Cinta Di Hatiku

Cinta Di Hatiku
Tamu Tanpa Diundang


__ADS_3

" Aku juga baru tau rupaya dokter devan itu suka sekali mengikuti urusan orang lain " telak tiffanny.


***


" hari ini bagaimana jika kita kehotel tiffanny , kita makan siang disana. devan juga ikutlah biar kita bisa sekalian makan siang dengan tiffanny kalian juga bisa keliling melihat hotelnya " usul nenek .


" devan makanlah sarapanmu dulu nanti saja melihat berkas itu " ujar anja yang merasa risih ketika sedang makan tetapi malah fokus mengurus yang lain.


" itu bagus bu , bagaimana yah ?" tanya anja.


" ya boleh saja ... sekalian ayah ingin berkeliling nanti devan kau harus ikut " ujar hars.


" iya atur saja devan datang nanti " kata devan sambil mulutnya mengunyah makanan itu.


" oke baiklah semuanya sudah setuju kali apa kau mau ikut ?" tanya nenek.


kali dari berdiri di belakang nenek dengan setianya.


" terima kasih nek tapi tidak perlu, nanti siang harus belanja untuk bahan makanan " jawab kali.


" baiklah "


" ayah, ibu , nenek. devan pamit ya ini sudah siang harus bekerja " katanya yang berdiri dan mengambil tasnya lalu segera pergi.


" hati - hati devan. anak itu ... bangun kesiangan makan tidak banyak " gerutu anja yang mengkhawatirkan devan.


" anja ... dia kan sudah dewasa lagipula seorang dokter biarkan dia melakukan apapun " saut hars.


" ya ya kau selalu saja membelanya " timpal anja.


nenek dan kali hanya tersenyum mendengar perdebatan kecil antara suami dan istri itu.


***


fanny tengah sibuk mencari lembaran demi lembaran di berkas map berwarna hitam itu , tangan dan matanya terus fokus ke inti surat itu. sedari tadi rian hanya memperhatikannya saja tidak tau apa yang sedang fanny cari.


detik demi detik dia biarkan hingga beberapa menit kemudian dia berjalan ke arah tiffanny " cari apa ?" tanyanya.


" mencari laporan pemilik saham " jawab fanny.


rian memutarkan langkahnya menuju ke sebuah rak yang tertata rapi itu , dia mengambil map plastik berwarna biru dan memberikannya pada tiffanny.


" saham milik Brian ada 12 % , tenang saja itu tidak akan cukup untuk menjatuhkan kita dan lagipula dia tidak bisa melakukan apapun karena hotel ini tetap milik keluarga wang. para pemegang saham hanya menanamkan modal " ungkap rian dengan tenang.


fanny mengambil laporan itu kemudian membacanya dengan seksama. setelah selesai dia taruh lagi kertas itu.


" besok siang pak purnomo akan mengunjungi hotel , siapkan sesuatu " katanya.


" pak purnomo ? tumben sekali apa ada sesuatu ?" tanya rian.


" entahlah kita bisa tau setelah bertemu dengannya " jawab fanny.


tok...tok...tok


" masuk " kata rian.


" maaf bu , saya ingin memberitahu kalau di bawah Nenek nya Bu tiffanny datang bersama beberapa orang lainnya. sekarang mereka ada di loby " kata seorang perempuan yang rapi dengan blezer hitam yang tak lain si resepsionis yang ada di depan ruangannya.


" baiklah kau boleh keluar terima kasih " ucap tiffanny


wanita itu menundukkan kepalanya dan segera pergi tak lupa menutup pintu itu lagi.


" nenek ji dibawah apa ada sesuatu ?" tanya rian.

__ADS_1


" aku temui nenek dulu "


segera tiffanny melangkahkan kakinya untuk ke loby diikuti oleh rian yang berjalan bersama nya keduanya turun menggunakan lift khusus.


ting


mereka keluar dari lift lalu mencari sosok nenek , tiffanny berjalan ke arah resepsionis tapi tidak ada dia menoleh kesana kemari tetap tidak terlihat.


" dimana Nenek nya bu tiffanny ?" tanya rian pada resepsionis perempuan dan laki - laki itu.


" sudah ada di restoran pak , bu " jawab laki - laki itu.


fanny langsung menyusul ke sana dia tidak tau apa tujuan neneknya. neneknya tidak pernah melakukan ini sebelumnya jadi dia sangat terkejut dia pikir mungkin ada masalah.


" nenek " ucapnya dengan datar.


semuanya menoleh ke arah fanny , devan memperhatikannya dengan lekat dan tajam. sedangkan hars dan anja tersenyum padanya.


" hay sayang cucu nenek sudah datang " kata nenek dengan sumringah.


" apa yang nenek lakukan disini ? kenapa tidak mengatakan sesuatu padaku terlebih dahulu ? " cercah fanny dengan pertanyaan.


" apa kami menggangu pekerjaanmu nak ?" tanya hars.


" eh ... tidak paman , maaf tapi ... jika bilang padaku maka aku akan menyuruh beberapa karyawan untuk menyiapkan sesuatu " jawab fanny.


" tidak masalah fanny , nenek sudah memesan nya duduklah dulu dan tunggulah sampai makanan datang kau pasti belum makan bukan ?" kata nenek yang memaksa fanny duduk dan duduknya pun berhadapan dengan devan.


" nenek aku ..."


