
" hentikan devan ! "
***
tit ... tit...tit
ruangan yang sunyi dan gelap dimalam hari , selesai operasi dia tidak sadarkan diri sampai sekarang. begitu banyak peralatan medis yang menopang kehidupannya saat ini.
krek
devan membuka pintu kamar itu dengan wajah yang sedih , murung dan tidak bisa diartikan lagi. dia benar - benar kacau hari ini.
air matanya jatuh saat itu juga , matanya menatap nanar tiffanny.
" maaf , maafkan aku hiks " isaknya.
dia berdiri di samping tiffanny dengan jarak yang sangat dekat, namun sama sekali mereka tidak bisa saling bercengkrama.
" apa kau tidak bisa untuk tidak datang sehari saja ? aku ingin bersamamu malam ini. sudah beberapa hari aku terus menunggumu dan aku merasa kesepian dirumah " ucapnya dengan nanar dan mata yang berkaca - kaca.
devan mengangkat dagu tiffanny dan menatapnya lekat.
" maaf sayang aku sadar beberapa hari ini aku terus bekerja dan membuatmu kesepian sendirian dirumah. ini semua karena seorang dokter sedang cuti jadi aku harus berbagi waktu dengan yang lainnya. "
" apa tidak ada dokter lainnya ? haruskah dirimu setiap malam ? waktu itu ... kau marah padaku karena aku tidak pernah peduli padamu dan hanya terus bekerja saja. dan aku sadar aku sudah terlalu melalaikanmu aku bisa meninggalkan pekerjaanku dan membagi waktu denganmu , apa kau tidak bisa ?" tanyanya lirih.
" kau sungguh tidak ingin menemaniku dan pulang bersamaku ?" gumam fanny.
mengingat bagaimana sebelumnya tiffanny meminta dia untuk tidak datang dan pulang kerumah karena tiffanny merasa kesepian membuatnya menyesal. andai dia menemaninya dan tidak mrmgantarnya kerumah sakit hal ini tidak akan terjadi pikirnya.
" aku bahkan tidak bisa memaafkan diriku sendiri sekarang, seharusnya aku mendengarkanmu. maaf ... maafkan aku sayang " lirihnya yang terus menangis.
sementara di depan kamar itu , semua orang hanya memandangi keduanya dari balik jendela. begitu besar penyelesan devan saat ini, hatinya terasa hancur berkeping - keping.
drrtrttt.....drrtttt
devan menunduk dan memgambil pondel dalam jasnya , tapi matanya tertuju pada pesan yang dikirimkan tiffanny sebelumnya. dia membuka pesan itu memperhatikan jam dan banyak pesan suara dari tiffanny.
dia mengklik pesan suara itu sehingga dia bisa mendengarkan semuanya.
" devan hiks ... maaf hiks - hiks , aku mungkin tidak akan bisa bertemu denganmu lagi. hiks ... hiks , aku berterima kasih padamu untuk semua yang kau lakukan hiks... kau sudah mencintaiku dengan sangat tulus "
tin....tin
" devan ... aku ingin menepati janjiku padamu hiks , mungkin ini sangat terlambat ... akan tetapi aku masih harus menepatinya. aku ... aku mencintaimu devan hiks , aku sangat mencintaimu dan sangat ingin terus bersamamu hiks, hiks , hiks. jaga dirimu baik - baik saat aku tidak ada nanti dan hiks ... jangan ingat aku lagi , hiduplah dengan baik dan temui seorang hiks ... seorang wanita yang sangat mencintaimu , tidak seperti diriku hikss ... "
" devan ... aku , mencintaimu "
" Brakk "
kakinya seketika lemas dan seakan tak bisa berdiri , dia terduduk di lantai dan kembali menangis.
brak
__ADS_1
micheal membuka pintu kamar itu dan menghampiri devan yang terlihat lemah itu.
" ada apa devan ? kau kenapa ?" tanyanya cepat dan kalista juga ikut masuk kedalam.
devan menggelengkan kepalanya lalu menjatuhkan ponsel itu, kalista menatap ponsel itu lalu mengklik pesan itu sehingga mereka bisa mendengarnya.
kalista dan micheal menutup mata saat suara terkahir terekam dimana suara keras yang menghantam mobil tiffanny.
" dia pasti sangat kesakitan " gumam kalista.
" devan percayalah dia akan kembali dengan selamat, lihatlah dia memang selalu seperti itu , selalu membuat kita cemas dan akhirnya dia akan baik - baik saja. kau tau dia orang yang kuat bukan " ujar micheal.
" aku menyesal ( dengan bibir yang gemetar ) aku menyesal tidak mendengarkannya , ini salahku ... ini semua salahku. seandainya aku lebih memilih berdiam dirumah ini semua ... "
" kau tidak bisa menyalahkan dirimu sendiri , kalian sama - sama mempunyai kewajiban dan tugas masing - masing. aku percaya tiffanny akan kembali bangun kau sudah dengar sendiri dia mengatakan cinta kepadamu. " potong kalista.
