
" selamat pagi tuan , ini pesanan Nona Tiffanny "
kurir itu memberikannya kepada devan , devan melihat isi dalam paper bag coklat itu.
" kue " ucapnya.
" apa sudah dibayar ?" tanyanya.
" Belum tuan "
" tunggu sebentar"
saat devan akan mengambil dompetnya di kamar , fanny sudah lebih dulu turun.
karena melihat pesanannya datang , dia segera turun menghampiri keduanya.
" Ini uangnya " dia memberikan beberapa uang kertas ratusan ribuan.
" terima kasih nona , saya permisi tuan , nona "
devan dan fanny mengangukkan kepalanya , lantas devan menutup pintu itu.
" sayang untuk apa kue ini ? bukannya aku sudah bilang mau membuat nya sendiri " tanya devan.
fanny mengambil kue yang ada di tangan devan itu, lalu berjalan berniat menaruhnya di atas meja.
" Kau akan lelah jika terus bekerja didapur. lagipula , nenek suka kue ini jadi aku memesannya saja. "
devan mengikuti fanny ke dapur kembali , dia tersenyum dan mulai membuka kue itu.
tiffanny memesan 3 kue dimana satu kue cokelat , rambow caik dan Red Velvet.
" diantara ini kau lebih suka yang mana sayang ?"
tiffanng duduk di meja makan , dia mengambil piring kecil " red velvet " jawabnya sambil memotong sedikit kue itu.
" kenapa ? biasanya wanita lebih suka kue coklat "
" aku tidak bisa makan coklat "
" alergi ?"
" hmm begitulah " dia mengangukkan kepalanya.
devan mengerti sekarang itulah kenapa setiap di restoran atau cafe tiffanny tidak pernah menyentuh sesuatu yang bernamakam coklat.
***
" ini uangnya , sesuai perjanjian. kau anggap kita tidak pernah saling bertemu " agatha memberikan cek kepada seorang perempuan yang wanita itu adalah keluarga pasien nya devan
" terima kasih nona , ini bonus yang sangat besar " balasnya.
" dan kau harus ingat , jangan menampakkan diri kecuali nanti saat kasusnya berlanjut ke persidangan. aku akan memastikan dia akan mendekam di penjara "
" ### hanya itu ? he aku bisa melakukannya "
dengan seringai licik keduanya tersenyum.
***
satu mobil toyota alphard memasuki pekarangan rumah mereka berdua , nenek turun diikuti oleh bi kali.
dia sudah mendengar berita itu dan ingin tau bagaimana kabar keduanya.
" Nek apa semuanya dibawa ?" tanya bi kali.
" iya , minta bantuan sama Pak sopir "
" baik nek "
nenek menekan bel rumah itu , tanpa menunggu lama tiffanny dan devan sudah membukakan pintu untuk keduanya.
" nenek " fanny memeluk nenek langsung , nenek juga membalas pelukan cucunya. devan tersenyum melihat itu.
__ADS_1
" apa kabarmu sayang , devan apa kabar ?" tanyanya.
" baik nek " jawab fanny serentak dengan devan.
" ayo masuk nek , sini bi ini pasti berat " bi kali membawakan paket buah - buahan.
mereka masuk kedalam , dan duduk di ruang tamu. devan kembali ke dapur sepertinya dia akan membawakan minuman dan makanan.
" sayang , kau tambah cantik saja dan lihat tubuhmu agak sedikit berisi apa kau hamil hmm ?" nenek memperhatikan dengan pesat wajah dan tubuh cucunya yang dirasa sedikit menggemuk itu.
" Tidak nek , mungkin ... karena aku mulai banyak makan nasi " jawabnya.
" hmm pasti devan yang mengurusmu sehingga membuatnya subuh seperti ini " nenek kembali memeluk tiffanny.
devan membawakan minuman di nampan itu " sudah devan jangan repot - repot nenek akan ambil sendiri jika mau "
" tidak apa nek hanya minuman dan beberapa makanan saja "
" kali bantulah devan " ujar nenek.
" baik nek " bi kali pun bangkit dari duduknya menuju arah dapur membantu devan.
setelah menghidanhkan camilan , kue dan minuman kini semuanya kembali duduk di kursi masing - masing.
" Devan , nenek bangga denganmu. bagaimana bisa membuat tiffanny yang kurus menjadi sedikit berisi , dia tambah cantik sekarang "
" nenek " sergah fanny.
devan tersenyum lebar mendengarnya " tidak ada nek , mungkin ... bahagia , iyakan sayang ?"
" ha ?" wajah fanny tampak bingung menanggapi perkataan devan itu.
nenek dan bi kali hanya tersenyum saja mendengarnya.
***
hotel wang
rian berada di ruangan kerjanya , sebagai sekretaris tiffanny dia lah yang selalu menampung semua pekerjaan fanny jika sedang tidak masuk.
dia fokus mengurutkan berkas - berkas yang nantinya akan diberikan kepada fanny agar memudahkannya dalam mencari berkas.
" pak rian , ini beberapa laporan tamu yang keluar maupun masuk seminggu terkahir ini " seorang wanita berpakain rapi selutut masuk kedalam ruangan rian.
" taruh saja disini "
wanita itu menaruhnya " saya permisi pak " pamitnya.
" hmm "
dia terus mengurutkan berkas itu, lalu telpon hotelnya berdering dia mengangkatnya.
