
" hai ! aku menunggumu dari tadi "
samuel dengan senyuman lebarnya , berdiri tepat dihadapan tiffanny seperti pria baik - baik.
" Kau ... "
" ya , aku sudah menunggumu dari tadi "
***
fanny dan samuel duduk di dalam ruangannya, ressa membawakan satu cangkir minuman untuk samuel. setelah selesai dia permisi keluar dengan menundukkan kepalanya.
" ahh jadi ini ruangan CEO Terbaik " ucapnya mangut - mangut memperhatikan sekeliling ruangan yang besar itu.
sudah jelas sekali tujuan mu datang kemari hanya untuk mencari sesuatu
" pak samuel , apa yang membawa anda kemari. sebelumnya , anda tidak pernah seperti ini ?"
" hahhah jangan terlalu sensitif nona fanny, aku hanya ingin berbicara ya ... seperti ingin saling mengenal lebih dekat saja "
" dalam hidupku , aku yakin jika seseorang datang kepadaku tanpa kedekatan yang berarti orang itu punya maksud sendiri , jadi ... apa maksud dan tujuanmu ?"
" ternyata anak dari temanku sangat pintar ya , lebih pintar dari orangtuanya. namun kecantikannya tidak kalah banding dengan diana " tatapan samuel seperti sedang ingin menerkamnya , fanny sangat membenci tatapan itu jika saja dia bisa mengusirnya , dia masih harus menghormati etika bisnisnya.
" hmm aku rasa begitu, papaku dulu tidak terlalu pintar menebak seseorang sampai tidak tau salah satu temannya berhianat"
wajah samuel berubah menjadi datar , anak ini benar - benar pikirnya.
" apa maksudmu ? siapa yang berkhianat ?" tanya samuel wajahnya seolah - olah tidak melakukan kejahatan.
" tidak. tidak baik mengatakannya secara langsung disini. "
" bagaimana pernikahanmu ? bahagia ?" tanya samuel.
" ya ! begitulah " jawab fanny singkat.
" sayang sekali anakku harus bercerai dengan suaminya. ngomong - ngomong suamimu bekerja sebagai dokter bedah dirumah sakit ku " dia agak menyombongkan dirinya sendiri sekarang.
" lalu ... apa kau ingin memberhentikannya ?"
" hei ... dengar nak, aku orang tua sama saja seperti orang tuamu. saat aku melihatmu .. wajahmu membuatku jatuh cinta dalam seketika, sama seperti wajah diana ku. " seringainya sangat licik.
" aku hanya ingin mempengeringatkanmu , jangan melakukan hal yang gegabah , atau bahkan ... menyakiti putriku. aku tidak tau apa yang harus kulakukan padamu , kau sangat cantik ... maukah , kau ikut denganku ?" tawarnya dengan suara yang menggoda.
fanny sangat geram mendengarnya, bisa - bisanya pria berusia hampir 50 tahun ini bersikap tidak sopan kepada seorang wanita.
" kau tidak perlu memperingatkan aku. aku ! tidak suka mencari masalah dengan siapapun termasuk putrimu. pak samuel aku tekankan sekali lagi , jangan bicara hal yang kurang ajar terhadap perempuan. aku bisa melaporkanmu " tegasnya yang sudah marah itu.
" melihatmu marah , semakin terlihat cantik. beruntung sekali suamimu mendapatkan wanita secantik dirimu. bagaimana ... jika suamimu menghilang, aku bisa menikahimu kan ?"
plak
sebuah tamparan keras khusus untuk samuel, samuel hanya bisa memenganggi pipinya yang terasa pedih karena tamparan itu.
" jaga bicaramu pak samuel , aku masih menghormatimu sebagai rekan bisnis. tapi jangan membawa - bawa suamiku dalam urusan kita. kau pikir , aku tidak tau kebusukanmu selama ini ? aku punya semua buktinya , sekali aku membocorkannya ... hidupmu akan berakhir di dalam tahanan , untuk ... selamanya ! " tekan fanny diakhir kalimat
" wah , bahkan seumur hidupku kau pertama kalinya yang memukulku. aku tidak menjamin bagaimana kehidupan suamimu setelah ini , jika terjadi sesuatu terhadapnya ... itu semua kesalahanmu "
samuel langsung meninggalkan fanny , namun sebelum keluar pintu dia berbalik
" aku mengartikan bahwa kau memulai peperangan ini lebih dahulu, jika kau berubah pikiran datang dan temui aku kapanpun aku punya waktu untuk mu "
__ADS_1
fanny berusaha memendam amarahnya, ini dikantor tidak mungkin dia melampiaskan rasa amarahnya disini.
" melihatmu marah , semakin terlihat cantik. beruntung sekali suamimu mendapatkan wanita secantik dirimu. bagaimana ... jika suamimu menghilang, aku bisa menikahimu kan ?"
perkataan itu terus terngiang - ngiang ditelingan fanny, dia menahan air matanya dia tidak terima samuel mengatakan hal seperti itu pada devan.
dia menundukkan kepalanya , hatinya merasa takut dan khawatir pada devan. walau bagaimanapun perasaannya devan tetaplah suaminya.
" Fanny " rian memanggil dari depan pintu.
fanny yang masih menundukkan kepala itu tidak tau bahkan tidak mendengar ucapan rian.
" fannny " rian menghampir fanny lebih dekat , saat melihat wajah fanny yang seperti itu dia merasa khawatir.
" Fanny ada apa ? kau baik - baik saja ? tadi samuel kemari apa dia mengatakan sesuatu ?" tanyanya dengan memegang kedua bahu fanny.
fanny menatapnya dengan mata yang berkaca " devan , dia ... dia ingin melukai devan " lirihnya.