" iya devan , dia sangat mencintaimu. dia orang yang setia dan tidak akan meninggalkanmu sendirian " timpal micheal.
devan berusaha untuk bangun , dia menyentuh tangan tiffanny yang polos karena cincin nya dia lepaskan.
cup
" bangunlah sayang aku mohon bangun. " ujarnya di telapak tangan tiffanny.
***
beberapa hari kemudian
hari demi hari devan lalui dengan kesedihan , tidak ada tanda - tanda jika tiffanny akan segera keluar komanya. sudah beberapa hari dan berita kecelakaan itu menyebar luas.
dan semenjak tiffanny ada diruang perawatan itu devan tak pernah keluar sedikitpun, dia memilih meninggalkan pekerjaannya dan menemani tiffanny.
dia hanya akan menjadi dokter untuk tiffanny seorang saat ini.
matanya juga terlihat sembab karena terlalu sering menangisi tiffanny , wanita itu benar - benar seperti mayat hidup sekarang.
sebenarnya tubuh tiffanny sudah normal hanya saja dia masih belum menunjukkan sadar dari komanya.
ceklek
rian tiba seorang diri sehabis kerja maupun sebelum bekerja dia selalu datang menjenguk tiffanny dan membawakan pakaian ganti untuk devan.
dia tidak mengira semuanya akan terjadi , rasa hilang dan kesepian tentu saja terasa dalam dirinya. hanya tiffanny yang sangat dekat dengannya sekarang.
" ini pakaianmu " ujar rian.
" terima kasih " balas devan yang menerima paper bag itu.
" bagaimana kondisinya ?" menatap tiffanny sendu.
" masih sama "
" sampai kapan dia akan terus seperti ini ? semua nys membutuhkan dia " ujar rian.
" aku juga sangat membutuhkannya , berhari - hari dia terus tertidur . dia bilang dia mencintaiku tetapi dia tidak mau melihatku " timpal devan yang lirih.
" kecelakaan itu , semuanya di sabotase " ungkap rian
__ADS_1
mendengar itu membuat devan terperangah dan menoleh.
" siapa yang melakukannya ?" tanya devan.
" masih belum tau , polisi sedang menyelidiki kamera pengawas "
" apa istriku punya persaingan bisnis ?"
" setiap bisnis pasti punya persaingan. akan tetapi tiffanny tidak suka memiliki masalah pada seseorang , dia juga tidak akan pernah menurunkan usaha orang lain jadi tidak mungkin karena partner bisnisnya "
" lalu sia , samuel .. ya ! ini pasti ulah samuel " ucap devan dengan yakin.
" kenapa kau bisa sangat yakin , sedangkan dia dipenjara " tanya rian.
" dia dipenjara tapi anak buah nya tidak. aku masih ingat betapa dia masih ingin balas dendam pada istriku. " katanya lagi dengan yakin.
***
didalam ruangan penjara yang gelap dan lengkap dengan baju tahanan , samuel duduk santai sendirian sambil tersenyum. seperti dia sedang memenangkan suatu ajang perlombaan.
" tidak ada yang tersisa lagi sekarang " ujar nya dengan senyuman smirk.
brak
" saatnya makan siang " pengawas masuk kedalam jeruji besi dan membawakan sepiring makanan yang hanya berisi sayur dan telur saja , dan cara memberikannya juga seakan tidak ikhlas.
" baiklah ... aku harus memakan makanan tidak layak ini untuk merayakan kemenanganku " ujarnya dengan sombong.
***
sedangkan brian ditengah - tengah kesedihannya , dia membuka usahanya sendiri dibantu dengan raka yang selalu setia menemaninya.
dia mendirikan usaha foto majalah yang sekarang sedang diminati oleh kaum millenial. gedung sederhana yang dia beli itu sudah cukup untuknya menghasilkan pundi - pundi uang.
dia harus membantu raka yang bekerja sendirian untuk menghidupi ibunya.
berbagai peralatan photografer , komputer dan yang lainnya dia tata bersama raka.
" raka bantu kakak pindahkan meja ini kesudut sana " tunjuk brian.
" iya kak "
keduanya saling mengangkat sebuah meja besar itu dan memposisikannya dekat jendela.
" terima kasih raka "
" kakak tidak menjenguk kak fanny lagi ?" tanya raka.
pertanyaan itu membuat brian terdiam " kakak hanya perlu meminta izin pada dokter devan , dia orang yang baik hanya saja jangan menggunakan emosi saat bicara kepadanya "
" dia juga mungkin akan mengerti " sambungnya lagi.
" kakak tau " ucapny seraya tersenyum dan mengangukkan kepalanya agar raka senang mendengarnya.
" ayo kita minum dulu " ajak brian.
brian membuatkan mengambil dua minuman dingin dari kulkas kecil itu , dan mereka duduk bersama disebuah meja.
__ADS_1
*bagaimana kabarmu Fan , aku begitu khawatir padamu. aku ingin terus berada di sisimu tapi devan tidak membiarkan aku sama sekali untuk dekat denganmu.
kenapa semua terasa egois , aku hanya memikirkanmu*.