Cinta Di Hatiku

Cinta Di Hatiku
Tentang Kamu


__ADS_3

" aku rasa itu terlalu pribadi "


orang yang bertanya pun hanya mangut - mangut tersenyum malu, dia seperti ingin memojokkan tiffanny, namun fanny terlalu pintar untuk menanggapinya.


" Ngomong - ngomong, saya rasa sangat sulit hidup seperti ini bukan ? hidup tanpa keluarga sedari kecil. aku yakin kau sangat terpukul waktu itu . " kata orang tadi.


Fanny tersenyum mendengarnya dan mengingat semua perkataan brian membuat dia merasa kesal dan marah.


" Tapi dia kecelakaan saat di pesawat tubuhnya hancur hanya menyisakan sebagian tubuh saja, setidaknya jika harus mati lebih baik dibunuh atau tertembak setidaknya masih utuh "


tangannya mengepal di balik meja itu, matanya memerah dan sedikit berair. dia menyentuh gelas wine apapun yang dia raih dia minum untuk menangkan diri namun dia salah, dia malah mengambil wine.


brian memelotokan matanya, fanny tidak bisa meminum wine itu. ingin sekali dia menghampirinya dan membuang semua wine itu.


samuel hanya tersenyum memandanginya, fanny mengeram pahit dimulutnya. sekarang dia tau kalau yany dia minum adalah wine.


" Maafkan aku, ada pekerjaan penting mendadak" ucapnya yang segera meninggalkan meja itu. dengan langkah tertatih dia keluar dari restoran itu.


saat sudah berada di depan hotel dia menoleh mencari mobilnya di parkiran. namun dia baru ingat jika tidak membawa mobil saat pergi. dia belum merasakan mabuk sekarang.



malam ini jalanan terlihat sangat ramai , jadi dia memutuskan untuk berjalan - jalan sebentar. dia langkahkan kakinya dengan pelan ke trotoar jalan.


tatapannya terus memandang kedepan, hatinya sakit saat mendengar para pria tua itu membicarakan hal yang menyakitkan untuknya.


ingin rasanya membalas semua ucapan itu tapi hal itu hanya akan membuatnya semakin sulit menemukan kebenaran dibalik kepergian ayahnya ke luar negeri dulu.


sudah berapa lama dia berjalan di pinggir jalan itu seorang diri, sampai dia merasa pusing sepertinya dia mulai mabuk dan kehilangan kesadarannya.


langkahnya terhenti saat dia sampai disebuah Taman dimana tempat itu sekarang sedang ada pasar malam. banyak orang yang datang kesana menikmati pasar malam itu.


dia duduk bebatuan yang digunakan untuk duduk yang mengitar pohon besar di tengahnya.


" Hmm dimana aku " gumamnya memperhatikan tempat itu dia sudah mabuk sekarang.


dia tersenyum melihat anak - anak yang sedang membeli ice cream disalah satu oultet.


" Papa , aku ingin ice cream seperti anak itu " katanya lagi dengan mata yang sedikit berair.


dia pun tersenyum setelah " apa aku sudah lupa , papa tidak akan bisa membelikanku ice cream lagi. "


drtt.....drrtt


" Devan Calling "


tanpa melihat nomor itu dia segera mengangakatnya, dia menggerakkan kedua kakinya seperti mengayunkan di bebatuan itu.


📱 " halo ... sayang kau dimana ? aku mencarimu di hotel tapi tidak ada ?" suara devan terlihat khawatir dibalik telpon itu.


dia memang sekarang berada di depan hotel yang sudah diberi tahu fanny sebelumnya, dia takut terjadi sesuatu mangkanya di menjemputnya.


" hotel ? aku tidak tau dimana , tapi disini banyak sekali orang ... ada seorang anak yang membeli ice cream dengan papanya , aku iri melihatnya... " lirihnya dengan lembut dia benar - benar sudah mabuk sekarang.


devan curiga apa yang terjadi pada tiffanny dia sebelumnya tidak pernah begitu.


