
sampai jam 10 malam tiffanny masih belum sampai juga, devan memutuskan untuk mencarinya sendiri. dia mengambil kunci mobilnya namun saat keluar dia sudah melihat mobil tiffanny memasuki rumah. dia mengambil payung yang ada digarasi dan menghampiri fanny.
fanny membuka pintu mobilnya dengan wajah lesu , devan yang berada di hadapannya yang tadinya ingin marah seketika hilang sudah saat melihat wajah wanita itu.
" ini sudah jam 10 malam , darimana saja ? aku mengkhawatirkanmu dari tadi , kau dari mana saja sayang ?" tanya devan dengan nada lembut.
tiffanny tidak menghiraukannya dia berjalan diguyuran hujan deras itu , devan mengejarnya dan berbagi payung dengan fanny.
" sayang kau basah kuyup, akan sakit jika begini. bajumu juga sudah basah dari tadi kan " katanya yang masih nada lembut.
" Devan ... Bisakah aku sendiri ? aku tidak ingin bicara kepada siapapun sekarang " dia menatap devan dengan mata yang berair.
" Kenapa ? "
" Tidak , aku hanya ingin ... memikirkan , hidupku sendiri "
dia segera berlalu namun devan tidak membiarkannya kehujanan dia harus sabar dengan sifat istrinya dia memayunginya agar tidak kena basah.
***
Rian yang sudah tau kalau fanny sampai dengan selamat merasa tenang , dia memutuskan untuk kembali ke apartemennya.
***
didalam kamar mereka , tidak ada suara apapun. hanya ada keheningan saja. fanny tidur membelakangi devan dan devan menghadapnya. dia ingin bertanya apa yang terjadi namun dia takut fanny akan kesal.
sampai beberapa hari kemudian Tiffanny jadi sosok yang semakin diam, dia jarang menanggapi ucapan devan. hanya dengan iya atau tidak. dia selalu pergi pagi dan pulang larut malam.
saat devan ingin meminta sesuatu tiffanny menolaknya , dia selalu menyendiri akhir - akhir ini membuat devan khawatir.
dia juga marah sebenarnya karena tiffanny seperti tidak menganggapnya selalu bekerja dan bekerja saja.
" Aku antar ya " ujar devan.
" Aku bawa mobil sendiri " Balasnya yang segera berlalu pergi.
devan mengeram kesal karenanya. ingin dia marah namun dengan begitu dia tidak akan bisa mendapatkan perhatian fanny.
***
dirumah sakit itu diruanganya devan duduk diam melamun, dia memandangi foto di mejanya itu adalah foto pernikahannya dengan tiffanny dia mengambilnya dan mengelusnya.
" Apa aku sudah sangat memaksamu ? kau terkekang hidup denganku " gumamnya.
" Jika kau mengatakannya sendiri, mungkin aku akan melepaskanmu " sambungnya.
" Walau aku mencintaimu, tapi sangat berat bagiku ... aku terus mengharapkan balasan darimu, tapi sampai kapan "
tok...tok...tok
" Devan " panggil dion
devan menaruh foto itu dan menghapus air mata yang akan jatuh itu.
" Wah! aku tidak pernah melihatmu menangis seperti ini, ada apa ? kau kehabisan point game mu ?" dia duduk dihadapan sekarang.
__ADS_1
" Tentang Istrimu ?"
devan diam tidak menjawabnya
" Sebelum menikah kau tau bagaimana sifat wanita yang akan kau nikahi. jika kau menyesal sekarang tidak ada gunanya. itu pilihanmu, tapi cobalah berpikir saat telah jauh seperti ini ... apa kau ingin menyerah ? rasanya ... sangat tanggung hanya setengah jalan "
kali ini dion seperti seorang penerang, dia seperti sang tetua yang memberi arahan untuk anak anak.
" Apa dia menolakmu secara langsung ?"
" tidak "
" itu artinya masih besar harapanmu "
***
kantor tiffanny.
ini sudah malam tepatnya pukul 7 dia masih belum membereskan berkasnya, dia menidurkan kepalanya di meja kerjanya dengan berbantal lengannya.
"Aku terlalu malu untuk mengatakannya, aku seorang pria. tidak ingin meminta bantuan karena takut kau akan menganggapku apa ? pria yang tidak punya etika tanpa rasa malu datang kepadamu dan membuatmu repot "
dia terus mengingat semua ucapan brian itu, kenapa brian jauh berbeda dari devan pikirnya. dia tau cinta keduanya sama besar namun dari perlakuan brian lebih ke hati - hati dan selalu merasa Tidak enak seperti dia orang lain. sedangkan devan dia orang yang apa adanya, dia suka melakukan hal sesukanya dan menganggapnya penting di setiap saat.
" Dan sekarang ada dirimu, sayang .. kau satu - satunya wanita yang akan kuberitahu semua masalahku, kehidupanku , aktivitas ku dan semuanya. aku mengatakannya karena kau sangat penting bagiku, aku ingin istriku tau semua apa yang terjadi padaku."
