
alunan musik sendu sudah dimainkan oleh beberapa pemain biola disana, suasana gelap dan romantis itu sangatlah pekat.
devan menyuapi tiffanny dengan pelan " bagaimana rasanya ?"
" hmm ini lezat " dengan suara lembut dia membalas pertanyaan devan dan mata yang berkaca - kaca.
" Ada minuman disini , apa kau juga minum ?" tanya tiffanny menatap botol anggur itu.
" sesekali aku minum , tapi dengan orang tertentu saja , lantas bagaimana denganmu sayang ?"
" aku akan minum jika itu hari yang baik "
" lalu sekarang ?"
tiffanny memutar botol itu , lalu menuangkan dengan pelan dan sedikit ke gelas devan lalu beralih ke gelasnya.
dengan senyuman manis devan dan tiffanny mengambil gelas masing - masing, tak lupa semua itu direkam dan diabadikan oleh devan dengan kamera yang terpasang disana.
suara dentingan dua gelas saling menyatu , mereka meminum nya dengan pelan dan juga saling memperhatikan.
" maukah kau menari denganku ? " kini devan bersimpuh di hadapan tiffanny , sejenak tiffanny diam memandangi wajah Suami sekaligus Dokter tampannya itu.
lantas dia mengangukkan kepalanya , menyambut tangan devan. kini tangan devan berubah berada di pinggang kecilnya.
saling menatap dengan penuh cinta dan senyuman manis di kedua bibir mereka.
" ketahuilah , seumur hidupku ... momen ini tidak akan pernah kulupakan. bersamamu ... aku hadir untuk melengkapi pernikahan kita , pernikahan yang akan kita jalani seumur hidup kita " ucap devan dengan lembur seraya mereka terus menari pelan di atas lantai itu.
" aku ingin bernyanyi untukmu , apa boleh ?"
tiffanny tersenyum kecil " lakukan apa yang kau inginkan hari ini "
devan menghela nafas panjang dan membuangnya teratur
" kekasih hati ini ... tak terganti , tuk memilih bahagia denganmu. yang telah berikan dunia. tak perlu .. kau tanyakan , arti cinta ... dihatiku. besarnya rasaku ... yang kuberikan untukmu ... " dengan suara lembut dan nada yang membuat siapapun mendengarnya ikut ingin bernyanyi dia mulai bernyanyi.
hanya senyuman yang kini menghiasi bibir tiffanny , seraya menatap pria itu dengan tulus.
" inilah diriku .... sepenuhnya untukmu , selalu ... mencintaimu ...sungguh-sungguh aku mencintaimu takkan ada yang bisa menggantikan mu dihatiku satu.... untukmu. menyayangimu , sungguh - sungguh aku menyayangimu takkan pernah kuberpaling dari kamu itulah janjiku ... untukmu. "
sama hal nya sepertimu yang tidak akan pernah melupakan moment ini , aku juga sama. sampai akhir hayat nanti aku tidak bisa melupakan hal yang kau buat dengan indah ini.
malam ini aku menyadari , aku juga mencintaimu. aku sungguh mencintaimu sama sepertimu yang selalu mencintaiku.
batinnya berkata dan telah memutuskan , bahwa dia benar - benar mencintai pria ini. pria ini sudah berhasil meluluhkan hatinya yang sekeras batu itu.
" inilah diriku... sepenuhnya untukmu , selalu... selalu... "
" sungguh-sungguh aku mencintaimu takkan ada yang bisa menggantikan mu dihatiku satu.... untukmu. menyayangimu , sungguh - sungguh aku menyayangimu takkan pernah kuberpaling dari kamu itulah janjiku ... untukmu. " akhirnya tiffanny dengan suara lembutnya ikut bernyanyi dengan merdu.
devan memutarkan tubuh tiffanny lalu menangkapnya kedalam pelukannya , lagi - lagi dia melakukannya. malam ini tiffanny menatapnya dengan berbeda , tatapannya menunjukkan jika dia mencintai pria ini.
tapi dia belum berani untuk mengatakannya akan ada hari dimana dia sendirilah memberikan kejutan untuk devan dan mengungkapkan kepada dunia seperti keinginan devan.
saat berada di pelukan devan , dan devan merangkul tiffanny agar tidak jatuh itu terus mendekatkan wajahnya ke wajah tiffanny lalu menempelkan bibirnya ke bibir tiffanny.
dia mendirikan tiffanny dan menciumnya dengan lembut sampai tiffanny membalasnya juga.
