Cinta Di Hatiku

Cinta Di Hatiku
Sakit


__ADS_3

" Nenek tidak menelponku" ujar fanny.


" Nenek baru pulang tidak mungkin langsung memegang ponsel kan , tentu saja harus istirahat "


mendengar itu ada benarnya juga , nenek harus istirahat. dia pun duduk di sofa itu dan menatap televisi yang tak bersuara itu.


lama - kelamaan mata fanny terlihat buram ketika memandang televisi itu , dia memejamkan matanya untuk menetralkan penglihataanya.


" ada apa dengan ku , semua pandanganku terlihat pudar " pikirnya.


blek


fanny tertidur begitu saja , dia menyenderkan kepala di senderan sofa karena tertidur. devan merasa aneh kenapa fanny tidak bergerak lagi , dia bangun dari duduk nya dan mendekati fanny.


" Fanny ... fanny , apa kau tidur?" tanyanya menyenggol-nyenggol pelan bahu fanny.


" mungkinkah dia tidur " pikirnya.


devan pun memutuskan untuk mengangkat fanny , dengan pelan dia mengangkatnya dan menggendongnya. sesampainya dikamar dia merebahkan tubuh fanny diranjang lalu memberinya selimut hingga keleher.


karena ini juga sudah malam , jadi devan memutuskan untuk tidur di kamar sebelahnya dan mematikan lampu kamar sebelum pergi.


namun , beberapa jam kemudian fanny mulai terbangun dari tidurnya. dia bingung bagaimana bisa pindah kedalam kamar karena seingatnya dia tadi ada di sofa depan.


sejenak dia berpikir dan mengingat kembali kejadian tadi malam " devan " pikirnya.


dia membuka selimutnya , dan turun dari ranjang. dia membuka pintu kamarnya melirik ke samping kamar kakaknya itu sudah tertutup pasti devan sudah tidur pikirnya.


kembali dia turun ke bawah , dia duduk di kursi meja makan , sambil minum air putih dihadapannya.


" kenapa terkadang aku merasa sangat pusing sampai aku tidak tahan rasanya , juga pandanganku kabur begitu saja " pikirnya dengan begitu banyak pertanyaan dibenakknya sendiri.


" tiffanny kenapa kau tidak tidur ?" tanya devan yang sudah ada di sampingnya membuat fanny menoleh kepadanya.


" oh itu , aku terbangun tapi tidak bisa tidur lagi " jawabnya.


" Duduklah disana , aku akan membuatkanmu Teh Hijau kau akan merasa lebih baik setelahnya " kata devan.


" tidak , tidak perlu aku akan mencoba tidur saja " tolak fanny.


" jangan menolak kebaikan itu tidak baik " ujar devan.


devan menarik tangan fanny hingga dia mendudukkan fannu disofa " duduk dengan mantap disini hanya 3 menit saja " katanya.


devan kembali melanjutkan aktivitasnya membuat teh hijau untuk tiffanny , tiffanny hanya mampu memandanginya saja tidak mengerti kenapa devan begitu baik padanya.


" minumlah " sodornya.


" terima kasih " ucapnya sambil menerima teh itu dan segera meminumnya.


" jika merasa sudah lebih baik ... sekarang ayo kita tidur " ajak devan.


" aku tidak bisa tidur dikamar , aku akan tidur disini saja " kata fanny.


" baiklah aku akan menemanimu disini "


devan meninggalkan fanny tidak tau apa yang akan dia lakukan , tetapi fanny hanya diam saja karena rasa pusing dikepalanya sangat hebat sekali.


dia mengambil ponselnya yang ada dimeja dan mencari kontak nama rian .

__ADS_1


" *Apa besok jadwalku padat ?" tanyanya di sms itu.


ting


📱 " tidak , ada apa ?" jawab rian yang langsung membalasnya.


" tidak , hanya bertanya saja "


ting


📱 " Kenapa belum tidur* ?"


" ini ambillah , bantal dan selimut , tidurlah di sofa aku akan tidur dibawah mu " devan mengatur bantal itu di kepala sofa dan memberi fanny selimut. sedangkan dirinya sendiri , dia menaruh bantal di bawah sofa fanny dan tidur disana.


" jangan dibawah " ujar fanny.


" tidak masalah , tidurlah aku akan menemanimu sampai tertidur " guman devan pelan.


fanny pun menurut dia merebahkan dirinya di sofa itu, matanya masih terbuka dan kedua tangannya memainkan selimut itu.


" masih belum bisa tidur ?" tanya devan pelan yang melihat tangan itu terus bermain di selimut.


" semenjak aku mengambil obatmu , apa kau terus seperti ini ?" tanya devan lagi.


" hmm "


" sudahlah aku sudah terbiasa seperti ini setiap malam. kau tidurlah , kau harus bekerja besok ... terima kasih " ujar fanny.


