Cinta Di Hatiku

Cinta Di Hatiku
Bulan Madu yang tertunda


__ADS_3

keesokan paginya


dibandara itu mereka berjalan bersama menuju masuk kedalam pesawat hanya beberapa jam lagi mereka akan sampai ke jerman.


tujuan pertama mereka adalah negara jerman, usia pernikahan mereka sudah 6 bulan lamanya dan selama itu juga tiffanny tidak pernah tau bagaimana keadaan lingkungan keluarga devan di jerman.


sampai masuk kedalam pesawat tiffanny memilih duduk di dekat jendela. untuk pertama kalinya mereka bepergian jauh hanya berdua saja. devan mengambil libur selama 10 hari lamanya. sedangkan tiffanny dia bebas pergi kemanapun tetapi juga ada batasan pekerjaannya sendiri jika dia harus bekerja maka rian akan mengirimkannya.


" Sayang aku pasangkan sabuk nya ya " tanpa menunggu persetujuan fanny devan lebih dahulu memasangkan sabuk pengaman di perut tiffanny.


" terima kasih " ucap fanny.


" mau minum atau makan ? " tawar devan.


fanny menggelengkan kepalanya, dia mematikan ponselnya saat itu juga lalu kepalanya menatap keluar jendela.


sebentar lagi pesawat akan lepas landas dan mulai terbang agar sampai ke tujuan.


hampir 16 jam mereka berasa di pesawat dan sekarang mereka sudah tiba di bandara kota berlin. Fanny dan devan melepaskan kaca mata hitamnya saat sudah sampai di luar bandara.


" Setelah ini kita mau pergi kemana ?" tanya fanny melirik ke wajah devan.


" Devan , tiffanny " panggil dua orang bersamaan. sehingga membuat mereka berdua menoleh.


anja dan hars sudah berada di dekat mereka , melambaikan tangan dengan bahagianya. mereka sangat bersemangat untuk menjemput menantu dan anak mereka.


Devan terus tersenyum , lalu dia menarik tangan fanny agar keduanya sama - sama dekat.


" anak - anakku " kata anja memeluk keduanya , fanny pun membalas pelukan anja sehingga membuat anja sedikit melongo.


dia melirik devan yang memberikan anggukan kepadanya, anja tau apa kode nya itu " sayang kau tambah cantik saja. bagaimana perjalananmu nak , apa menyenangkan ?" tanya anja lembut memegang dagu fanny.


" i-iya " jawabnya.


" sayang mereka baru sampai pasti lelah jadi ayo kita pulang kerumah " kata hars.


" kau benar , ayo nak kita ke mobil yang disana " anja mengajak menantunya itu dengan menggengam tangannya membiarkan kedua pria itu membawa dua koper milik devan dan fanny.


" sayang kau suka kota ini ? katanya baru pertama kali kau jerman "


" hmm , ini sangat bagus "


" ah manis sekali , ibu sudah memasak banyak dirumah dan menyiapkan kamar kalian berdua "


***



rumah minimalis khas jerman itu sudah berada di hdapan tiffanny sekarang , rumah nya sederhana tidak banyak ukiran namun tetap sangat klasik.


" Ini rumah kami nak , maaf jika tidak sebesar rumah mu tapi inilah adanya " ucap hars memandang tiffanny yang ada di sebalah anja istrinya.


" tidak paman rumahnya sangat klasik dan indah "


" paman ? nak apa kau lupa ?" saut anja.


" ha ? oh itu ... maaf , ayah " ucap fanny yang terbata - bata.

__ADS_1


" maaf , ibu " sambungnya.


anja dan hars hanya tersenyum mendengarnya " tidak apa nak , lupakan saja " saut hars.


" sayang ayo kita masuk , ayah ibu ... aku lapar aku mau makan "


" Baiklah ... baiklah mari kita masuk dan makan bersama didalam "


pertama masuk di bagian rumah itu tiffanny disugukan dengan banyaknya alat - alat penelitian yang ada di dalam etalase dan juga beberapa penghargaan.


matanya tertuju kesana memandang lekat seolah ingin tau.


" Pekerjaan ayah dan ibu adalah sebagai peneliti obat - obatan. didalam itu adalah beberapa hadiah dan yang cenderamata dari setiap penghargaan yang kami dapatkan " jelas hars yang paham akan maksud tatapan fanny.


" itu sebabnya devan mengambil jurusan kedokteran ?" tanya fanny.


" tepat sekali, ayah pikir devan sangat cocok jika bekerja sebagai seorang dokter. dengan begitu ayah akan membuat obat dan devan yang akan mendiagnosis penyakitnya "


" ah begitu " katanya sembari menganggukkan kepalanya.


" sayang , mari kita ke kamar aku mau memperlihatkan kamar ku " devan menggenggam tangan tiffanny , buru - buru dia membuka sebuah pintu dan membukanya.


kamar yang bernuansa abu - abu dan putih khas seperti pria pada umumnya. kamarnya memang tidak terlalu besar tapi ini terlihat sangat nyaman dan bersih.


" biasanya aku tidur di sini , dulu. " devan duduk di pinggiran ranjang sedangkan fanny matanya menelusuri kamar itu.


