlarian.
***
devan, kalista dan juga micheal sudah ada diruangan tiffanny. semuanya merasa senang karena tiffanny sudah keluar dari masa kritisnya. hanya tinggal menunggu dia bangun saja.
" Hei dokter devan kapan dia akan bangun ? sudah 3 jam berlalu dari masa kritisnya ?" tanya micheal yang penasaran dengan wajah lucunya.
" apa kau sangat ingin tahu ? biarkan dia tidur dulu sebentar lagi mungkin saja tubuhnya masih sakit " timpal kalista.
" dia sudah tidur selama 8 hari apa masih kurang ? biasanya juga dia hanya tidur 3 - 4 jam sehari "
" kau sangat tahu sekali " balas kalista.
" hei kalista , kami teman dekat mana mungkin tidak tau. tapi kau jangan khawatir aku suamimu tidak akan mendua darimu. "
__ADS_1
mendengar itu membuat kalista tersenyum malu " apasih " ucapnya malu - malu.
melihat itu rasanya devan juga tak sabar ingin berbicara dan mendengar suara tiffanny lagi , begitu besar rasa rindunya selama seminggu ini.
tangannya tak henti - henti memegangi tangan tiffanny yang sedang di infus itu , dan alat yang ada dihidung itu juga masih ada ditempatnya.
sampai malam harinya disitu juga ada rian, tidak ada tanda - tanda jika tiffanny akan terbangun. padahal ini sudah sangat lama dari waktu dia dinyatakan bebas dari komanya.
terkadang micheal menguap mengantuk , kalista selalu mengelus punggungnya.
rian yang berdiri di pojok itu terus memperhatikan tiffanny dan devan sang suami selalu setia didekat nya.
" ini sudah malam , sebaiknya kalian semua beristirahat saja. jika istriku bangun aku akan menelpon kalian " kata devan yang tak tega melihat semuanya terus menunggu tanpa kepastian.
" baiklah - baiklah hoam ... aku juga sudah sangat mengantuk " jawab micheal.
" Rian ... terima kasih untuk semuanya " ucap devan.
" tidak masalah dokter , aku selalu begini "
" kalau begitu pulanglah dan istirahat "
" hmm " rian mengangukkan kepalanya.
" kami pulang " ujar micheal.
" hati - hati dijalan " ucap devan.
kembali devan sendirian disana , bersama tiffanny yang masih tertidur.
cup
devan mencium kening tiffanny cukup lama " selamat malam sayang "
karena ranjang itu sudah diganti dengan yang lebih lebar jadi devan bisa tidur disebelahnya , dia menghadap ke tiffanny dan memeluknya.
" aku mencintaimu "
***
" kau datang ?" devan membuka pintu kamar itu namun tiffanny berdiri membelakanginya.
" sayang ? sayang kau sudah sadar ?" tanya cepar devan sambil mendekatinya.
" aku pikir kau tidak akan datang kepadaku saat aku ingin " jawab tiffanny dengan datar.
devan mengernyitkan dahinya , dia merasa bingung kenapa tiffanny biacara seakan - akan dia orang yang berbeda.
" sayang ada apa ini ? aku tau dan aku juga paham kau sangat marah padaku , aku meminta maaf untuk semuanya ini salahku , pukul aku ... aku akan menerimanya " lirih devan , tangannya berusaha menjangkau bahu tiffanny.
namun tifanny keburu berbalik arah dan menatapnya tajam.
" aku tidak suka menghukum seseorang yang aku cintai , tapi aku kecewa saat dia yang kucintai lebih memilih sesuatu yang lain daripada diriku. " kata tiffanny dengan datar.
" maaf ... maafkan aku " lirih devan lagi.
" terlambat devan , semuanya akan kembali seperti dulu ... antara kau dan aku ... tidak ada hubungan apapun lagi. "
" tidak sayang ! tidak ! aku tidak mau berpisah " teriak devan.
tiffanny memilih keluar dari ruangan itu , devan menahan tangannya namun dia lepaskan begitu saja dia tidak menghiraukan devan yang menangis karenanya.
__ADS_1