Cinta Di Hatiku

Cinta Di Hatiku
Tidak Baik-baik saja


__ADS_3

didalam perjalanan itu sesekali raka memperhatikan fanny, dia kagum dengan kebaikan fanny. walau kata orang dia sombong dan tidak sopan tapi itu malah berbanding terbalik dari realita.


( Ternyata benar, kita tidak bisa menilai seseorang hanya dari luarnya saja. menilai sama dengan menghakimi , kau tau tidak ada yang berhak menilai orang itu kecuali dirinya sendiri )


" Apa yang kau lihat ?" tanya fanny yang terus fokus menyetir, dia tau jika raka terus memperhatikannya.


raka menggelengkan kepalanya " aku hanya sedang memuji kakak sekarang " jawabnya.


" hentikan pujianmu raka , mulai sekarang ... kau tidak akan kehilangkan kakakmu lagi, dan setelah itu berlari dan pujilah kakakmu " ujar fanny dengan senyuman kecil dimulutnya.


raka terkekeh mendengar " tidak menyangka akhirnya hari ini tiba , aku bisa melihatnya. apa kakak tidak ingin bicara bersama ?"


fanny menggeleng pelan " akan ada rapat nanti siang, dan ya ... kau harus datang tepat waktu sebelum pukul 3 sore"


" siapp " jawabnya semangat.


hingga mobil fanny sampai ke sebuah hamparan rumput kecil hijau yang melentang luas , disana seperti tempat pertanian juga perkebunan.


diujung sudah ada brian yang berdiri menunggu di depan mobilnya.


" turunlah dan katakan segala hal yang ingin kau katakan pada nya " titah fanny.


" terima kasih kak " fanny membalasnya dengan anggukan kepala.


lalu dia turun dari mobil raka sudah berjalan menuju brian, brian menoleh ke arah raka dan tiffanny namun tiffanny hanya mantap di dekat mobil menyaksikan keduanya bertemu setelah perpisahan yang cukup lama.


" Raka " ucap brian pelan.


" kakak " balas raka.


raka berlari dari tempatnya segera berhambur kedalam pelukan brian. keduanya saling memeluk erat.


" raka kau baik - baik saja?" tanyanya yang sudah menangis dipelukan itu.


" tidak , aku tidak baik - baik saja " jawab raka sambil menangis.


fanny tersentuh melihat kedekatan dua adik beradik itu, jika saja kakaknya masih ada mungkin setiap kali bertemu dia juga akan memeluk kakaknya.


brian memandangi fanny dari jauh, fanny melihat brian yang memandangnya. langsung dia masuk kedalam mobil dan kembali untuk pulang.


" kau kesini dengan kak fanny ?"


" hmm , dia sangat baik. bahkan dia yang merencakan ini , dia juga mengurus semua kebutuhan ibu dan biaya pengobatan " sambungnya.


" Maaf raka, kita harus bertemu ditempat sepi seperti ini. jika tidak... "


" jika tidak kakak akan menerima pukulan dari samuel tua bangka itu kan "


jleb


bagaimana raka bisa tau jika dia akan dipukul jika melanggat aturan samuel.


" jangan bertanya apapun tentang itu, sekarang lihat lah ibu kak. dia ingin bertemu denganmu. "


****


shitt


mobil tiffanny berhenti disebuah minimarket dia langsung masuk kesana dan mengambil minuman dingin, setelah itu langsung membayar nya dan kembali menuju ke mobil.


" Ayah lihat , itu tante sombong dan galak " tunjuk anak itu saat fanny sedang akan membuka pintu mobilnya.


" nak jangan begitu " sergah ayahnya.


fanny menatap anak itu " kembalikan makananku " ucap fanny.


" kau memberikannya kepada kami tidak bisa dikembalikan lagi " balas anak itu.


" kalau begitu bayar dengan uang ! "


" Ayah " rengek anak itu.


" Hmm rasanya enak bu , nanti kita beli lagi ya " ada seorang anak laki - laki yang baru keluar dari minimarket itu bersama seorang ibu sedang memakan ice cream.

__ADS_1


anak perempuan itu memandang ingin , fanny pun melihatnya " ayah " ucapnya.


" Mana ... sini kembalikan uang ku " titah fanny lagi.


" sudah habis ! " jawab anak itu.


" Kalau begitu , ini ( dia membuka dompetnya ) sebagai gantinya tolong belikan aku ice cream 2 terserah yang apapun " fanny memberikannya uang seratus ribuan.


" hanya itu ? kau terlihat kaya , sombong dan galak tapi hanya beli 2 dasar pelit "


" hey , sayang " cegah ayahnya.


" Pelit ? apa kau tau bahkan aku bisa membeli toko ini, kalau perlu perusahaan ice cream itu bisa ku beli. yasudah beli saja berapa banyak ice disana dengan uang itu , cepatlah aku haus "


" huuu " anak itu menjulurkan lidahnya dan segera masuk kedalam.


" hmm nona .. maafkan anak saya , sebenarnya dia tidak bermaksud .. ".


" sudahlah dia hanya anak kecil , aku juga tau " kata fanny.


bapak itu terus memperhatikan wajah tiffanny, dia sangat familier jika melihat wajah itu. fanny merasa bingung kenapa bapak ini terus melihatnya.


