Cinta Di Hatiku

Cinta Di Hatiku
Datang Dengan Maksud


__ADS_3

Fanny mulai melepaskan dasi yang melekat di leher devan, dia agak mendongakkan wajahnya karena devan sedikit lebih tinggi darinya.


melihat itu devan menggendong pinggang ramping fanny


" apa yang kau lakukan" gerutu fanny. namun devan tak menghiraukannya dia menaruh fanny di pinggiran ranjang sehingga kini fanny terlihat lebih tinggi darinya.


" Kepalamu akan sakit jika terus mendongak"


" sebaiknya kau tidak usah memasak, aku pesan makanan saja. "


" Hmm lakukan sesukamu sayang " devan menyibakkan rambut fanny sampai ke belakang telinga. kini fanny sudah melepaskan Dasi devan , dan sedikit membuka kancing baju atas devan agar tidak merasa gerah.


" bersihkan dirimu terlebih dahulu. Aku akan pesan makanan sekarang. "


fanny turun dari ranjang dan mengambil ponselnya yang ada di meja. devan tersenyum melihat tingkah tiffanny, semenjak dia marah waktu itu fanny tidak lagi berulah. dia selalu menuruti perkataan devan.


sejujurnya dia tidak suka memarahi nya bahkan membentaknya, namun dia sengaja melakukannya agar tiffanny mengerti kalau dia juga membutuhkan waktu darinya.


" Kau masih berdiri disini ? mandilah cepat kita akan bergantian "


devan tersenyum manis lalu melanglahkan kakinya ke kamar mandi, sedangkan tiffanny masih belum membenahi diri dia turun ke lantai bawah untuk memesan makanan.


dia duduk di sofa dan memesa Fried chichen , Fried Fries dan cola. tak butuh waktu lama hanya berkisar 20 menit Makanan pesanan dia datang, karena jarak Outlet nya hanya sekitar 10 menit dari rumah.


" Jangan lupa bintang limanya nona " kata kurir pengantar makanan.


" iya , terima kasih " balasnya.


dia menekan bintang 5 dan menunjukkannya kepada kurir, orang itu merasa senang dan segera pergi dari rumah. fanny langsung membawa makanan itu di meja makan lalu dia kembali ke kamarnya.


ceklek


lagi - lagi dia harus melihat tubuh telanjang dada devan yang baru selesai mandi, dia selalu gugup saat melihat tubuh itu. devan sedang mengelap rambutnya yang basah sehingga tubuh putihnya terekspos dengan jelas.


" makanannya sudah datang, sayang ?"


" oh , eh ... i-iya " jawabnya terbata - bata. devan tau fanny masih malu padanya fanny tak mau berdiam diri lebih lama disana jadi dia segera kekamar mandi.


....


" sayang kau sudah selesai. ayo duduklah, mau aku buatkan teh hijau ?" tawar devan saat fanny sudah muncul dimeja makan.


" aku membeli cola , tidak cocok dengan teh hijau " balasnya.


" baiklah besok pagi saja. "


mereka berdua makan dengan tenang, devan terlihat sangat lapar jadi dia makan terlihat buru - buru. fanny yang makan pelan itu lantas memperhatikannya, karena dia tidak suka nasi dia juga tau devan masih kurang.


" Hmm aku , aku tidak habis " katanya dia baru memakan 3 sendok saja.


" Habiskan sayang, atau kau akan merasa lapar nanti. "


fanny menggelengkan kepalanya " apa kau mau menghabiskannya ? jika dibuang akan mubazir "


" sini " devan mengambilnya dan mencapurnya dengan nasi dia. dia kembali makan dengan lahap. entah kenapa fanny menyukai tingkah devan saat ini tanpa dia pungkiri bibirnya tersungging sebuah senyuman.


dia kembali hanya memakan ayamnya saja, dia hanya memesan 2 nasi dan lebih banyak ayam.


setelah selesai makan malam, devan membereskan semua bekas makan itu sedangkan tiffanny dia membuang semua sampahnya ke kotak sampah. karena fanny masih belum ingin tidur jadi dia memilih untuk duduk dihalaman belakang.


matanya menatap sayu, semriwing angin tak membuatnya kedinginan dia menikmati cuaca malam.


