
didalam ruangannya disana juga ada rian dan devan yang duduk di sofa itu sambil ditemani minuman dan makanan ringan.
" beberapa investor ingin menambah investasinya , kenaikan saham pertahun membuatnya merasa puas akan hal itu tapi aku belum memberikannya jawaban aku ingin kau sendiri yang memutuskannya " jelas rian dengan seksama.
" begitu , tidak masalah jika kau menolak atau meng-iyakannya. aku memperyakannya padamu. "
" brian ingin mengambil setengah investasinya pada hotel , aku sudah memberikannya sehingga kita bisa menambah investasi milik orang lain. " kata rian lagi.
" tiba - tiba sekali, apa ada masalah ?" tanya tiffanny
" Dengan alasan membuka bisnis baru dia mengambilnya jadi aku tidak bisa menolaknya itu memang uangnya. "
" aku mengerti " jawab tiffanny.
sedangkan devan hanya memperhatikan dan mendengarkan apa yang istrinya dan sekretarisnya bicarakan, dia memang sedikit mengerti tentang ini.
" dan juga ... aku sudah menetapkan tanggal pembukaan hotel terbaru, apa kau keberatan dengan konsepku ?" tanya rian.
tiffanyy mengambil tablet yang diberikan rian dia mengamati semua nya.
" jadi maksudmu aku tidak perlu datang dan hanya meresmikannya dari hotel ini, kita akan melakukannya secara virtual. sedangkan yang disana kita sudah mengirimkan beberapa staff dan perwakilan. "
" benar "
" tidak masalah aku setuju itu " kata devan sehingga membuat kedua orang itu menatapnya.
" dalam kondisimu yang baru pulih tidak baik melakukan pekerjaan yang terlalu jauh apalagi jarak norwegia dan indonesia jauh. "
" rian sudah memutuskan hal yang paling benar " sambungnya lagi.
" wah , bahkan kau sudah berada di pihaknya sekarang. " saut tiffanny.
" aku setuju karena untuk kebaikannya mu juga sayang, dan ... calon anak kita " devan mengelus perut fanny tiba - tiba , dan hal itu sontak membuat tiffanny terbatuk - batuk saat dia baru meminum air minumnya.
berbeda dengan rian yang hanya bangkit dari duduknya sedikit dengan menegakkan bahunya.
" kau ha-mil ?" tanya rian
" itu .. aku , hei devan " tunjuk tiffanny.
" jangan berteriak " ucap devan lembut seraya menggelengkan kepalanya.
" jadi benar ?"
fanny mengelengkan kepalanya " rian dia hanya membual saja, tidak .. itu tidak benar " belanya.
" sungguh ?"
" tetap saja sebentar lagi kami akan memiliki anak " kata devan dengan yakin.
" Rian bersiaplah mencari pasangan kau mau anak kita berjodoh ? aku ingin anak perempuanku nanti menikah dengan pria yang kukenal asal usulnya. "
" devan apa yang kau katakan " ujar fanny.
" aku permisi dulu. " kata rian dengan wajah yang lesu dan tertunduk.
" aku hanya bicara seperti itu memangnya kenapa ? apa dia punya sesuatu ?"
" sudahlah , jangan bicara seperti itu. dia memang terlihat biasa saja sama sepertiku dia juga punya masa lalu. "
***
mereka sudah ada dirumah , mereka berdua makan malam bersama di meja itu.
tiffanny terus kepikiran tentang rian , wajah rian sebelumnya tidak pernah kembali seperti itu. perkataan devan yang tak sengaja mungkin membuatnya sedikit terluka.
" hmm devan , aku masuk duluan ya aku lupa ada sesuatu yang belum kukirim dengan rian . "
__ADS_1
devan menatapnya lalu mengangukkan kepalanya ,secepatnya tiffanny masuk kedalam kamarnya dia bukan ponselnya dan langsung menelpon rian.
tut...tut...tutt
( halo Fanny , ada apa ? apa ada sesuatu ? )
📱 " untuk perkataan devan tadi pagi , aku minta maaf dia tidak tau yang sebenarnya jadi dia asal bicara saja. "
( hanya itu ? sudahlah aku juga tau. dokter devan hanya berusaha berbicara denganku. apa dokter devan tidak ada didekatmu sampai kau bisa menelpon ku di jam seperti ini ? )
sejenak tiffanny diam , suara rian membuktikan bahwa perkataannya hanya untuk membuatnya merasa baik - baik saja.
( Fan ?" kau masih disana ? )
📱 " ah iya , rian ... aku hanya ingin melihatmu merasa bahagia sama seperti yang lainnya , dulu nasib kita sama. sama - sama ditinggalkan orang yang kita cintai tapi sekarang aku sadar akan ada orang yang akan menggantikan semuanya dengan lebih baik , aku percaya akan ada perempuan yang datang kepadamu dengan cinta yang tulus. "
📱 " Dan juga ... saat aku pulang, aku melihat vania berada di dekat plaza. "
( Va-nia ? )
📱 " hmm , dia masih sama seperti dulu. sangat cantik , sudah ya aku tutup aku hanya ingin meminta maaf untuk perkataan devan tadi pagi itu saja. "
( baiklah selamat malam )
📱 " kau juga "
tiffanny menutup telponnya terlebih dahulu, namun saat dia berbalik devan sudah berdiri di tengah - tengah pintu dengan manatapnya.
" sejak kapan , kau disana ?"
" sejak tadi " seraya kakinya dia langkahkan ke dekat fanny.
" aku mengatakan sesuatu yang membuat rian terluka , aku harus minta maaf padanya sendiri nanti. "
" devan "
" jangan merasa bersalah kau tidak tau dan dia juga tidak mempermasalahkannya. " kata tiffanny sambil memeluk tiffanny.