" akhirnya aku tau , siapa yang akan menjadi pendampingku kelak. seorang dokter tampan dan berkeyakinan tinggilah yang dipilihkan takdir untukku. aku tidak akan melupakan masa lalu tapi aku juga tidak akan mengingat masa laluku. hanya ada masa kini dan masa depan untuk hidup bersamanya " Tiffanny Wang.
***
sepertinya malam ini belum habis untuk waktu keromantisan mereka. devan sudah menyiapkan sebuah kado di ranjang mereka , tiffanny sedang membuka kadonya di dalam walk in closet.
__ADS_1
sedangkan dia duduk di kursi sambil menunggu wanita idamannya datang. sesekali melirik jam karena sudah tidak sabar melihat pujaan hatinya.
ceklek
suara pintu yang terbuka itu membuatnya segera menoleh, tidak ada waktu untuknya mengedipkan matanya sekarang dia terus memandang ke arah walk in closet itu.
tiffanny berdiri dengan baju yang sudah diberikan devan , baju berwarna silver bahan satin itu dipakaianya baju itu hanya panjang sebatas atas dengkulnya.
dia memang sering memaksi yang seperti ini tapi bagian atas cukup terbuka , walau tidak nyaman dia harus menghormati pemberian devan.
" apa ... apa aku harus menggantinya sekarang ?" tanyannya terbata - bata sambil menatap devan.
devan mendekatinya dengan langkah pelan dan takjub tanpa berkedip sedikitpun.
" sayang kau memakainya ? "
" bu ..bukannya , kau ... yang membelinya " jawabnya terbata - bata lagi.
devan meraih pinggang tiffanny dan memeluknya begitu saja " cup " kecupan dikeningnya cukup lama.
" Malam ini , aku ingin waktu yang panjang "
" boleh ?" tanya devan seraya dia mengangkat wajah tiffanny dengan tangannya.
kedua manik mata mereka saling bertemu , devan terus menunggu jawaban dari tiffanny.
" sayang " kata devan lagi.
tiffanny mengangukkan kepalanya , dan tangan devan mulai naik ke atas leher tiffanny.
dia menggendong tubuh tiffanny dan fanny mengalungkan tangannya di leher devan. mata mereka seakan tak bisa lepas selalu menatap.
kali ini dia sendirilah yang merelakan dirinya , dia harus siap melakukannya. setelah itu devan menciumi wajah tiffanny lalu ke bibir dan mereka saling ******* , setelah dirasa fanny kehilangan oksigen devan memberinya jeda dan menciumi lehernya.
fanny hanya bisa menikmati perlakuan devan , sampai akhirnya mereka melakukan kegiatan panas itu.
malam itu cuaca diluat sangat dingin dan sedang turun salju , tapi didalam kedua insan manusia itu sedang melakukan penyatuan hanya ada rasa panas ditubuh mereka.
***
Bandung, Indonesia
" Bisa - bisa nya mereka berdua bulan madu sedangkan aku disini masih menangisi kepergian putriku " samuel memegang foto tiffanny dan devan yang sedang ada di jerman saat itu.
entah dari mana tapi dia memiliki foto itu.
" bersenang - senanglah sayang , sebentar lagi kau juga akan menangis " dia tersenyum miring mengejek foto itu.
dendamnya sangatlah besar, apa yang dia rencanakan hanya dia yang tau.
seseorang wanita dari luar mendengarnya , dirasa samuel sudah tak berkata lagi dia pun meninggalkan ruangan itu.
secepatnya wanita itu pergi seperti terburu - buru , dia menuruni anak tangga hotel itu.
di menuju ke parkiran hotel sebuah mobil putih menjadi incaranya.
tok....tok...tok
dengan pelan kaca mobil itu terbuka lebar , kalista menatap wanita itu.
" ada rencana besar yang dia susun. targetnya adalah tiffanny wang "
" pergilah "
__ADS_1
wanita itu mengangukkan kepalanya, secepatnya kalista menutup kembali kaca jendelanya dan melepaskan kacamata hitamnya.