" dia bilang jika devan menghilang aku bisa ... tidak rian , tidak boleh terjadi sesuatu kepada devan " sambungnya lagi
kau mencintainya tiffanny, wajahmu terlihat jelas ada ketakutan , kekhawatiran dan rasa cinta untuk dokter.
" jangan dengarkan perkataan dia , dia hanya suka menakuti saja. tenanglah "
fanny masih tidak bisa tenang , dia tidak peduli jika dia yang celaka tapi jika orang lain dia tidak menerimanya. apalagi devan sudah sangat baik terhadapnya selama ini , devan tidak pernah menuntutnya untuk melakukan apapun selagi dia hanya terus bersama devan.
***
Sesuai janjinya hari ini, dia akan pergi dengan micheal. dia sudah ada di sebuah cafe langkahnya sangat pelan karena terus memikirkan kejadian tadi pagi.
micheal yang sudah ada di sebuah meja itu memperhatikan tiffanny dengan seksama. dia langsung berdiri dan menghampiri tiffanny.
fanny menggelengkan kepalanya, micheal menggandeng tangan tiffanny dan membawanya kemeja nya tadi.
setelah itu mereka duduk berhadapan.
" mau pesan apa ?"
" apapun "
" pelayan " panggilnya , dan pelayan itu langsung menghampiri mereka.
" kami pesan sushi , ongiri , takoyakin minumannya apapun yang segar saja "
" baik pak , mohon ditunggu "
micheal kembali menatap wajah tiffanny , menurutnya tiffanny sudah lama tidak berwajah seperti itu.
" Fan , kamu bisa cerita padaku. aku kan sering cerita tentang masalahku "
tiffanny menatap dalam wajah micheal, dia harus yakin jika micheal tidak akan membocorkan semua ini tapi kenapa dia malah meragukan micheal, bukankah micheal selalu terbuka padanya dia tidak mungkin nantinya menghianati nya.
***
" haaaaa " samuel teriak seperti orang gila diruangannya , dia sakit hati diperlakukan semena - mena oleh seorang wanita.
" Dia tau semuanya , aku tau dia pasti sedang merencakan sesuatu "
" haaaa " dia membuang semua apapun yang ada dihadapannya itu.
__ADS_1
prang
prang
bruk
saat agatha masuk , dia seperti tidak peduli apa yang dilakukan ayahnya. dia hanya bersedekap tangan seperti menyaksikan sebuah pertunjukan.
" teruskan ayah , aku sudah lama tidak melihatmu seperti ini " katanya dengan santai.
samuel menatap anaknya itu dia baru sadar jika agatha berdiri di dalam ruangannya. dengan langkah gontai dia mendekati ayahnya.
" apa ini ?" melihat pipi ayahnya yang memar.
" siapa yang berani melakukan hal seperti ini ayah ? aku akan membalasnya " tanya agatha dengan mata yang melotot.
" Wanita yang dicintai mantan kekasihmu "
" apa ?"
agatha mengeram dalam , jika saja itu kereta api maka hidungnya seperti mengeluarkan asap karena marah.
" ayah ! kenapa ayah diam saja sekarang , kenapa tidak langsung bunuh saja dia. aku berusaha untuk baik dan berdamai dengannya dulu. tapi dia sok hebat dan malah mengacuhkan aku " bentak agatha.
" dia terlalu cantik untuk kulukai "
" kau gila ? berhentilah hidup seperti itu. usianya jauh denganmu, dia sudah menikah "
" memangnya kenapa kalau menikah ? seperti dirimu yang bisa bercerai dengannya , dia juga bisa bercerai dengan dokter itu "
" yakin sekali ayah. kau mencintainya ?" hardik agatha.
" Siapa laki - laki yang tidak akan mencintai wanita secantik, secerda , sepintar dirinya. kau tau kenapa ayah tidak pernah menikah lagi setelah ibumu tiada ? karena tipe wanita ku sangatlah tinggi "
" kau benar - benar gila ayah. jika ayah tidak bisa menyingkirkannya maka akulah yang akan melakukannya "
agatha keluar dari ruangan itu, sementara samuel dia hanya melihat agata yang melenggang keluar.
" Aku mencintainya , karena dia anak dari wanita yang kucintai. "
***
shittt
micheal sudah sampai didepan rumah tiffanny dan devan , dia memperhatikan sekitaran rumah dari kaca mobil.
" kau tidak ingin masuk ?" tanya fanny.
" ah tidak perlu, tadinya ingin tapi aku harus pulang. kalista katanya ayahnya akan datang "
" oh iya fan , jangan terlalu dipikirkan. aku berjanji akan membantumu, jika dia melakukan sesuatu aku tidak akan tinggal diam. "
ya , memang saat di cafe itu tiffanny sudah menceritakan semuanya. berharap dengan begitu dia bisa tenang karena ada orang yang mungkin hanya memberinya harapan saja tapi setidaknya itu bisa membantunya meredakan rasa takutnya.
" aku tau , kalau begitu aku masuk duluan devan pasti sudah pulang. terima kasih untuk tumpangannya "
" hahah tidak masalah perbudaklah aku sesukamu , aku tidak akan mengeluh "
fanny hanya tersenyum dan keluar dari mobil itu. micheal memandangi tiffanny dari belakang.
*seseorang sudah berhasil merubahmu , sedikit demi sedikit sifat dinginmu lenyap. pria hangat itu sudah berhasil mencairkan batu es.
__ADS_1
haaa , aku senang setidaknya bukan denganku kau dibuat bahagia oleh pria yang tepat*.