" Disini dingin, ayo kita masuk " ajak devan yang dari belakang sudah berdiri memperhatikan fanny.

__ADS_1


fanny menoleh kearahnya " Aku belum ingin tidur "


devan pun mendekati fanny dan duduk disebelahnya. dia mengenggam tangan fanny kemudian mengelusnya.


" Mau berjalan - jalan seperti waktu itu ?" ajaknya.


fanny menggelengkan kepalanya , " sudah terlalu malam "


" Besok malam, ada perjamuan di hotel samuel. aku akan pergi "


" Sayang , apa kau akan pergi sendirian ?"


" hmm. hanya para pemimpin hotel yang diundang. "


" Aku takut terjadi sesuatu padamu. aku akan menemanimu ya, jika ada sesuatu hal dan disana tidak ada rian. akh jadi khawatir "


fanny menatap dalam devan, matanya yang sayu saat menatap orang membuat siapapun mudah terbius.


" Jangan khawatir. tidak akan terjadi apapun padaku "


" Sayang ... kenapa kau menerimanya dengan sekuat ini, aku tau jauh dalam hati kecilmu dirimu sangat terluka. secara tidak langsung orang itu sudah berniat membunuh orang tuamu. " ujar devan dengan lembut.


fanny tetap mengamaati wajah devan terlihat sangat mengkhawatirkannya itu.


" Aku ingin mendengarnya dari orang itu sendiri. aku percaya pada brian karena sebelumnya dia tidak pernah membohongiku. tapi aku ingin mendengar secara langsung dari bibirnya. "


devan merangkul tiffanny dan mencium keningnya cukup lama.


keesokan harinya


fanny tidak kembali kerumah untuk berganti pakaian, karena sebelumnya dia sudah membawa pakaian ganti. sekarang dia sudah mengganti bajunya dengan blezer kotak - kotak


drtt....ddtt


📱 " sayang, jaga dirimu baik - baik ya. jika terjadi sesuatu segera telpon aku. "


" Hmm , aku akan pergi sekarang. aku tidak akan lama"


📱 " baiklah hati - hati, aku mencintaimu "


" Hmm "


setelah menutup telpon , rian membuka ruangan fanny dia sudah melihat fanny yang sangat cantik dengan gaun itu.


" kau yakin akan pergi ?"


" iya rian "


" mau aku antar sampai ke hotel ?" tawarnya karena memang dia sangat khawatir.


" Tidak perlu. aku tau pekerjaanmu masih banyak , lakukan pekerjaanmu saja "


rian hanya bisa menatap kepergian fanny dengan rasa cemas , karena sebelumnya fanny tidak pernah menghadiri perjamuan itu. dia tidak mengerti apa maksud dan tujuannya itu.


...


Fanny sudah memasuki hotel yang dimana dia akan bertemu dengan samuel. dia sudah masuk ke dalam restorannya, dia mencari para sekumpulan Pemimpin hotel.


matanya tertuju kearah sebuah meja panjang dimana disana semua orang sudah bercengkrama dan sepertinya hanya dia saja yang datang terlambat.


dengan langkah anggun dia memasuki restoran itu melanhkahkan kakinya ke meja yang dia lihat.


" aku tidak salah lihat kan ? bukannya dia tiffanny wang " bisik - bisik di meja itu.

__ADS_1


" wah angin apa yang membawa nya kemari. bertahun - tahun memegang posisi dia tak pernah datang sebelumya "timpal yang lainnya.


mendengar nama tiffanny disebut membuat samuel dan brian melirik. mata pak samuel tak berhenti berkedip tak kala fanny sudah ada di hadapannya.


