
hari - hari berikut nya , keduanya semakin dekat dan jarang bertengkar. namun sekarang devan lebih sibuk dengan perannya sebagai dokter, jadwal nya terus berubah tidak menentu.
terkadang dia harus piket di malam hari bahkan lembur sampai malam hari.
sedangkan fanny dia terus memokuskan dirinya untuk bekerja dan terus bekerja. hubungannya dengan brian tidak kembali baik seperti dulu lagi, namun juga tidak buruk seperti dia menganggap brian adalah orang yang berhianat.
saat bertemu pun hanya bersikap biasa. dan sekarang dia baru saja keluar dari ruangan rapat bersama samuel di hotel samuel.
hari sudah menjelang sore, fanny berjalan melewati lorong hotel itu seorang diri.
drtt...drrt
" Devan calling "
( halo sayang , hari ini aku harus lembur. maaf ya tidak bisa menjemputmu )
📱 " hmm tidak apa, aku akan pulang dengan taksi. "
( hati - hati ya, sayang sudah dulu ya masih ada pasien disini )
📱 " iya "
📱 " kenapa kau belum mematikan telponnya ?" tanya fanny.
( aku tidak mau. sebenarnya aku ingin pulang sekarang, setiap hari selalu lembur saat aku pulang kau sudah tertidur. aku tidak bisa mendengar suaramu. aku sangat merindukanmu sayang )
📱" kalau begitu kerjakan pekerjaanmu dengan cepat dan pulanglah. aku akan menunggumu dirumah "
( benarkah ? kalau begitu tutuplah aku akan langsung menyelesaikan pekerjaanku )
📱 " hmm aku matikan "
fanny mematikan telponnya, entah kenapa dia merasa senang mendengarnya. begitu pun dirumah sakit. devan sangat senang mendengar nya lalu dia memasukkan ponselnya kedalam saku bajunya dan kembali memeriksa pasiennya.
prang
fanny terkejut saat mendengar suara seperti gelas pecah, dia memang masih di salah satu lantai kantor hotel milik samuel.
dia mencari ke arah sumber suara itu. hanya selang beberapa ruangan dia bisa melihat ruangan yang kecil dan pintu agak sedikit terbuka jadi dia mengintipnya.
" ini hanya balasan kecil dariku. darah yang kau keluarkan tidak sebanding dengan penghianatanmu. apa kau masih berani menemui keluargamu ?" samuel terlihat marah dengan pria itu.
pria itu sedikit menoleh lalu fanny memelototkan matanya saat melihat itu dia adalah brian, darah yang keluar dari dahinya cukup banyak. dan ada sebuah guci pecah di lantai.
" mungkinkah dia ... " ya , fanny memikirkan kalau samuel sudah melukai brian.
" jika aku mengetahui kau bersembunyi dariku demi melihat keluargamu. aku tidak segan menghancurkan keluargamu, tidakkah cukup aku tidak melukai mereka termasuk mantan kekasihmu " bentak samuel.
" kau tidak berhak melarangku menemui siapapun yang ingin kutemui, ya ... aku mengingkari janji ku. janji yang paling bodoh yang pernah aku buat. coba pikirkan kau sendiri yang memaksaku berjanji seperti itu, demi kebahagiaan putrimu kau mengorbakan kebahagiaan orang lain " teriak brian dia sudah marah dan mengeluarkan semua unek - uneknya.
" jika aku mengingkari janjiku sekarang, bukankah kau juga sudah mengingkari janjimu padaku lebih dahulu. kau membuat masalah menurunkan harga saham hotel tiffanny. aku rasa ... kita impas sekarang " sambungnya lagi.
samuel mendekati brian dia tatap dengan tajam, juga brian yang menatapnya tajam.
( aku tidak boleh lemah, untuk raka , ibu dan tiffanny) pikirnya.
" darah ini ( tunjuk brian pada dahinya ) aku berjanji kau akan membayarnya. aku ... akan menceraikan anakmu , dan meninggalkan semuanya. itu ... sumpahku " tekan brian.
__ADS_1
" beraninya kau berkata ..." samuel mengangkat tangannya untuk menampar brian , namun lebih dahulu brian menyekalnya.
" tidak lagi, aku tidak akan diam seperti budakmu dulu. mulai hari ini ... aku , Brian William memutuskan perjanjian dan kontrak dengan Kleuwit Samuel. " katanya lagi.
" aku pun bersumpah untuk membunuh semua orang yang kau cintai " bentak samuel.
" lakukan jika kau bisa , aku akan menjadi garda terdepan untuk menjadi banteng mereka " katanya lagi.
" pergi dari sini sebelum aku membunuhmu sekarang " usir samuel yang tak ingin dibantah lagi.
" tanpa kah disuruh aku akan pergi dari sini "
mendengar brian akan pergi fanny segera mencari perSembunyian. lalu tak lama brian melintasi arahnya dia bisa melihat kemeja brian yang terkena darah.
malam hari itu di dekat taman terlihat sangat sepi hanya ada beberapa orang yang duduk bersama pasangan maupun teman mereka.
brian duduk sendirian tanpa mengobati lukanya terlebih dahulu. dia melamun sambil menundukkan kepalanya.
seseorang datang membawakan plastik putih berisi obat-obatan. brian merasa ada orang dihadapannya jadi dia mengadahkan kepalanya.
