
berikutnya kesaksian demi kesaksian dari orang - orang sudah didengarkan. samuel yang ads di meja tergugat itu menatap lekat tiffanny yang sedang tak melihatnya.
hakim sedang mempelajari perkara dan setelah ini hakim akan memutuskan hukuman yang tepat.
beberapa saat kemudian
" saya sudah mempelajari kasus ini dengan sebaik - baiknya , penggugat telah membuktikan beberapa bukti dengan valid dan yang tergugat tidak memiliki pembelaan yang cukup. "
" atas kasus - kasus yang dilontarkan diantaranya , perencaanan pembunuhan dengan hukuman paling lams 12 tahun sampai seumur hidup. perdagangan manusia sampai kekerasan pada perempuan dikenakan sanksi hukuman 15 tahun paling lama dengan denda 120 juta sampai 600 juta. tindak korupsi dan penipuan "
" untuk itu , saudari Kleuwit saya nyatakan bersalah. "
keputusan itu membuat semua pihak yang ada di bagian tiffanny merasa bahagia dan juga senang, air matanya jatuh saat mendengarkan itu bukan kesedihan melainkan air mata kebahagiaan.
berbeda dengan samuel yang menatap tajam tak terima atas semua yang sudah terjadi.
" atas perbuatan saudara tergugat maka saya putuskan hukuman seumur hidup. dan untuk semua penipuan dan pemindahan dokumen - dokumen atas keluarga penggugat maka semua harta dan properti akan dikembalikan ke ahli waris dimana Tiffanny wang sebagai anak dari jackson wang. dan kasus ini resmi saya tutup "
tok
tok
tok
hakim sudah mengetuk palu sebanyak 3 kali , devan melihat tiffanny yang menangis segera menghapus air mata tiffanny.
" sayang kau menang "
fanny mengangukkan kepalanya , dia memeluk devan dengan erat.
semua orang berdiri saat hakim berdiri , lalu pergi meninggalkan tempat persidangan.
samuel segera di borgol dan dibawa ke tempat penjara. saat dia lewat dia menatap tiffanny seraya tersenyum miring.
" semuanya belum berakhir nak "
fanny tak mengambil pusing dia hanya menganggap semua nya omong kosong semata. dia sudah dipenjara dan tak bisa melakukan apapun lagi.
" Fanny " panggil brian
fanny menoleh ke arahnya , brian menjulurkan tangannya " selamat , akhirnya ... semuanya berakhir sesuai dengan keinginanmu "
fanny menatap tangan itu , dia tersenyum kecil dan membalas uluran tangan itu.
" terima kasih , ini juga karena dirimu yang sudah memberitahu semuanya kepadaku. "
" iya. aku lega dia sudah dihukum "
keduanya masih bersalaman , devan yang tak ingin melihatnya lagi melepaskan tangan tiffanny dari tangan brian.
" sudah cukup ucapannya. sayang kau pasti lelah ayo pulang "
" hmm "
" tunggu sebentar " dia mencekal tangan brian untuk melepaskan tangannya.
tiffanny berjalan ke dekat persidangan di meja saksi dimana ada pak indra dan juga putri anaknya yang berdiri disana.
" nona "
" terima kasih untuk semuanya. kau berperan besar dalam semua ini tanpa bukti darimu ... aku mungkin tidak akan bisa membalas kan semuanya "
" aku yang seharusnya mengatakan maaf padamu, karenaku ... "
" putri " tiffanny berjongkok dihadapan putri sekarang, putri hanya tersenyum melihatnya dan meghiraukan pak indra.
semua orang yang hadir disana bisa melihat bagaimana semua itu.
" jadilah anak yang baik untuk ayahmu. dan bersekolahlah sampai kau jadi anak yang pintar ( tangannya mengelus pelan rambut putri ) kau ingin menonton dan menikmati ice cream dalam waktu yang bersamaan bukan ?"
putri mengangukkan kepalanya seraya tersenyum lebar " sangat "
tiffanny memberikan sebuah amplop putih untuk putri " datanglah ketempat alamat ini , dan nikmati semuanya. "
" apa ini ?" tanya putri yang membuka amplop itu.
" kau tidak mau membukanya nanti ?"
" tidak aku sangat penasaran apa ini "
didalam amplop itu ada secarik kertas berisi alamat dan juga sebuah kunci.
__ADS_1
" Residen City nomor 108 blok D " putri membacanya dengan lantang.
" Nona apa semua ini ?" tanya pak indra.
fanny menatap indra , lalu dia berdiri " ini untuk putri , dia harus punya tempat yang layak untuk ditinggali. dan bersekolah di tempat yang bagus , aku sudah mendaftarkannya beasiswa di sekolah Negeri "
" benarkah tante galak ?" tanyanya sumringah.
fanny tersenyum kecil dan mengangukkan kepalanya.
" terima kasih tante sekarang aku tidak akan memanggilmu tante galak aku memanggilmu kakak baik sangat baik ! " sambil memeluk tiffanny.
deg
saat putri memeluknya entah kenapa dia merasa seorang anak bayi yang memeluknya , rasanya sangat nyaman dan berbeda dari pelukan lainnya.
Apakah ini rasanya jika suatu saat nanti aku punya anak dengan devan . pikirnya.
devan mendekati fanny merangkul nya karena dia tau tiffanny belum pernah diperlakukan begitu oleh anak kecil.
