Cinta Di Hatiku

Cinta Di Hatiku
Aku , ingin Hidup


__ADS_3

setelah kejadian saham turun itu , fanny dan rian benar - benar berusaha keras untuk.mengembalikan harga saham mereka ke posisi normal dibantu oleh micheal.


semalaman ini mereka tidak pulang kerumah , hanya ada di kantor fanny. mengumpulkan semua laporan hotel menjadi satu agar menjadi Fundamental.


walau mengantuk pun mereka tak pernah berhenti, micheal .. dia sangat gigih dan kukuh walaupun dia sering ditolak tidak membuatnya membenci fanny. dia malah makin menyukai fanny.


dirumah nenek dan devan menunggunya sampai jam 11 malam mereka tidak pulang, tidak ada kabar baik sms maupun telpon malam itu.


hingga keesokan harinya , fanny masih melotot di depan laptopnya sedangkan rian dan juga micheal tengah tertidur di sofa itu.


drrtt....drrt


" Dr. Wijin Message "


" Datanglah ke rumah sakit sekarang, ada sesuatu yang harus kuberitahu "


" huft" dia mengembuskan nafas kasar melihat pesan itu , dia sudah amat lelah semalaman tidak tidur. ini sudah pukul 6 pagi tapi pekerjaannya belum membuahkan hasil.


melihat dua orang yang tertidur pulas itu membuatnya tidak enak hati , dia mendekati micheal dan membenarkan posisi selimut itu hingga ke lehernya. begitu juga dengan rian dia membenarkan posisi selimut itu.


" maafkan aku yang selalu menyusahkan semuanya , setelah beberapa hari aku tidak akan pernah menganggu kalian lagi " pikirnya.


dia segera meninggalkan kantornya , karena mobilnya ada dirumah jadi dia memanggil taksi saja.


dia menunggu taksi didepan hotel dan memberhentikan mobilnya.


" Rumah sakit kleuwit" katanya.


mobil itu segera melesat menuju ke rumah sakit kleuwit, didalam perjalanan sering kali dia menguap karena rasa kantuknya. dia pun memutuskan untuk tidur sebentar karena perjalanan cukup lama menuju kerumah sakit.


30 menit kemudian mobil telah berhenti di depan rumah sakit , sopir itu melirik ke kaca memandangi fanny yang masih tertidur.


" Nasibmu sangat buruk nak , semoga kau bisa menghadapinya " gumamnya.


fanny mengerjapkan kedua matanya tak lama setelah sampai. " eh kita sudah sampai " ujarnya serak.


" iya nona " jawab sopir itu.


fanny menyodorkan uang seratus ribu dan memberikannya dia segera keluar dan berjalan menuju kedalam rumah sakit.


saat di lorong rumah sakit , dia terus berjalan pelan menuju ruangan dokter wijin. namun beberapa orang datang beriringan dan tak sengaja menabrak nya.


" maaf aku tidak sengaja " ucapnya.


" iya tidak masalah " jawabnya seraya tersenyum , namun senyum itu memudar ketika tau yang menabraknya adalah tiffanny.

__ADS_1


" kau " katanya.


" Agatha " ucap fanny dalam hati dia langsung menatal tajam agatha ketika teringat perlakuan perusahaan ayahnya.


" nona tiffanny apa yang kau lakukan dirumah sakit ini ? apa kau sedang memeriksa kondisi mentalmu karena terkejut " sindirnya dengan halus.


" aku tidak perlu memeriksa kondisiku karena aku baik - baik saja. bukankah dirimulah , yang ketika melihatku ... seperti cacing kepanasan ? takut ... kalau aku merebut suamimu " sindir fanny balik dengan tenang.


" kau " tekan agatha.


" menyingkirlah dari hadapanku , sebelum aku memberi tahu semua orang kalau kau yang sudah memanipulasi saham di hotelku " ancam fanny.


" tidak ! aku tidak melakukannya. ayahku tidak akan membiarkanku melakukan hal itu " balas agatha cepat.


" ayahmu memang melarangmu , tapi dia yang melakukannya sendiri untuk dirimu " ucap fanny dengan nada yang menahan kesal.


" apa buktiknya ? kau tidak punya bukti nona tiffanny jadi jangan menuduh ayahku. kau melakukan ini karena kau sudah tidak punya ayah lagi dari dulu jadi kau tidak mengerti sebagaimana bentuk kasih sayang ayah " ejeknya yang berbicara tepat di samping telinga fanny.


" Jangan membawa papaku kedalam hal ini, orang tuaku selalu mengajarkan kejujuran padaku. tidak seperti ayahmu yang mendapatkan semuanya dari hasil yang tidak baik "


setelah mengatakan itu fanny segera pergi dari sana karena tidak mau meladeni lebih jauh agatha.


" aku sudah mengambil brian dari hidupmu , dan aku akan memastikan dia tidak akan menoleh lagi padamu " teriak agatha yang diacuhkan oleh fanny.


" huft ... apa dokter wijin menyuruhku kemoterapi lagi " ujarnya didepan pintu dokter wijin.