" Devan , aku belum memberitahu nenek. bagaimana jika dia mencariku "


" hmm itu. tenang saja aku sudah menelpon nenek , katanya dia tidak masalah dan menyuruh kita berlama - lama disini. "


tok


tok


tok


" iya ibu " balas devan.


" mau mandi ? "


" kau saja duluan "


" hmm tidak , jika bisa bersama kenapa harus bergantian "


" sudahlah devan apa kau tidak lelah , sebaiknya mandilah duluan aku ingin istirahat sebentar " dia merebahkan dirinya di kasur , karena sudah lelah dia langsung menutup matanya .


devan hanya tersenyum , lalu bangkit dari kasurnya tapi sebelum itu dia mencium fanny terlebih dahulu.


fanny tertidur sangat lelap sampai setelah devan selesai pun dia belum bangun dan bagaimana mungkin devan tega membangunkannya.


tidur di bangku pesawat tidak aka senyenyak di kasur , dia menyelimuti fanny dan keluar dari kamarnya.


ayahnya sedang berada di ruang tamu yang terhubung dengan dapur secara langsung. ayah nya itu sibuk membaca koran sedangkan ibunya masih menata makanan.


" sedang apa ayah ?" tanyanya sambil ikut duduk di kursi.


hars melepaskan kaca matanya dan menutup korannya.

__ADS_1


" hanya membaca koran , dimana menantuku ?"


" iya devan dimana dia ? " saut anja.


" dia tertidur bu , aku tidak tega membangunkannya "


" astaga dia pasti sangat kelelahan. ya ... biarkan dia tertidur dan beristirahat dengan baik " kata anja , lalu dia membawakan teh untuk devan dan hars dan diapun ikut duduk di sebelah hars.


" devan , bagaimana hubungan kalian ?" tanya anja dia khawatir devan tidak berhasil mendapatkan hati tiffanny.


" sayang " kata hars yang sepertinya tidak ingin anja bertanya seperti itu.


" seperti yang ibu dan ayah lihat " jawabnya sambil tersenyum dan menaruh teh itu lagi.


" maksudnya ?" tanya ayahnya yang kini juga kepo.


" cih tadi saja tidak boleh giliran sekarang kepo juga " saut anja.


" jawabannya membingunkan jadi ayah ingin tidak ada yang digantung " hars sangat pintar mengeles padahal yang sesungguhnya dia juga sama sangat penasaran.


" Kami sudah seperti pasangan suami istri sebagaimana mestinya. dia juga sudah berubah tidak sedingin dulu lagi. dan yang paling membahagiakan untukku ... saat aku sakit kemarin , dia sangat mengkhawatirkan aku bahkan ... rela bangun di tengah malam mengompres tubuhku sampai dia sendiri terluka terkena air panas " sembari mengatakannya seakan dia mengingat kembali bagaimana perlakuannya.


" benarkah ? kalau begitu dia pasti sudah mencintaimu juga " kata anja.


" tapi apa dia baik - baik saja ? bagaimana dengan lukanya ?" tanya hars.


" ah iya , bagaimana nak ? apa kau sudah mengobatinya ?" saut anja.


" dia tidak mau tapi aku sudah memberinya salep "


" kasihan sekali dia , dia pasti sangat kesulitan waktu itu bukan. ibu menyesal tidak bisa dekat dengan kalian dan membantu kalian "


" Devan kau harus menjaga dirimu dengan baik , maka kau baru bisa menjaga tiffanny. jangan biarkan dia melakukan pekerjaan yang tidak pernah dia kerjakan " kata hars lagi.


" iya sayang , jangan ya. dia sudah lelah bekerja seharian di hotel lebih baik gunakan asisten rumah tangga saja " usul anja.


" aku tidak akan membiarkannya melakukan semua itu, selagi aku mampu aku tidak akan menyuruhnya. aku sangat mencintainya bagaimana mungkin menyuruhnya ini itu seperti asisten ku , dia istriku dia adalah ratuku yang harus kujaga , kehormatannya , nama baiknya , kesehatannya dan semuanya "


" kau memang anak ayah " hars mengajak tos devan sehingga dia membalas tos ayahnya.


" Apakah kalian juga sudah hmm itu ... melakukannya ? " tanya anja dengan malu - malu.


" ayah , apa ada seorang pria membiarkan istrinya begitu saja ? apalagi secantik istriku " ucap devan yang bercanda kepada ibunya.


" hahahha devan , kau ini " ujar hars yang terkekh mendengarnya.


" devan , jangan - jangan kau memaksanya ya. dasar anak ini " desis anja yang mencubit perut devan.


" aduh ! sakit ibu , awww " katanya.


" aku bercanda ibu , tapi ... tenang saja tidak lama lagi cucu ibu dan ayah akan segera hadir "


" sungguh ?" kata keduanya dengan bersamaan.


" tentu saja ! aku ingin segera punya anak , seorang anak perempuan yang cantik. yang rambutnya akan dikepang dua dengan poni yang indah "


dari balik kamar itu sebenarnya tiffanny sudah bangun tapi dia mendengarkan semua obrolan keluarga itu.

__ADS_1


bonus pict kalista



__ADS_2