Cinta Di Hatiku

Cinta Di Hatiku
Membuat ku Menunggu


__ADS_3

4 mobil itu dimana 2 mobil diisi karyawan dan dua lainnya adalah mobil rian dan juga micheal , mereka menikmati pemandangan jalan raya , kadang pertanian yang membentang lebar.


jarak yang dibutuhkan untuk kepuncak harus menghabiskan waktu 3 jam.


hingga beberapa jam kemudian mobil mereka memasuki area puncak dan villa vanni mulai terlihat.


ada lahan kosong yang membentang luas , jadi rian memutuskan untuk memberhentikan mobilnya disana.


keduanya turun setelah sampai , udara segar dan cuaca yang redup membuat suasana terlihat nyaman.


" wah ! indah sekali " ucap karyawan yang takjub dengan pemandangan itu.


ada 10 karyawan yang ikut kedalam gathering kali ini semua memandang takjub dan terpesona.


brian dan raka pun baru , turun diikuti oleh micheal dan juga kalista yang ikut dalam perjalanan ini.


" Bu , apa itu viilla nya ?" tunjuk seorang wanita ke atas perbukitan.


" ya " jawabnya.


" Fan masuklah , aku akan mengambilkan barang - barangmu dari dalam mobil " ujar rian.


" baiklah , maaf harus merepotkanmu "


" sudah tidak apa "


" ayo , kita ke vila " ajak fanny.


" ayo ! ayo " ucap semua karyawan yang merasa bersemangat itu.


" ayo kalista " ajak micheal yang tak sengaja micheal menggenggam tangannya membuat kalista mendongak menatap micheal.


" kakak kita berjalan bersama " raka mengejar fanny , fanny hanya tersenyum.


dari belakang brian mengawasi fanny yang terlihat sedang mengobrol dengan raka , dalam hatinya dia juga ingin mengobrol dan berbicara banyak dengan tiffanny namun apakah mungkin dengan kondisinnya yang sekarang ini.


" kita sudah sampai "


mereka memang sudah sampai di villa yang luas dan lebar itu , dengan perpaduan cat warna putih dan list coklat.


" bu kami boleh mengelilingi tempat ini ?" tanya karyawannya


" silahkan saja , kalian bebas melakukan apapun disini "


" horeeee , huu " sorak tepuk tangan para karyawan membuat suasana meriah. mereka berbagi arah untuk menelusuri area villa.


dan hari mulai malam , langit mulai menggelap tifanny memilih untuk berdiri di dekat kolam berenang belakang itu , dia memegangi ponselnya sedari tadi.


dia bisa melihat di bagian kanannya , semua karyawannya sedang duduk menikmati camilan dan mengobrol ria.



kenapa devan belum menelpon ku, aku sudah memberitahunya jika aku sudah sampai beberapa jam yang lalu.


dia mulai merasa gundah dan sedih saat devan tak membalas pesan , dia juga tidak menelponnya hatinya ingin devan bertanya bagaimana kabarnya sekarang.


" Tiffanny " panggil kalista yang memanggilnya , dia berdiri di belakang tifanny sehingga membuat fanny menoleh.


" kau menunggu seseorang ?" tanyanya sambil menghirup kopi hangat yang ada di tangannya.


tiffanny menundukkan kepalanya , tangannya mengusap layar ponselnya.


" Aku mengenalmu dari perkataan orang dan ketenaranmu. tapi aku tidak pernah mengenalmu dari segi hubungan. tapi kau telihat seperti wanita yang tangguh "


" kau sedang memujiku ?"


" tidak , hanya mengatakan kebenarannya saja "

__ADS_1


" micheal dan kau ... "


" kami hanya berteman " fanny memotong pembicaraan kalista yang belum selesai itu.


" aku belum selesai " ujar kalista.


" aku juga tau kalian berteman , oleh karena itu ... aku ingin mengetahui banyak tentangnya darimu. kau mau membantuku ?"


fanny menoleh melihat ke sebelah kirinya dimana kalista berdiri " untuk apa ? " tanya fanny.


" untuk mengetahui bagaimana hal - hal yang dia sukai " jawabnya santai.


" kau mencintainya ?"


" jika tidak , untuk apa aku meminta bantuanmu "


*Mereka berdua , hanya terikat dalam pernikahan kontrak saja tapi pada akhirnya bisa mencintai salah satu nya atau bahkan saling mencintai.


aku dan devan sepertinya sama , hanya berbeda cerita saja. apa seperti ini caranya untuk mengungkapnya rasa cinta*


fanny terus berpikir tentang hatinya , bukannya menjawab pertanyaan kalista malah dia memikirkan hatinya sendiri.


" hei , aku bicara padamu " tatap kalista pada fanny.


" Dia tidak akan mencintai wanita yang mempunyai tatapan tajam seperti dirimu " jawab fanny dengan nada yang santai


" kau ... " kalista memang menatap orang seperti itu sehingga mendengar itu dia langsung mengubah matanya.


" dia tidak suka dikejar , tapi suka mengejar. kau harus menjadi seperti diriku baru bisa mendapatkannya "


" dasar sombong " desis kalista.


" bukan mesti menjadi diriku yang seperti kau bayangkan. untuk menarik perhatiannya , kau harus sering menolaknya , karena dia suka ditolak.tapi kau juga harus bersikap konsisten "


" hanya itu ?"


" Fan kau tidak mandi ? aku sudah siapkan air hangat untukmu. " rian datang untuk bertanya itu , didalam tadi dia sibuk menyiapkan air hangat untuk fanny.


" ha ? bahkan air hangat saja kau dibuatkan sekretarismu , ck ...ck ...ck Ini dia yang di sukai micheal " ledek kalista tapi cara bicaranya dia seperti orang yang bercerita biasa.