" sehat - sehat adek bayi " putri mengelus perut tiffanny tiba - tiba dan kembali kepelukan pak indra
" ba-bayi " ?" gumam fanny.
" tapi istriku belum hamil " ujar devan.
putri menatap devan dengan tersenyum dan tidak menjawab nya.
***
tiffanny sangat bermanja hari ini , dia tidur di paha devan dengan nyenyak. devan yang sedang membaca buku itu mengelus rambut tiffanny.
" sayang sudah tidur ? "
tak ada jawaban dari tiffanny , mungkin kah istrinya itu tertidur padahal ini masih jam 7 malam.
" sayang ayo makan "
fanny membuka matanya , lalu membalikkan badannya untuk melihat devan.
" apa aku tertidur ?"
" iya "
" makanlah dulu baru tidur setelahnya "
" bukankah kau harus berangkat sebentar lagi ?" tanya tiffanny.
" iya setelah makan aku harus pergi "
" sampai kapan kau masuk malam ?"
" 2 hari lagi "
tiffanny merasa kecewa mendengarnya beberapa hari ini devan selalu masuk shift malam. membuatnya kesepian dan selalu bosan dirumah.
" sayang "
" sayang kau marah ?"
" ha ? tidak. untuk apa aku marah itukan pekerjaanmu " ucapnya dengan wajah datar sambil beranjak dari tempat tidur.
kenapa dengannya ? akhir - akhir sangat suka diam dan cepat merasa kesal. apa aku membuat kesalahan. pikirnya
dimeja makan itu keduanya makan dalam keadaan hening , hanya suara dentingan piring yang beradu dengan sendok dan garpu.
" sayang apa aku membuat kesalahan ?" tanya devan yang membuka percakapan itu.
" tidak " jawab tiffanny yang menunduk makan.
" kau mau apa ? mau aku buatkan makanan yang lain ?" bujuk devan.
tiffanny melepaskan sendok dan garpunya , dia diam sejenak.
" tidak ada , sudahlah habiskan saja kau akan telat nanti "
" baiklah "
devan tak ingin melanjutkannya lagi atau tiffanny akan makin marah padanya walau dia tidak tau apa keinginan tiffanny setidaknya dia menuruti perkataanya pikirnya.
setelah selesai makan tiffanny mengantar devan kemobil yang dia berikan itu. devan selalu memakai mobil pemberiannya sekarang.
__ADS_1
cup
dia mencium bibir tiffanny sekilas
" aku pergi dulu ya , jangan buka pintu saat aku tidak ada "
" iya "
devan tersenyum lalu masuk kedalam mobil , dia melambaikan tangannya yang dibalas pelan oleh tiffanny.
tiffanny kembali masuk.setelah mobil devan meninggalkan halaman rumah. dirinya kembali kekamar dan merebahkan dirinya disana dengan wajah yang agak cemberut.
" kenapa akhir - akhir ini dia sering meninggalkan aku , apa dia tidak bisa sehari saja meninggalkan pekerjaannya. kenapa dia tidak mengerti " pikirnya dengan air mata yang menetes
dia balikkan badannya ke samping dan mengelus bantal devan.
" i love you and miss you so much " gumam nya.
***
keesokan harinya
tanpa bersarapan dia bergegas keluar rumah , dia ingin kerumah sakit dan melihat devan. kakinya menginjak pedal gas mobilnya sehingga membuat kecepatan mobil bertambah.
shitt
mobilnya sampai kerumah sakit dia menuruni mobilnya dan memasuki rumah sakit dengan segera. dia berniat menanyakan devan pada resepsionis.
" permisi apa dokter devan sudah keluar ?" tanyanya.
" bu tiffanny ? " tanya resepsionis perempuan itu.
" ya "
" tunggu sebentar bu saya terlebih dahulu "
fanny mengangukkan kepalanya , beberapa saat kemudian resepsionis itu menelpon seseorang.
" baik terima kasih " ucapnya pada si penelpon.
" maaf bu , dokter devan sudah pulang dari tadi "
" ha ? oh begitu,baiklah terima kasih. "
sebelum resepsionis itu menjawab tiffanny lebih dahulu keluar dari rumah sakit. dia harus menelan pil kecewa pagi itu padahal dia sangat ingin menemui devan.
dengan langkah lesu dia kembali memasuki mobil dan menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang.
30 menit kemudian dia sampai ke hotelnya , raka yang baru datang itu melihat muka tiffanny yang terlihat sendu segera menghampirinya.
" kakak " panggil raka yang berlarian ke arahnya.
" raka ?" tiffanny menoleh kebelakang.
dengan nafas ngos-ngosan raka sudah berdiri di samping tiffanny.
" kau baru datang ?"
" iya kak , kak brian agak bangun telat untuk mengantarku "
" hmm begitu "
" ada apa kak , kakak sakit ?" tanyanya memperhatikan wajah tiffanny dengan intens.
" tidak raka hanya ... sedikit lelah saja. " jawabnya pelan.
raka hanya mangut-mangut.
" Maaf bu seseorang menunggu ibu diatas " kata penjaga yang ada dipintu utama.
" siapa ?"
" katanya ibu harus menemuinya langsung "
fanny segera pergi dari sana diikuti oleh raka mereka berdua memasuki lift yang sama.
sampai akhirnya dia sampai pada lift 19 dimana raka bekerja.
" kak aku duluan ya "
__ADS_1
" iya "
setelah raka keluar kembali dia menekan angka 20 tak butuh waktu lama dia sudah sampai di tempatnya.