" Fanny " gumamnya.
fanny berdiri dihadapannya, dengan muka datar dan tangan yang memegang plastik berisi obat.
" Obati Lukamu " dia memberikan bungkusan obat itu , brian menerimanya sepenuh hati.
fanny tetap berdiri di hadapan brian , melihat itu brian sadar fanny masih berdiri " kau tidak ingin duduk " ujar brian.
akhirnya fanny pun luluh, dia duduk disebelah brian dengan jarak yang agak jauh.
" Darimana kau tau semua ini ?" tanya brian pelan.
" tidak sengaja melihatnya " jawabnya sambil menatap brian.
" Berarti kau mendengar semuanya ?" tanya brian lagi yang terus berusaha membersihkan lukanya.
" hmm "
" Maaf , aku harus menutupinya darimu sebelumnya. "
" dia selalu melakukan ini padamu ?"
" seperti yang kau lihat, dulu ... aku tidak melawan karena takut ancamannya. tapi sekarang sudah tidak , aku ingin hidup dengan caraku dan dengan keluargaku. "
" shhh "
brian mendesis perih saat menyentuh lukanya, melihat brian yang kesusahan fanny mengambil kapas baru dan membantu brian mengobati lukanya.
brian hanya diam saja , sambil dia menatap wajah fanny. " fan , apa kau mau memaafkan aku ? rasanya aku tidak bisa tenang sebelum kau benar - benar memaafkan aku " lirih brian.
" Lupakan masa lalu, kau tidak sepenuhnya salah " katanya yang terus mengobati luka brian.
" Aku akan menceraikan agatha , aku tidak ingin hidup dengannya lagi "
" Itu keputusanmu. aku tidak ingin ikut campur "
__ADS_1
brian tersenyum manis menatap tiffanny, wanita yang ia cintai namun tidak bisa dia nikahi.
" Kau bahagia dengan dokter itu ? "
" sudah selesai " kata fanny.
saat fanny akan menurunkan tangannya brian mencekalnya. keduanya saling menatap satu sama lain.
" kita sangat dekat sekarang, seperti tidak ada jarak. kau tidak pernah membalas pertanyaanku menyangkut hidupmu dan pernikahanmu " ungkap brian dengan lembut.
" aku tidak suka mengumbar kehidupan pribadiku. jika kau benar ingin membalas nya maka lakukan sesuatu, sekarang kau harus bisa mengeluarkan diri mu dari kehidupanmu sekarang. "
" Bagaimana caranya ? aku hanya tau cara melawan dengan kekerasan "
" aku akan mengatakannya , tapi tidak sekarang. "
" Maafkan aku, aku harus pulang sekarang. " dia berdiri dari bangku itu diikuti oleh brian.
" aku akan mengantarmu , kau pulang sendirian kan "
" tidak perlu. aku pakai taksi saja , dan ... gantilah bajumu kau tidak mungkin pulang kerumah agatha , ibumu akan khawatir saat melihat noda itu "
fanny langsung pergi setelah mengatakan itu , brian hanya mengawasinya dari belakang. jarak antar taman dan jalan raya cukup jauh takut terjadi sesuatu brian mengikutinya dari belakang.
dia tau brian mengikutinya, dia membiarkannya saja. setelah sampai di jalan raya dia berhenti menunggu taksi, tak lama taksi putih menghampirinya dia langsung masuk kedalam taksi.
sebelum brian masih melihatnya " fanny... " panggilnya.
fanny berhenti saat akan masuk kedalam mobil itu " hati - hati " sambung brian.
fanny tak menjawabnya dia hanya diam dan segera pulang. brian masih bisa melihat fanny yang duduk didalam taksi itu.
" drttt...drttr"
" Age Calling "
brian tak menggubrisnya dia matikan ponsel itu, dia kembali menuju dimana mobilnya terparkir. dia harus yakin untuk bisa keluar dari jeratan samuel sekarang.
bertahun - tahun hidup dengan agatha sama sekali tak menumbuhkan rasa cintanya. hanya ada kemarahan, kebencian dan keterpaksaan saja dihatinya.
jauh didalam lubuk hatinya dia memang menyayangi agatha , dia sudah menganggap age sebagai adiknya. namun dia sangat membenci ayahnya jadi dia tidak bisa menaruh hati pada wanita itu.
sesampainya di rumah fanny segera membersihkan dirinya , dia langsung mengganti pakaian nya. dia naik keatas ranjang , dia menunggu devan pulang. hari sudah pukul 9 malam namun devan masih belum kembali.
bayangan dimana dia melihat ceceran darah dan guci tadi siang membuatnya tak bisa tenang. semarah apapun dia dengan brian namun tujuan brian adalah melindunginya.
dia tidak berhak menghakimi seseorang karena kelutusan yang dia buat , hanya karena satu kebohongan dia tidak mungkin menghardik seseorang dan tidak membantunya.
ceklek
pintu kamarnya terbuka , devan sudah berdiri di depan pintu kamar itu. fanny menoleh kearahnya dan menatapnya, dia sedikit tersenyum kecil namun tak terlihat.
kedatangan devan hanya membuat wajah datar , bukannya senang dia malah terlihat menahan sesuatu. fanny curiga kenapa dia terlihat aneh bukankah dia yang memintanya menunggu dirinya kembali.
" Apa aku melakukan kesalahan ?"
__ADS_1