" sudah diam lah "


" rian duduklah kita makan bersama " ajak fanny.


" nak hotelmu bagus sekali , bibi suka sekali saat pertama kali masuk sudah merasa nyaman " puji anja.


" iya desainya juga klasik bercampur elegan jadi terlihat sangat bagus. apa boleh paman berkeliling melihat - lihat hotelmu ?" tanya hars.


" ha ? eh i...iya paman boleh " ujarnya .


" bisa tolong ambilkan tisu itu " ujar devan pada tiffanny , tapi fanny tidak tidak mendengarnya dia hanya melamun saja. rian yang ada didekatnya pun mengambilkannya untuk devan.


" bu apa kau tidak nyaman makan disini ?" bisik rian.


dia langsung menggelengkan kepalanya , devan merasa sangat kesal melihat nya taapi tatapannya terlihat sangat tajam namun tetap tenang.


" devan khusus hari ini kau yang bayar ya , hitung - hitung traktir gajian . iyakan ayah ?" kata anja yang menggoda devan.


" oh iya benar ini kan waktunya gajian boleh dong di traktir " timpal hars.


" iya ayah pesan saja bu dan semuanya terutama fanny... hari ini aku akan mentraktirmu makan di hotel mu sendiri " kata devan yang matanya tertuju pada fanny.


" apa yang kalian berdua lakukan , devan tidak perlu membayar apapun. semuanya pesan saja oke sebentar lagi makanan datang " lerai nenek.


" tapi nek " kata anja


" tidak perlu bi nikmati saja makanannya " telak tiffanny.


" ya ampun terima kasih nak , bibi jadi tidak enak "


tak lama semua makanan mewah pun datang , satu pelayan membawa satu makanan hingga ada 10 pelayan yang datang membawa berbagai macam makanan yang telah dipesan nenek sebelumnya. diikuti oleh berbagai minuman dan setelah itu nanti akan ada makanan penutup.


" silahkan devan makan semuanya , fanny kau juga ya dan semuanya hars , anja , rian " kata nenek.

__ADS_1


" terima kasih nek " ucap devan.


semuanya mulai makan dengan tenang dan nyaman , kedua orang tua devan dan nenek terlihat sangat lahap memakannya. begitu juga dengan devan berbeda dengan tiffanny yang memang tidak begitu lapar jadi makan hanya biasa saja.


sementara itu di depan restoran dua orang wanita yang merupakan dari bagian resepsionis terlihat sangat ketakutan dan gelisah.


" kau saja aku tidak berani " kata wanita bername tag kan Ressa.


" aku juga takut , bagaimana nanti reaksi bu tiffanny nanti " jawab temanya yang bername tag kan Eva.


" pak Brian ada diruanganya sekarang , bagaimana ini " sambung ressa.


dari kejauhan saat makan tiffanny menyadari ada ressa dan eva yang dia ketahui posisi mereka berada di resepsionis depan ruangannya dia jadi bingung melihatnya ada direstoran. raut mukanya juga menunjukkan ketakutan .


" rian kenapa ressa dan eva ada disini , tanyakan ada apa ?" bisiknya pada rian dan semua itu tidak luput dari penglihatan devan.


" baiklah tunggu sebentar " kata rian.


rian pun berdiri dan segera menemui kedua wanita itu yang merasa gelisah dari tadi. sedangkan fanny melanjutkkan makanannya.


tak lama Rian pun kembali namun dia tidak duduk malah berdiri namun membisiskkan sesuatu kepada tiffanny.


" ada Brian di ruangamu " bisiknya.


mendengar itu fanny merasa kaget namun bersikap tenang , tapi devan bisa melihatnya kalau ada sesuatu pada fanny.


" Rian kau lanjutkan makann , aku akan keruanganku " kata fanny.


" tidak apa bu aku akan ikut " tolak rian.


" fanny mau kemana ? makananmu belum habis duduklah dan habiskan baru kembali bekerja nanti " jelas nenek ji.


" ada tamu diruanganku aku harus menemuinya " jawab fanny.


" tapi bisa menunggu fanny duduklah" tegas neneknya.


" siapa tamunya katakan ?" tanya nenek ji.


" bukan siapa - siapa nek sudahlah nikmati saja makan siangnya " jawab fanny.


" Rian katakan " tanya nenek karena dia tau fanny tidak akan pernah menjawabnya.


" Nek ini tamu hotel " jawab rian.


" Ressa ... eva kemarilah " panggil nenek.


" ressa , eva naiklah keatas dan katakan aku akan datang " perintah fanny.


" eh ... i-iya bu " jawab keduanya dan segera pergi menuruti perintah fanny.


setelah mengatakan itu juga fanny meninggalkan semua orang tanpa mengatakan apapun, dan diikuti oleh rian dari belakang.


" tamu apa yang datang dijam begini " oceh nenek ji.


" bu itu wajar fanny kan pemilik hotel jadi banyak tamu penting " bela hars.


...


ting


lift pun terbuka fanny semakin cepat berjalan menuju kedalam ruangannya. dan kedua resepsionis yang ada di samping ruangannya itupun menundukkan hormat.


dia masuk kedalam diikuti oleh Rian dibelakangnya , Brian sudah duduk di sofa yang biasa digunakan untuk menyambut tamunya dengan rapi disana dan wajah yang dingin.

__ADS_1


__ADS_2