" Tiffanny wang ? ya dia tiffanny wang " kata orang yang lewat.


fanny sudah biasa dengan hal seperti itu namun orang ini dia baru sadar jika itu tiffanny wang.


" kau tiffanny wang ? pemilik Hotel Group wang itu kan ?" tanyanya.


" ya , bagaimana kau tau ?" tanyanya.


" aku ... aku kenal pendirinya yang dulu " jawabnya cepat.


fanny mengernyitkan dahinya apa maksudnya ? apa dia mengenal papanya pikirnya.


" apa maksudmu , aku tidak mengerti ?"


" mak.."


" hei , aku yang membelinya dengan uangku , terima kasih " dia mengambil semuanya namun anak itu hanya melihat.


" aku lupa memberitahumu aku tidak suka rasa coklat , ini ambillah jika tidak mau buang saja "


" sungguh ? kau memberikannya untukku ?"


" hmm jika tidak buang saja "


" jangann "


" kau harus bilang apa ?" ujar ayahnya.


" terima kasih tante yang galak dan sombong " ucap anak itu dengan manis .


" cih masih mengatakan aku sombong dan galak "


" kau tadi bilang mengenal pendirinya yang dahulu, bisa kau jelaskan ?" tanya fanny yang sudah penasaran itu.


" itu ... bisakah tidak disini ? ini sangat penting , harus dibicarakan berdua saja "


" baiklah, datanglah ke Grand City Residen , aku akan menunggumu disana "


" Dirumah ?"


" ya , kau bilang tidak ingin disini berarti kau takut dilihat atau didengar orang. "


***


sesampainya di depan hotel dia masih berada didalam mobil dan memikirkan siapa sebenarnya bapak itu.


( siapa orang itu, apa dia mengenal papa. kenapa wajahnga seolah ketakukan )



tok ...tok...tok

__ADS_1


dari kaca jendela mobil rian mengetuk kaca jendela itu membuat lamunan fanny menjadi buyar.


" kau baru datang sekarang ? cepatlah naik kita harus melihat semua laporan sebelum rapat " rian memang sudah menunggu fanny datang dari tadi.


" mobil ini " sambung rian.


fanny pun turun dari mobilnya " beberapa mobil yang lainnya masih dirumah nenek. aku hanya membawa yang ini " jawabnya.


" baiklah , ayo kita masuk " ajak rian.


keduanya pun masuk dan berjalan beriringan bersama.


" selamat datang bu " sapa penjaga di samping pintu utama.


" hmm "


" Raka tidak masuk hari ini kemana dia ? apa kau tau ?" tanya rian.


" dia izin padaku katanya ingin memeriksakan keadaan ibunya sebentar nanti kembali lagi "


ting


mereka sudah sampai di lantai 20 ressa dan eva menyambut keduanya. lalu mereka masuk kedalam ruangan fanny.


" Apa yang akan kita bahas hari ini ?"


" seperti biasa kita akan membahas penilaian bad/good dari tamu. "


" oke "


***


keesokan harinya.


" Sayang yakin dirumah sendirian ? bagaimana aku antar kerumah nenek saja ?" ujar devan sebelum pergi.


" tenang saja aku sudah biasa "


" yasudah aku pergi dulu ya " pamit devan lalu mencium kening fanny , fanny masih tetap duduk menikmati sarapannya.


dia memang sengaja tidak ke hotel hanya untuk bertemu dengan bapak pemulung itu. dia harus tau apa yang ingin orang itu katakan.


beberapa jam kemudian hari sudah siang karena kemarin dia hanya mengatakan menyurunya datang ke grand city residen dia pun sengaja keluar dari rumah dan menunggu orang itu di depan pagarnya.


" ayah itu dia tante galak dan sombongnya " tunjuk anak itu.


" nak , jangan bicara seperti itu ya " ujarnya.


" hmm dia memang begitu " ucapnya dengan mulut yang dimajukan.


fanny bisa melihat orang itu masuk dengan baju yang cukup rapi dari sebelumnya.


" Maaf kami terlambat " ucap orang itu.


" masuklah " fanny berjalan lebih dahulu , saat pertama kali masuk anak itu sangat takjub dengan rumah.


" wah ! rumahnya sangat keren " puji anak.


" benarkah ? kau baru hanya melihat ini jika kau melihat rumahku dengan nenek kau akan lebih tercengang lagi " saut fanny.


" pantas saja tante sombong karena memang kaya , memangnya ada apa dirumah sana ?"


fanny membuka pintu utama " duduklah " ujarnya.


" wah , aku ingin punya rumah seperti ini ayah " ucapnya takjub.


" setelah kau besar , bekerja dan sukses nanti kau akan bisa mendapatkannya " jawabnya.


Fanny membongkar semua isi kulkasnya " hei , anak kecil kemarilah dan bantu aku membawa semua ini jika kau ingin makan dan minum " panggilnya.


" eh tidak perlu repot , aku hanya sebentar saja " kata pria itu.


anak itu segera berlari menuju ke kulkas besar " waw ... waw... waw isinya banyak sekali "

__ADS_1


__ADS_2