" Aku rasa , kopi buatan micheal enak ya aku jadi ingin mencoba " saut fanny balik.


kini kalista merasa malu sendiri , bagaimana fanny bisa tau kopi itu buatan micheal.


fanny berlalu masuk kedalam villa , diikuti oleh rian dari belakangnya. brian yang ada di depan halaman itu melihat mereka berdua.


" Rian , kenapa kau melakukan hal seperti itu. aku tidak pernah memintamu melakukanya " tanya fanny.


" aku tahu, tapi aku juga tau kau tidak bisa mandi dengan air dingin atau kau akan sakit keesokan harinya. jika kau sakit maka dokter devan akan menyalahkan aku , iya kan " kata rian seraya tersenyum


mendengar nama devan disebut membuat fanny gusar , dia duduk di sofa itu membuat rian bertanya - tanya.


" ada apa ?" berjongkok dihadapan fanny.


" devan belum membalas pesanku , apa dia masih bekerja padahal ini sudah malam , apa dia tidak bisa menyempatkan untuk membalas pesanku sebentar saja " wajahnya terlihat murung saay mengatakan itu.


" mungkin dokter sedang banyak pasien hari ini, pekerjaannya tidak sama seperti kita. pekerjaanya mengharuskan dia untuk mementingkan kondisi pasiennya " rian berusaha untuk membuat fanny mengerti.


dari depan brian mendengar pembicaraan itu, hatinya sakit saat tau fanny mengkhawatirkan devan dan sedih karena devan.


" Aku kekamar dulu " ujar fanny yang segera berlalu meninggalkan rian di ruangan itu.


***


malam harinya


disaat semua karyawan , micheal , raka , brian dan kalista memanggang daging di halaman depan villa dengan meriah. fanny hanya duduk di taman belakang.

__ADS_1


dia terus menunggu kabar dari devan. saat seorang karyawan laki - laki lewat melihatnya duduk sendirian dia pun berinisiatif mendekatinya.


" bu , kenapa disini sendirian ? ayo coba daging panggangnya " tanya dan ajak pria tinggi yang cukup tampan itu.


" ah , ya ... saya akan menyusul " jawabnya.


" baiklah , saya permisi bu "


fanny mengangukkan kepalanya. dia sudah merasa lapar sekarang jadi dia memutuskan untuk menemui semua orang.


" kakak , kakak ayo aku sudah menyiapkan daging untuk kakak " raka menarik tangan fanny sampai ke dekat pemanggangan.


" Hey Fan , lihat punyaku dipanggang dengan bagus " tunjuk micheal.


fanny hanya tersenyum mendengarnya " ini untukku " ujar kalista.


" ha ? " micheal bingung.


" ya , kau harus mengalah dengan istri mu sendiri " balas kalista.


" ah ya .. ya baiklah , aku akan memanggang lagi untukku dan untuk fanny " micheal kembali memanggang.


" Kak brian tolong balikkan dagingnya " ujar raka.


" iya " brian melakukan apa yang disuruh raka , sedangkan raka dia membuat saus untuknya.


Semua orang terlihat senang pikirnya , para karyawannya tertawa semua sedangkan dia ... dia merasa gundah.


" Ini " brian memberikan sepiring kecil daging yang dia siapkan untuk fanny, sehingga membuat fanny menatapnya dengan tatapan tak mengerti.


" untukmu " sambung brian.


" oh " dia menerimanya dengan perlahan " terima kasih " ucapnya.


" kakak campurkan dengan saus ini maka akan terasa nikmat " raka mencampurkan saus begitu saja , lalu rian menambah kan sedikit daging.


" Mari kita makan disana " tunjuk rian pada kursi empat yang kosong di dekat ujung taman.


mereka berdua pun makan di kursi itu, sedangkan micheal, kalista dan raka makan langsung dari panggangan itu.


Melihat keduanya makan dengan tenang membuat brian ingin bergabung dengan nya, jadi tanpa disuruh lagi dia mendekati keduanya.


" boleh duduk disini ?


rian menatapnya sebentar dan beralih menatap fanny , fanny hanya menganggukkan kepalanya.


brian sengaja memilih bangku yang dekat dengan fanny, fanny hanya fokus memakan dagingnya. rian tau jjka brian sedang ingin mendekati fanny tapi dia tidak akan melarangnya jika dia tidak melakukan sesuatu.


Tiffanny merasa kusulitan memotong daging itu , brian yang ingin makan mendapatinya sedang kesulitan jadi dia rebut piring lalu memotongnya.


" tidak usah " ujar fanny.


" Biar aku potongkan , kau kesulitan " balas rian lembut.


tiffanny tak lagi menjawab dia biarkan brian melakukan nya. namun suara mobil bisa dia dengar dan cahaya lampu terang memasuki halaman villa itu.


fanny merasa silau dengan cahaya itu , seseorang turun dengan pakaian masih rapi dan berdiri dengan tegak dipinggir pintu mobil.


" Devan " ucapnya mengangga seakan tak percaya bagaimana devan bisa kemari.


sontak hal itu membuat brian dan rian menatap ke arah objek itu.


Tiffanny segera bangkit dan berjalan cepat untuk menghampirinya , saat dia sudah berhadapan langsung dengan devan dia malah membuat wajah kesal.


" hei , kau membuatku menunggu. aku memberimu pesan tapi tidak kau balas , aku menelpon kau tidak angat " ucap fanny dengan mata yang nanar.


" sayang kau tau hukumannya kan "

__ADS_1


" ya ! hukum saja aku , kau membuatku marah " fanny menangis saat itu juga , devan langsung memeluknya untuk menenangkannya.


__ADS_2