***
Karena ini hari terkahir mereka berlibur sekaligus bulan madunya. mereka berniat membeli oleh - oleh dan sekaligus berbelanja.
ditangan mereka sudah ada berbagai merk terkenal yang dibeli oleh devan untuk tiffanny. keduanya bergaya casual dan juga menawan , wajah fanny tertutupi dengan kacamata hitam nya. begitu juga dengan devan.
" Kita beli untuk siapa lagi sayang ?"
" kalista dan micheal "
" baiklah , ayo masuk kesana "
devan mengajak tiffanny ke sebuah brand ternama , mereka berdua memilih - milih barang yang cocok untuk kedua orang itu.
" bagaimana dengan ini ?" devan memegang sebuah syal berwarna coklat.
" tidak , jika dilihat dari gayanya kalista lebih menyukai tas sedangkan micheal , dia suka mengganti ikat pinggang "
" wah sayang dibalik cueknya dirimu ternyata memperhatikan juga ya "
" kami dulu pernah membuat proyek bersama saat kuliah dulu , dari sekian banyak aksesoris dia lebih memilih ikat pinggang "
" yasudah kita beli tas dan ikat pinggang "
sesudahnya membeli oleh - oleh untuk semua orang mereka menikmati waktu sore hari menuju malam hari di sebuah pelabuhan.
pelabuhan viaduct
mereka berdiri di pinggiran kapal, dengan pakaian tebal karena cuaca sangatlah dingin. devan terus mengelus telapak tangan tiffanny untuk menghangatkanya.
" hentikan , tanganmu juga sangat dingin " kata tiffanny yang menatapnya.
" aku tahan dingin. oh ya sayang , besok kita akan kembali ke rumah. tidak terasa 10 hari sudah berlalu "
" hmm dan setelah itu juga kita akan kembali bekerja lagi. "
" boleh aku bertanya sesuatu hal ?" tanya devan
" apa ?"
" aku memikirkan banyak hal tentangmu salah satunya tentang aktivitasmu sebagai pemimpin di hotel. sayang ... kau sudah punya segalanya , apa kau masih ingin melanjutkan pekerjaanmu ?"
pertanyaan devan itu sebelumnya tidak pernah terlintas dipikirannya, namun baguslah dia bertanya pikirnya dia juga pasti akan mendapatkan pertanyaan hal itu.
" Sejak usiaku 17 tahun aku mengurus hotel walaupun diusia itu tidak seharusnya bagiku melakukannya. aku disibukkan oleh pendidikan dan pekerjaanku sampai akhirnya aku mendapatkan semua nya. citra , penghargaan dan kekayaan yang lebih banyak dari sebelumnya. "
" jujur saja pertanyaan ini aku tidak pernah memikirkannya apa aku harus menghentikan semua ini. namun , adakala aku merasa ... aku juga ingin beristirahat dan melakukan hal selayaknya wanita biasa. "
dengan setia dan tatapan seperti pendengar setia devan memperhatikannya dan memahami dari setiap perkataan tiffanny.
lalu tiffanny memandang kearah devan yang juga saat itu memandangnya.
" kau tau aku tidak suka dengan keramaian dan semua pujian itu. namun satu impianku belum aku capai sampai saat ini "
" apa itu ?" tanya devan.
tiffanny tersenyum mendengarnya " Rasanya jika aku bisa, aku ingin tinggal dimana semua orang tidak ada yang mengenaliku , aku ingin hidup dengan tenang bersama keluargaku sendiri. "
" sayang ... didunia ini kita akan hidup dan tinggal bersama seseorang. hidup kita harus bersosialiasi , namun ada memang sebagian orang yang suka menyendiri. tapi tetap saja kita juga membutuhkan orang lain , pikirkanlah saat kita sakit yang menelpon ambulance pasti orang lain lalu , saat kita makan tentu saja harus ada nasi dan darimana asal nasi itu kalau bukan hasil dari petani. "
" jadi , pada dasarnya kita hidup selalu dibantu oleh orang lain. namun ... jika memang itu keinginanmu , suatu saat nanti aku akan memenuhinya. kita akan tinggal dimana hanya ada kita berdua dan anak - anak kita nanti "
tiffanny tersenyum devan merangkul bahunya dan fanny menyenderkan kepalanya di bahu devan.
__ADS_1