📱 " dengar jangan matikan ponselnya aku akan kesana sekarang " perintah devan, dia segera memasuki mobilnya dengan cepat dia menyetir mobilnya.


fanny tak menutup telponnya dia terus memegang ponselnya di dekat telinga. tapi wajahnya sekarang berubah menjadi agak sedih. air matanya sudah jatuh membasahi pipinya.


"📱 sayang kau masih disana kan ?"

__ADS_1


" hmm "


devan tau mendengar suara itu fanny pasti mabuk, tempat banyak orang dan ada oulet ice cream, dia mulai tau kalau itu disebuah pasar malam.


dia sudah sampai disana dan langsung turun segera dia berlarian mencari sosok tiffanny.


📱 " sayang kau dimana ?"


dari balik pohon itu tiffanny membalikan badannya , dia sedikit memajukan langkahnya lalu keduanya bertemu, mata mereka saling memandang ponsel itu masih melekat di telinga devan.


" sayang " gumamnya.


fanny tersenyum melihat dengan wajah yang hampir menangis. fanny kemudian berlarian ke arah devan , devan membuka tangannya lalu fanny memeluknya.


" sayang apa yang terjadi " devan mengelus rambut panjang fanny itu dengan rasa khawatir. tetapi fanny tidak mau menjawabnya dia masih memeluk devan disana.


devan tau ini akan terjadi dia merasa bersalah kenapa harus meninggalkan fanny dan menurutinya dia seharusnya tau kalau tiffanny tidak akan bicara jika terjadi sesuatu.


" Kau menangis ?"


...


didalam mobil devan tiffanny hanya diam saja, saat di pasar tadi devan membelikannya air minum agar tenang. sesekali devan melirik wajah fanny yang hanya diam itu.


" Kau mabuk ?"


" tidak "


devan menarik nafas kasarnya " Walaupun kau meminumnya setetes saat kau tidak biasa maka mabuk juga bisa terjadi. jika kau tau kau tidak bisa minum kenapa harus minum hmm ?" tanyanya lembut.


" Aku tidak suka orang itu mengatakan hal buruk tentang papaku. mereka tidak tau apa yang terjadi " jawabnya dengan wajah sedikit cemberut.


" lalu kau membalasnya dengan minum ? jangan lakukan itu lagi, bagaimana jika tidak ada aku dan terjadi sesuatu padamu. aku tidak akan memaafkan diriku "


" tidurlah , kau masih mabuk "


fanny menyenderkan kepalanya disandaran kursi mobil dan memajamkan matanya, devan melihat nya dengan rasa kasihan dan juga marah. dia kasihan melihat fanny sedih dia juga marah mendengar orang lain mengatakan hal yang tidak disukai oleh tiffanny.


***


sesampainya dirumah dia menggendong tiffanny masuk kedalam sampai menidurkannya dengan hati - hati di ranjang. dia membuka hiels fanny dan menyelimutinya dengan benar.


devan mendekatkan wajahnya kekening tiffanny dan mencium cukup lama di area itu.


" suamimu berjanji akan selalu melindungimu setiap saat, bahkan ... tidak akan peduli terhadap apapun kecuali dirimu. " ucapnya pelan sambil mengelus kepala tiffanny.


keesokan harinya


devan sudah menyiapkan sup ayam, jus buah, telur rebus dan juga buah - buahan lainnya. dia tau sehabis mabuk makanan ini lah yang menjadi peredanya.


dihari minggu ini dia libur, dia akan mengurus tiffanny dengan benar. sedangkan di dalam kamarnya tiffanny baru saja terbangun dia merasakan sedikit pusing dikepalanya.


" Siapa yang membawaku kemari " pikirnya.


sejenak dia diam dia berusaha untuk mengingat semuanya, setelah berapa lama dia mengingat semuanya.


" Devan " ucapnya.


dia segera bangun dari tempat tidur dan masuk kekamar mandi, dia takut devan akan marah saat melihatnya nanti. pikirannya terlalu jauh padahal devan tidak marah padanya.


setelah selesai dia hanya memakai pakaian biasa saja, jeans berwarna hitam, kaos putih dan sweeter coklat.