" Halo "
" .... "
" apa ? baiklah saya akan turun "
dia pun segera berlarian menuju ke lobi , menekan lift agak lama hinga sampai ke lantai 20 jadi dia turun menggunakan tangga.
" Tiffanny wang " teriak para orang - orang yang bergerombolan di bawah halaman hotel.
disana juga banyak media dan wartawan yang masih meliput.
" Tiffanny wang keluarlah , atau kami akan masuk paksa kedalam !!!! "
rian berlarian menuruni anak tangga sampai dahinya berkeringat. saat melihat banyak orang seperti demo itu dia marah melihatnya namun tugas keamanan sedang berjaga didepan menghalangi mereka.
" pak rian, apa yang harus kita lakukan. tamu - tamu banyak yang protes " kata seorang resepsioni laki - laki menghampiri rian.
" aku akan memikirkan sesuatu "
***
dirumah itu tiffanny sedang duduk dihalaman berdua bersama nenek. nenek sengaja meminta berbicara hanya berdua saja bermaksud untuk menasehati fanny.
__ADS_1
" Nak , bagaimana dengan devan ? apa yang akan kalian lakukan ?"
fanny jadi tau sekarang apa maksud nenek nya " jadi karena itu nenek kesini " ujarnya.
" kami baik - baik saja nek , dia selalu bilang tidak pernah melakukan kesalahan. jadi semuanya akan baik - baik saja "
" Mengertilah nak , tidak ada orang yang baik - baik saja dalam kondisi seperti ini. nenek yakin ini memang bukan kesalahannya. tetapi , sebagai istri kau harus menghibur , membantunya dan memberinya kekuatan. "
" Aku akan melakukannya jika itu perlu "
" ada apa ini tiffanny ? kenapa kau seperti tidak kasihan padanya ? dia suamimu , mengertilah sedikit " tanya nenek yang kesal tapi dia tidak mengerti kenapa fanny berbicara seperti itu.
tiffanny memandangi neneknya dengan wajah datar, dia tau perkataannya itu tidak akan pernah dimengerti siapapun. orang lain pasti akan menganggap dia tidak peduli.
drrtt....drrttt....drrtttt
" Rian Calling "
tanpa menjawab nenek tiffanny masuk kedalam dan mengangkat telpon dari rian.
( fannny, terjadi sesuatu di hotel. kemarilah dan lihat tapi jangan sampai ketahuan oleh orang - orang )
📱 " ada apa ?" tanyanya penasaran.
( segerombolan orang memintamu untuk keluar dan berbicara , aku sudah mengatakan kalau kau sedang tidak disini tapi mereka tidak percaya )
📱 " baiklah aku akan datang "
saat dia menutup telpon dia pun berbalik tapi ternyata dibelakangnya sudah berdiri devan.
" ada apa ? mau kehotel ?"
" itu ... ah , hmm ... iya. aku akan keluar sebentar "
" mau kuantar ?" tawarnya.
" tidak perlu dirumah ada nenek tidak enak jika kita pergi , aku akan cepat kembali "
" hmm baiklah "
fanny pun segera kembali ke kamarnya , dia ingin menggangi baju dan mengambil perlengkapannya.
setelah mengganti semuanya , dia bergegas tanpa pamit membuat semua orang bertanya - tanya kenapa dengan tiffanny.
devan juga melihatnya dengan wajah khawatir.
mobilnya itu dia jalankan dengan kondisi yang agak mengebut, dia ingin melihat seperti apa kondisi di hotelnya sekarang.
hanya dalam waktu 30 menit dia sudah sampai di hotel, memang benar perkataan rian. ada begitu banyak orang baik media maupun wartawan yang berdiri di depan hotelnya. dengan poster - poster meminga tiffanny buka suara.
dia melewatkan mobilnya dari samping kiri menuju ke bassment. dia segera keluar mobil dan memasuki hotel menggunakan lift ke ruangannya terlebih dahulu.
***
" hei tiffanny , jangan bersembunyi seperti seorang pengecut. apa kau takut ! " teriak orang - orang lagi.
" ya ! ya ! dia memang takut, karena dia salah. jika tidak dia akan bicara "
" tiffanny wangg !!! " teriak semua orang.
rian sudah tidak tahan mendengarnya yang sedari tadi berdiri di depan resepsionis kini dia ingin menemui para orang - orang itu.
" sudah aku bilang dia belum datang , atas hak apa kalian ingin dia membuka suara pada hal yang tidak dilakukan !! " teriak rian.
" karena dia istri dari dokter pembunuh ! " saut orang yang berada paling depan.
" ya ! ya ! itu benar "
dari ruangannya tapi mendengar semua yang dibicarakan oleh pendemo disana. seseorang menyambungkan penyadap suara di bagian depan sehingga dia bisa mendengarkan.
**
" kalian sudah termakan hoax , selagi belum ada persidangan dan terbukti bersalah maka kalian tidak bisa menghakimi orang lain apalagi bu tiffanny yang tidak bersalah ! " bela rian.
tiba - tiba semua orang jadi diam , membuat rian bingung maupun penjaga disana. semuanya memperhatikan kedepan rian bingung apa yang orang lihat dari dirinya.
__ADS_1
" dia datang " bisik orang - orang.
fanny sudah datang sekarang, dia keluar dari pintu utama dan berjalan seorang diri kedekat para pendemo itu.