" Devan " gumamnya tanpa sadar nama itu muncul begitu saja.
tok...tok...tok
" Apa kau masih tidak ingin pulang ?" tanya rian yang memperhatikannya sedang melamun itu.
" Aku juga sudah selesai akan pulang sekarang" gumam fanny.
" aku akan mengantarmu , atau dokter devan akan khwatir dan menanyakan kabarmu padaku seperti beberapa hari yang lalu "
fanny mengerti kemana arah pembicaraan rian itu , dia tidak ingin berlanjut jauh dan mengambil ponselnya.
***
shittt
mobil rian berhenti di depan rumah tiffanny, dia segera turun bersamaan dengan fanny.
" masuklah dia sudah menunggumu didalam " ujar rian.
" terima kasih " ucap fanny.
fanny masuk kedalam rumah , disana devan berdiri menatapnya.
" Aku pikir kau akan pulang larut malam lagi "
" Tidak "
" Diantar sekretarismu ? dia juga belum pulang ternyata "
__ADS_1
fanny masih berdiri di hadapan devan , dia tidak berani melangkah lebih jauh lagi mendengar nada devan yang dingin dia tau devan sudah marah.
" Dia menungguku "
devan tersenyum kecil mendengarnya " tanpa mengabariku, tanpa bicara padaku, dan pulang malam dengan pria lain " katanya.
" Apa maksudmu, dia bukan pria lain " bela fanny.
" jangan menyela perkataanku, aku sedang tidak ingin dicela sekarang. "
" Kau menyesal menikah denganku ?" tanya devan tepat dihapadannya.
tiffanny tidak menjawabnya
" bahkan kau tidak ingin menjawabnya. Apa kau ingin aku menceraikanmu ?"
fanny terkejut mendengar nya tetapi dia bersikap biasa hanya matanya saja yang membulat, dia tidak pernah mendengar devan mengatakan ini.
" Jika itu maumu ... lakukan sesukamu " jawabnya, dia berpikir devan ingin bercerai darinya jadi dia tidak ingin membuat devan lebih jauh.
kesalahpahaman keduanya ini membuat devan sangat murka.
" maafkan aku, tapi sampai kapanpun aku tidak akan menceraikanmu. " tekannya.
" Tiffanny jika kau memang tidak ingin menikah denganku kau bisa menolaknya tepat dihadapan semua orang , aku tidak masalah " ucapnya dengan lantang. untuk pertama kalinya setelah menikah dia memanggil nama lengkap fanny.
" Kau selalu bilang kau menerima pernikahan kita, tentu aku senang mendengarnya walau kau belum mencintai ku setidaknya itu adalah harapan terbesar untukku ! setiap saat aku bertanya apa kau menyesal ? apa kau menyesal ? tidak ! kau selalu diam seperti ini. " tegasnya dengan wajah yang memerah hilang sudah wajah lembutnya yang selama ini dia perlihatkan.
" setidaknya jawab aku sekarang " hardiknya lagi
" Apa kau takut kepadaku ? ... tidak , jangan takut aku tidak akan melakukan apapun kepadamu " sambungnya lagi.
" devan "
" Fanny , apa kau pikir ucapanmu yang selalu berkata menerima pernikahan ini sudah cukup ? aku mencintaimu sepenuh hatiku, menerima semua masa lalumu. beberapa hari terakhir kau selalu menghindar dariku , tidak pernah membalas sms ku bahkan kau menolak saat aku meminta hakku. aku masih berpikir mungkin kau banyak pekerjaan dan lelah oleh sebab itu selalu menolakku aku paham itu "
" Aku terus memperhatikanmu setiap malam, aku suamimu ... jika kau pikir ucapan itu sudah cukup , kau salah besar ! tiffanny ... aku sangat butuh waktu dan perhatian darimu, aku benar - benar memperhatikannya. "
" aku tidak meminta mu untuk melakukan pekerjaan rumah mengurusku seperti seorang istri lainnya , aku hanya ingin kau selalu ada disaat aku membutuhkanmu dan memperhatikan diriku apa aku baik - baik saja atau tidak kau tidak bertanya ? apa kau tidak peka kalau aku membutuhkan semua itu ?" hardiknya lagi, dia mengeluarkan semua unek - uneknya.
" maaf "
hanya itu yang bisa dia katakan sekarang, devan benar dia selalu mengacuhkannya bahkan tidak pernah bertanya keadaannya.
" aku juga tidak butuh maafmu, yang aku butuhkan hanya dirimu "
entah dorongan dari mana , tiffanny memeluk devan tangannya melingkar di perut devan.
" maafkan aku " gumamnya sambil menangis.
" maafkan aku " dia menyesali perbuatannya.
devan mengangkat tangannya untuk membalas pelukan itu dia sangat peduli pada tiffanny.
" aku tidak tau harus dimulai dari mana, sesuatu hal baru aku ketahui dan hatiku sangat sakit mendengarnya " ucapnya dengan serak.
__ADS_1
" lalu kau menghindariku, seharusnya katakan padaku bukan menghindarinya " gumam devan.
" Aku salah " balas fanny.