" Bu Tiffanny , apa kabar ? silahkan duduk. kami menyambutmu " ujar salah satu seorang pria yang kisaran usia 40 tahunan.


tiffanny tak menjawabnya dia hanya duduk dikursi yang diberikan itu. disebelahnya ada seorang pria yang mungkin usianya 35 tahunan.


samuel terus menatapnya, fanny terlihat sedang tersenyum dengan beberapa perempuan yang usia nya tak lagi muda hanya dia perempuan muda disana.


( Apa yang kau lakukan , bukannya dia ingin membunuh tiffanny, tetapi tatapannya seakan dia memujanya) batin brian.



" Tidak perlu sungkan cukup panggil namaku saja " kata fanny kepada seorang ibu itu.


" hmm ya , anak ku juga seusiamu sekarang. melihatmu yang hampir tidak pernah ikut perjamuan membuat ku bertanya - tanya bagaimana paras mu. ternyata memang benar sangat cantik " pujinya


" anda terlalu memuji bu " ujarnya dengan ramah.


" ya benar sekali ! bahkan nona tiffanny ini memenangkan penghargaan berulang kali. aku jadi iri melihatnya " saut seorang pria yang duduk disebelahnya.


" wah ! anda memang berbakat, hmm sayang sekali anakku lebih memilih menjadi pengajar piano di Swiss " raut muka nya berubah menjadi kecewa.


fanny hanya tersenyum menanggapinya, lalu saat dia menoleh dia merasa aneh kenapa samuel terus menatapnya.


" Nona tiffanny , lama tak berjumpa " ucap samuel yang memulai perkataannya.


fanny menatapnya dan tersenyum padanya.


" lihatlah senyumannya itu , bisa meruntuhkan dunia " puji yang lain.


" hmm benar sekali, nona tiffanny seperti tuan putri. aku dengar ... nona tidak pernah datang kesini sebelumnya , boleh aku tau alasannya ?"


" Aku dengar , dulu Pak Jackson selalu rajin menghadiri setiap perjamuan. katanya dia sangat menghormati rekan bisnisnya " dia sengaja menyinggung soal papanya dia ingin melihat reaksi samuel hingga dia terus menatapnya.


samuel hanya tersenyum mendengarnya tak menunjukkan reaksi yang berlebihan.


" kau benar ! jackon Selalu menghormati siapapun " jawabnya.


" Aku dengar , papaku dekat denganmu ... pak samuel apa itu benar ?"


" ya ... bahkan sangat sampai kami rela berbagi tempat tidur sewaktu masih melajang "


fanny tersenyum kembali, brian yang mendengarnya dia jadi tau apa tujuan fanny kemari sekarang. dia harus menjaga tiffanny jika samuel menyadarinya kalau tiffanny sudah tau dia tidak akan tinggal diam.


" Bukankah ada satu orang lagi teman dekat papaku, aku lupa namanya. pak samuel apa kau tau ?"


mendengar itu samuel sontak terdiam , dia tidak suka mendengarnya. sejenak dia memperhatikan tiffanny dan tersenyum miring.


( aku jadi sangat sayang melukainya, wanita cerdas , pintar , cantik dan menggoda )


" Oh ya nona bukankah beberapa saat yang lalu anda baru menikah , saya ucapkan selamat untukmu dan semoga bahagia dengan pasanganmu " ucap sang ibu tadi yang mengajaknya untuk saling cirs.


fanny mengangkat gelas berisi air putihnya dan menerima ajakan itu.


" terima kasih bu "


( menikah. aku lupa dia sudah menikah ) batin samuel.


" Itu berarti hubungan mu dan tuan brian sudah benar - benar berakhir bukankah begitu nona ?"


brian menatap tifanny sekarang dia ingin menunggu jawaban tiffanny, karena jika dia bertanya fanny tak pernah menggubrisnya.

__ADS_1


__ADS_2