__ADS_1


" Apapun yang terjadi jangan menjawabnya " pikirnya yang berusaha menguatkan diri dari amukan devan.


tak...tak...tak


devan tau itu suara langkah fanny yang menuruni anak tangga. makanan itu sudah berjejer rapi di meja makan dia sudah duduk di meja itu dengan meminum kopinya, dia sengaja belum makan karena ingin menunggu tiffanny.


" Ssselamat pagi " dengan ragu fanny mengatakannya.


devan menolehnya sekilas " selamat pagi " jawabnya.


" ada apa dengan wajah itu ? dia marah atau tidak, tapi wajahnya terlihat tidak marah namun tingkahnya seolah dia sangat marah " pikirnya.


dia masih berdiri di samping devan kemudian memperhatikan devan yang sedang membaca buku itu.



" jika begini dia terlihat tampan " batinnya.


" kenapa ? aku sengaja membuatkan makanan ini agar tidak pusing setelah mabuk , kau tidak suka ?"


fanny menggelangkan kepalanya " tentu saja suka , hahah aku ... aku suka ini " jawabnya dengan salah tingkah segera duduk di kursi hadapan devan.


" Benar kau menyukainya?" selidik devan.


fanny sedang memakan sup itu lalu mengangkat wajahnya " aku sudah pasti suka , karena aku tidak bisa memasak apapun aku makan. " jawabnya.


" habiskan dulu nanti tersedak "


" uhuk..uhuk.. "


devan menyodorkan jus buah itu segera yang langsung diminum fanny.


" devan " panggilnya begitu saja.


" hmm " devan masih fokus membaca bukunya.


" Kau ... marah padaku ?" tanyanya yang ingin memastikan itu.


" sudah tentu aku marah "


fanny memelotokan matanya.


" aku marah karena aku tidak datang tepat waktu semalam, jika aku datang aku tidak akan membiarkan orang - orang itu menjelekkan papamu. "


fanny tercengang mendengarnya, devan sangat pedulinya.


" Kenapa kau peduli ? bahkan kau tidak tau orang seperti apa papaku ?" tanya fanny lagi.


devan pun menutup bukunya dan kini menatap fanny.


" Aku memang tidak tau , tapi aku ingat saat aku pertama kali bertemunya. dia mengajakku bermain Ular tangga , dari cara bicara , tingkahnya dan tatapannya dia orang yang baik, lembut dan penuh perhatian. sama sepertimu yang tidak ingin mendengar hal buruk tentangnya, aku juga sama. "


" sambil bermain dia mengatakan ini Devan , jika salah satu diantara kita kalah apa yang harus dilakukan ? aku menggelengkan kepalaku. dia tersenyum. ular tangga ini , jumlah dadunya dihasilnya dari cara kita menguncangnya lalu kemudian kita menjankannya diatas papan ini. itu artinya saat kita kalah itu bukan kesalahan orang lain ... tapi kesalahan kita sendiri, bagaimana cara kita mengguncang nya , begitupun dengan hidup . jika kalah jangan marah atau menyalahkan orang lain. " sambil mengatakan itu sambil dia mengingat masa lalunya.


" Kapan kalian bertemu ?"


" sepertinya kau tidak ingat ya "


fanny mengelengkan kepalanya " saat hari libur sekolah tahun baru, aku dan kedua orang tuaku datang kerumah. saat itu aku melihatmu bermain di bawah pohon dengan kedua boneka barbie mu , rambutnya dikepang 2 dengan poni hingga terlihat sangat cantik. kakakmu bermain bola didekatmu kalian berdua saling menjaga waktu itu " jelas devan lagi sambil mengingat semuanya.


" Mungkin yang kau katakan benar , namun sayang... aku tidak bisa mengingat semua hal tentang masa laluku sewaktu kecil. sejak kejadian itu , aku melupakan beberapa ingatanku "

__ADS_1


" tidak masalah , semua nya akan baik - baik saja sekarang. dan kau tau ... segala tentangmu waktu itu aku mengingatnya sepertinya dulu usiamu masih 5 atau 6 tahun dan saat itu usiaku menginjak 10 tahun. "


__ADS_2