" tidak akan tidur sebelum kau tidur " gumam devan.


akhirnya mereka berdua mencoba untuk tidur bersama malam itu. agar fanny tertidur devan terus berbicara panjang lebar agar ketika fanny mendengarnya dia jadi mudah terbawa perasaan sampai bisa tertidur.


cukup lama dia bicara sendirian , sampailah ke titik dimana akhirnya fanny terlelap dan tangan fanny teruntai begitu saja , perlahan - lahan tangannya mengambil tangan itu dan menautkannya.


keesokan harinya


devan harus pergi cepat hari ini , dia bangun terlebih dahulu dan membuatkan roti panggang biasa untuk fanny yang masih tidur itu.


dibuatkan juga segelas susu putih , setelah selesai barulah dia pergi. tak lama fanny terbangun melihat sosok devan yang sudah tidak ada lagi di bawahnya. dia bangun dan bersiap - siap. matanya tertuju pada sarapan itu , dia tersenyum kecil melihatnya.


hanya butuh waktu 1 jam untuk bersiap bekerja , sekarang sudah waktunya pergi dia melajukan mobilnya keluar halaman.


teringat semalam saat rian mengatakan tidak ada jadwal yang berarti jadi dia memutuskan untuk pergi kerumah sakit. sesampainya disana dia memarkirkan mobilnya dan segera mendaftarkan diri untuk konsultasi.


dia ada di antrian 012 , sedangkan konsultasi itu baru 5 orang. dia menunggu dengan tangan yang gemetar dan wajah yang takut.


" pergi ? tidak ? pergi ? tidak ?" pikirnya.


setelah mengantri lebih dari 1 jam akhrinya giliran dia yang berkonsultasi.


tok..tok..tok


" silahkan masuk " kata dokter muda pria itu.


" duduklah " kata dokter itu.


" siapa namamu ?" tanya dokter itu tanpa melihat sosok fanny.


" Tiffanny wang " jawabnya.

__ADS_1


dokter itu segera menoleh " tiffanny " gumamnya.


" usia ? " tanya dokter.


" 25 "


" baiklah , sekarang perkenalkan saya dokter Wijin , keluhan apa yang dirasakan ?" tanya dokter dengan ramah.


" aku ... eh , aku tidak tau tapi saya sering merasakan sakit kepala yang sangat hebat tetapi setelahnya langsung hilang dalam beberapa saat. lalu ... pandangan juga sering kabur " jelasnya.


" apa lemas juga ? kadang mual dan kebingungan mental ?" tanya dokter itu lagi.


" he ? eh iya " jawab fanny.


" suster Karen , tolong konsultasi selanjutnya dialihkan ke dokter Enika saja. saya harus memeriksa pasien ini lebih lanjut " katanya menoleh pada suster yang ada di sampingnya.


" baiklah dokter " jawab suster itu.


" mari ikut saya " ucap dokter itu.


fanny pun melangkahkan kakinya mengikuti dokter itu dengan pelan , gejolak di tubuhnya semakin meningkat dan membuat pikirannya semakin berkecambuk.


" jangan tegang , kita akan tau setelah mengetesnya nanti " ujar dokter.


" hmm "


" mari masuk kedalam " katanya membukakan pintu ruangan itu .


" berbaringlah "


fanny berbaring disana , matanya menunjukkan ketakutan yang amat sangat dokter ini sepertinya sudah tau hanya saja tidak mau mengatakan pikirnya.


" Dokter kau sudah tau sakit apa ini kan ?" tanya fanny.


" ya , tapi saya harus memeriksanya agar benar atau tidak , saya tidak boleh hanya mendiagnosis sesuai gejala saja "


dokter itu menyuntikkan sesuatu ke tangan kiri fanny , dan dia mengambil darah fanny.


" berapa lama hasilnya bisa keluar ?" tanya fanny.


" 15 menit "


fanny segera bangun dari ranjang itu , kepalanya kembali terasa pusing tapi kali ini dia masih bisa menahannya.


" aku akan membawa ini , tunggu disini aku akan kembali "


fanny mengangukkan kepalanya dan duduk di depan meja kursi yang disediakan itu , sepertinya ini ruangan khusus dokter itu pikirnya sambil matanya mengedarkan ke sekeliling ruangan putih dan rapi itu.


setelah 20 menit menunggu , dokter itu kembali masuk membawa amplop putih di tangannya dan duduk di hadapan fanny.


" maaf saya telat " ucapnya.


" tidak masalah " jawabnya.


" hasilnya ada disini , saya sudah membacanya ... silahkan dilihat sendiri " dokter itu menyerahkan amplop itu yang langsung diterima fanny.


dengan perlahan fanny membukanya dan membacanya.


" Anda Menderita Tumor otak yang sudah kritis " ucap dokter itu.

__ADS_1


mata fanny langsung berair seketika , tangannya melemah dan sekujur tubuhnya seperti tak punya lagi kekuatan.


" Apa aku akan mati ?" tanyanya parau.


__ADS_2