" selamat datang nona Fanny , duduklah " kata dokter wijin yang sedang duduk di kursinya itu. dia memang dari tadi menunggu kedatangan fanny.


" hmm " fanny mengangukkan kepalanya dan duduk di hadapan dokter wijin.


" Ada perlu apa dokter ?" tanyanya.


dokter wijin menghentikan aktivitasnya dan menatal tiffanny , dia membuka laci dan memberikan amplop putih kepadanya.


fanny menerimanya dan membaca surat itu.


" kondisimu semakin hari semakin parah , kau harus dirawat. Aku tidak mau menutupi nya darimu seperti dokter devan "


" dia ... sangat mengkhawatirkanmu, setiap hari berusaha mencari dokter terbaik di dunia. tetapi sampai sekarang mungkin belum ketemu. sebelum itu ... kau harus dirawat agar setidaknya bisa mengurangi rasa sakitmu " jelasnya lagi.


" untuk apa ? aku hanya akan diberi infusan, obat - obatan dan suntikan saja setiap harinya. dirumah juga dokter devan melakukannya padaku , apa itu tidak cukup ? " tanyanya dengan nanar.


" itu tidak cukup . setidaknya jika kau dirawat kami bisa memperhatikanmu langsung " jawab dokter wijin.


" aku hanya ingin memperingatimu , usiamu sudah tidak lama lagi , kenapa kau tidak mau berusaha. kemoterapi saja " usul dokter wijin.

__ADS_1


" Dokter ... walaupun anda tidak memberitahunya , setiap hari aku selalu menghitung waktu ku yang tersisa " telak fanny.


" apa kau tidak mau hidup untuk orang disekitarmu ? nona pikirkan semua orang yang menyayangimu , jika kau pergi bagaimana perasaan mereka. kau memang tidak peduli tetapi apa kabar dengan hatinya. kau punya seorang nenek dan punya banyak karyawan yang harus kau tanggung " kata dokter wijin yang berusaha membuka hati fanny itu.


fanny mendengarkan dan mencerna semua perkataan dokter wijin. dia benar ... bagaimana perasaan orang - orang disekitarnya. dia memang menginginkan kematian tetapi neneknya , berharap dia berumur panjang.


" Kau menangis ?" tanya dokter wijin


fanny menghapus air matanya yang jatuh itu , dia menatap dokter wijin yang ada dihadapannya sekarang.


" Aku akan memikirkannya lebih dulu " ucapnya setelah itu dia langsung keluar dari ruangan dokter wijin dengan hati yang sukar dan sedih.


setiap hari harus diingatkan bagaimana umurnya yang sudah tak bisa bertahan lama lagi. setetes demi tetes air mata itu terus walaupun dia tidak ingin.


" Fannh tunggu " teriak devan ketika melihat fanny berjalan itu.


fanny menatap kebelakang yang ternyata itu devan , dia tersadar sedang menangis dia berlari agar bisa menghindari devan.


" Fanny " teriaknya yang mengejar fanny itu.


fanny terus berlari hingga menuju ke tangga darurat. namun apalah daya , dia tidak tau lagi jalan hingga hanya ada pintu yang tertutup rapat yang menghalanginya di tangga darurat itu.


" Fanny " kata devan yang berjalan menghampirinya. fanny masih menatap kedepan tidak mau melihatnya.


" Hatiku sakit ... karena kau begitu menderita. tapi tidak ada yang bisa aku lakukan. aku tau kau takut ... tapi ... berhentilah menyendiri , kita jalan bersama, bersamaku. " ungkap dengan dengan nanar dan mata yang berkaca - kaca.


" aku tidak punya... banyak waktu... untuk melakukan apapun. bahkan , untuk melihatmu saja ... sering kali , pandanganku kabur dan tak bisa mengenalimu. " kata fanny dengan serak seakan tak mampu menyelesaikan ucapannya.


" Tidak apa - apa Fanny . aku ... akan menjadi orang yang menuntunmu untuk melihatku dan , memperjuangkan kesembuhanmu " balas devan lagi.


lalu devan berjalan kearah fanny, dia menarik pergelangan tangan tiffanny , dan mendekatkan wajahnya ke wajah tiffanny lalu mencium bibir itu.


Fanny meneteskan air matanya , matanya terbuka melihat begitu dekat bagaimana devan memperlakukannya.


cukup lama devan mencium bibir itu tetapi hanya menempelkannya saja dia belum berani untuk berbuat lebih jauh lagi takut fanny menolaknya.


setelah beberapa menit devan melepaskan ciumannya dan memeluk tubuh fanny itu , fanny tidak membalasnya dia masih menangis.


" Aku sudah menemukan dokter itu. percayalah semua akan baik - baik saja " ujar devan dengan mengangukkan kepalanya.


" aku .., ingin hidup. aku Benar - benar ingin hidup sekarang hiks " isak fannya.


" ya ... itu pasti " balas devan yang masih memeluknya.


" hiks - hiks , aku ingin mengurus nenek dengan baik " katanya lagi.

__ADS_1


" hmm Mari kita rawat nenek bersama - sama" balas devan.


__ADS_2