" tapi sayang. apa boleh aku tau tentang rian ? dia sangat misterius untukku "
diranjang besar itu tiffanny menaruh kepalanya di dada devan ,sedangkan devan menyenderkan di kepala ranjang dengan bantalan.
dia merangkul tiffanny sambil mengelus lengan tiffanny.
" jadi rian dulu punya seorang kekasih bernama vania velerie , lalu dimana dia sekarang ? dan kenapa mereka berpisah ?"
" walau rian terlihat keras diluar tapi aslinya dia sangat baik bahkan lembut pada wanita. dia tidak pernah marah ataupun membentaknya. vania adalah cinta pertamanya , vania wanita yang cantik dan berbakat tapi sayangnya mereka berdua harus berpisah. "
"aku rasa istriku adalah wanita tercantik didunia " godanya dengan mencium kening tiffanny.
" dengarkan aku dulu " kata fanny.
" baiklah , baiklah "
" mereka putus saat keduanya berada di semester 4 , vania terpaksa harus meninggalkan rian hanya untuk menikah dengan pria pilihan ayahnya. dan sampai akhir pun vania tetap mengatakan jika dia hanya akan mencintai rian. "
" lalu apa yang dikatakan rian saat itu ? "
" seperti sifatnya yang tidak mudah marah dengan perempuan, dia hanya mengangukkan dan mengatakan ' jika itu yang kau inginkan maka sebaiknya lakukan , dan pergilah ' dia tidak menangis atau marah tapi saat aku melihatnya malam hari dia duduk di terminal kota seorang diri , biasanya dia dan vania akan duduk berdua hanya untuk sekedar membeli jagung bakar . "
" dan semanjak hari itu , dia hanya fokus tentang kuliah dan juga pekerjaannya. "
" kalau begitu aku akan menemuinya dan mengatakan maaf" jawab devan.
" ya ... lakukanlah "
***
__ADS_1
keesokan harinya
tiffanny berdiri di depan sebuah gedung yang sederhana , gedung itu adalah tempat usaha brian yang baru.
Living In Memories ( Lim )
brian menanaminya living in memoris dengan artian jika suatu saat nanti hidup hanya akan menjadi kenangan.
tujuannya kemari hanyalah untuk berterima kasih, jika bukan karena brian yang membawanya maka dia tidak akan pernah ada didunia lagi.
Langkah kecilnya memasuki gedung itu , di pintu utama yang terbuka itu tampak sepi bagian dalam gedung. dia memutar bola matanya ke penjuru ruangan , hingga muncullah brian dengan laptop yang ada di tangannya.
brian terkejut namun hanya bersikap biasa padahal dia senang tiffanny mengunjunginya.
" Bisa bicara ? " tanya fanny.
dan sekarang kedua nya duduk berhadapan dengan espresso sebagai minuman siang ini , tiffanny terus menundukkan kepalanya sedangkan brian menatapnya.
" Aku tau kau akan kembali dengan selamat " brian memulai percakapan itu terlebih dahulu.
" kau ... dengan siapa kesini ? apa ada dokter dev...."
" Rian , dia ada di mobil. " potong tiffanny.
brian hanya mengangukkan kepalanya tanda mengerti lalu kembali dia meneguk espressonya.
" aku ... aku ingin mengucapkan terima kasih padamu. "
" untuk ?"
" untuk yang kau lakukan malam itu."
" aku tidak akan membiarkan orang yang aku cintai tiada begitu saja. "
tiffanny masih menundukkan kepalanya " kenapa kau menunduk , apa kau malu ? atau ... kau tidak bisa melihat wajahku lagi karena kau sudah mencintai pria lain ?"
" aku... " tiffanny mengangkat kepalanya
" tidak perlu berterima kasih atas apa yang kulakukan. dan aku juga minta maaf beberapa waktu yang lalu menarik setengah sahamku padamu. "
" tidak , itu hak mu. aku tidak mempermasalahkannya. ini ... tempat mu yang baru ?"
" hmm , kau tau kan dari dulu aku ingin membuka studio ku sendiri, dan keinginanku baru tercapai setelah 13 tahun. " dia seperti merasa banggaa atas kerja kerasnya.
" ya , aku ingat. semoga kali ini tidak akan ada yang menggangu mu dan usahamu lancar. "katanya dengan senyuman kecil.
" jangan tersenyum , kau membuatku semakin sulit melupakanmu. " ujar brian dengan tersenyum berusaha mencairkan keadaan.
" ah baiklah " kata tiffanny yang kembali tersenyum kecil.
sekarang dia harus berdamai dengan semua orang, baik dari masa lalunya maupun masa sekarang. alangkah lebih baiknya hidup tanpa permusuhan.
" aku kemari hanya untuk itu saja , sekarang aku harus pergi. sebagai ucapan terima kasihku jika kau membutuhkan sesuatu aku akan membantumu jika aku mampu. " tiffanny masih duduk dihadapan brian sambil memegang tasnya.
lalu dia berdiri dan tersenyum kecil " sampai jumpa. " ucapnya.
dia langkahkan kakinya ke luar studio , brian masih berdiri di dekat meja yang mereka duduki tadi.
" tunggu tiffanny. " ucapnya.
langkahnya terhenti begitu saja tak kala mendengar brian.
" kau bilang jika aku membutuhkan sesuatu kau akan memenuhinya ?"
tiffanny mengangukkan kepalanya.
__ADS_1
" aku butuh dirimu untuk tetep disisiku, apa kau bisa memenuhinya ?"